
Nusa tertawa, melihat wajah bimbang sang pria. Teknik Lamela memang hebat, tapi bukan tandingannya. Nusa mendekati sang pria, mengajaknya bicara. Pria itu menjelaskan situasi kota ini, tanpa kekerasan ataupun paksaan. Dia mengira Nusa adalah mata-mata yang di kirim benua lain.
"Sebaiknya kita bekerja sama. Kami memiliki tujuan yang sama sepertimu, aku tidak mau mata-mata asing menyusup, membuat kekacauan di benua ini." Nusa menatap pria itu serius.
"Aku sudah lima bulan berada di kota ini. Tapi belum menemukan petunjuk. Para penyusup sangat ahli menyembunyikan diri."
"Itu tidak sulit." Atita memberi selembar surat. "Kami baru saja tiba di kota ini beberapa hari lalu. Semua instalasi di kota ini sangat menyilaukan, membuat orang awam pun bertanya-tanya. Kamu lihat catatan itu baik-baik."
Pria itu terkejut. "Ini... Bukankah tempat ini hanya sangat mencolok. Bagaimana mungkin mereka menyembunyikan senjata rahasia di tempat yang mudah ditemukan."
"Itu rencana jenius." Nusa tersenyum. "Sama sepertimu, oang-orang tidak akan percaya jika tempat yang sangat mencolok itu menyimpan rahasia besar."
"Apa kalian telah menemukan para mata-mata itu?!" tanya si pria antusias.
"Tentu saja belum!" bentak Nusa. "Kami baru saja masuk ke kota ini. Seharusnya kalian yang menentukannya lebih dulu. Minimal kalian mencurigai tempat atau seseorang di kota ini."
Jia terbangun mendengar keributan, dia terperanjat melihat wajah Nusa, mengambil posisi tempur.
"Tunggu jia! Mereka bukan musuh." Pria itu meminta Jia tenang, lalu kembali duduk di sampingnya.
"Aku mencurigai satu tempat di kota ini." Pria itu kembali ke topik utama.
"Di mana lokasinya?!" Nusa mendekatkan wajahnya pada si pria. Jia sigap menghalangi, mau bagaimanapun wujud Nusa sekarang adalah seorang wanita cantik mulus dan seksi.
Pria itu diam sebentar. "Lokasi berada di tengah kota. Sebuah toko kue berdiri di sana, dengan banyaknya pegawai."
"Hmm...." Nusa menyelidiki.
"Itu benar!" Jia menyakinkan. "Setiap hari aku berada di sana. Pura-pura menjadi pelanggan toko."
"Hmm..." Nusa masih menyelidiki.
Jia mengepal kesal. "Waktu itu aku melihat pelayan toko memasukkan sesuatu ke dalam kue. Mereka menyelundupkan barang terlarang. Aku serius!"
"Aku tahu itu." Nusa menghela napas. "Ada dua kesalahan fatal yang harus kita luruskan. Pertama aku sudah tahu kamu masuk ke dalam toko. Yang kedua tindakanmu sangat mencurigakan. Tidak ada pelanggan toko yang duduk berjam-jam tanpa membeli atau berbicara pada pelayan."
Pria itu menatap Jia yang ketahuan ceroboh. "Seorang mata-mata tidak akan berbuat seperti itu, Jia. Aku kira kamu menjalankan misi dengan benar dan serius."
__ADS_1
Nusa memberi saran untuk menyergap para penyusup besok malam. Nusa menerima informasi, orang-orang di toko akan menyelundupkan sesuatu yang sangat berharga.
...*****...
Keesokan harinya. Nusa dan Tara berdiri di samping batu besar, menunggu Jia dan si pria. Atita diberi tugas mengawasi lokasi ke dua, tempat lokalisasi.
"Maaf menunggu," ucap Jia sambil berlari kecil.
Tara melirik sinis, tak terima menunggu lama. Nusa segara batuk, memberi tanda agar Tara menjaga sikap. Nusa tidak mau hanya karena masalah kecil, misi penyergapan gagal.
"Apa pasukanmu sudah berkumpul." Nusa melangkah mendekati si pria. "Kesempatan ini hanya terjadi sekali. Jika gagal, usahamu selama ini akan sia-sia."
Pria itu menyerahkan gulung bambu berwarna coklat. Nusa membuka gulung itu, di dalamnya terdapat banyak tulisan aneh, seperti kode rahasia. Nusa terseyum, semua tulisan itu sangat mudah di pahami.
"Baiklah, kita mulai penyerbuan!" ucap Nusa bersemangat.
Empat orang menghilang sekejap. Meninggalkan keheningan malam yang mencekam. Cuaca malam ini cerah, bulan purnama bersinar menyirami siapapun yang memandangnya.
...*******...
