Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua

Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua
BAB 45 : TUAN JERAMI


__ADS_3

"Siapa kau! tunjukkan dirimu pengecut!" teriak pria itu sambil mencekik si gadis.


Semua pria mulai panik, mereka tidak tahu siapa yang menyerang, yang jelas serangan itu memberikan dampak serius.


Tiba-tiba sepasang boneka merayap di kedua tangan pria yang mencekik si wanita.


"Ledakan boneka."


Boomm...


"Aaaa...!" teriak wanita itu ketakutan, dia melihat tangan si pria putus. Darah pria itu berceceran di mana-mana, wanita itu nampak terguncang menyaksikan kejadian sadis itu.


Para pria mengeluarkan senjata, baik itu senjata tajam ataupun senjata tumpul. Salah satu pria kembali menyandera wanita lemah di depannya.


"Keluar kau penjahat! kau pikir kami takut denganmu," ancam pria itu sambil meletakkan pisau di leher si wanita.


"Jurus ajaib 3, Darah boneka santet!"


Boomm...


"Aaaa...!" Wanita itu kembali teriak histeris. Kali ini dia melihat satu persatu kepala pria di dekatnya hancur berkeping-keping.


"Kau baik-baik saja nona," ucap seorang wanita dengan suara indah.


"Aku baik-baik sa...,"


Wanita itu mendongakkan kepalanya, dia melihat seorang wanita berdiri di atas atap. Rambut panjangnya berkibar tertiup angin malam, wanita itu berdiri persis di belakang bulan purnama.


"Aku tanya, apa kau baik-baik saja nona," ucap Nusa sambil menepuk pundak si wanita.


Wanita itu terkejut bukan main, baru saja dia melihat Nusa di atas atap. Tiba-tiba saja dia menepuk pundaknya dari belakang.


"Sa-sa-saya baik-baik saja, te-terima kasih nona sudah menolong saya," ucap wanita itu terbata-bata.


"Sekarang kamu bisa pulang tanpa khawatir lagi." Nusa meminta wanita itu cepat pulang, hari sudah malam dan kejahatan di kota akan meningkatkan.


Tapi wanita itu menolak, setelah kejadian ini dia tidak ingin pulang sendirian. "Mo-mohan maaf nona, apakah anda bisa menemani sa-saya pulang."


"Baiklah aku akan mengantarmu pulang. Ingat, jangan pernah pulang malam, apalagi jika sendirian." Nusa memegang tangan si wanita.


...*******...


Seorang wanita dengan penutup kepala berjalan sendiri di tepi sungai. Cahaya bulan purnama tertutup tebalnya awan hitam, wanita itu seakan menyembunyikan sesuatu dari balik jubahnya.


Saat awan hitam mulai menghilang, cahaya bulan perlahan menyinari sungai. Wanita itu tiba-tiba hilang sebelum cahaya bulan mengenainya.


Sring...


Wanita itu tiba-tiba berada di suatu tempat, dia menggunakan sihir untuk berpindah.

__ADS_1


"Tidak biasanya kau pulang selarut ini Jia. Apa ada sesuatu yang menarik diluar sana?" tanya seorang pria sambil mengelus peliharaannya.


Seorang pria duduk santai di atas kursi besar, kedua matanya ditutup kain tipis berwarna hitam. Pria itu memakai banyak cincin batu akik di jarinya, jubah besar menyelimuti tubuh kekarnya.


Jia berlutut di depan si pria. "Iya tuan, di tengah perjalanan saya bertemu seorang wanita, nampaknya dia akan di perkosa oleh belasan pria."


"Mmm... Menurutku itu hal yang biasa, lalu hal yang menariknya?" tanya si pria tak acuh.


"Saat wanita itu hampir celaka, tiba-tiba saya melihat kejadian menarik. Tangan salah satu pria tiba-tiba meledak dan putus tuan."


Pria itu mengatur posisi duduknya lebih tegak. "Ohhh... menarik, lalu?"


"Semua pria di sana panik, mereka mengeluarkan senjata lalu menyandera si wanita. Awalnya saya berpikir wanita itu sudah tamat, tapi tidak disangka kepala salah satu pria meledak dan hancur. Di susul oleh kepala teman-temannya yang ikut meledak."


Pria itu memasang wajah gembira, dia berdiri dan memegang pundak si wanita. "Lanjutkan ceritamu!"


"Ba-baik tuan, mo-mohan maaf lancang. Tu-tuan bisa duduk agar saya lebih nyaman bercerita." Wajah si wanita sedikit memerah.


"Baiklah, lanjutkan cerita tanpa kaku,anggap saja aku temanmu," ucap si pria sambil kembali duduk di kursi.


"Baik tuan, aku lanjutkan. Wanita itu terdiam gemetar, hampir seluruh tubuhnya di selimut darah segar. Aku mencari siapa pelaku penyerangan itu, ternyata dia adalah seorang wanita cantik yang berdiri di atas atap. Wanita itu seperti bidadari, rambut indahnya berkilau terkena cahaya bulan. Aku rasa dia bukan penduduk kota ini tuan."


"Wanita muda?!" tanya si pria memastikan umur wanita itu.


