Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua

Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua
BAB 15 : SERANGAN DADAKAN


__ADS_3

Orang-orang di dekat kereta kuda terkejut melihat rekannya terkapar. Para tentara asing itu mulai siaga, mereka memberi sinyal bahaya pada rekannya yang lain.


"Semua prajurit bersiap! musuh mulai menyerang kita," teriak seorang pria dengan gagah berani.


Nusa bersimpuh melihat keadaan gadis di depannya, dia diam seribu bahasa, kepalanya tertunduk memandang sang gadis. Nusa memperhatikan setiap luka baik itu luka sayatan ataupun luka pukulan yang diterima sang gadis, dadanya terasa sesak saat menyentuh setiap bagian luka dari si gadis.


Para prajurit mulai berdatangan, Tara dan Atma mulai waspada. Menurut informasi dari Atita jumlah prajurit sekitar 1.791 orang, sudah termasuk komandan mereka.


Dari kejauhan puluhan anak panah terbang ke arah party Nusa.


"Tree Wall."


Lusi yang berada di belakang membuat dinding pohon untuk melindungi teman-temannya. Arga dan Deni berlari menuju pasukan musuh, mereka menembus puluhan anak panah yang berterbangan menggunakan tombak dan pedang.


Lusi menembakan puluhan bola api ke arah pasukan pemanah, Deni menerjang pasukan di depannya. Tombaknya mengamuk dan menembus perisai musuh dengan mudah.


Arga mengayunkan pedangnya seolah-olah menari dengan gerakan yang indah. Mereka bertiga berjuang melindungi party Nusa.


Tara melihat Nusa yang termenung, baru pertama kali Tara melihat sahabat baiknya menangis. Nusa berkata dengan gusar. "Sekarang kita harus bagaimana Ra?"


Tara terkejut saat Nusa memanggilnya Ra, karena panggilan itu hanya di ucapkan Nusa saat dia bimbang.


Tara menghampiri Nusa lalu memeluknya, dia berkata lembut ke telinga Nusa. " Coba liat, aku dan Atma ada di samping kamu, Atita dan Melani juga selalu mengawasi kita dari jauh. Kami semua menunggu ide gila dan gak masuk akal darimu. Kamu jangan sedih, Kamu gak sendiri, kami selalu ada buat kamu. Jadi kuatkan tekadmu Nusa, karena kita harus menyelamatkan banyak nyawa."


Nusa mengusap air matanya, kata-kata yang diucapkan Tara begitu berbekas di hatinya, dadanya yang terasa sesak kini mulai lapang. Nusa memeluk Tara dan Atma, dia mengucapkan terima kasih kepada keduanya karena selalu menemani kemanapun ia pergi.


Nusa menempelkan tangannya pada kepala si gadis, tidak lama cahaya kuning keemasan menyelimuti tubuh si gadis.


Luka-luka yang menganga pada tubuh gadis itu perlahan menghilang, tangannya yang patah kini mulai membaik. Gadis itu mengeluarkan semacam batu dari mulutnya dan dia pun tersadar.

__ADS_1


"Dimana aku?! apakah aku sudah mati." Nusa membantu gadis itu duduk. Nusa tersenyum lalu mengelus kepala si gadis, gadis itu langsung memeluk Nusa sambil menangis. Dia tahu bahwa dirinya belum mati, karena dia masih bisa merasakan kehangatan dari pria di depannya.


Mohon maaf tuan Nusa, sepertinya teman-teman anda di luar sudah kewalahan mengadapi musuh. Atita memberi tahu Nusa melalui telepati.


"Kalau begitu kita bantu mereka, mereka juga sudah membuatkan pelindung demi melindungi kita." Nusa berdiri dengan penuh semangat.


Nusa memerintahkan Nameer keluar dari hutan dan membantu party Lusi. Nameer keluar dari hutan, dia berlari ke arah Arga yang kewalahan menghadapi musuh. Nameer mencakar prajurit yang sedang beradu pedang dengan Arga sampai terbelah.


Di juga menggigit beberapa prajurit hingga kepala mereka pecah. 20 prajurit mencoba memberi serangan kejutan, namun Nameer mengetahuinya lalu dia pun melompat tinggi. Saat Nameer turun, kedua cakarnya dengan cepat menghujam para prajurit itu.


Arga terpesona dengan gerakan Nameer yang lincah dan indah. Nusa dan partynya keluar dari pelindung buatan Lusi, keadaan mereka kurang menguntungkan.


Nusa berlari ke arah Lusi sambil membopong gadis yang terluka tadi, Lusi mati-matian melindungi Nusa dengan sihirnya. Dia sampai menjatuhkan tongkat sihirnya karena sudah melewati batas.


Sebanyak apapun mereka membunuh, para prajurit terus bermunculan. The Six Crowns kali ini kalah jumlah, Nusa dan partynya kesulitan karena mereka harus bertarung sambil menahan diri.


