
Nusa mengamankan persenjataan musuh, misinya belum selesai sampai di situ. Kini Nusa sedang menyusup di istana walikota Waruru.
"Penjagaan di luar cukup baik, tapi aku berhasil melewatinya dengan mudah. Aku yakin istana ini memiliki sebuah rahasia besar, aku harap di istana ada gunungan emas," ucap Nusa pelan, dia berhasil masuk tanpa terdeteksi.
Nusa berlarian di lorong istana, penjagaan di dalam lebih ketat daripada diluar. Dengan skill tembus pandang, dia berhasil lolos tanpa di sadari siapapun. Skill ini tidak hanya membuat tidak terlihat, tapi si pengguna dapat menembus tembok atau bangunan apapun.
Nusa terus mencari ruangan atau hal yang mencurigakan. Saat melewati ruang walikota, dia tidak sengaja mendengar obrolan tentang gudang senjata, tanpa pikir panjang Nusa masuk dan menyadap pembicaraan mereka.
"Masalah persenjataan bagaimana komandan? apakah selama ini ada hambatan atau masalah yang kau hadapi," ucap seorang pria dengan suara berat.
"Tidak ada masalah tuan Roni, pembuatan senjata pemusnah hampir selesai. Orang-orang di kota tidak mencurigai gudang senjata itu, mereka mengira kita hanya mementingkan kesenangan saja," balas pria lain yang berdiri tegak.
Roni tersenyum sambil memainkan kumis tipisnya dan berkata. "Kerja bagus, saat senjata itu selesai, kita tidak perlu takut dengan kota lain. Mungkin senjata itu bisa membantu kita menaklukkan kota-kota di Kerajaan ini."
"Benar sekali tuan, saya pun berpikir demikian. Selama ini penduduk luar selalu merendahkan kita, mereka menganggap kota ini sarangnya pelacur dan berbagai kejahatan lainnya. Kenyataannya kita hanya berjuang demi hidup yang lebih baik." Pria itu mengepalkan tangannya.
Nusa diam tak bergerak, dia cukup tertarik dengan cerita mereka. Walaupun mereka orang-orang bejat, setidaknya mereka peduli nasib warganya.
Tiba-tiba terpikir sesuatu yang menarik, Nusa menaruh alat penyadap di kedua orang itu. Dia kemudian keluar dari istana dan kembali ke alun-alun.
"Sepertinya aku harus pergi ke toko pakaian, karena buru-buru pakaianku ketinggalan." Nusa berjalan santai, dia menikmati keindahan kota Waruru.
30 menit kemudian.
Cahaya fajar perlahan menyinari ujung rumah warga, geliat perekonomian mulai muncul di kota Waruru. Lapak-lapak di gelar sepanjang 1 kilometer, orang-orang berdatangan dari berbagai tempat.
Nusa berlari tertatih-tatih, dia terlambat karena asyik memilih pakaian. "" Si*al susah gerak, aku salut sama Atita setiap hari memakai gaun."
Dengan penuh perjuangan agar tidak jatuh, Nusa sampai di alun-alun kota. Nampaknya dia terlambat, Tara dan Atita sudah menunggu sambil berdiri di dekat air mancur.
__ADS_1
"Maaf aku telah, kalian sudah lama menungguku," ucap Nusa terengah-engah.
Tara terlihat kesal dan berkata. "Lama banget! kami sudah 30 menit berdiri di sini. Lupakan itu, jadi bagaimana penyelidikanmu semalam."
"Aku menemukan sesuatu yang menarik. Penduduk kota ini sedang merencanakan perang, mereka memiliki sebuah senjata rahasia."
"Apa maksudmu?! perang? senjata rahasia?!" tanya Tara terkejut.
"Ya, walikota berencana menyerang kota tetangga 3 minggu lagi. Mereka akan menggunakan senjata rahasia, kalau tidak salah namanya senjata pemusnah. Senjata pemusnah itu disimpan di bawah tanah, tepatnya di bawah gudang senjata."
"Oohh... menarik! Apa senjata pemusnah itu sudah kamu dapatkan." Tara sedikit bersemangat.
"Aku belum menemukannya, semalam hanya senjata biasa yang kutemukan. Ya, walaupun senjata itu cukup kuat menahan Artefak tingkat rendah."
"Mungkin itu yang mereka sebut senjata pemusnah. Maaf saya lancang nona muda." Atita spontan menunduk.
