
"Aaa... " teriak Atita panik. Mereka meluncur cepat ke bawah tanah.
"Kuatkan peganganmu Atita! Kita akan membentur lantai." Nusa menarik tubuh Atita mendekat.
Bomm...
Tubuh Nusa dan Atita membentur lantai batu. Kuatnya benturan menyebabkan lantai berlubang 30 senti. Nusa dan Atita jatuh sedalam 280 meter, melewati lubang sebesar satu meter.
Andai saja bukan mereka berdua yang jatuh, dapat dipastikan orang itu akan tewas. Nusa bangkit dari lubang, debu tebal masih menyelimuti mereka.
"Hahaha... Akhirnya kalian datang," teriak seorang pria di sudut ruangan.
Ruangan itu gelap gulita, jangankan melihat wajah si pria. Melihat tangan sendiri pun mustahil.
"Siapa kau! apa maksudnya kami sudah datang!" Nusa menjentikkan jarinya, suara ruangan yang gelap kini menjadi terang.
Nusa tertegun, sebuah sosok pria duduk manis di atas kursi kayu. Mata pria itu ditutup kain hitam, dia memegang seekor kucing ditangannya.
"Apa maksudmu menyeret kami ke sini!" bentak Nusa sambil menunjuk si pria.
Pria itu tersenyum jahat. "Tidak ada alasan khusus. Aku hanya penasaran siapa pengguna 'tuan boneka'."
Tanpa aba-aba Atita berlari mendekati si pria. Tangannya mengepal kuat, berusaha membunuh dengan sekali serangan.
"Berhenti!" teriak Nusa, "Cepat menjauh dari sana!"
Jarak wajah si pria dengan tangan Atita tersisa satu jengkal. Atita menghentikan langkahnya kemudian mundur secepat mungkin. Tiba-tiba lubang dalam muncul tepat pada bekas kaki Atita.
Telat sedikit saja, Atita bisa tewas terkena jebakan mematikan. Pria itu kembali tersenyum, "Rupanya kau menyadari jebakanku nona. Telat sedetik saja, pria itu sudah tewas."
"Tentu saja, kau sudah memasang ratusan jebakan di ruangan ini." Kini Nusa yang tersenyum miring.
"Apa maksudmu!" Pria itu sedikit panik. Teknik rahasianya terbongkar oleh seorang wanita.
"Di Kerajaan Cakrawala teknik ini sering disebut Lamela. Sebuah teknik terlarang yang membuat si pengguna dapat meracik sebuah jebakan mematikan. Tidak banyak orang yang menguasai teknik Lamela.
"Setahuku hanya dua orang pengguna Lamela legendaris di benua Eurasia. Salah satunya berada di kerajaan Cakrawala. Benarkan, Pare!"
__ADS_1
Belum sempat pria itu menjawab, tiba-tiba Jia datang menyerang Nusa. Dia mengayunkan pisau belatinya horizontal. Nusa tidak menghindar ataupun bergerak sedikitpun.
Atita menahan tangan Jia lalu membantingnya kuat ke lantai. Suara tulang retak terdengar jelas, Jia tidak lagi bergerak. Atita mengangkat tangan, siap menghantam kuat wajah Jia.
"Berhenti! Cepat kembali ke sini." Nusa menerbangkan empat boneka jerami.
"Teknik khusus. Jurang dalam!" Pria itu mengusap kucingnya.
Nusa melompat tinggi. "Teknik boneka jerami. Manusia terbang!"
Dua boneka jerami melayang di udara. Nusa dan Atita menaikan boneka itu layaknya berselancar. Tidak lama kemudian, sebuah lubang besar menganga di lantai. Luasnya hampir menutupi semua bagian lantai, telat sedetik saja mereka bisa masuk ke dalam.
"Sekarang bagaimana nona? Saya rasa orang itu berbahaya."
"Kamu tidak perlu khawatir Atita. Teknik Lamela itu luar biasa, tapi memiliki beberapa kelemahan. Salah satunya teknik ini tidak bisa menyerang di area luas ataupun di udara."
"Kau pikir begitu nona!" sergah pria itu.
Sebuah lingkaran sihir muncul di langit-langit. Satu dua tiga, sampai berjumlah puluhan, hingga ratusan lingkaran sihir. Tidak ada celah sedikitpun untuk menghindar. Atita belum tahu lingkaran sihir itu akan mengeluarkan apa.
Dari tengah lingkaran keluar benda lancip. Bentuknya mirip seperti tombak, namun lebih besar, ujung tombaknya berwarna ungu. Nusa mencium aroma menyengat, memenuhi langit-langit ruangan.
"Ini aroma racun, nona. Tombak-tombak itu tidak hanya tajam, tapi beracun." Atita mengangguk pelan, tangannya dimasukkan ke kantong celana.
Pria itu menempelkan telunjuk di bibir. "Teknik Lamela, Sangkar kematian."
