Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua

Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua
BAB 12 : KILAS BALIK


__ADS_3

Sekarang Nusa membuat party yang beranggotakan Tara dan Atma, sedangkan Atita dan Melani diberi tugas mengawasi tuannya dari jauh.


Tugas Atita dan Melani bertujuan melindungi party Nusa jika terjadi keadaan yang tidak diinginkan. Tugas ini sangat cocok untuk Atita dan Melani karena tidak ada satu pun makhluk yang dapat lolos dari penglihatan Atita. Sedangkan Melani dapat menciptakan Item-item yang berguna untuk membantu Atita.


Atita dikenal sebagai Npc paling jeli dan Melani dikenal sebagai Npc paling kreatif di seluruh Jelajah Benua.


Nusa dan partynya menyusuri hutan di sebelah timur desa, di sana tidak di temukan bekas roda ataupun tapak kaki kuda.


"Jangan-jangan mereka tidak lewati hutan ini." Tara mengusap tanah di depannya, dia merasa tanah di sepanjang jalan cukup lembut karena jarak di lewati.


Mereka menemukan pohon tumbang di samping jalan, Nusa dan partynya berhenti sejenak guna mengistirahatkan tubuh mereka.


Fajar mulai menyinari pucuk pohon tertinggi. Tidak terasa malam yang di penuhi jeritan dan teriakan kini sudah berakhir. Tara teringat kejadian sebelum mereka pergi menuju rumah tetua.


...********...


"Pokoknya aku gak mau tidur di sini! Kalau mau kamu aja yang tidur di kasur bobrok itu," bentak Tara pada Nusa, dia tidak sudi tinggal di rumah itu.


Rumah itu sudah rapuh dan tidak layak huni, mereka terkesan di buang oleh warga desa karena jarak rumah dengan desa cukup jauh kira-kira 700 meter.


Matahari mulai terbenam, sinar orennya kini telah hilang berganti dengan gelapnya malam. Tara semakin kesal dengan sikap warga desa kepadanya.


Nusa dan Atma pun merasa kesal dengan sikap warga desa, tetapi sikap mereka tidak separah Tara yang mengamuk sambil meraung-raung. Padahal kedatangan mereka ke desa ini tanpa ada niatan jahat, mungkin.


"Atma tolong pegang Tara dengan kuat." Nusa pergi kebelakang rumah.


Atma dengan sigap memegang tangan Tara dari belakang, dia juga mengikat kuat kaki Tara. Tara masih mengamuk tidak terkendali, matanya mulai memerah.


Nusa datang sambil membawa sebotol air, tanpa basa basi dia langsung menyemburkan air itu pada Tara.


"Keluar! keluarlah kalian setan-setan jahil!" Nusa menyemburkan air dalam botol itu ke wajah Tara.

__ADS_1


Nusa terus menyembur wajah Tara dengan air, 5 menit kemudian Tara mulai sadar. Tubuh Tara basah kuyup akibat semburan mbah Nusa. Atma memberikan handuk kepada Tara, handuk itu memiliki Item pengering dan penghangat tubuh.


Yang terjadi pada Tara bukanlah keinginannya, itu terjadi secara alamiah. Tara adalah Ras Kuyang, Ras Kuyang sendiri termasuk ke dalam jajaran Ras Elit.


Mereka biasa tidur di kasur yang empuk dan nyaman, kamar yang terang dengan wangi harum semerbak dari menyan.


Bagi Ras Kuyang ditempatkan pada rumah atau ruangan dengan kasur keras dan pencahayaan minim merupakan sebuah penghinaan.


Mereka lebih baik tinggal di atas pohon atau gua dari pada di rumah dengan keadaan tidak layak. Para Kuyang akan menaruh dendam yang dalam kepada orang yang menghinakannya. Tara tidak sadar karakter dalam game Jelajah Benua sudah menyatu dengan dirinya.


"Silent Disappear."


Tara, Atma, dan Nusa kini tidak terlihat, silent disappear bukanlah sihir melainkan skill unik milik Nusa. Skill ini membuat seseorang tidak terlihat dan suara yang dikeluarkan dari penggunanya tidak terdengar oleh orang luar. Cara kerjanya seperti ruang kedap udara.


Nusa jarang sekali menggunakan sihir karena kekuatan sihir dimiliknya tersegel 80%.