Tara menghela napas, dia nampak kecewa. "Mana mungkin senjata selemah itu di sebut senjata pemusnah. Sepertinya mereka menyembunyikan senjata pemusnah di tempat lain yang sulit ditemukan."
"Kamu benar! Level kita sangat jauh dengan penduduk di benua ini. Bahkan pemain veteran pun kesulitan mengalahkan kita, bisa dibilang kita adalah dewa di benua ini." Tara paham maksud dari perkataan Nusa.
Kekuatan mereka berdua bisa di bilang curang. Nusa dan Tara tidak pernah kalah dalam pertarungan, baik itu solo ataupun party. Nusa dan Tara bahkan pernah memusnahkan ratusan benua di perang besar.
"Kita lupakan dulu masalah itu. Sekarang beritahu aku keadaan di utara. Aku minta Atita untuk menjelaskannya."
Tara setuju dengan saran Nusa, dalam hal ini Atita sangat pandai menjelaskan. Selama misi berlangsung, Tara tidak ingin banyak bicara, dia merasa jijik dengan suara yang baru.
"Baiklah saya akan menjelaskan situasi bagian utara kota. Warga kota tidak banyak beraktivitas di malam hari, tempat-tempat hiburan malam banyak yang tidak beroperasi. Anehnya seluruh sekolah sihir tidak membolehkan siswanya pulang. Mereka seperti dipaksa tinggal di sekolah, selain itu para siswa ditempatkan di ruang bawah tanah."
"Apa kamu tahu mereka sedang apa di sana?!" tanya Nusa tanpa melihat wajah Atita.
__ADS_1
"Mohon maaf nona muda, saya tidak bisa masuk ke dalam sekolah. Informasi yang saya dapat sangat terbatas."
"Menarik, lalu situasi markas militer musuh bagaimana?"
"Saya tidak menemukan hal aneh di sana. Para prajurit berlatih seperti biasa, mereka nampak semangat walaupun latihannya berat."
"Hahh... Mereka latihan! tengah malam! Itu sangat mencurigakan," ucap Nusa terkejut.
Atita tidak tahu kenapa tuannya terkejut, dia pikir seorang prajurit sudah biasa berlatih tengah malam.
"Seorang prajurit hanya diberi jatah latihan sampai sore. Jika kondisi mendesak atau terjadi perang, semua prajurit diwajibkan berlatih sampai pagi," ujar Tara dengan suara serak.
Atita paham situasi kota Waruru saat ini. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Nusa dan teman-temannya. Tugas mereka di kota ini hanya mencari penyusup, bukan ikut serta dalam perang saudara.
"Apa rencanamu sekarang, aku yakin para penyusup akan bergerak dalam perang. Sayangnya kita belum menemukan para penyusup itu." Tara nampak kesal ketika membahas penyusup.
"Mmm... Aku memasang penyadap pada walikota dan beberapa bawahannya. Aku tau walikota itu bukan penyusup, dia hanya peduli dengan nasib rakyatnya. Kita bantu walikota memenangkan pertempuran itu, mungkin saja ada penyusup yang keluar."
"Apa kau yakin Nusa, bisa saja walikota adalah penyusup atau di kendalikan orang lain. Kita tidak bisa gegabah membantu mereka, aku khawatir musuh memanfaatkan kesempatan ini."
"Lantas apa solusimu untuk masalah kali ini. Jujur aku tidak bisa memikirkan banyak solusi."
Saat ini Nusa ragu mengambil keputusan, dia khawatir keputusannya berdampak buruk bagi Tara. Nusa juga tidak sepenuhnya berharap pada strategi Tara, pasalnya Tara selalu berpikiran brutal dan ceroboh.
Matahari pagi hampir sampai pada puncaknya, Nusa dan teman-temannya lama memikirkan strategi apa yang harus di pakai.
Tiba-tiba Atita berdiri di depan Nusa dan Tara. "Tuan dan Nona, saya punya satu ide. Bagaimana kalau kita tetap tinggal di kota ini sampai perang usai."
*Apa maksudmu?" tanya Nusa bingung.
__ADS_1
"Kita tidak perlu ikut perang ataupun mendukung walikota. Cukup diam dan tunggu hasil peperangan itu. Selama di kota, nona muda bisa menggunakan teknik boneka untuk mendapat informasi di seluruh kerajaan. Menurut saya itu lebih efektif, kita pun bisa menghindari resiko yang tinggi."
"Rencanamu bagus! aku sangat suka Atita," ucap Nusa sambil berdiri.