Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua

Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua
BAB 22 : BEBAN BERAT KOMANDAN WINA


__ADS_3

Para prajurit mengepung pria itu, tetapi mereka kesulitan menangkapnya karena pria itu berdiri di puncak Colosseum yang tinggi menjulang.


"Kami beri waktu sampai sore hari! jika bos kami belum dibebaskan. Maka anak perdana menteri kerajaan Bhayangkara tinggal kenangan saja."


Pria itu menghilang tanpa jejak, situasi di tribun makin kacau. Hakim dan petinggi pengadilan lain masuk ke dalam ruangan, mereka di jaga ketat oleh prajurit.


Para penonton berdesakan, banyak dari mereka terinjak-injak. Komandan Wina memerintahkan prajuritnya agar mendahulukan keselamatan warga.


"Soul Bonds."


Tara merapal sihir tingkat menegah, semua penonton seketika tidak bisa bergerak. Sihir Tara membuat targetnya tidak bisa bergerak, jika targetnya melawan dipastikan jiwa dan jasad mereka akan terpisah. Komandan Wina, Lusi, Deni dan Arga terkejut.


"Siapa nona kecil ini! dia bisa menggunakan sihir tingkat tinggi dengan mudah," ucap Lusi tidak percaya.


"Ehh... "


"Ehhh... "


"Ehhhhh! " ucap Nusa dan Tara dalam hati, mereka berdua pun terkejut dan hapir pingsan.


Nusa melirik Tara. "Bukannya itu sihir tingkat menengah?!" Nusa menggunakan telepati untuk berkomunikasi dengan Tara.


Tara mengangguk heran. Lusi memegang tangan Tara, kedua matanya berbinar. Dia tidak percaya bisa melihat sihir tingkat tinggi.


"Nona sebenarnya anda itu siapa? Meskipun aku adalah petualang tingkat atas, tapi aku belum pernah melihat sihir yang nona pakai." Lusi bertanya kepada Tara dengan antusias.


Tara dibuatnya tidak berdaya, dia bingung harus menjawab pertanyaan Lusi.


"Ehmm... Lebih baik sekarang mbak komandan menyampaikan sesuatu pada warganya agar tidak panik," ucap Nusa sambil menutup mulutnya dengan satu tangan.


Komandan Wina mengikuti saran Nusa. "Perhatikan semuanya! kalian tidak perlu panik. Penjahat itu sudah pergi dari Colosseum, dia hanya menculik anak perdana menteri bukan anak kalian."


"Kalau anak perdana menteri saja bisa di culik, apalagi anak kami! Mikir!" teriak seorang pria dari tribun.


"Benar! dia hanya memikirkan kisah cintanya saja. Dasar komandan bucin!" timpal penonton lain dengan marah.


Komandan Wina tidak bisa berkata-kata, dia terkena serangan mental akut. "Hancur sudah masa depanku." Komandan Wina terjatuh lesu ke tanah.


Nusa memutar kedua matanya malas. "Komandan kok gobl*k! Seharusnya dia menenangkan warga, buka membuat mereka tambak panik."


Tara meminta ketiga petualang didepannya untuk mengurus penonton yang panik. Sementara dia akan mengejar si pembuat onar. Ketiga petualang itu bergegas menuju tribun, mereka mencoba menenangkan penonton dan membantu para penonton keluar Colosseum dengan selamat.

__ADS_1


"Sekarang kita pergi ke alun-alun, musuh hanya mengincar prajurit dan orang penting saja." Nusa menggendong komandan Wina, lalu membawanya keluar Colosseum bersama Tara.


Komandan Wina meronta-ronta, dia tidak terima Nusa membawa dirinya seperti memikul sekarung beras. Kepala komandan Wina berada di punggung Nusa dan menghadap ke bawah.


Sampai di alun-alun mereka langsung pergi ke toko pakaian. Nusa menurunkan komandan Wina, dia nampak kelelahan.


"Berat banget! kaya mikul beras," ucap Nusa dengan napas naik turun.


"Tidak sopan! mungkin armorku yang terlalu berat. Lagipula kenapa kamu membawaku kemari?! seharusnya kita mengejar pelaku penculikan." Komandan Wina heran dengan keputusan yang Nusa ambil.


Nusa mencubit hidup komandan Wina, komandan Wina berteriak kesakitan lalu berusaha melepaskan hidungnya. Nusa melepaskan hidung si komandan dan memberinya syarat untuk menuruti semua perintahnya.


Nusa memanggil pemilik toko dan berkata. "Tolong carikan pakaian paling seksi untuk istri saya."


Komandan Wina menjadi salah tingkah, wajahnya memerah. "Apa! dia mau menikahiku. Aku belum siap berumah tangga." Komandan Wina memegang pipinya sambil bergumam tidak jelas.


Tara menemani Komandan Wina memilih pakaian, sedangkan Nusa menunggu mereka.


"Ma-maaf menunggu lama," ucap seorang wanita dengan gugup.


Nusa mengangkat kepalanya, dia terkejut melihat wanita didepannya. Nusa tidak percaya wanita yang selalu bernampilan ala militer kini berubah menjadi wanita cantik gelita. Komandan Wina menggunakan gaun indah berwarna biru.


"Ternyata pakaian itu sangat cocok untukmu." Nusa sedikit malu mengatakannya.


Tara memalingkan Wajah dan berkata dingin. "Kalian berdua tunda dulu mesra-mesraannya! kita tidak memiliki banyak waktu, tinggal 4 jam lagi sebelum anak perdana menteri dieksekusi."


Komandan Wina melepas pelukannya, dia kembali fokus pada tugasnya sebagai komandan pasukan elit.


...*********...