Ramainya pusat perbelanjaan di kota, membuat pergerakan segelintir orang tidak dihiraukan. Lima belas orang memakai penutup kepala, mengendap-endap, masuk ke dalam toko makanan. Mereka masuk lewat jalur belakang, memastikan tidak ada yang melihat.
Seorang pria yang mengenakan tudung mendekat, berbicara sedikit berbisik. "Semua anggota di kota bersiaga di luar. Jika keadaan mendesak, mereka bertugas mengalihkan perhatian.
"Bawa barang itu!" teriak pria berpakaian koki.
Lima orang keluar dari dapur, mereka membawa kotak kayu. Ukuran kotak itu dua meter persegi, dengan tiap sudut memiliki pegangan. Satu orang berjalan di depan, menggunakan pakaian militer.
Lima belas orang menyebar, memastikan keadaan sekitar. Mereka memakai jubah gelap, dibalik jubah terdapat berbagai jenis senjata militer.
Saat kotak akan di angkat kembali, tiba-tiba seorang pria bertudung masuk ke dalam toko panik. Dia menabrak pintu, tubuhnya babak belur, kedua tangannya patah.
"Musuh menyerang!" teriak pria itu sambil tersungkur.
Brukk...
Pintu depan toko di dobrak, semua orang panik, tidak tahu identitas penyerang. "Kita jalankan rencana cadangan. Cepat amankan kotak, jangan sampai musuh merebutnya."
__ADS_1
"Oh... Apa kotak itu sangat berharga," ucap seorang wanita yang bersandar di samping pintu belakang. Tangannya mencengkram kerah seorang pria yang pingsan.
"Siapa kau!" bentak seorang pria bertudung.
"Serangan wanita itu," perintah pria berpakaian koki.
Belasan orang mengepung wanita itu. Mereka menyerang dengan berbagai senjata, pisau, panah, pedang, mengkilap menyilaukan mata.
Dua orang pria mengayunkan pedang, menyerang lebih dulu. Wanita itu melompat ke belakang, memutar tubuh, kakinya menendang kepala dua pria itu sekaligus.
"Terima ini!" teriak pria lain sambil menusukkan belati.
Wanita itu menghindar santai ke samping, kemudian menendang pundak si pria sampai patah. Pertarungan berjalan alot, si wanita kesulitan bertarung dengan tangan kosong.
Sementara itu, lima orang diam-diam pergi sambil membawa kotak kayu. Mereka tidak berniat menolong rekannya, bahwa bersyukur menjadikan mereka sebagai umpan.
"Kita gunakan jalur rahasia." Pria berpakaian koki memimpin. "Dari kemampuan bertarung wanita itu, aku yakin dia salah satu pasukan bayaran. Jangan sampai kita tertangkap"
"Untuk apa mereka mengejar kita?!" tanya pria lain sambil berjalan pelan di lorong bawah tanah.
Pria berpakaian koki menghela napas. "Tentu mereka ditugaskan untuk merebut benda di dalam kotak. Entah siapa yang memberi perintah, yang jelas mereka sangat berbahaya, melebihi pasukan kerajaan."
"Aku pernah dengar rumor yang buruk tentang mereka." Pria lain ikut berkomentar.
"Rumor seperti apa?"
"Katanya para pasukan bayaran selalu menjalankan misi sesulit apapun, dan mereka selalu berhasil. Asalkan bayaran sesuai, mereka tidak pernah menolak. Berbeda dengan pasukan kerajaan yang menawan kita saat tertangkap, pasukan bayaran tidak melakukannya. Mereka akan langsung membunuh siapapun yang menghalangi dalam misi."
Satu jam berlalu, mereka hampir sampai di ujung lorong. Lorong bawah tanah itu, terhubung dengan sebuah desa di luar kota. Letak desa itu di seberang sungai besar, tersembunyi di balik lebatnya hutan.
Lima orang keluar dari mulut lorong, mereka langsung menuju desa. Sebagian dari mereka merasa lemas, berjalan di lorong yang gelap dan pengap cukup sulit, ditambah mereka harus membawa kotak besar.
Brukk...
Empat orang menjatuhkan kotak itu bersamaan. Mereka menatap tidak percaya. Seluruh bangunan di desa telah porak-poranda, seperti di terjang badai. Mayat-mayat masih bergeletak, berlumur darah.
"A-apa yang terjadi dengan desa ini," ucap pria berpakaian koki gemetar.
__ADS_1
"Yo! Kalian akhirnya sampai." Seorang wanita duduk santai ditumbukan mayat yang menggunung. Wajahnya yang gelap, perlahan di sinari cahaya bulan purnama. Terlihat jelas sosok itu tersenyum ke arah para pria di depannya.
Para pria gemetar melihat senyum si wanita yang berlumur darah. Wajah cantik si wanita tidak mencerminkan kepribadiannya. Dari sudut pandang para pria, dia nampak seperti iblis dari pada bidadari.