
Nusa diam-diam mendengar pembicaraan Dendi, Sugi dan komandan divisi 30. Dia menggunakan boneka jerami sebagai alat, dengan boneka itu Nusa bisa menyusup tanpa terdeteksi.
"Jadi ketua guild ini pun mencemaskan masalah yang sama. Aku tidak bisa gegabah bertindak, mungkin saja ini rencana musuh. Musuh...!" Nusa terdiam sejenak. Bak tersambar petir, dia terkejut karena menyadari sesuatu yang mencurigakan.
"Aku tidak mengerti, kenapa penyusup itu berani menyerangku di depan banyak orang. Apakah dia sengaja melakukannya, aku rasa itu tidak masuk akal. Mmm... kalau aku pikir kembali, sepertinya itu masuk akal, dia sengaja tertangkap lalu di interogasi. Tunggu sebentar, jika dia mengaku sebagai pemain, lalu mengatakan guild rada geol adalah komplotannya.... Mmm ini sebuah konspirasi menjengkelkan."
Nusa membuat banyak boneka jerami lalu menyebarkannya ke seluruh tempat. Dia menduga pemain asing berusaha mengadu dombanya, tujuan mereka agar seluruh pemain saling curiga.
"Kenapa aku tidak menyadarinya! Akar dari masalah ini adalah bagaimana musuh tahu identitasku. Selain anak buahku dan Tara, tidak ada yang tahu penyamaranku selama ini."
Di tengah kebingungannya, Nusa mendengar suara samar di ujung lorong. "Bagaimana keadaan kalian, apakah kalian sudah tahu siapa ketua guild Bulan Sabit." Seorang pria misterius sedang berbicara lewat kristal sihir.
[Kristal sihir merupakan alat yang sering digunakan untuk berkomunikasi jarak jauh. Alat ini layaknya Smartphone yang bisa memunculkan suara atau wajah di layar.]
"Saya sedikit kesulitan mencari informasi itu, pengamanan guild ini tidak main-main. Jangankan orang asing, anggota guild ini pun tidak tahu siapa ketua mereka," ucap seorang pria sambil memandang ke arah kristal sihir.
"Baiklah, aku beri kau waktu 3 bulan untuk mencuri setiap informasi di benua Eurasia."
"Baik tuan!"
"Oh iya, apakah kau sudah memastikan petualang bernama Nusa itu?!"
"Darimana dia tahu namaku?!" ucap Nusa dalam hati.
"Sudah tuan, dari informasi yang kami dapatkan, petualang bernama Nusa hanya npc biasa. Walaupun kekuatannya besar, tapi dia tidak cukup pintar tuan. Nusa kabur saat pertandingan kedua, dia tidak kembali dan didiskualifikasi."
"Kau bilang dia tidak ada! lalu kemana dia pergi. Apa kau tidak memberi tahu bawahmu untuk selalu mengawasinya."
"Saya sudah melakukannya tuan, tapi mereka kehilangan jejak Nusa. 10 orang yang saya tempatkan di beberapa guild besar telah menghilang. Sampai saat ini, saya belum bisa menghubungi mereka."
"Apa, 10 anak buahmu menghilang?!"
"Iya tuan!"
__ADS_1
"Mereka semua sudah ada di sini. Itu berarti, anak buahmu telah di habisi 7-8 jam yang lalu. Mereka kembali tanpa ingat apapun, baik itu nama atau orang yang mereka kenal di benua Eurasia, bukankah itu aneh."
"Ya tuan."
"Blest, apa kau sudah bodoh! Cepat cari tahu pelakunya lalu bereskan dia. Aku menduga orang yang membunuh anak buahmu bukan pemain biasa. Mungkin saja pelakunya itu pria bernama Nusa."
"Ya tuan! kalau begitu saya permisi." Blest menutup pembicaraannya.
"Apa benar Nusa bukan npc. Seandainya benar, mungkin saja dia adalah penguasa tertinggi di benua Eurasia. Kalau dugaanku benar, itu sangat mengerikan, tuanku belum bisa mengalahkannya saat ini." Blest menghela napas berat, dan berjalan keluar dari gang.
"Silent Shot!"
Tiba-tiba sebuah peluru meluncur cepat dan langsung mengenai kepala Blest. Nusa terkejut mendengar suara Blest yang meringis kesakitan. Nusa belum menyadari jika Blest telah mati, boneka jeraminya tidak bisa menangkap gambar.
Tubuh Blest terkapar tidak berdaya, dia menerima 30 tembakan sekaligus. Orang yang membunuhnya sangat ahli, dia menembak dari jarak yang sangat jauh.
Yap, hanya ada satu orang yang bisa menembak dari jarak jauh dan mengenai sasarannya. Dia adalah Atma, sniper terkuat di benua Eurasia. Tubuhnya yang mungil serta wajahnya yang mengemaskan, membuat semua orang tidak percaya kalau dia seorang pembunuh berdarah dingin.