"Kamu yakin lokasi mereka ada disini, aku lihat tidak ada tanda-tanda kehidupan di hutan ini," tanya Tara memastikan lokasi musuh.


Nusa melihat kertas coklat yang telah diberi sihir, sebelum penjahat itu pergi, Nusa meletakkan alat pelacak di pakaiannya.


Nusa, Tara, dan Wina bersembunyi di semak belukar. Mereka belum menemukan lokasi musuh, padahal lokasi yang ditunjukkan alat pelacak sudah benar.


"Mungkin mereka menggunakan alat untuk menyembunyikan diri atau sebuah sihir khusus yang dimiliki penyihir tingkat tinggi," ujar komandan Wina pelan.


Nusa meminta Tara menyelidiki area sekitar, jika benar mereka menggunakan sihir atau alat semacam itu. Tara bisa menghancurkan dengan mudah.


Tara pergi terlebih dahulu, saat Nusa berdiri ingin menyusul Tara, tiba-tiba tangannya di tarik oleh komandan Wina. Nusa membalikan wajahnya ke arah sang komandan, dia melihat wanita itu sedang tertunduk.

__ADS_1


Nusa bertanya kepada komandan Wina, mungkin dia memliki masalah yang sulit untuk dijelaskan kepada orang lain. Komandan Wina masih tertunduk, tidak lama dia menatap Nusa dengan mata berlinang.


"Apakah kita bisa menyelamatkan anak perdana menteri itu. Aku takut kita gagal! maaf sudah membuat kalian dalam masalah," ucap Wina sambil terisak. "Orang bodoh sepertiku tidak pantas menjadi komandan pasukan elit. Padahal selama ini aku terus berusaha mati-matian agar di hargai! Nyatanya para petinggi selalu menyalahkanku jika terjadi kesalahan kecil. Para warga pun tidak pernah memandangku ada! mereka mengganggap kerja kerasku selama ini adalah sesuatu yang wajar karena aku seorang komandan."


Komandan Wina melepaskan tangan Nusa, dia benar-benar depresi dengan perlakuan yang di terimanya selama ini. Air matanya terus mengalir, dia tertunduk lesu, komandan Wina melanjutkan perkataannya.


"Sebaiknya kita serahkan masalah ini pada kerajaan. Kalian berdua sebaiknya meninggal ibukota, jika tertangkap kamu akan dieksekusi."


"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Nusa sambil mengusap mata komandan Wina.


Komandan Wina kembali tertunduk dan berkata lemah. "Aku akan mengakhiri hidupku di sini! mungkin itu adalah keputusan terbaik."


Nusa tersenyum lalu mengusap kepala sang komandan. "Kalau kamu mati, siapa yang akan mendapatkan penghargaan? Jangan perdulikan apa kata orang! Mustahil setiap orang menyukai tindakan yang kita lakukan. Jika kamu merasa semua orang tidak menghargaimu berarti kamu masih normal. Karena hanya orang gila yang menganggap semua orang menyukainya."


Tara memberi sinyal, Nusa membalikan badan dan berkata. "Jangan perdulikan gelar ataupun jabatan, lakukan saja yang apa kamu suka! Sekarang waktunya kita selamat anak beban itu!"


...*******...


"Semua harta akan hilang, semua tangisan akan diam. Hilangkan semua penghalang dan singkirkan semua kejahatan. PInjamkan kekuatan dasyat padaku! Devil Blood! " Tara menyentuh dinding tidak terlihat kemudian merapal mantra, tujuannya merapal mantra adalah sekedar menambah durasi saja.


Tiba-tiba sebuah kubah besar muncul di depan Tara, kubah itu tertutup darah segar berbau amis. Tara memukul kubah itu sampai hancur, tidak lama setelah kubah itu hancur, 2 bilah pedang menyerang ke arah Tara.


Sring...


Tara melompat ke belakang dan mengeluarkan belati di pinggangnya. Seorang pria bertubuh sedang menatap Tara dengan hawa membunuh. Dia langsung berlari ke arah Tara sambil mengarahkan pedangnya pada leher Tara.


Tang...


Tara menahan serangan itu dengan belatinya, dia lalu menendang kaki pria itu sampai terjungkal. Tara mencoba menusuk mata si pria, pria itu menghindar ke samping. Dengan cepat pria itu bangkit kembali dan menghindari setiap serangan belati milik Tara.


Pria itu mengambil jarak aman, dia kesulitan menyerang Tara dari dekat. Rupanya dia tidak sendiri, 2 pria berpakaian ninja muncul di belakangnya.


Pria yang memegang 2 pedang itu kembali menyerang Tara, saat Tara menahan serangannya. Tiba-tiba pria lain muncul dari belakang dan melemparkan suriken ke arah Tara.


Tara tidak siap menerima serangan kejutan itu, 5 suriken menancap di punggungnya. Pria itu kembali melemparkan suriken, Tara menendang perut pria di depannya. Kemudian dia melompat 360 derajat ke belakang lalu menendang kepala si pria yang melempar suriken sampai terpental jauh.


Kedua pria lain menghampiri temannya yang terlempar itu. "Ternyata nona kecil itu sangat kuat! kita harus memberitahu ketua," ucap seorang pria. sambil menahan sakit, dia sekarang terkapar di tanah.


"Gawat! suriken itu sudah diberi racun. Kesadaranku mulai terganggu, mereka bertiga musuh yang merepotkan." Pandangan Tara terasa sedikit kabur.


Melihat Tara sempoyongan pria pemegang pedang ganda berlari cepat dan menebaskan pedangnya ke arah Tara.

__ADS_1


Tang....


Komandan Wina tiba-tiba muncul di hadapan Tara, dia menahan serangan pria itu menggunakan pedangnya. "Kau baik-baik saja! maaf terlambat."


__ADS_2