
Bulan purnama bersinar terang, menyinari beberapa bangunan di kerajaan Cakrawala. Pemandangan indah itu hanya di rasakan penduduk kota Giga dan kota-kota di sekitarnya.
Sebuah bayangan kecil berlari cepat di atap rumah warga. Sebagian orang-orang di kota Giga sudah lelap tertidur, mereka tidak melihat ataupun merasakan existensi dari makhluk itu. Dari kejauhan, sosok kecil itu seperti anak berusia 3 tahun.
Sosok kecil itu berlarian ke seluruh penjuru kota. Dia mengamati setiap bangun warga, sepertinya sosok itu sedang mencari sesuatu. Sampai di sebuah tempat, sosok itu tiba-tiba saja menghilang bak ditelan kegelapan.
...*********...
"Gawat! batu delima biru hilang!" teriak seorang prajurit panik, saking paniknya dia menerobos masuk kedalam ruang rapat.
Orang-orang di dalam ruangan segera berdiri. Seorang ketua menunjuk prajurit itu dan berkata dengan marah. "Bagaimana mungkin benda itu hilang! cepat kalian cari batu delima biru itu!"
"Ya."
Salah satu peserta rapat keluar dari ruangan dan diikuti semua prajurit untuk mencari batu delima biru. Ruangan rapat sekarang tanpa penjaga, mereka meninggalkan para petinggi tanpa berpikir panjang.
"Lapor ketua, semua batalion telah di terjunkan. Namun sampai saat ini kami belum menemukan petunjuk," ucap seorang pria sambil memberikan hormat, dia mengenakan zirah putih lengkap dengan pedang dan perisai.
"Sebenarnya apa yang terjadi?! siapa orang yang telah mencuri batu delima biru. Menurut laporan yang kuterima, tempat batu itu di simpan memiliki penjagaan ketat dari puluhan prajurit elit bersenjata lengkap," ujar seorang pria kebingungan. Dari penampilannya pria itu memiliki pangkat lebih tinggi dari prajurit lain.
Suara berat langkah kaki hilir mudik tidak karuan, seluruh prajurit bersenjata lengkap menyisir setiap penjuru kota. Gerbang kota Giga segera ditutup serta di jaga ketat prajurit.
Rumah-rumah penduduk tidak luput di periksa. Para prajurit meminta izin terlebih dahulu pada pemilik rumah untuk menggeledah rumahnya. Penduduk kota Giga mengizinkan rumah mereka di geledah, mereka juga ikut serta mencari keberadaan batu delima biru.
Lampu-lampu penduduk yang redup kembali menerangi kota, suasana malam itu sangat ramai. Puluhan hingga ratusan prajurit memenuhi jalan-jalan di kota Giga.
Saat semua orang sibuk, sepasang kaki kecil bergelantungan di atas atap mengawasi. Kaki kecil itu berwarna putih pucat layaknya mayat.
"Hahaha... Ternyata prajurit di kota ini tidak seperti yang aku bayangkan. Mereka semua sibuk mencari si pencuri ke setiap sudut kota, kecuali atap rumah warga," ledek sosok kecil itu sambil memakan uang.
__ADS_1
Sosok kecil itu adalah Ludra, dia merupakan salah satu bawahan Nusa. Ludra di tugaskan oleh tuannya mencari informasi sebanyak mungkin, di sela-sela pekerjaannya dia menyempatkan mencuri beberapa koin dan batu delima biru.
Ludra sengaja mencuri koin milik warga untuk bertahan hidup, dia tidak menggunakan koin itu untuk membeli makanan, tapi dia memakan koin untuk bertahan hidup. Bagi ras tuyul uang merupakan makanan pokok mereka.
Ludra mengangkat batu delima biru ke atas langit, dia mengarahkan batu itu ke arah rembulan. Batu di tangannya mengeluarkan cahaya indah berwarna biru, cahaya biru itu dihasilkan dari pantulan sinar bulan.
"Kenapa batu jelek ini begitu di sayangi orang-orang kerajaan? lebih baik aku membawanya sebagai cinderamata." Ludra memasukkan batu itu ke dalam ruang tunggu miliknya, kemudian dia menghilang.
Plakk...
"Cepat kau cari batu itu! jika kau tidak dapat menemukannya sampai fajar, maka aku akan memecatmu!" bentak seorang pria marah, dia memukul bawahannya kesal.
Pria yang terus di pukuli atasannya hanya bisa menahan rasa sakit. Dia bergumam dalam hati, "Aku sudah mencari batu itu kemana-mana, tapi batu jelek itu tidak bisa kutemukan."
Setelah puas memukuli bawahannya, pria itu pergi tanpa rasa bersalah. Dia berjalan cepat di Koridor dengan wajah merah padam. Semua orang tidak berani menatap pria itu, mereka akan menunduk ketika pria itu lewat.
