Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua

Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua
BAB 26 : KEBENARAN YANG MENYAKITKAN


__ADS_3

Semua orang di ruangan itu terkejut. Mereka tidak menyangka wanita cantik dan anggun itu adalah komandan Wina. Yang lebih mengejutkan para petinggi dan prajurit adalah pensiunnya komandan Wina.


Nama komandan Wina sangat tersohor seantero benua, dia merupakan sosok yang ditakuti sekaligus disegani kerajaan lain. Kemampuan berpedang komandan Wina tidak diragukan lagi, kecerdasannya dalam menyusun strategi perang pun tidak ada duanya.


Komandan Wina mencurahkan seluruh hidupnya demi kepentingan kerajaan. Sebagai komandan wanita pertama, dia sangat menginspirasi banyak wanita agar ikut andil dalam bidang kemiliteran.


Raja dan perdana menteri menanyakan alasan komandan Wina pensiun, mereka berusaha menghentikannya pensiun dini.


Komandan Wina tersenyum manis ke arah raja dan berkata sambil memegang tangan Nusa erat. "Terima kasih atas tawarannya, yang mulia adalah sosok yang sangat saya hormati karena kebaikan hati serta bijaksananya.Tetapi mohon maaf, saya menolak tawaran anda sebagai pengawal pribadi yang mulia."


Wajah para prajurit menjadi muram, bagaimana tidak, pekerjaan sebagai pengawal pribadi raja merupakan keinginan setiap prajurit. Pekerjaan ini memiliki gaji besar dengan resiko tidak terlalu berbahaya.


Mereka hanya bertugas mengawal dan mengawasi raja atau keluarganya. Tidak seperti pasukan pengawal lain, pasukan ini bertugas melindungi raja dan keluarganya dari dekat. Mereka akan nampak seperti saudara atau sahabat dari pada prajurit.


Meskipun demikian, tidak semua orang bisa menjadi pasukan pengawal pribadi raja. Mereka yang ingin menjadi pengawal pribadi raja haruslah orang yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Dia juga di wajibkan mengikuti tes dan latihan yang berat.


Seorang pengawal pribadi tidak diperbolehkan pulang selama dia bertugas. Para pengawal pribadi bertugas selama 24 jam, mereka akan selalu siaga demi menjamin keselamatan raja dan keluarganya.


Wajah perdana menteri nampak merah padam, dia berkata. "Lancang sekali kau menolak permintaan raja! Hanya karena kau seorang komandan rendahkan bukan berarti bisa seenaknya berkata! Seharusnya kau bersyukur sudah dipungut oleh para prajurit istana, dasar rakyat jelata! Kau leb... "


"Cukup! sudahi perkataanmu." Raja berdiri lalu membentak perdana menteri.


Raja menghentikan perkataan perdana menteri itu, dia melihat ke arah Tara yang menatap perdana menteri tajam. Raja merasakan aura membunuh yang sangat besar dari gadis kecil didepannya, jika ia tidak menghentikan bawahannya, mungkin semua orang di ruang tahta akan tewas.


Ada sebuah pepatah yang mengatakan lidah itu lebih tajam dari silet, sekali melukai hati, maka akan berbekas sampai mati.

__ADS_1


Tara mengepalkan tangan, dia tidak terima temannya di rendahkan orang lain. "Kepar*t! berani sekali dia menjatuhkan nama baik komandan Wina." Tara menundukkan kepalanya, suara yang Tara keluarkan hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.


Suasana kembali menegangkan, tidak ada yang berani bersuara karena takut dengan raja. Nusa, Tara, dan komandan Wina masih berdiri ditengah ruang tahta, mereka tidak berbicara ataupun bergerak.


Raja kemudian bertanya sekali lagi pada komandan Wina mengapa dia mengundurkan diri, dan apa alasan dibalik itu semua. Komandan Wina diam seribu bahasa, dia tidak tahu jawaban apa yang harus ia katakan.


Nusa melepas pegangan tangannya lalu memeluk komandan Wina. Semua orang terbelalak menyaksikan pemandangan itu, termasuk komandan Wina. Dia tidak mengerti kenapa Nusa memeluknya, yang jelas pelukan Nusa membuatnya sedikit tenang.


Nusa melepaskan pelukannya dan berkata dengan lantang. "Alasan komandan Wina mengundurkan diri dari posisinya karena dia akan menikah. Ya, saya dan komandan Wina akan segera menikah!"


Wajah perdana menteri memerah, dia menghampiri Nusa dan mencoba meludahinya. Sebelum ludah itu keluar dari mulutnya, Tara dengan cepat menebas leher perdana menteri itu menggunakan belati miliknya.


