
Nusa dan Tara dibawa oleh pasukan kerajaan Bhayangkara. Mereka berdua dinyatakan bersalah karena ikut dalam perang. Kedua tangan dan kaki Nusa diikat, dia lalu dilemparkan ke gerobak barang. Sementara Tara dipersilahkan duduk di kereta kuda mewah yang digunakan para bangsawan.
Kenapa perlakuan Tara berbeda dengan Nusa, rahasianya adalah kasta mereka. Sebelum berangkat mereka diperiksa identitasnya terlebih dahulu. Walaupun Tara adalah terdakwa, tapi dia juga merupakan seorang bangsawan. Para prajurit ataupun komandan tidak berani memperlakukan bangsawan dengan sembarangan.
Pasukan kerajaan pergi ke ibukota, mereka membutuhkan waktu 2 bulan perjalanan dengan kereta kuda yang dipasang sihir. Nusa merasa bosan tinggal di dalam kereta kuda.
"Anu... Maaf mbak komandan bisa bicara sebentar," Nusa mengeluarkan kepalanya dari kereta kuda.
Komandan pasukan yang berjalan di sampingnya berkata. "Apa! kalau mau aku bebaskan kau harus menciumku."
"Okee!" ucap Nusa antusias, kedua matanya berbinar.
"Ma-ma-maksudku kau harus menciumku didepan semua orang." Sang komandan menjadi salah tingkah, bagaimana tidak, wajah Nusa sangat tampan bagi seorang petualang.
"Okee! Mau didepan raja pun aku siap! Asalkan setelah itu aku dibebaskan." Nusa tersenyum tipis lalu bergumam dalam hati. "Hayo loh bingung... emangnya gw mau nolak."
"Semua prajurit berhenti! ikat mulut orang ini dengan tali atau sumbat mulutnya dengan besi agar dia diam." Rombongan pasukan berhenti, mereka segera menghampiri gerobak Nusa lalu menyumbat mulutnya menggunakan tanah, mereka juga mengikat mulutnya dengan kain agar Nusa tidak bersuara.
Tara tertawa di dalam kereta, dia menikmati secangkir teh hangat sambil menyaksikan sahabatnya di siksa oleh para prajurit.
"Rasanya sudah lama aku tidak melihat Nusa menderita, sepertinya perjalanan kali ini tidak akan membosankan," ucap Tara sambil memandang keluar jendela, wajahnya memerah karena bahagia.
...*******...
2 bulan telah berlalu, rombongan prajurit sudah sampai di kota Arzak yaitu ibukota kerajaan Bhayangkara. Rombongan berhenti di alun-alun kota yang ramai, mereka sengaja berhenti di sana untuk mengumumkan kemenangan pasukan kerajaan Bhayangkara melawan musuhnya.
Komandan naik ke panggung yang telah disediakan, dia sangat berwibawa dengan armor putih yang menutupi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Untuk seluruh penduduk kota diharapkan tenang." Komandan memberi himbauan."Dengar kalian semua! kita berhasil mengalahkan prajurit musuh yang menyerang perbatasan dan membawa semua tawanan yang diculik kembali ke ibukota dengan selamat. Semua itu berkat kerjasama antara para petualang dan para ksatria, mereka semua memiliki andil besar. Semuanya mari kita sambut petualang yang menyelamatkan kota di perbatasan dengan gagah berani."
Pasukan elit turun dari kudanya dan membukakan pintu untuk Tara. Tara nampak menawan dengan gaun merah yang ia kenakan. Warga kota yang berkerumun dibuat takjub, semua mata tertuju pada Tara.
Komandan mempersilahkan Tara naik ke panggung, dia diminta memberi satu atau dua patah kata untuk warga kota Arzak.
Dengan gaun merah yang menawan Tara melangkah menuju panggung, baik warga atau prajurit semua dibuat terpana.
Tara tersenyum manis dan berkata. "Terima kasih kepada komandan Wina karena telah memberi saya kesempatan untuk menyampaikan beberapa kata. Pertama kemenangan kota Carani tidak hanya karena bantuan saya saja, tetapi semua orang ikut andil dan saling bekerjasama melawan musuh. Yang kedua saya bersyukur para warga yang diculik telah selamat. Dan yang terakhir, terima kasih telah menyambut kedatangan kami."
Suara teriakan pecah di tengah kerumunan, mereka belum pernah melihat petualang secantik Tara. Di tambah tutur kata Tara yang mencerminkan bangsawan terhormat, dari pada seorang petualang membuat penonton jatuh hati.
