
Erwin itu bergegas mengambil ponselnya, mengetik ajakan untuk bertemu, ingin sekali rasanya itu mengenalkan Dinda Lestari kepada keluarga besarnya, Biar bagaimanapun juga Dinda lestari adalah calon istrinya yang sudah Direstui oleh kakek Santoso, erwinto memijit setiap kata demi kata ponselnya.
* WhatsApp-an
- Erwinto : Sayang kamu lagi apa sekarang? jangan lupa ya nanti malam aku mau jemput kamu, jangan lupa juga dandan yang cantik. 'Erwinto'
- Dinda : Iya sayang aku nggak lupa kok, nanti kamu jemput aku jam 6 aja ya, Soalnya hari ini aku mau ke perpustakaan sebentar.
- Erwinto : mau sekalian aku antar nggak? Hari ini aku pulang jemput dari kantor, kumpul aku juga lagi meeting nih di dekat perpustakaan, apa mau sekalian aku pengen main buku dulu cantik kamu kan nggak usah ke perpustakaan?
- Dinda : nggak usah aku nggak mau ngerepotin siapa-siapa, lagipula bosen juga seharian di rumah ngapain, atau kita Nanti ketemuan di perpustakaan aja? nanti dari sana kita langsung ke rumahmu!
- Erwinto : terserah kamu aja sayang, aku kan orangnya nurut, I love you.ππ
- Dinda : I love you too sayangππ
Dinda Lestari mengakhiri percakapan mereka, Tidak terasa sudah ah 2 tahun dia lulus dari perguruan tinggi, dan selama 2 tahun juga dia berusaha mengajukan beasiswa untuk MBA di luar negeri. namun belum juga ada kabar tahun ini, tahun lalu Dinda Lestari gagal masuk seleksi, namun dia adalah seseorang yang pantang menyerah.
MBA adalah kepanjangan dari " Master Business Administration " yang dalam bahasa Indonesia disingkat MAB (Magister Administrasi Bisnis), kemudian bisa didefinisikan sebagai suatu gelar pendidikan di jenjang Magister atau S2 yang ditempuh oleh para mahasiswa dengan ketertarikan pada bidang bisnis dan keuangan, ini adalah impian Dinda Lestari dari dulu bisa menyambut gelar S2 nya di luar negeri, seharusnya bulan depan pengumumannya sudah keluar untuk tahun ajaran baru, Dinda Lestari berharap kalau kali ini dia akan lolos seleksi.
" Apakah aku harus mengatakan pada Erwin ya tentang rencana ku untuk kuliah S2 di luar negeri?" Dinda sangat kebingungan, sedangkan dulu dia ingat kata-katanya, " aku nggak mau pacaran, Aku maunya kalau memang aku sudah menemukan Seseorang yang mencintaiku dan aku mencintainya Aku ingin langsung menikah saja" sekarang dinama terjebak dalam prinsipnya sendiri.
"Aduh pusing banget kalau dipikirin, Harusnya kan aku mikir dulu sebelum ngomong, berbicara tanpa berpikir itu ternyata benar-benar sebuah bencana, tapi kalau berbicara tanpa berpikir sia-sia juga" Dinda kebingungan dan mengacak-ngacak rambutnya.
Hari ini adalah hari dimana Dinda akan diperkenalkan oleh Erwin kepada keluarga besarnya, Dinda belum menginformasikan kepada orang tuanya tentang pertemuan ini, Dinda tidak ingin membuat ibu dan ayahnya kerepotan. ibu dan ayah Dinda adalah seorang dokter yang ditugaskan di suatu daerah terpencil, namun karena keterbatasan akses di tempat orang tuanya bekerja, Dinda tetap tinggal di kota bersama dengan nenek dan adiknya yang bernama Doni. Rencananya Dinda akan memberi kabar pada orang tuanya jika hasil pertemuan nanti orang tua Erwin menyetujui hubungan mereka.
__ADS_1
Dinda juga sudah menyukai Erwin dari dulu dari pertama kali mereka bertemu, Namun karena Dinda tipikal wanita yang sangat terobsesi dengan pendidikan, dia tidak ingin masa-masa sekolahnya diganggu dengan kegiatan pacaran anak ABG, itulah Alasannya kenapa Dinda sering menoleh Erwin berkali-kali, belakangan Erwin sangat perhatian padanya sehingga Dinda tidak bisa menahan perasaannya untuk tidak mengungkapkan kalau dia juga mencintai Erwin, itulah alasan kenapa Dinda menghubungi Erwin untuk menerima cintanya.
karena terlalu keras berpikir Dinda malah ketiduran, dia lupa rencananya untuk pergi ke perpustakaan hari ini, jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, terdengar bunyi ponsel ada panggilan masuk berkali-kali, karena Dinda tertidur sangat lelap butuh tiga kali panggilan hingga ia terbangun. disana tertulis nama Erwin.
