
Nusa dan teman-temannya diantar ke sebuah rumah untuk beristirahat, rumah itu nampak rapuh dan sudah lama ditinggalkan. Mereka masuk ke dalam rumah, di dalamnya tidak ada apapun kecuali satu kasur bobrok, itupun terletak pada kamar paling belakang.
Tara mengerutkan dahinya dan berkata. "Aku gak mau tidur di sini, rumah ini sudah tidak layak."
"Kita tidak perlu tidur malam ini, wanita yang mengantar kita tadi mengatakan bahwa tetua desa ingin bertemu kita," balas Nusa sambil menatap keluar jendela.
Seluruh rumah di desa itu menggunakan bambu dan kayu, kebanyakan rumah berbentuk panggung. Model rumah di desa itu seperti rumah-rumah di Sumatera, tepatnya Sumatera Selatan dan Lampung.
Sebelum sampai di rumah ini, Nusa dan teman-temannya berkeliling desa sebentar. Para warga desa melihat mereka dari rumah masing-masing dengan tatapan aneh. Tatapan mereka membuat siapa saja tidak nyaman, para warga seperti tidak menginginkan Nusa dan teman-temannya tinggal di desa.
...*******...
Waktu menunjukan tengah malam, sesosok bayangan menyelinap masuk ke dalam rumah tempat Nusa dan teman-temannya beristirahat. Bayangan itu berlari cepat dari ruangan satu keruangan lainnya.
Dia berhenti di kamar tidur dan berkata. "Si*l! kemana mereka pergi. Kalau terus begini para tetua akan marah."
Sosok itu membalikkan badannya, dia terkejut melihat seorang laki-laki berdiri dibelakangnya dengan cahaya menyinari wajah si lelaki.
"Se-setan! " jerit sosok bayangan itu sambil bersimpuh.Tubuhnya seketika menjadi lemas tidak berdaya.
Ehh... Enak aja panggil gw setan, emangnya lu siapa?! Lu juga setan mbak. batin Nusa tidak terima disebut setan.
Sosok itu ternyata seorang wanita, Nusa menepuk pundak wanita itu mencoba menenangkannya. Dia ingat wanita itu yang mengantarnya berkeliling desa sore tadi.
Nusa membantu si wanita berdiri dan berkata. " Ada perlu apa Nona tengah malam ke sini."
"Mohon maaf atas kelancaran saya. Saya ke sini menjemput Tuan dan juga Nona untuk menemui tetua," ujar si wanita sambil menundukkan kepala.
Wajar saja si wanita merasa takut, keadaan rumah itu sunyi dan gelap tanpa pencahayaan. Dia sendirian berkeliling rumah yang cukup besar, saat berhenti sejenak tiba-tiba Nusa muncul dibelakangnya, berdiri tegak sambil menyinari wajahnya dengan sihir cahaya.
Nusa dan wanita itu keluar dari rumah, mereka melihat Tara dan Atma sedang berdiri diluar sambil melambaikan tangan ke arah Nusa. Mereka berempat pergi menemui tetua desa.
__ADS_1
...*********...
Tok, tok, tok...
Si wanita mengetuk pintu rumah tempat para tetua berkumpul.
"Masuk! pintunya tidak dikunci," ucap pria dengan suara serak.
Wanita itu masuk ke dalam lebih dulu, lalu disusul oleh Nusa dan teman-temannya.
"Mohon maaf sebelumnya karena mengganggu waktu istirahat kalian," ucap seorang pria tua sambil mempersilahkan Nusa dan teman-temannya duduk.
Pria itu mengenakan jubah berwarna gelap, janggutnya panjang berwarna putih. Hidung pria itu mirip hidung babi, sepertinya pria tua itu berasal dari Ras Babi Ngepet.
Ras Babi Ngepet sendiri mempunyai ciri khas yang mudah dikenali, salah satunya adalah hidung mereka yang mirip babi dan suara mereka yang dalam.
7 orang pria tua duduk di lantai yang beralaskan tikar bambu. Mereka semua memakai jubah yang sama. Rambut para pria tua itu berwarna putih bersih, panjang rambut mereka kira-kira melebihi bahu. Mereka adalah tetua desa, atau sering disebut 7 buah bijak.
"Kami mencoba mengusir mereka, tetapi mereka selalu datang kembali dan merusak ladang. Kami mendengar, sore tadi ada petualang yang berkunjung ke desa," saut tetua lain dengan suara gemetar khas kakek-kakek.
