Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua

Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua
BAB 47 : BATU ANEH


__ADS_3

Nusa bangun dari tidurnya, dia mendengar keributan di depan penginapan. Tidak biasanya orang-orang kota Waruru membuat kegaduhan di siang hari. Apakah ada yang salah dengan penginapan Nusa, yang jelas suara teriakkan warga jelas terdengar dari lantai 2.


"Bangun Ra, di luar ada yang ribut." Nusa mengguncang tubuh Tara pelan.


Keributan yang semakin menjadi, membuat Nusa penasaran. Dia tahu Tara sulit bangun pagi, apalagi Tara terjaga semalaman. Nusa mengintip dari jendela, ratusan orang membawa senjata berteriak di luar.


"Kami tahu ada wanita cantik di sini! keluarkan dia!" teriak seorang pria sambil mengacungkan pedang.


"Benar! keluarkan wanita itu sekarang!" timpal pria lain tidak mau kalah.


Penjaga penginapan berusaha menenangkan warga. "Saya tidak tahu ada wanita cantik menginap di sini. Mungkin kalian salah penginapan."


Kerumunan massa tidak percaya begitu saja. Mereka mulai bertindak agresif, melempar batu dan kayu ke arah penginapan. Penjaga penginapan kewalahan menghadapi ratusan massa yang menggila, mereka mulai merangsek masuk ke dalam penginapan.


"Tara, Atita, bangun! di luar ada kerusuhan." Nusa mengambil sebilah kayu, lalu dipukulkannya pada Tara dan Atita. Sontak keduanya bangun sambil memegang perut.


Nusa menjelaskan situasi diluar, langkah kaki terdengar menaikan tangga. Tara dan Atita bersiap dengan senjata mereka masing-masing.


"Makanya jangan cari masalah, Nusa! Liat hasilnya, orang-orang berebut ingin menangkapmu."


"Iya maaf Tara, aku kan gak sengaja. Lagipula itu salah mereka tergoda dengan kecantikan mbak Nusa." Nusa mengibaskan rambut indah.


"Aku tidak punya waktu meladeni mereka," ucap Nusa sambil melompat dari jendela kamarnya.


Awalnya Tara dan Atita bingung, tidak biasanya Nusa melarikan diri. Tanpa banyak pikir keduanya mengikuti Nusa. Mungkin Nusa berpikir, tidak ada untungnya meladeni orang-orang payah.


Brakk...


Pintu kamar di buka paksa, para pria bertubuh kekar masuk ke dalam.


"Tidak ada siapapun di sini. Mungkin kita salah penginapan," ujar pria kekar sambil mengacak-acak seisi kamar.


Pria lain ikut membantu mencari. "Aku yakin wanita itu ada disini. Semalam kami mengikutinya sampai di depan penginapan."


Setiap orang memeriksa satu kamar, tidak ada yang mereka lewat kan satupun. 30 menit mencari, mereka tidak menemukan wanita cantik di sana.


"Sudah aku bilang, kita salah penginapan. Semuanya kita pergi, wanita itu tidak ada di sini." Seorang pria memberi arahan pada rekannya.


Belasan, puluhan, hingga ratusan pria keluar dari penginapan. Keadaan penginapan berantakan, mereka mencari sambil mencuri barang pengunjung.


...*******...

__ADS_1


Nusa, Tara dan Atita bersantai di atas menara tinggi. Mereka menyaksikan ratusan orang memeriksa setiap penginapan di kota. Toko-toko dan pasar tidak luput mereka masuki, sebenarnya apa yang di cari para pria itu?


"Kenapa orang-orang itu mengejarmu?" tanya Tara sambil melirik Nusa.


Nusa menghela napas berat. "Penampilanku dimata mereka layaknya mainan. Pertama mereka pakai, setelah puas maka mereka jual atau mereka sewakan. Jadi cewek itu sulit, apalagi ceweknya cantik, kaya aku."


Tara berkata sambil memutar bola matanya malas. "Apa untungnya jadi wanita cantik. Hidupmu tidak akan berarti jika hanya jadi mainan para pria. Wanita itu terhormat karena menjaga diri, Nusa."


"Iya, iya, aku mengerti. Lebih baik kita pergi ke tepi sungai." ucap Nusa mengalihkan perhatian.


"Tepi sungai?" tanya Tara.


"Iya, aku baru sadar ada sesuatu yang aneh pada celah batu. Pasalnya tiba-tiba ada wanita muncul di sana, padahal sebelumnya tidak ada siapapun."


"Okee... Aku dan Atita akan pergi ke sungai lebih dulu, siapa tahu di sana ada markas rahasia penyusup. Kamu tenang saja, Nusa. Setiap tempat akan kami periksa tanpa terlewat. Ingat, kamu sekarang incaran banyak orang. Aku yakin tidak lama lagi ada selebaran di kota mencarimu." Tara berdiri lalu mengajak Atita pergi ke sungai.


Nusa merebahkan tubuh di pucuk menara, hari ini cukup merepotkan untuknya. "Aku tidak ingin masuk rumah bordir lagi. Kota ini benar-benar markasnya para penjahat, tidak heran kota-kota lain membenci kota Waruru."


