Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua

Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua
BAB 37 : PILIHAN YANG BERAT


__ADS_3

Haachimmm...


"Dingin banget malam ini. Seandainya ada selimut, tetangga," ucap Nusa sambil menggosok tangannya.


Saat ini Nusa sedang duduk santai di atas menara guild Bulan Sabit. Dia mengawasi setiap petualang yang lalu lalang dibawahnya.


"Atita, bagaimana keadaan di sana. Apakah ada sesuatu yang mencurigakan." Nusa berbicara lewat telepati.


"Tidak ada yang mencurigakan di sekitar sini. Hanya saja, saya melihat anggota guild Bulan Sabit terlalu santai tuan. saya merasa banyak kejanggalan setelah kita keluar dari hutan."


"Kejanggalan?!"


"Ya tuan. Padahal kita sudah tertangkap basah keluar dari guild diam-diam. Tapi respon ketua guild sangat kurang, dia hanya mengirim 2 petualang untuk menyelidiki kita di hutan. Setelah melihat kekuatan tuan, seharusnya dia mengirim minimal 4 petualang kuat. Saya tidak tahu rencana ketua guild sebenarnya. Yang jelas ketua dan anggota guild ini sangat mencurigakan."


Nusa berpikir sebentar, dia memikirkan banyak kemungkinan. "Selain 10 petualang yang tertangkap, apakah masih ada petualang lain. Oh iya, waktu di ruang rapat ada seseorang berusaha menyerang kita diam-diam."


"Mata-mata kita melaporkan, petualang yang berkhianat lebih dari 30 orang. 13 diantaranya sudah kita ketahui, dan sisanya masih misterius. Mereka sangat pandai berbaur dengan penduduk benua Eurasia. Kami kesulitan mengidentifikasi pemain dari benua asing, tapi tuan tidak perlu khawatir. Kami baru saja menemukan cara efektif menemukan pemain asing, hanya saja memerlukan sedikit waktu." Atita berhenti sejenak, dia mengambil secarik kertas lalu melanjutkan penjelasannya.


"Orang yang menyerang kita waktu itu bukan petualang biasa. Dia cukup hebat bisa menyembunyikan hawa keberadaannya. Saya mendapat informasi tentang bangkitnya raja iblis serta kehancuran umat manusia. Informasi yang saya dapat belum tentu benar tuan, sebab bisa saja orang itu memanipulasi darahnya. Dengan manipulasi darah, seseorang bisa membelokkan pikiran agar musuh tidak mengetahui informasi rahasia."


"Setelah tertangkap, kemana anggota guild membawanya pergi?!" tanya Nusa sambil berbaring di atas genting.


"Dia dibawa ke ruang interogasi untuk dimintai keterangan. Saya mencoba masuk ke sana, tapi gagal tuan. Selain petugas, semua orang tidak diizinkan masuk."


"Terimakasih atas informasinya. Untuk sekarang, coba gunakan teknik darahmu pada pengikut baru kita. Siapa tahu dia memiliki informasi penting."


"Baik tuan! saya permisi," ucap Atita hormat, dia memutus telepatinya dan pergi ke tempat rahasia.


Nusa termenung sendiri, semakin lama masalah ini semakin sulit. "Kondisi Tara saat ini cukup baik, tapi aku tidak mau melibatkannya dulu. Efek samping pembukaan segel cukup besar, ditambah Tara membukanya secara paksa. Andai saja waktu itu aku memeriksa musuh terlebih dahulu, mungkin Tara tidak perlu membuka segel darah."

__ADS_1


Nusa memandang ke langit malam, indahnya bintang-bintang menenangkan pikirannya. Saat ini dia masih kesulitan mencari informasi tentang pemain asing yang masuk kewilayahnya.


Koneksi yang Nusa miliki tidak sebaik dulu. Nusa menyadari bahwa game jelajah benua banyak menyeret pemainnya ke dunia ini. Teman-teman yang selalu bermain bersamanya tidak dapat dihubungi. Pemain dari guild besar sudah berpencar dan menggunakan akun ganda. Tujuannya menggunakan akun ganda untuk menyembunyikan identitas asli mereka.


"Kebangkitan raja iblis, kehancuran umat manusia. Mmm... mmm... mmm... aaa... aaa. Sungguh mencurigakan, sepertinya aku harus bergerak dalam senyap." Nusa menatap ke bawah lalu menghilang dalam sekejap.


...**********...


"Dendi, Sugi, katakan kenapa kalian gagal dalam misi," ucap seorang pria dingin, dia memiliki tatap tajam.


Dendi dan Sugi diberi misi oleh komandan untuk menyelidiki Nusa dan guild rada geolnya. Komandan divisi 30 curiga jika mereka adalah pemain dari benua asing.


Dendi tidak bisa berkata-kata, dia bingung harus mencari alasan apa yang tepat. Temannya Sugi sedikit tenang, tapi di dalam hatinya sedang bergejolak hebat.