Jia berpikir sejenak, dia mencoba mengira-ngira umur si wanita penyelamat itu. "Iya tuan, aku rasa umurnya sekitar 100-170 tahunan. Wanita itu memiliki level yang berbeda dari penduduk kota biasa, aku tidak bisa merasakan hawa keberadaannya. Sihir si wanita pun belum pernah kulihat sebelumnya."


"Hahaha... Menarik! Bagus Jia, aku sangat senang dengan ceritamu. Hahaha..." ujar si pria diselingi tawa gembira.


"Iya tuan," ucap Jia senang.


...******...


"Terima kasih nona telah mengantar saya pulang." Tangan si wanita memegang Nusa gembira.


"Sama-sama, lain kali pulang sebelum matahari terbenam. Aku pamit, selamat istirahat nona pelayan." Nusa berbalik badan lalu pergi menjauh.


"Tu-tunggu sebentar," panggil si wanita ragu, "sepertinya saya kenal nona, nona pelanggan baru toko kami kan."


"Jangan panggil aku nona, panggil saja Lia. Dan berhenti bicara kaku, santai aja, kita kan teman."


Wanita itu tersenyum manis. "Salam kenal Lia, aku Dira, pelayan toko makanan terpopuler di kota Waruru. Sekarang kita sudah jadi teman, jadi kamu bisa main ke sini kapanpun kamu mau. Baiklah, sampai jumpa besok Lia."


Dira berpamitan pada Nusa lalu masuk ke dalam rumahnya. Nusa menghela napas lega, dia sedikit jijik melihat tingkah wanita pelayan itu.,


"Aku harus cepat kembali sebelum matahari terbit." Nusa berlari cepat menuju penginapan.


Nusa pergi dari penginapan secara diam-diam, dia tidak boleh ketahuan oleh Tara dan Atita. Lambat laun, Nusa mulai terbiasa dengan penampilan barunya sebagai wanita.


Kedua kaki Nusa tiba-tiba saja berhenti melangkah. "Aku penasaran kenapa toko itu sangat laris. Padahal rasa makanan di sana tidak terlalu luar biasa."

__ADS_1


Nusa mengarahkan beberapa boneka jeraminya untuk masuk ke dalam toko. Tidak ada seorang pun yang dapat melihat boneka itu, Nusa mengaktifkan skill tidak terlihatnya pada para boneka.


"Untungnya aku menambah fitur baru pada boneka jerami, sekarang para boneka bisa melihat dan bicara. Aku perlu bersembunyi, tidak baik wanita cantik sepertiku keluar tengah malam."


Nusa mencari tempat yang sekiranya aman. Kemampuannya dalam menggunakan boneka jerami luar biasa. Tapi ada batasan dimana Nusa tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


3 menit mencari, akhirnya dia menemukan sebuah batu besar di pinggir sungai. Batu itu memiliki celah lebar dan muat di masuki 4 orang bertubuh kecil.


Nusa berlari cepat menuju celah batu, tiba-tiba.


Brak...


Jia keluar dari celah batu itu dan ditabrak Nusa. Kepala mereka saling berbenturan keras, Nusa dan Jia sampai terjungkal ke belakang.


"Argh...," erang Jia kesakitan.


Nusa berdiri lalu mendekati Jia. Dengan kecepatan cahaya, kedua tangannya menarik pipi Jia.


"Ke-na-pa ka-mu ada di sini!" ucap Nusa kesal sambil memainkan pipi Jia.


Jia mengaku salah, dia minta maaf karena menabrak Nusa. "To-tolong lepaskan ta-tangan anda nona," pinta Jia terbata-bata.


Nusa tidak mendengarkan permintaan Jia, dia terus memainkan pipi Jia tanpa ampun. Jia mulai kesal karena Nusa tidak menggubrisnya, dia balik menarik pipi Nusa kencang.


20 menit lamanya Nusa dan Jia saling mengumpat serta tarik menarik pipi. Mereka layaknya anak kecil yang berebut boneka baru. Akhirnya Nusa dan Jia menyerah, mereka melepaskan tangan bersamaan.


Nusa terkejut melihat wajah Jia. "Kamu si wanita pengangguran kan?!"


"Siapa yang bilang aku pengangguran!" bentak Jia tak terima.


"Ya anda, setiap hari hanya duduk di toko orang lain tanpa memesan. Gak tau malu!"


"Jangan sembarangan ya, a-aku selalu membayar minum di sana."


"Iya, iya, Wangur."


"Wagur?" tanya Jia tidak paham maksud Nusa.


"Iya, wanita nganggur."


Tiba-tiba Jia melayangkan pukulannya ke arah Nusa. Dengan santai Nusa menepis serangan Jia, lalu balik memukulnya tepat di perut. Nusa kemudian menendang Jia sampai terbang ke langit, boneka jeraminya mengelilingi Jia.


"Ledakan jerami level 20."


Boomm...


"Aaaa...!" teriak Jia kesakitan, kedua tangan dan kakinya putus terkena ledakan.


Bukk...

__ADS_1


Jia terhempas ke tanah kuat, kesadarannya hampir menghilang. "Be-benar yang tuan katakan. Ja-jangan pernah melawan pengguna tuan jerami."


__ADS_2