Nusa menatap langit biru. Kota semakin ramai oleh teriakan para pria. Mereka marah karena tidak kunjung menemukan Nusa.


"Nusa, cepat kemari. Aku menemukan sesuatu yang menarik." Tara menghubungi Nusa menggunakan telepati.


"Okee... Tunggu aku beberapa detik lagi." Nusa menjentikkan jari, tiba-tiba dia menghilang ntah kemana.


Tara dan Atita fokus memandang batu besar dari dekat. Batu itu berbentuk setelah lingkaran, memiliki tinggi 18 meter dan lebar 9 meter. Wajah Tara dan Atita cukup dekat dengan batu, mereka hampir menyentuh sisi luar batu itu.


"Ra...," ucap Nusa sambil menupuk pundak Tara.


Spontan Tara menjerit kaget, Nusa tiba-tiba datang dan menepuk pundaknya.


Nusa nampak bingung dengan reaksi Tara. "Kenapa kamu menjerit, Tara."


"Jangan tiba-tiba menepuk pundakku!" sungut Tara.


"Iya maaf, jadi kamu menemukan apa di sini?" tanya Nusa kembali mengalihkan perhatian.


Tara menunjuk batu besar di depannya. Warna batu itu hitam legam, permukaannya licin dan tidak di tumbuhi lumut.


Atita memegang dagunya, dia berpikir beberapa saat lalu berkata. "Cukup janggal jika batu sebesar ini tidak berlumut. Padahal jarak sungai dan batu hanya 1 meter dari bibir sungai."


Mereka berputar untuk melihat celah besar yang ada di tengah batu. Nusa, Tara, dan Atita masuk ke dalam celah batu itu.

__ADS_1


Tara menyentuh permukaan batu. "Coba kamu perhatian, potongan pada celah batu sangat rapi dan presisi. Mustahil retakan ini terbentuk secara alami, misalnya terkenal gempa bumi atau banjir bandang."


Nusa dan Atita ikut menyentuh permukaan batu. Mereka bertiga masuk lebih dalam, memastikan tidak ada hal yang mencurigakan. Nusa mencoba menekan-nekan dinding batu, siapatahu dibalik dinding batu terdapat tombol rahasia.


Sepuluh menit berlalu, ketiga orang itu belum menemukan hal ganjil di sekitar batu.


"Aku ingin memeriksa bagian atas. Kalian tetap di sini," ucap Tara lalu melompat ke atas batu.


Tara bisa melihat sekitar dari atas, tidak ada yang aneh dan relatif aman. Tiba-tiba dia menginjak permukaan batu yang licin dan tergelincir jatuh ke bawah.


Brukk...


Nusa dan Atita langsung berlarian keluar dari batu. Mereka mendengar sekarung beras jatuh dari langit. Nusa menatap kecewa saat melihat bukan beras yang jatuh, melainkan Tara.


Kepala Tara menancap sampai dada, tubuhnya lurus ke atas seperti pasak bumi. "Atita, bantu tuanmu keluar dari tanah. Sementara aku akan ke atas, siapatahu ada musuh yang menyerang."


"Baik nona muda." Atita berjalan pelan ke arah Tara. Dia menarik ujung pakaian Tara, mencoba mengeluarkannya.


Nusa menyerahkan Tara pada Atita, dia pergi ke atas batu. Nusa penasaran dengan puncak batu itu. "Tidak ada apapun di sini, hanya batu kosong yang licin."


Karena bosan Nusa bereksperimen, dia melompat-lompat di atas puncak batu. Layaknya tempat bermain, Nusa menjadi batu itu seperti trampolin.


Tidak di sangka, pada lompatan terakhir kaki Nusa terjerembab. Nusa berusaha mengeluarkan kakinya dari batu, hasilnya sia-sia karena kakinya tambah sakit.


"Tara sudah keluar apa belum!" teriak Nusa kencang.


"Sudah nona muda," balas Atita dengan volume keras.


Nusa meminta Tara dan Atita membantunya keluar dari batu. Atita melompat ke atas, siap membantu tuannya keluar.


"Dimana Tara?!" tanya Nusa heran.


"Dia ada di bawah, katanya cukup Atita yang membantu nona muda." Atita mengeluarkan linggis dari ruang tunggunya.


Atita menghantamkan linggisnya ke sela-sela kaki Nusa. Kerasnya hantaman menimbulkan sedikit percikan api. Butuh waktu 3 menit untuk membuat lubang di batu. Kaki kanan Nusa perlahan di angkat, tidak lama kaki kirinya juga berhasil keluar.


"Dasar batu aneh! Dia berusaha mencelakakan kita," bentak Nusa pada batu itu.


Tiba-tiba terdengar gemuruh dari batu, guncang cukup kencang terjadi. Nusa dan Atita mencoba melompat, tapi batu itu menarik mereka ke dalam batu. Mereka terus meronta-ronta, semakin besar tenaga yang dikeluarkan, maka semakin cepat Nusa dan Atita masuk ke dalam batu.


"Le-pas-kan kakiku," ucap Nusa berusaha menarik kakinya.

__ADS_1


Sayang, keduanya tertarik ke dalam batu lalu menghilang tanpa jejak.


__ADS_2