
"Kenapa kita tidak bergabung dengan party Lusi kak?" tanya Atma penasaran.
Nusa tersenyum tipis lalu berkata. "Karena... mereka tidak tahu kalau di ruang bawah tanah ada harta karun yang bersemayam."
Nusa dan partynya tidak pergi dari desa, mereka menggunakan skill Nusa untuk sembunyi. Nusa dan partynya mengawasi setiap tindakan para petualang yang sedang membantu para tawanan untuk keluar dari desa.
Tara merasakan keberadaan aura yang kuat diantara para petualang. Tara meminta agar Nusa menggunakan skill tembus pandangnya pada Atita dan Melani untuk jaga-jaga jikalau mereka ketahuan oleh orang lain.
30 menit mereka mengatur para tawanan dan juga petualang, sekitar 132 petualang membantu mengendarai kereta kuda.
Seperti dugaan Nusa, para tawanan dibawa menuju ibu kota kerajaan Bhayangkara. Sebelum berangkat Lusi melihat ke sekeliling, dia berharap dapat bertemu dengan party Nusa kembali. Menurut Lusi dan partynya, Nusa dan partynya merupakan petualang hebat yang rendah hati.
"Mereka sudah pergi, saatnya kita mengambil harta karun itu," ucap Nusa penuh semangat perjuangan.
Sekejap desa Cipoho menjadi hening, para petualang sudah pergi dengan kereta kuda dan meninggalkan mayat-mayat para prajurit begitu saja. Mereka tidak menyentuh mayat-mayat prajurit yang bergeletakan di atas tanah. Untuk saat ini Nusa dan partynya membiarkan mayat-mayat prajurit tergeletak di atas tanah.
Mereka masuk ke dalam ruangan, Nameer kembali kebentuk harimau dan Delta kembali ke alamnya. Selain bisa bertarung, Nusa juga membuat Nameer dengan tujuan mencari harta.
Nameer berhenti di depan pintu besar di ujung ruangan, pintu itu memiliki dua daun pintu besar. Nusa mendorong pintu itu sekuat tenaga lalu pintu itu pun terbuka.
Kilau cahaya kuning keemasan bersinar di dalam ruangan itu. Nusa terjauh, dia tidak kuasa melihat pemandangan seindah ini. Tumpukan emas berjejer di dalam ruangan, ruangan itu cukup luas dengan pencahayaan yang tepat membuat Nusa dan partynya seakan melihat surga harta.
"Kita bawa semua harta ini. Kalian bisa membawa barang yang bagus disini, tapi jangan kebanyakan ya! soalnya aku belum ke bagian." Nusa memberi waktu Tara, Atma, Atita dan Melani untuk memilih barang yang mereka inginkan.
Setelah semua orang mengambil barang yang diinginkan, Nusa segera menyedot semua harta itu menuju ruang tunggu miliknya.
Nusa bahagia bisa menemukan harta karun tersembunyi, walaupun harta yang di ambil belum memuaskannya. Nusa berharap dapat merampas harta lebih banyak lagi.
"Kalian semua berpegangan lalu tutup mata rapat-rapat. Jangan membuka mata atau melepaskan pegangan tangan sebelum ada perintah." Nusa memberi arahan kepala partynya.
Mereka semua menuruti perkataan Nusa, tidak lama ruangan itu bercahaya dan Nusa menjentikkan jarinya.
__ADS_1
"Kalian boleh membuka mata," ucap Nusa dengan lega.
Semua orang terkejut, dalam sekejap mereka sudah sampai di luar kota Carani. Tara terkejut sekaligus bahagia, dia berlari meninggalkan teman-temannya.
Tara berniat pergi ke guild, dia tidak sabar menunjukkan tubuh barunya yang menggoda pada si resepsionis perempuan di guild. Tara berlari agak pelan, dadanya yang terus memantul membuatnya kesulitan saat berlari.
Nusa tersenyum licik, Atma, Atita dan Melani yang melihat senyum tuannya merasa khawatir karena sebentar lagi akan terjadi bencana besar.
Nusa menjentikkan jarinya, tiba-tiba tubuh Tara kembali seperti semula. Dadanya yang besar menciut seperti balon udara yang tertusuk jarum lalu berlubang.
Tara sangat terkejut, sebelum dia berbalik Nusa menjentikkan jarinya lagi. Tiba-tiba Tara sudah ada di hadapan Nusa dan teman-temannya.
Tara melihat Nusa dan Atma sudah kembali kebentuk semula, dia tidak terima dengan perlakuan Nusa yang seenaknya mengutak-atik tubuhnya.
Tara memasang wajah cemberut, dia kesal karena Nusa sudah mengubah tubuhnya sebelum Tara menunjukkan tubuh seksinya pada si resepsionis gatal.
