
Nusa berjalan santai di tengah kota. Dia menyisir rambut dengan jemari. Wangi sampo khas pria dewasa tercium dari rambutnya yang mengkilap. Penampilan Nusa kembali berubah. Dengan pakaian sopan ala keluarga Kerajaan di abad pertengahan, dia sangat percaya diri.
Tara dan Atita mengawasi gerak-geriknya dari jauh. Mereka belum tahu musuh seperti apa yang akan di hadapi.
"Kota ini terlalu nyaman untuk para pribumi." Nusa memperhatikan sekeliling. Dia melihat kerumunan penjual dan pembeli sedang bertransaksi di pasar pagi. "Ya, begitulah jika aku dilihat dari luar. Tapi orang-orang di sini cukup aneh, seperti..."
"Permisi, tuan," sapa seorang wanita. "Saya perhatian, tuan belum membeli apapun di pasar. Jika tuan bingung mencari barang atau belum tahu soal harga di pasar. Mungkin saya bisa membantu."
Nusa tersenyum.
"Terima kasih tawarannya. Kebetulan saya sedang mencari pedagang buah, Nona."
"Kalau begitu boleh saya antar." Wanita itu tersenyum hangat.
Sampai di sebuah toko. Aroma buah-buahan segar langsung tercium. Orang-orang sibuk memilah gundukan buah yang akan mereka beli.
"Toko buah ini terkenal karena produknya berkualitas tinggi. Bukan hanya itu, mereka juga sering memberi diskon dan hadiah menarik untuk pelanggan tetap." Wanita itu menjelaskan dengan bangga. "Jika tuan pencinta buah atau sejenis. Toko ini salah satu tempat yang wajib dikunjungi di kota ini."
"Tolong kamu pilihan buah dan sayuran yang terkenal akan kualitasnya yang istimewa."
"Sa-saya tidak bisa melakukan, Tuan." Wanita itu nampak gugup. "Sa-saya hanya penunjuk jalan. Jika saya melakukan itu sangat tidak sopan. Tuan bisa memilih sendiri buah mana yang diinginkan. Saya hanya menemani."
"Aku tidak pandai memilih sesuatu," ujar Nusa sambil melirik si wanita. "Apa kalian sengaja bersekongkol untuk menjebak para pelancong yang awam tentang tempat ini."
"Tentu saja kami tidak melakukan perbuatan seperti itu." Wanita itu sedikit melipat dahi. "Kami hanya diberi tugas untuk mengantar para pelancong ke mana mereka mau, itu saja tidak lebih, Tuan."
"Kalau begitu, tolong pilihan buah dan sayur untukku."
"Ta-tapi..."
__ADS_1
"Aku tidak mau dengar alasanmu lagi." Nusa berkata tegas.
Wanita itu dengan tangan gemetar, memilih puluhan jenis buah yang berbeda. Wajahnya tegang, keringat dingin meluncur deras dari kepala sampai kaki.
Lima belas menit yang mencekam, wanita itu berhasil mengumpulkan lima kilogram buah segar dan dua kilogram sayuran. Setelah membayar belanja, Nusa meminta barang-barangnya di antar sampai penginapan.
"Hmm... Kamu cukup cekatan, terlebih semua buah dan sayur sangat berkualitas."
"Te-terima kasih atas pujiannya, Tuan," ucap wanita itu sambil menahan beban berat di tangannya. Dua kantong besar bergelantungan, membuat tubuh kecilnya hampir terjungkal. Sungguh pemandangan yang memperihatinkan, bagaimanapun Nusa telah menyiksa sang wanita.
"Oh iya, aku belum punya tempat menginap. Tolong rekomendasikan penginapan layak untukku." Nusa berlagak bak pemegang kekuasaan.
Wanita itu hanya bisa pasrah mendapat perlakuan menyebalkan dari pria tampan yang baru ia kenal. Belum sehari mengenal pria itu, dia sudah ditimpa banyak penyesalan.
Lima ratus meter menyusuri tengah kota, akhirnya tuan besar Nusa mendapat penginapan yang dia inginkan. Layak, tidak jauh dari pusat kota, dan yang terpenting murah di kantong.