Deni terluka cukup parah di bagian punggung dan perut, sedangkan Lusi mulai kehabisan mana. Para prajurit yang mereka hadapi lebih kuat dari sebelumnya, mereka memiliki persenjataan lengkap serta level mereka rata-rata di atas 300 bahkan ada yang mencapai 500..


Tara tidak menggunakan sabit kebanggaannya, dia lebih memilih menggunakan belati, rantai, jarum, bom dan suriken. Tara melempar 21 bom asap ke arah para prajurit, asap mengepul di mana-mana. mereka semua tidak bisa melihat The Six Crowns.


Sebuah bayangan hitam berlarian dari balik asap, bayangkan itu menghampiri para prajurit yang kebingungan. Tiba-tiba teriakan demi teriakan terdengar, suara hujaman senjata tajam sangat jelas ke telinga para prajurit.


"Chain Of Death."


Dua buah rantai melesat cepat menusuk puluhan prajurit tepat di jantung mereka. Masing-masing rantai itu terpasang dua buah belati. Rantai itu terus bergerak membunuh musuh-musuhnya seperti sebuah tentakel gurita.


Saat asap itu menghilang ratusan mayat prajurit terkapar di tanah. Nusa dan teman-temannya sembunyi di bawah tanah, mereka terpaksa menunggu sampai tenaga mereka kembali pulih.


Tara menghampiri rombongan Nusa dan berkata. "Para prajurit di sini sudah aku bereskan. Kita tinggal menghitung menit sampai bantuan tiba."

__ADS_1


"Aku, Deni dan Arga sudah melewati batas, jika pertempuran terus berlanjut kami tidak menjamin masih bernapas sampai Fajar menyingsing," ujar Lusi sambil membaringkan tubuh.


Atma mengobati luka Deni dengan peralatan seadanya, jika menggunakan sihir penyembuhan luka Deni mungkin cepat sembuh.


Nusa berpikir sebentar lalu berkata. "Terima kasih kalian sudah melindungi kami tadi. Sekarang giliran kami yang melindungi kalian, untuk sementara kalian sembunyi di sini lalu para prajurit di atas biar kami yang urus."


The Six Crowns membagi tugas, party Nusa mengurus para prajurit dan party Lusi memulihkan diri. Keputusan ini di ambil supaya di saat party Nusa kelelahan atau terdesak, party Lusi dapat membantu.


"Si*l! di mana para keparat itu?!" teriak seorang pria dengan zirah berwarna kuning dan mengkilap. Dia adalah komandan pasukan itu.


Pria itu marah saat para prajuritnya berguguran. 700 prajurit tewas dalam kurun waktu kurang dari 30 menit. Prajurit yang tersisa sekitar 1.000 orang dan 90 prajurit berjaga di ruang bawah tanah.


Atita bunuh semua prajurit yang ada di atas tanah, sisakan komandan mereka saja. Nusa memberi perintah melalui telepati.


Mohon maaf tuan Nusa, Nona Tara berpesan supaya tidak membunuh mereka. Saya di perbolehkan membunuh prajurit yang keluar dari desa saja. Atita memberi penjelasan pada Nusa.


Nusa menerima alasan Atita dan tidak keberatan untuk membunuh prajurit itu satu persatu. Nusa mengangkat sebelah tangannya dan berkata.


"Summon! Delta keluarlah!"


Sesosok makhluk keluar dari lingkaran berwarna gelap. Makhluk itu berwujud manusia, dia memakai topeng serta dua pedang di tangannya. Makhluk itu memiliki dada besar dan rambut panjang berwarna hijau pucuk teh.


Dia adalah Delta, sama seperti Nameer dia juga salah satu Hewan Suci. Delta mengeluarkan kedua pedangnya yang disimpan di punggung. Pedang yang mengkilap dengan banyak ukiran pada bilah dan gagangnya.


Delta mulai menyerang para prajurit dengan cepat, gerakannya sulit di tebak. Dia bahkan dengan mudah mengalahkan 60 prajurit berlevel 400..Delta terus menyerang, pedangnya berbalut darah dari tubuh para prajurit.


Tara tidak diam saja, dia ikut menyerang para prajurit itu. Delta dan Tara bekerjasama demi membantai semua prajurit.


20 menit telah berlalu, prajurit yang berjumlah 1000 orang tewas meninggalkan komandan mereka sendiri. Kegagahan serta keberanian sang komandan tiba-tiba menciut, dia melihat 2 sosok monster di depannya.

__ADS_1


Komandan itu berbalik badan dan berencana melarikan diri, tetapi Tara melempar jarum ke arah kaki si komandan. Komandan itu merasakan kedua kalinya tidak bisa di gerakan, dia sangat ketakutan karena dua monster itu mulai mendekatinya perlahan.


__ADS_2