Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua

Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua
Bab 50 : Gulungan


__ADS_3

Para pria gemetar melihat senyum si wanita yang berlumur darah. Wajah cantik si wanita tidak mencerminkan kepribadiannya. Dari sudut pandang para pria, dia nampak seperti iblis dari pada bidadari.


Wanita itu tertawa keras, turun dari tumpukan mayat, menghampiri para pria. Dia mengeluarkan sebilah belati, melemparkan tepat di kepala salah satu pria. Teriak histeris terdengar sampai 200 meter. Seorang pria yang sedang mencari kayu bakar sekilas mendengar suara itu. Dalam waktu singkat, si wanita mengakhiri riwayat para pria tanpa rasa sakit-menurut si wanita.


"Mungkin itu binatang buas," ucap pria itu. "Sebaiknya aku segera kembali ke desa."


Tidak banyak orang yang ada di wilayah itu. Dalam radius dua kilometer sebelah timur, tidak banyak orang yang tinggal di kawasan itu.


"Kamu baik-baik saja." Tara menghampiri Nusa.


Nusa tersenyum, wajahnya yang cantik tersinari cahaya bulan purnama. Dia memutar pisau, memasukkan ke sangkar. Tidak lama Jia dan si pria datang membawa kotak hitam. Mereka meletakkannya di depan Nusa dan Tara.


Di dalam kotak terdapat 7 gulungan, dari kulit binatang Bahi. Nusa mengambil satu gulungan, di susul Tara lalu Jia dan pria Lamela. Masing-masing mendapat satu gulungan, dengan ikatan berbeda di setiap gulungan.


Nusa mengambil gulungan dengan ikat berwarna biru. Tara gulungan ikat merah, Jia gulungan ikat kuning. Dan pria Lamela mengambil gulungan ikat Hijau. Tersisa 3 gulungan, ikat putih, hitam, dan ungu.


"Kami ambil 3 gulungan, sisanya untuk kalian." Nusa mengambil satu gulungan ikat hitam.


Pria Lamela menggeleng. "Kami tidak pantas menerima terlalu banyak gulungan. Kalian berperan penting dalam misi ini. Kami ambil 3 gulungan, sisanya untuk kalian."


Nusa melirik Tara, mengambil satu gulungan ikat putih. "Baiklah, kita berpisah disini. Semoga kita bertemu kembali." Nusa dan Tara berjalan menuju gelapnya hutan. Kemudian menghilang.


"Apa anda yakin memberikan mereka 4 gulungan." Jia menatap pria Lamela bingung.


Pria Lamela tersenyum. " Yang kita cari hanya gulungan ikat kuning dan hijau. Setelah lama menunggu, akhirnya kita mendapatkan dua gulungan itu. Tidak hanya itu, kita mendapat bantuan dan juga gulungan ikat ungu."

__ADS_1


"Sebenarnya untuk apa kita mendapatkan gulungan-gulungan ini." Jia menatap gulungan di tangan. "Ini hanya selembar kertas yang diikat, lalu diberi tanda."


Pria itu membuka gulungan ikat ungu. Sebuah cahaya keluar, mengejutkan Jia. Dalam sekejap, tumpukan buku berserakan, menimpa Jia dan si pria.


"Bu-buku! kenapa ada buku sebanyak ini?!"


"Ini bukan buku biasa, Jia." Pria itu bangkit. "Di dalamnya terdapat banyak informasi penting tentang wilayah, pemerintahan, budaya, senjata, prajurit, dan masih banyak yang lainnya. Jika informasi seperti ini bocor sampai keluar. Bukan hanya kerajaan kita yang dalam bahaya. Tapi seluruh benua yang akan terkena dampaknya."


"Siapa mereka sebenarnya, tuan," tanya Jia sambil menatap langit.


Pria Lamela menggeleng.


"Aku tidak tahu. Hanya saja kita mungkin akan bertemu kembali."


...********...


"Hai, maaf menunggu lama." Nusa melambaikan tangan.


Atita menggeleng. "Selamat datang tuan Nusa dan nona Tara. Bagaimana misi kita."


"Ini melebihi bayanganku, Atita." Nusa menunjukkan empat gulungan.


"Gulungan apa itu, tuan?" Atita memiringkan kepala. "Saya belum pernah melihat gulungan seperti itu."


"Atita benar. Aku pun masih bingung, kamu sangat antusias mendapatkan gulungan itu."

__ADS_1


"Gulungan ini bernama 'Sagalana'. Fungsinya hampir sama dengan ruang tunggu. Berbeda dengan ruang tunggu yang hanya di miliki pemain, gulungan ini bisa di pakai siapapun. Gulungan ini pun bisa di bawa sangat jauh, sampai keluar benua. Kekurangan gulungan ini ada dua, selain kapasitasnya yang terbatas. Gulungan ini hanya bisa membawa satu jenis benda.


"Sebelumnya aku sudah mengatakan jika ada barang yang sangat berharga akan di selundupkan. Dan inilah barang itu. Di dalam gulungan ikat hitam dan putih, terdapat 2 senjata yang mengerikan. Jika musuh mendapatkan senjata ini, kita bakal kerepotan, Tara."


"Lalu dua gulungan sisanya menyimpan apa?"


"Gulungan ikat biru berisi ratusan skill milik pemain, dengan gulungan ini orang luar sekalipun dapat menggunakan skill dari gulungan ini. Dan gulungan merah berisi ratusan mantra sihir, konsepnya sama dengan gulungan biru. Tentu tidak sembarangan orang dapat membuka kedua gulungan ini. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, syarat-syarat itu cukup membingungkan untuk orang luar."


"Berarti gulungan ini aman dong. Orang luar benua tidak bisa menggunakannya."


Nusa menggeleng.


"Aku bilang syarat untuk membuka gulungan cukup membingungkan orang luar. Mereka sudah mengantisipasi itu dengar masukan banyak pemain asing, mencari celah agar dapat membukanya. Tidak mustahil orang-orang luar membuka gulungan ini."


"Gawat dong, Nusa." Wajah Tara sedikit terkejut.


"Itu benar. Sebaiknya kita yang menyimpan gulungan ini karena lebih berbahaya dari dua senjata di gulungan lain."


Nusa memasukkan empat gulungan itu ke ruang tunggunya. "Kita pergi ke kota pelabuhan. Kota terbesar di Kerajaan ini."


Tara dan Atita sangat antusias. Di kota pelabuhan terdapat banyak makanan laut yang menggoda. Kapal-kapal besar banyak berlabuh, menjadikan kota di padati pendatang.


"Kamu mau makan apa?" tanya Tara mengambil sesuatu di ruang tunggunya.


Nusa memandang langit yang dipenuhi bintang. Wajahnya yang cantik serta rambutnya yang panjang perlahan berubah. Efek perubahan bentuk telah habis. Nusa, Tara, dan Atita kembali seperti semula.

__ADS_1


Saat ini mereka beristirahat di hutan, jauh dari kota sebelumnya. Mereka selalu bersiap dengan kehadiran musuh. Nusa memasang pelindung di sekitar Tara dan Atita. Dia membiarkan keduanya tidur lebih dulu.


"Tinggal menghitung waktu kerajaan asing menyerang benua Eurasia." Nusa berkata sambil memandang langit.


__ADS_2