Nusa tersenyum dan berkata. "Jadi para tetua dan juga warga desa membutuhkan bantuan kami. Tapi kami petualang peringkat rendah, sepertinya akan sulit mengusir kawanan monster dengan peringkat lebih tinggi dari kami."
"Untuk peringkat kalian, kami merasa tidak masalah. Monster-monster itu sangat lemah, anak kecil pun dapat mengalahkannya dengan mudah. Hanya saja para monster itu sering berkoloni sehingga menyulitkan para warga, " ucap seorang tetua dengan suara berat, "Kami mohon! agar kalian bisa mengusir para monster itu. Kami juga menyediakan imbalan yang sesuai."
Nusa akan menerima misi ini jika diberi uang muka sebesar 100 Rupe. Para tetua terdiam dan saling menatap satu sama lain. Para tetua menyetujui syarat dari Nusa, mereka memberikan kantong yang berisi 100 Rupe pada Nusa.
Nusa dan teman-temannya berpamitan pada para tetua dan orang-orang yang ada di ruangan itu, mereka akan pergi ke hutan tempat para monster bermunculan.
Para tetua tersenyum dan mengantar rombongan Nusa sampai pintu keluar. Setelah tamu mereka pergi, wajah para tetua berubah menjadi suram. Mereka kesal dengan Nusa karena meminta uang muka sebesar 100 Rupe.
"Apa tidak masalah memberikan uang muka sebesar itu?" ucap wanita yang mengantar Nusa dan teman-temannya pada tetua.
__ADS_1
Salah satu tetua mengusap jenggot putihnya dan berkata. "Tidak masalah, karena mereka tidak akan kembali lagi kesini. Monster di hutan itu sangat ganas dan berbahaya, kita pun kesulitan untuk mengalahkan mereka."
"Dengan peralatan seadanya, anak-anak bodoh itu berniat mengalahkan para monster yang di juluki pemakan segala. Mereka cuma manusia lemah, yang mengorbankan nyawanya secara sia-sia. Terlebih anak-anak itu hanya petualang peringkat F." ejek tetua lain dingin, "Kita lanjutkan rencana untuk menghancurkan kerajaan sesat ini, biar saja anak-anak bodoh itu mati dengan mengenaskan."
...*********...
Nusa dan teman-temannya pergi menuju hutan, Nusa tersenyum jahat karena berhasil menipu para tetua. Nusa juga menyelipkan alat sadap pada baju wanita yang mengantarnya tadi, dia juga menaruh beberapa alat lainnya di rumah itu.
Para warga desa menatap rombongan Nusa dari dalam rumah mereka masing-masing. Tara tidak mengerti kenapa rumah-rumah di desa itu memiliki batu cahaya untuk menerangi rumah, sedangkan rumah tempat istirahat Tara gelap gulita.
"Atma! jangan perdulikan mereka, jalan terus tanpa menoleh kanan kiri." bisik Tara pada Atma, tangannya menempel pada telinga Atma seolah-olah menghalangi pandangan orang lain.
Sampai di luar desa, Nusa dan teman-temannya berhenti sejenak. Mereka tahu ada beberapa warga desa yang mengikuti.
"Atita!" bisik Tara dingin, dia muak melihat wajah warga desa itu.
Aaa...
Terdengar beberapa suara erangan dari dalam hutan. Tidak lama Atita menyeret 3 orang pria, tangan dan kaki mereka diikat kuat menggunakan tali.
Para pria itu tidak sadarkan diri terkena serangan Atita. Tara memerintahkan Atita membawa orang-orang itu pada Melani untuk di siksa.
"Beri mereka siksaan yang menyakitkan, setelah itu penggal kepalanya lalu masukan ke dalam kantong. Tetap awasi desa itu, jangan sampai ada orang yang pergi dari sana! " Tara menatap para pria itu dengan hina.
Nusa menepuk kedua tangannya lalu membungkuk, dia tahu nasib para pria itu akan tragis dibawah siksaan Melani.
Atita perlahan pergi menuju hutan, dia menghilang ditelan gelapnya malam. Walaupun malam semakin gelap, Tapi berkat skill pemburu milik Nusa. Tara dan Atma dapat melihat dengan jelas layaknya pada siang hari.
"Yois... Mari kita lanjutkan perjalanan ini dengan hati gembira," ucap Atma sambil berpose imut. Dua jari, Atma tempelkan pada sebelah matanya.
Nusa, Tara, dan Atma melanjutkan perjalanannya dengan hati gembira karena para penguntit itu berhasil di tangkap.
__ADS_1