" Sayang kamu udah di mana ini? aku cari-cari kamu sampai ke dalam perpustakaan kok kamu nggak ada?"
" Aduh maaf sayang, aku aja di kepustakaan hari ini, aku ketiduran tahu"
" Kok tumben banget nggak on time sama jadwal sendiri? Enggak biasanya nya, apa kamu lagi banyak pikiran?"
Erwin itu sepertinya ada feeling bahwa Dinda sedang banyak pikiran hari ini, tebakannya benar semua, Bunda berpikir Gimana cara jawabnya.
" aku juga kurang tahu nih Kok tumben ini, Apa karena deg-degan mungkin ya?, Biar bagaimanapun ini kan pertama sekalinya sayang ngenalin aku ke keluargamu" jawab Dinda ringan.
"Nggak apa lah kalau memang nggak ke perpustakaan, kalau kita aku jemput langsung aja ke rumah ya!, kamu siap-siap aja sekarang 30 menit lagi aku nyampe kok"
Erwin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan 60 meter per jam, namun setelah memasuki persimpangan jalan dia mulai menurunkan kecepatannya, hari ini Lumayan macet, bisa-bisa dia telat nih 15 menit nyampe sampai tujuan. namun saat dia merasa gelisah Dia teringat dengan kata-kata Dinda, Dinda meminta padanya untuk jangan terburu-buru, seketika itu juga hati Erwin merasa sangat sejuk mengingat kata-kata Dinda.
"Dinda...dinda mengingat namamu saya sudah bikin hatiku seneng banget, semoga kita bisa berjodoh terus, i love you sayang" Erwin tersenyum-senyum dalam mobil, sambil bicara sendiri, senyuman diwajahnya terus menempel hari ini, hatinya berbunga-bunga bak ABG yang baru mengenal cinta.
"Aku berharap ini bukan mimpi Tuhan, semuanya kebahagiaan ini datang tiba-tiba dalam hidupmu, penantian ku menunggu dinda akhirnya sampai juga di titik ini" Erwin masih terus bicara sendiri.
Sambil menunggu Erwin datang, Dinda duduk di depan teras rumahnya, sambil mendengarkan musik yang romantis Dinda Pul tersenyum-senyum sendiri, hatinya sama senangnya dengan hati Erwin, penuh ketenangan penuh kedamaian penuh kenyamanan, itulah yang Dinda rasakan sekarang.
Sesekali Dinda melihat ke langit, hari ini sangat cerah bintang terlihat petamburan di langit yang gelap, di sana terlihat bintang jatuh, dan spontan Dinda memejamkan mata dan berdoa.
__ADS_1
"Semoga di tahun ini, dia bisa melanjutkan S2 ke luar negeri" doa Dinda.
Kemudian terlihat mobil Erwin masuk ke halaman rumahnya, lampu mobil yang menyala menyilaukan mata Dinda, Dinda berjalan menghampiri Erwin yang masih berada di dalam mobil, dia sangat antusias dan membukakan pintu mobil Erwin.
"Selamat datang sayang" Dinda memeluk Erwin.
"Sudah lama ya menunggu?" erwin membalas pelukannya dengan sangat erat.
"Mau berangkat sekarang?"
"Tunggu sebentar ya sayang, aku ambil tasku di dalam, sambil pamitan sama nenek dan Doni."
Dinda masuk ke dalam rumahnya, Dinda berpamitan kepada neneknya yang duduk di depan TV di ruangan keluarga, Di sana juga ada Doni adiknya yang sedang bermain game di hp-nya, Dinda memeluk neneknya dan mengatakan bahwa dia akan pergi menemui keluarga Erwin.
"Nenek, dinda pamit dulu ya! dik kamu jaga rumah ya!" tinta Dinda pada neneknya, lanjut Dia menyuruh adiknya untuk memperhatikan neneknya, Doni cukup besar karena dia sudah berusia 17 tahun.
"Hati-hati di jalan ya ***"
"Hati-hati di jalan ya Kak, semoga pertemuan hari ini sukses ya, Semoga pak Erwin juga menyukai kakak"
" Terima kasih doanya adikku sayang, Kakak berangkat dulu ya."
Kemudian Dinda menemui Erwin yang masih menunggu di luar, dengan mobil yang masih menyala Erwin membukakan pintu mobil sebelah kiri, mempersilakan Dinda untuk masuk.
" Kamu siap sayang? kita jalan sekarang ya!" Tanya Erwin pada Dinda yang sudah masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
" Sebenarnya aku agaknya nervous sih,,, tapi kalau sama kamu kayanya bisa teratasi" Dinda duduk di mobil dan mengenalkan sabuk pengaman.
BERSAMBUNG...