Atma sangat rapi saat membunuh, dia tidak akan meninggalkan jejak sedikitpun. Tidak lama Atma menembakkan peluru api ke arah jasad Blest. Api hitam dengan cepat melahap tubuh tanpa nyawa milik Blest.
Nusa keluar dari persembunyiannya, banyak informasi yang didapat secara tak terduga. Nusa tidak bisa menyelesaikan masalah ini secepat kilat. Nusa sekarang mengalami kebingungan, apakah dunia ini nyata atau sekedar ilusi.
Jika Nusa tau dunia ini hanya ilusi, mungkin dia akan bertindak sesuka hatinya. Tapi dia merasa dunianya sekarang adalah nyata, dimana orang yang mati tidak dapat hidup kembali.
Nusa terbebani dengan masalah ini, dia tidak dapat mengambil tindakan yang berbahaya. Setiap tindakan harus di perhitungkan secara matang, supaya menghindari terjadinya resiko yang besar.
Setelah kejadian di hutan, Nusa tersadar akan satu hal. Dia bisa kehilangan Tara kapan saja, saat itu cuma penyesalan yang akan selalu menghantuinya.
Nusa yang sedari awal hanya memanfaatkan Tara sebagai senjata, kini sadar dan menyesali perbuatannya. Dia tidak mau kehilangan sahabat tercintanya, untuk itu Nusa sebisa mungkin menghindari setiap pertikaian.
"Malam ini aku cukupkan penyelidikan sampai di sini. Pemain bernama Blest adalah salah satu dari 13 penyusup andal. Aku harus secepatnya menemukan ke-12 penyusup yang tersisa." Nusa berjalan santai di Koridor, dia menuju kamar tempat Tara istirahat.
Tok. tok. tok.
__ADS_1
"Tara, aku masuk ya." Nusa membuka pintu pelan.
Tara bangkit dari kasur, dia menyambut Nusa dengan senyum manisnya. Tidak lupa Tara memeluk Nusa setiap kali bertemu, kebiasaan ini sudah Tara lakukan semenjak mereka di bumi.
Saat Nusa ujian Tara kesulitan menemuinya, rasa kesepian selalu datang dikala Tara tak bertemu Nusa. Dia melampiaskan kesepiannya dengan memeluk Nusa saat mereka bertemu.
Jika Tara gagal dalam misi atau teringat tentang korban yang telah dia bunuh. Maka dia akan pergi menemui Nusa lalu memeluknya erat, tidak jarang Tara menginap di kontrakan Nusa.
Tentu Nusa keberatan saat Tara datang untuk menginap. Kedua mahasiswa tidur satu atap! sungguh pemandangan yang tidak pantas.
Nusa mengingat kejadian saat Tara menginap di kontrakan kecilnya. "Tara, apa kamu ingat kita pernah tidur satu atap."
Tara mendongakkan kepala dan berkata. "Mana mungkin aku lupa, kejadian tak terduga selalu kita alami saat aku nginap di kontrakanmu."
Tara melepaskan pelukkannya, mereka berdua berusaha mengingat kembali kejadian dimasa lalu.
"Kalau kamu nginep, pasti aku masuk angin," ucap Nusa dengan mata malas.
"Kok bisa? aku sendiri selalu nyaman tidur di kasur jelekmu."
"Anda nyaman tidur di kasur, sedangkan saya tidur di luar. Udara di kota Serang dingin banget pas malam hari, rasanya hawa dingin menusuk sampai tulang."
"Kenapa kamu tidur di luar? kita kan bisa tidur bareng."
"Cowok tidur bareng cewek, sungguh ter-la-lu. Lagipula kasur jelekku hanya muat satu orang. Kalau kita tidur bareng, penyangga kasur tidak kuat menahannya. Bayangkan setiap kamu nginep aku harus beli kasur baru."
"Kayanya berlebihan banget deh."
"Mmm..., Barang-barang di kontrakan 70% kamu yang rusak. Karena kompor rusak, terpaksa aku masak mie pake lilin. Dispenserku rusak terkena pukulan mematikan dari mbak Tara, terpaksa aku pake ember bekas cucian sebagai wadah air. Dan masih banyak yang lainnya."
Tara tertawa sambil menggaruk kepala belakangnya. Tidak lama sebuah pukulan melesat mengenai rusuk Nusa.
Tara memukul Nusa sampai terpental ke dinding kamar. "Ra-rasanya tu-tulangku ada yang patah."
__ADS_1
Tidak seperti yang kita bayangan, kehidupan Nusa dan Tara sebagai mahasiswa terbilang unik. Jangan harap adegan tidak pantas akan mereka lakukan di kontrakan. Sebagian besar aktivitas Tara di kontrakan adalah menjadikan Nusa sebagai samsak latihan.
Mereka berdua kini tertawa bersama, kejadian di bumi cukup menghibur keduanya. "Aku senang kamu bisa tertawa selepas ini. Sebaiknya aku tidak terlalu melibatkanmu dalam setiap masalah." gumam Nusa dalam hati.