Setelah satu jam mencari, mereka tidak berhasil menemukan batu delima biru. Kastil tempat walikota Giga tinggal mendadak ramai oleh langkah kaki prajurit yang hilir mudik.
"Menurutku ini semua karena kelalaian kita, bukan karena rencana seseorang. Kalaupun itu benar, tidak mungkin ada orang luar yang mengetahui lokasi batu delima biru," timpal pria lain sambil duduk di kursi.
Saat ini 6 orang duduk melingkar pada sebuah meja bundar. Mereka masing-masing memakai baju yang berbeda. Baju yang mereka pakai tidaklah sembarangan, ada yang nampak seperti komandan, perdana menteri, ilmuan, dan petinggi kerajaan.
"Bagaimana kalau kita melaporkan situasi ini pada raja," usul seorang pria berpakaian militer.
"Jangan bercanda! jika raja mengetahuinya, bukan hanya kau yang akan di hukum mati, kami pun akan ikut," bentak pria lain sambil menggebrak meja.
Pria yang selalu memasang wajah tenang berkata lembut. "Menurutku di antara kita ada seorang penghianat, karena hanya orang dalam yang tahu lokasi batu itu."
Tiba-tiba ruang rapat menjadi hening, tidak ada yang menanggapi perkataan si pria. Rapat darurat berakhir tanpa menemukan solusi.
__ADS_1
...*********...
Nusa, Tara dan Wina sedang asyik berburu makanan di pasar, mereka rela berdesakan demi mendapatkan makanan enak.
Kota Arzak merupakan destinasi wisata terkenal di seluruh benua. Banyak tempat hiburan yang memanjakan para wisatawan, salah satunya adalah pasar Salwa.
Ada banyak pasar yang wajib di kunjungi wisatawan, tapi yang paling banyak pengunjungnya adalah pasar Salwa. Pasar ini menyajikan kuliner khas kota Arzak yang lezat, ada juga pedagang yang menjual kuliner khas kota lain yang tidak kalah lezatnya. Semua kuliner di pasar Salwa hanya menjual makan khas dari kerajaan Bhayangkara. Tidak heran para wisatawan akan sulit mencari makanan khas dari kerajaan lain.
Pasar Salwa buka 2 kali dalam sehari. Pertama pasar itu akan buka pada pagi hari, biasanya para pedagang menjual makanan khas untuk sarapan. Lalu pasar akan buka kembali ketika matahari terbenam, para mengunjung sangat menantikan pasar Salwa buka pada malam hari.
Keadaan pasar Salwa di pagi dan malam hari sangatlah berbeda. Pada malam hari para wisatawan disuguhkan pemandangan indah dari lampu-lampu yang menerangi jalan.
Saat udara malam mulai dingin, para wisatawan akan di manjakan oleh hangatnya makanan dan minuman yang dijajakan para pedagang. Malam hari adalah surganya para pencinta kuliner, orang-orang bisa menikmati makanan enak dengan harga terjangkau.
"Kurang seru kalau gak ada minuman keras, Kira-kira tempat yang menjual minuman keras dimana?" tanya Tara penasaran, kedua tangannya dipenuhi jajanan kaki lima.
Wina menghela napas berat dan berkata. "Kerajaan Bhayangkara melarang semua jenis minuman keras di perjualbelikan. Kalau ketahuan melanggar... kekkk... mati!"
Uhuk. uhuk...
Nusa sampai tersedak mendengarnya, lalu bertanya pada Wina. "Kenapa kerajaan melarangnya? bukannya bisnis itu sangat menguntungkan."
"Emm... Mungkin kerajaan dapat merauk untung besar dari penjualan minuman keras. Tapi resiko yang mereka akan hadapi tidak sebanding dengan keuntungan yang didapat. Mengonsumsi minuman keras dalam waktu lama sangat membahayakan kesehatan warga. Biasanya dampak lain dari minuman keras adalah kejahatan akan meningkatkan pesat, kalau kejahatan merajalela maka kerajaan sulit menanganinya," ucap Wina sambil fokus memandang kuali panas berisi makanan yang menggugah selera.
"Menurutku sesuatu yang merugikan diri sendiri ataupun orang lain sebaiknya dihindari," ucap Nusa sambil memukul bokong Tara, "Kamu jangan murung terus! lihat, masih banyak minuman enak di sana."
Tara yang murung kembali ceria, sekarang dia lari menuju kerumunan dan sibuk berdesakan demi membeli makan enak.
"Malam masih panjang, sebaiknya kita nikmat tanpa beban apapun. Oh iya, aku melupakan sesuatu, tapi apa ya?" Nusa merasa melupakan sesuatu yang penting, tapi dia tidak ingat dan ikut terbawa suasana. Malam di pasar Salwa benar-benar menyenangkan.
__ADS_1
Nusa dan Tara terbawa indahnya malam dan melupakan sesuatu yang penting. Ketika mereka ingat, mungkin mereka sudah terlambat.