"Makhluk hina tidak seharusnya dibiarkan hidup!" ucap Tara dingin sambil mengayunkan belatinya.


Raja pun ikut terkejut menyaksikan kejadian itu. Tara melirik prajurit yang sebelumnya menyerang Nusa, sontak tubuh prajurit itu bergetar hebat dan tergeletak pingsan.


Semua orang semakin ketakutan dan menundukkan kepalanya. Tara sekarang bagaikan monster dimata semua orang di sana, hanya melihat matanya saja bisa merenggut nyawa seseorang.


"Ehh... kok dia pingsan? padahal aku cuma meliriknya. Ya, mungkin pekerjaan prajurit cukup melelahkan," batin Tara sambil menyembunyikan belati miliknya.


Nusa berkata dengan lantang. "Yang kalian lihat sekarang bukan perdana menteri! dia adalah penjahat yang berniat membunuh raja dan menyamar sebagai perdana menteri."


Nusa mengeluarkan 2 orang dari ruang tunggu miliknya, ke-2 orang itu masing-masing menggunakan penutup kepala. Nusa membuka penutup kepala keduanya secara bersamaan.


Setelah di buka, terlihat jelas jika kedua orang itu adalah perdana menteri dan anaknya. Mereka berdua nampak gembira saat penutup kepalanya di buka.

__ADS_1


"Seperti yang kalian lihat, perdana menteri yang kalian cinta masih hidup. Orang yang tergeletak di sana mencoba membunuh perdana menteri lalu meniru wajahnya. Sayangnya rencana mereka untuk menghancurkan kerajaan dari dalam berhasil kami gagalkan," ucap Nusa sopan sambil membantu kedua orang itu berdiri, "Oh iya! Tara lakukan!"


Tara tiba-tiba saja menghilang dari hadapan semua orang. Tidak lama, satu persatu prajurit tumbang. Tidak hanya prajurit, beberapa petinggi istana pun mengalami hal yang sama, mereka semua tewas oleh keganasan Tara.


Raja mulai panik melihat bawahannya berguguran. "Kenapa kalian membunuh para pejabat dan prajuritku! bukankah aku akan memenuhi seluruh syarat yang kalian inginkan."


"Mohon maaf yang mulia, saya ingin menyampaikan sesuatu mengenai orang-orang yang terbunuh. Mereka semua telah menghianati kerajaan dan bersekongkol dengan para penjahat. Mereka juga diam-diam menjalin hubungan dengan negara lain tanpa sepengetahuan anda." Perdana menteri berupaya menjelaskan situasi yang sulit diterima ini.


Raja begitu terpukul mengetahui para bawahannya berusaha menghancurkan kerajaan Bhayangkara.


Raja perlahan mundur lalu terduduk di singgasana miliknya dan berkata penuh keputusasaan. "Lalu berapa jumlah orang yang berhianat."


"46% dari jumlah para pejabat dan prajurit di seluruh istana. Sepertinya mereka berencana menjatuhkan ibukota terlebih dahulu," ucap Tara dingin, tangannya sedikit berkeringat. "Tapi anda bisa tenang, seluruh orang yang berhianat telah aku habisi."


Raja memegang kepalanya, dia sekali lagi tidak percaya jika banyak bawahannya yang berhianat. Saat raja mempertanyakan kebenarannya, tiba-tiba Tara maju lalu menampar raja keras.


"Kau itu raja! harusnya tahu jika bawahan yang kau pimpinan selamat ini telah berhianat. Sadar! jangan terbawa arus yang tenang. Kami sudah membawa bukti tentang penghianat para pejabat dan prajurit di istana," bentak Tara pada raja, dia tidak segan menampar raja.


Tentu saja pemandangan itu tidak layak di saksi, seorang raja di perlakuan seperti anak kecil yang di marahi oleh ibunya.


Setelah diberi nasehat yang menyakitkan dari Tara, akhirnya raja sadar. Dia memerintahkan perdana menteri menyelidiki kasus ini lebih lanjut dan mengamankan seluruh barang bukti.


Raja sudah menyetujui pengunduran komandan Wina dari kesatuan prajurit elit istana. Untuk permintaan Nusa dan Tara, raja meminta waktu beberapa hari atau minggu. Dia harus menyelesaikan masalah internal kerajaan terlebih dahulu.


Dengan ini Nusa, Tara dan Wina keluar dari istana dengan wajah bahagia.

__ADS_1


__ADS_2