"I-ini barang yang tuan inginkan. Jika perlu sesuatu tuan boleh meminta bantuan saya." Wanita itu tersengal, merebahkan tubuh di bagian depan penginapan.
Wanita itu terkejut melihat tujuh koin emas berkilau di tangan. "I-ini serius untuk saya, Tuan. Koin sebanyak ini bisa membeli rumah dan kendaraan mewah."
"Kalau begitu kamu belikan koin itu rumah dan kendaraan mewah. Jangan terlalu bertumpu pada pekerjaanmu sekarang, siapa tahu jasa penunjuk jalan lenyap dalam beberapa bulan atau hari lagi."
Wanita itu mengangguk, wajahnya yang kusut kembali segar. Setelah pamitan, dia pergi sambil bersenandung riang.
Nusa masuk ke penginapan, membaringkan tubuhnya di kasur empuk. Menurut hasil risetnya, penginapan itu cukup nyaman dan berkelas. Dia bisa menatap pasar malam--jika matahari sudah terbenam--dari lantai dua kamarnya.
Nusa mengusap pakaian baru yang ia kenakan. Dia menikmati keindahan tubuhnya dari kaca besar di sudut ruangan berlantai kayu itu.
"Ada informasi baru apa yang kamu dapat." Tara berkomunikasi lewat telepati.
__ADS_1
"Kota ini nyaman di luar, rusak di dalam." Nusa melempar pisau tepat di tengah buah segar sampai menancap ke dinding. "Para pribumi bertingkah seperti tidak terjadi apapun. Mereka sebisa mungkin bersikap biasa, menutupi segala ke jahatan sang penguasaan."
"Mereka sengaja berpura-pura supaya selamat dari penguasa baru," sanggah Tara.
"Aku pun awalnya berpikir demikian. Tapi setelah diamati lebih lanjut. Para penduduk tidak berpura-pura, mereka seperti di hipnotis atau di cuci otak."
"Aku akan ke sana. Kamu tunggu sebentar." Tara mengakhiri pembicaraannya.
...****...
Lima belas menit berlalu. Nusa, Tara, dan Atita menyusun rencana.
"Lokasi kita sudah terlacak musuh. Mereka pasti mengira aku pelancong atau orang penting lainnya. Kita harus serang istana penguasa malam ini." Nusa berkata serius.
"Kita kurang informasi. Berbahaya bergerak tanpa persiapan matang. Seharusnya kamu tahu itu."
"Tapi, Ra. Kita kehabisan waktu. Perang besar sebentar lagi terjadi."
"Apa maksudmu? perang besar? siapa yang akan berperang." Tara terlihat bingung.
Nusa menghela napas.
"Para pribumi dan penguasa baru."
Suasana lengang. Tara berusaha mencerna kalimat Nusa. Jika mereka yang menghancurkan istana itu terbilang wajar. Tapi tidak masuk akal jika penduduk biasa bertindak di luar kemampuan mereka.
"Penguasa baru sengaja menanamkan bibit permusuhan. Dia mengadu domba para pribumi, membuat mereka terpecah. Setelah perselisihan memuncak, dengan secangkir minuman hangat. Penguasa mampu mengendalikan seluruh kota."
"Aku tidak mengerti maksudmu! Tolong jelaskan lebih sederhana. Kamu tahu, bukan. Aku ini bodoh." Tara berseru kesal.
__ADS_1
"Simpelnya, penguasa baru akan membabat habis semua pribumi. Dengan dalih mengamankan kerusuhan, bla, bla, bla... Mereka tidak akan ditindak oleh Kerajaan karena dalih yang tadi aku bicarakan." Nusa mengigit bibir. Dia sangat benci orang luar, apalagi mereka yang bertingkat semena-mena.
Saat mereka sibuk berdiskusi, tiba-tiba seseorang menerobos masuk. Dia berpakaian tertutup, seperti ninja. Dia mengayunkan bilah pedang dingin ke leher Nusa.