Atma mengeluarkan bangku dari ruang tunggu miliknya. Bangku itu terbuat dari kayu dengan ukiran indah disetiap bagiannya. Atma mempersilahkan Nusa dan Tara untuk duduk terlebih dahulu.


"Ehem... Menurut Atma hal yang mencurigakan di desa ini adalah.... tidak adanya tempat jajan. Atma sudah mencari di sekeliling desa namun belum menemukannya." Wajah Atma nampak kesal, dia menyilangkan tangan di dada. Saat marah Atma terlihat menggemaskan.


Tara menyentuh pelipisnya dengan kedua jari telunjuk, dia berusaha mengingat kejadian aneh yang menimpanya.


Tara tersenyum pahit dan berkata. "Di desa ini tidak terlihat anak kecil dimanapun. Walaupun ada beberapa orang dewasa yang menyamar sebagai anak kecil tapi aku bisa membedakannya dengan jelas. Oh iya, sekilas aku melihat beberapa tindik di telinga wanita yang mengantar kita kemari."


Nusa menulis semua yang di ucapkan Atma dan Tara lalu dia berkata. "Aku lihat bambu dan kayu yang dipakai untuk rumah masih basah."


Dari kesimpulan di atas Nusa tahu bahwa desa ini men-cu-ri-ga-kan. Kenapa Nusa bisa mengambil kesimpulan seperti itu? mari kita cari tahu bersama.


Pertama Atma mengatakan di desa ini tidak ada tempat jajan. Menurut informasi dari Atita, jumlah penduduk desa sekitar 1.017 jiwa itu sudah termasuk para tetua. Jika tidak ada toko ataupun pasar akan menyulitkan para penduduk dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kita tahu jarak kota-kota di Kerajaan Bhayangkara sangat jauh.


Kedua adalah tidak adanya anak kecil, dengan jumlah penduduk yang banyak sulit dipercaya jika mereka tidak memiliki keturunan.

__ADS_1


Yang ketiga adalah terdapat tindik pada telinga penduduk desa. Di benua Eurasia penduduk yang menggunakan tindak di telinganya hanya ada di Kerajaan Cakrawala.


Dan yang terakhir bambu dan kayu yang dipakai untuk rumah masih basah menandakan bangunan di sana belum lama didirikan.


"Was, wes, was, wes, was wes" bisik Nusa pada Tara dan Atma


"Bentar, dari tadi kamu cuma ngomong was, wes, was, wes. Jangan-jangan kamu gak punya rencana!" Tara menatap Nusa selidik


"Eee... nggak"


"Ehhh... sudahlah bubar, bubar! kita hancurkan saja desa ini sekaligus." bentak Tara geram.


Atma mengangkat tangan, dia punya rencana bagus lalu membisikkannya pada Nusa dan Tara.


"Hahaha, rencana yang sempurna. Mari kita habisi mereka!" Tara tersenyum jahat, di matanya penuhi dengan amarah yang meluap-luap.


...*********...


Matahari sudah naik sekitar 45 derajat, Nusa dan partynya belum menemukan desa cipoho. Mereka nampak lelah dan mengantuk setelah semalaman tidak tidur.


Atma jatuh ke tanah, tubuhnya menghantam tanah cukup keras. Nusa menggendong Atma yang terkulai lemas. Atma berkata dengan lemah. "Atma mau jajan, sudah 2 hari Atma belum jajan loh kak."


Nasib Tara pun tidak jauh beda dari Atma. Tara terkulai lemas di atas punggung Nameer. Kondisi yang di alami Tara dan Atma disebabkan perut mereka yang lapar. Saking sibuknya membantu warga desa, mereka sampai lupa untuk makan.


Tidak lama mereka berdua tertidur pulas. Atma cukup nyaman tidur di punggung Nusa, dia sampai mengigau dan menggigit telinga Nusa seperti krupuk.


Untungnya telinga Nusa di desain kuat sehingga tidak putus saat digigit Atma.


"Nameer, sekarang kita pergi kemana?" Nusa menadahkan wajahnya ke langit.


Tiba-tiba sebuah tombak jatuh dari langit dan mengarah kepada Nusa. Nusa berlari cepat menghindari tombak itu, dia melihat tombak panjang berwarna kuning dengan variasi putih tertancap kuat di tanah.

__ADS_1


"Nameer mode siaga! aku belum tau musuh menyerang dari mana." Nusa memasang mode siaga, dia belum tahu musuh seperti apa yang akan mereka hadapi.


__ADS_2