Puluhan tombak turun bak hujan deras. Menghujam siapapun dibawahnya, tidak peduli pria atau wanita. Pria itu tertawa puas, puluhan tombak tidak mengenainya.
"Gawat, kita terjebak!" ucap Nusa panik. Dia berusaha menghindari tusukan tombak. Mencari celah yang mustahil dilakukan.
"Blood barrier!"
Atita membuat pelindung dari darah. Semua tombak meleleh layaknya lilin ulang tahun. Pria itu tertegun, dia tidak percaya puluhan tombaknya menguap tak tersisa.
"Mu-mustahil, bagaimana pria itu melakukannya!" decak pria di bawah kesal.
Pria itu tahu teknik darah milik Atita. Teknik itu mustahil digunakan oleh pria, hanya true kuyang yang saja bisa menggunakannya. Seakan tidak percaya, pria itu menambah jumlah tombak serta memperbesar semua lingkaran.
__ADS_1
5 menit berlalu. Ratusan hingga ribuan tombak menghujam pelindung darah. Nusa dan Atita masih melayang di udara, mencoba bertahan selama mungkin. Tidak ada tombak yang berhasil menyerang Nusa dan Atita. Semuanya meleleh saat bersentuhan dengan pelindung darah.
"Siapa kalian sebenarnya!" teriak si pria marah. "Kenapa teknik Lamela tidak berdampak apa-apa!"
Nusa tersenyum sinis. "Teknik Lamelamu luar biasa. Tapi aku sudah mengatakan sebelumnya, teknik ini memiliki kelemahan. Sehebat apapun teknik ini, jika target tidak masuk ke dalam lubang, teknik ini akan gagal. Menjatuhkan senjata sembarangan, membuatku prihatin."
Pria itu menggertakkan giginya marah. Dia berdiri, berusaha menyerang dengan kekuatan penuh. Sayangnya di sudah kalah, Nusa diam-diam mengirim boneka jerami untuk mendekati si pria.
"Teknik boneka jerami. Ledakan kekacauan level 35."
Boomm...
Para boneka jerami meledak tepat didepan si pria. Ledakan dasyat terjadi, menyebabkan ruangan berguncang hebat. Pria itu dapat menghindari serangan boneka, namun dampak yang diterima tetap besar. Kain penutup matanya hancur, tubuhnya terpelanting jauh.
Beruntungnya dia sudah memindahkan Jia ke ruangan lain menggunakan teknik Lamela. Selain untuk menyerang, teknik Lamela juga berfungsi sebagai pelarianpelarian saat keadaan genting.
Pria itu berlutut di lantai. Beberapa kali dia mengeluarkan darah segar di mulut serta hidungnya. Nusa tidak hanya menggunakan peladak pada boneka jerami. Dia juga memasukkan racun mematikan pada boneka.
"Coba perhatian, pria itu perlahan melemah. Jika kita biarkan pria itu akan mati 30 menit lagi." Nusa perlahan turun dari langit-langit.
"Blood body suit!"
Atita melapisi Nusa dengan darah segar. Dia hanya berjaga-jaga, tidak ada yang tahu rencana musuh selanjutnya. Atita diberi perintah mengawasi gerak musuh dari udara, sementara Nusa perlahan turun.
"Jadi, kenapa kau mengirim kami kemari?" tanya Nusa sambil menyebar puluhan boneka jerami.
"Ka-kau pikir dapat mengorek informasi dariku!" bentak pria itu memalingkan wajahnya.
"Baiklah kalau itu maumu. Jangan salahkan aku melakukan ini." Nusa menjentikkan jari. Sesosok wanita muncul terikat dihadapannya.
"Jia! lepaskan dia. Kenapa kau bisa menemukan Jia, padahal aku sudah membawanya jauh." Pria itu mendongak.
"Aku tidak akan mengulangi ucapanku. Katakan rencanamu menyusup ke kota Waruru. Kalau masih bungkam, aku jadikan wanita ini koleksi boneka jerami."
Pria itu nampak bimbang. Tangannya mengepal kuat, setiap pilihan sangat berat. Harus menolong Jia, atau tetap menjalankan misi. Jika dia salah langkah, semua usahanya akan sia-sia.
Pria itu menelan ludah. "Baiklah, akan aku beritahu informasi yang kau mau. Sebelum itu, tolong lepaskan Jia, baru aku beberkan semuanya."
__ADS_1
"Setuju!" Nusa lempar Jia. "Jika kau coba berbohong, maka boneka jerami di leher wanita itu akan meledak. Ingat ini baik-baik, pemantik ledakan adalah kebohongan. Agar adil, aku sudah memasang boneka jerami lain di lehermu."
Pria itu menangkap Jia yang terkulai lemas. "Aku sudah salah membawanya ke sini. Wanita ini bukan hanya kuat, tapi cerdas mengatur strategi. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya,"gumam pria itu dalam hati.