Tara turun dari panggung kemudian komandan Wina kembali berbicara di atas panggung. "Semuanya harap tenang. Bawa terdakwa kemari!"
Para prajurit membawa sebuah sangkar besi yang tertutup kain, mereka tidak tahu isi sangkar itu. Saat kain dibuka, mereka melihat seorang pemuda dengan kaki, tangan, dan mulutnya terikat. Pemuda itu dalam keadaan tidak sadarkan diri, banyak luka yang ia terima sehingga wajahnya sulit dikenali.
"Besok saat matahari masih di bawah, kalian semua harus hadir di Zalora untuk melihat terdakwa diadili. Sekian! Kami undur diri." Komandan Wina turun dari panggung dan melanjutkan perjalanannya menuju Zalora, Zalora adalah tempat terdakwa dihakimi sekaligus penjara yang mengerikan.
...********...
Nusa perlahan membuka matanya, dia terkejut melihat keadaan sekeliling yang dipenuhi tembok dan jeruji besi. Tangan dan kakinya sudah tidak diikat, sumbat di mulutnya pun sudah di lepas tapi Nusa merasa mulutnya masih pahit.
Awas aja lu setan Tara, liat aja nanti gw bales! gumam Nusa dalam hati. Dia berada dipenjara bawah tanah yang sunyi, tidak ada tahan lain di sana.
"Heal!"
Nusa menyembuhkan lukanya dan berencana kabur. Tapi Nusa membayangkan jika dia kabur dari penjara. Tara akan menganggap dirinya seorang pengecut, dia pasti mengejek Nusa habis-habisan.
__ADS_1
"Untuk sekarang, aku akan ikuti alur cerita drama psikologi ini. Lagipula, kenapa komandan itu sangat marah padaku! Ya, Kalau aku perhatikan, komandan itu cukup cantik dan punya bodi bagus. Dia cocok untuk masuk harem milik Nusa. Hahaha... awas aja mbak komandan, aku balas perbuatanmu." Nusa bicara sendiri, dia juga sesekali tertawa seperti orang gila.
Krukkk....
Nusa berbaring di lantai sambil memegang perutnya. "Kalian semua kejam! 2 bulan lamanya aku tidak diberi makan."
Selama perjalanan Nusa tidak diberi makan, saat lapar Nusa memakan tanah yang ada di mulutnya. Jika Nusa berbicara, para prajurit kembali menyumbat mulutnya dengan tanah. Keadaan itu berlangsung selama perjalanan. Nusa pingsan karena tidak kuat menahan lapar.
Keesokan harinya.
Ribuan orang pergi ke Zalora, mereka semua sudah memadati bangun besar berbentuk Colosseum. Para penonton dan juga hakim duduk di atas tribun, sementara saksi dan terdakwa ditempatkan di tengah Colosseum.
"Hari ini adalah waktunya mengadili terdakwa, kalian semua saksikanlah pertunjukan yang menarik!" teriak seorang pria di atas tribun, "Oh iya, jangan lupa membeli makan ringan yang telah kami sediakan."
Pria lain berdiri lalu berteriak lantang. "Bawa para saksi dan juga terdakwa kemarin!"
Tara dan komandan Wina berjalan perlahan sambil melambaikan tangan, mereka di sambut hangat oleh penonton. Tidak lama Nusa di seret dengan kasar, tangan dan kakinya di ikat rantai besi.
Para penonton langsung terdiam, mereka ingat pria itu sebelumnya di bawa oleh prajurit menggunakan sangkar besi. Para prajurit mengatakan bahwa pria itu dimasukkan ke dalam sangkar karena berbahaya.
"Bukankah dia adalah pria yang berbahaya itu! kenapa para prajurit membiarkannya lepas dari sangkar." bisik penonton pria di tribun. Para penonton mulai membicarakan Nusa.
Nusa melihat Tara duduk manis bersama komandan Wina, sementara dirinya tergeletak ditengah ribuan penonton dengan keadaan mengenaskan.
Nusa menatap semua orang, dan berkata pelan. "Komandan gila itu memang menaruh dendam kepadaku. Dia sampai bersekongkol dengan Tara untuk menghukumku. Gawat! aku merasa akan terjadi sesuatu yang menegangkan."
Komandan Wina tersenyum jahat ke arah terdakwa, Nusa menelan ludahnya beberapa kali. Keringat mulai bercucuran membasahi tubuh Nusa.
__ADS_1