Nusa mencoba menjelaskan alasan kenapa mereka harus kembali kebentuk semula. Sangat berbahaya jika ada orang yang tahu kalau party Nusa dapat berubah wujud.
Gawat! kalau sampai Tara beneran mogok bicara. batin Nusa sedikit panik.
Awas aja lu Nusa! Gw bales nih, emang enak gak di ajak ngomong. Tara tertawa dalam hati, dia nampak puas bisa menjahili Nusa.
Mereka berpindah tempat menggunakan skill Bulu Jatuh, skill ini membuat si penggunaan dapat berpindah tempat kemana pun asalkan dia menjatuhkan sehelai bulu burung berwarna hitam ataupun biru tua. Bulu itu tercipta dari skill Bulu Jatuh, jadi kalian tidak perlu menangkap burung lalu mencabuti bulunya.
Nusa tidak memindahkan mereka langsung ke kota atau penginapan. "Kurang menantang kalau kita langsung sampai di kota, sensasi petualangannya kurang berasa," ucap Nusa enteng, dia masih melirik Tara yang marah padanya.
Mereka berpindah sejauh 3 kilometer dari kota Carani, jarak yang sempurna untuk mengelabui para penduduk kota.
Para penjaga menyambut Nusa dan partynya, mereka berdiri dan memberi hormat. Sebelum Nusa masuk ke dalam kota, seorang petualang berteriak dari jauh.
"Gawatt! Kota kita dalam bahaya!"
__ADS_1
Semua orang di depan gerbang terkejut, mereka segera menyambut petualang itu.
"Apa yang terjadi! siapa yang menyerang kita?!" ucap seorang penjaga sambil memegang pundak si petualang.
Petualang itu menarik napas berat lalu berkata. "Sekelompok tentara asing menuju ke kota ini, jumlah mereka sangat banyak. Kami sedang mencari monster di sekitar hutan dan tidak sengaja melihat camp tentara di sana."
Para penjaga panik, mereka bertingkah aneh dan tidak mencerminkan seorang aparat keamanan. Tentu saja mereka panik karena di kota Carani tidak memiliki kesatuan prajurit.
Kota Carani cukup kecil sehingga dalam masalah pertahanan kerajaan tidak memprioritaskannya. Di sana hanya ada beberapa ksatria yang di tugaskan menjaga gerbang dan patroli keamanan.
Wali kota mengandalkan para petualang untuk tugas-tugas berat yang tidak bisa di tangani oleh ksatria. Tapi itu hanya menyangkut perburuan monster atau pembasmian bandit. Beda halnya dengan perang melawan prajurit asing yang terlatih dan memiliki peralatan memadai.
Di kota Carani sendiri petualang dengan peringkat tinggi hanya Nusa dan Tara. Jika memaksakan untuk melawan maka mereka akan di bantai layaknya petani wortel yang mencabut wortelnya tanpa mengeluarkan tenaga.
Tara mengeluarkan rantai panjangnya, dia berkata sambil mengikat semua penjaga. "Kalian adalah prajurit! Bersikaplah layaknya prajurit yang gagah berani. Jangan membuat penduduk takut dan kehilangan kepercayaan pada kalian. Sekarang umumkan keadaan darurat lalu segera evakuasi penduduk ke tempat yang aman. Paham!"
"Ya!!" teriak semua penjaga secara bersamaan.
Atma duduk di pangkuan Nusa, dia meminta Nusa mengelus kepalanya lembut. Atma sangat senang, kedua telinga panjangnya bergerak ke atas dan ke bawah.
Para prajurit masuk ke dalam kota, mereka membiarkan gerbang kosong tanpa penjagaan. Nusa tertawa bahagia, dia tidak menyangka para prajurit bodohnya kelewatan.
Jika gerbang tidak di jaga, para prajurit asing dengan mudah menyerang kota dari depan. Terpaksa Nusa, Tara, dan Atma menunggu di depan gerbang.
Nameer dan Delta sudah kembali ke alamnya masing-masing, sedangkan Atita dan Melani mengawasi tuannya dari jauh. Mereka juga bertugas memantau pergerakan musuh.
"Setelah semalaman bertempur, kini kita harus melawan ribuan prajurit. Tolong beri kami istirahat walaupun sebentar," ucap Nusa meratap, dia sudah lelah terus bertarung tanpa jeda.
"Atma punya ide kak! bagaimana kalau kita biarkan prajurit masuk kota. Setelah itu...." Atma membisikan rencana pada Nusa dan Tara.
Nusa dan Tara kembali semangat, mereka mengelus kepala Atma secara bergantian, Nusa dan Tara senang memiliki teman dengan ide brilian.
__ADS_1