"Kenapa kalian diam, cepat jawab!" bentak pria itu sambil menatap Dendi dan Sugi.


"Darimana kalian tahu kedua orang itu bukan mata-mata?! Gerak-gerik mereka sangat aneh, terutama si pria samurai. Aku belum pernah melihat petualang yang berani menghina binatang suci di depan umum." Pria itu mengepalkan tangannya kuat. Dia sangat khawatir jika ada mata-mata yang menyusup ke benua Eurasia.


"Mungkin saja dia tidak tahu. Aku yakin banyak pemain di benua Eurasia yang belum tahu, jika menghina hewan suci bisa mendapat hukuman." Sugi membela Nusa dan Tara di depan si pria.


Pria itu menggebrak meja didepannya. "Itu tidak wajar! Mau bagaimanapun, pemain dari benua Eurasia pasti tahu hal dasar seperti itu."


"Tapi komandan..."


"Cukup! jangan banyak alasan. Kalian berdua menyembunyikan sesuatu kan."


"Ti-tidak komandan, aku dan Dendi tidak menyembunyikan apapun."


Sugi mulai terpojok dan kehabisan kata-kata. Komandan mereka ternyata cukup memahami sikap dari bawahannya. Dia bisa tahu bawahannya sedang berbohong, walaupun kebohongannya belum bisa dibuktikan.

__ADS_1


Tubuh Dendi terasa panas, tekanan yang diberikan komandan cukup besar. Dendi dan Sugi sudah mengikat janji pada Nusa, mereka tidak bisa membeberkan kejadian di hutan begitu saja.


Komandan divisi 30 mulai geram melihat tingkah Dendi dan Sugi. "Jangan memaksaku menggunakan kekerasan. Aku pastikan kalian mendapat hukuman berat jika terbukti berbohong."


"Jangan bercanda! Kenapa kami harus mendapat perlakuan tidak pantas. Ini cuma guild, bukan kerajaan yang berhak mengatur kehidupan kami." Dendi tidak terima dengan ancaman komandannya.


Komandan menarik baju Dendi kasar dan berkata dengan nada tinggi. "Dengar baik-baik! Kalian hanya keronco di guild ini. Aku bisa menyingkirkan kalian dengan mudah. Paham! Jika ketua guild tahu, kalian akan... "


"Akan apa! Seharusnya ketua guild turun langsung dalam masalah ini. Bukan sibuk menyalahkan bawahannya, walaupun kami pemain rendah. Tapi sebagai pemain di benua Eurasia, kami berhak mendapat kebebasan." Dendi memegang tangan komandan itu erat.


Suasana di ruangan memanas, Komandan dan Dendi saling menatap tajam. Sugi berusaha menenangkan mereka, hanya saja usahanya belum berhasil.


5 menit berselang, komandan melepaskan tangannya dari baju Dendi. "Kalian tidak mengerti, pemain asing itu sangat berbahaya."


Komandan menghela napas berat, dia mengerti Dendi dan Sugi belum paham situasi mereka.


"Maaf lancang komandan, kenapa anda begitu khawatir dengan pemain asing?" tanya Sugi belum mengerti.


"Kalian tahu dunia ini bukan game lagi. Orang yang mati tidak bisa hidup kembali, entah apa yang akan terjadi setelah mereka mati. Kondisi ini dimanfaatkan oleh pemain dari benua asing, mereka menyusup diam-diam ke benua Eurasia. Tujuannya mencari kelemahan kita, dan berusaha melemahkan kita. Sialnya, jika mereka mati, mereka bisa hidup kembali di benua asal."


"Lalu kenapa ketua guild tidak pernah menunjukkan dirinya?" ucap Dendi pelan, "Seharusnya dia keluar dan mencari solusi atas masalah ini."


Komandan divisi 30 berpikir sejenak. "Itu semua untuk kebaikan semua pemain. Kalian pasti tahu, guild ini merupakan satu-satunya tempat untuk pemain veteran. Pemain pemula tidak diizinkan untuk bergabung ke dalam guild, alasannya agar pemain asing kesulitan menyusup. Seandainya ketua guild muncul sekarang, pemain seperti kalian akan mudah menyebarkan informasi tentang ketua guild. Mungkin saja, pemain asing memanfaatkan informasi itu untuk menangkap atau membunuh ketua."


"Aku mengerti sekarang, jika ketua guild diculik atau dibunuh. Guild Bulan Sabit akan hancur, bukan hanya itu, mungkin seluruh kerajaan Bhayangkara akan kacau balau." Sugi terkejut dengan informasi yang komandan sampaikan.


Sekarang kesetiaan Dendi dan Sugi sedang di uji. Mereka diberi pilihan untuk setia pada guild atau berkhianat pada Nusa. Sungguh pilihan yang berat.


Kesepakatan Nusa dan Dendi adalah menjaga kerahasiaan kedua ITW agar tidak bocor.

__ADS_1


__ADS_2