EE (Erlina Erwinto)

EE (Erlina Erwinto)
Bab 26 Ayam Panggang


__ADS_3

Setelah semua terlewati, semuanya akan terlihat baik-baik saja, setelah semua dijalani, luka yang membekas akan sembuh kembali, pagi ini setelah Erlina menyiapkan segala perlengkapan untuk Erwin, dari pakaiannya, bak mandi hingga masakan, semua dilakukan dengan sangat hati-hati, penuh dengan cinta dan kasih sayang tanpa mengharapkan balasan.


Setelah apa yang terjadi pagi ini pada mereka berdua Erwin hanya bisa diam saja, Erwin segera melepas pakaiannya dan merendam kan tubuhnya dalam bak tab yang sangat hangat, wangi bunga dari sabun membuatnya agak santai, sepanjang berendam di bak mandi berapa hal terus terlintas di kepalanya, tentang keputusannya menikahi Dinda, apakah itu sudah tepat atau tidak? tentang perasaan Erlina yang sangat besar mencintai dan perhatian padannya, apakah Erwin harus mengacuhkannya atau berusaha menerimanya? satu persatu pertanyaan mulai memenuhi kepala Erwin.


Erwin teringat dengan ucapan Dinda waktu itu, Dinda ingin mengejar mimpinya, tapi di waktu yang bersama Erwin ingin mengikatnya dalam sebuah hubungan, sebenarnya Erwin tidak ingin melakukan itu, namun untuk meyakinkan kakek Santoso, Erwin harus melakukan transaksi itu, Erwin menjadi serba salah jika memikirkan Dinda yang terlihat sangat tertekan oleh syarat yang Erwin ajukan.


Pagi ini Erwin berendam cukup lama di bak mandi, sesekali Erwin menenggelamkan kepalanya ke dalam air, sehingga rambutnya basah dan terlihat gelembung sabun yang berada di atas kepala, setelah beberapa saat berendam Erwin kemudian membilas tubuhnya di bawah shower, dia segera mengenakan pakaian yang sudah dipersiapkan oleh Erlina, terlihat satu setel pakaian santai yang diletakkan di atas sofa di depan ranjang tempat tidurnya, di bawah terlihat sendal jepit berwarna hitam yang pas dengan ukuran kakinya, Erwin memakai pakaian yang sudah disiapkan, dilihatnya penampilannya di depan cermin, "Bagus juga, ternyata Erlina mempunyai selera yang cukup bagus" Erwin memuji pakaian pilihan Erlina.


Setelah selesai menyisir rambutnya yang sudah setengah kering, Erwin menyemprotkan parfum ke tubuhnya, sebotol parfum dengan wangi vanilla, Erlina menyediakan parfum tersebut di meja rias, bagaimanapun juga wangi parfum vanilla adalah kesukaan Erlina, kalau ditanya parfum kesukaan Erwin, sebenarnya Erwin tidak terlalu fanatik tentang wangi parfum, begitu juga tentang warna pakaian, corak pakaian, jenis dan warna dasi, sepatu dan sendal, asalkan nyaman dan bersih Erwin sudah menyukainya.


Erwin terus senyum-senyum melihat dirinya di cermin, baju santai itu terlihat sangat cocok di tubuhnya, dia terlihat lebih ramah menggunakan pakaian itu, jika biasanya dia menggunakan setelan jas lengkap dengan dasi, maka itu menghasilkan kesan yang lebih berwibawa dan tegas, namun berbeda untuk kali ini, setelan pakaian yang digunakan memperlihatkan dia yang begitu ramah dan sangat santai. Setelah puas melihat dirinya di cermin, Erwin kemudian meninggalkan ruangan tersebut, tentunya setelah membereskan semua pakaiannya dan memasukkannya ke dalam tas parasut yang selalu dia bawa dalam tas kecilnya.


Erwin membawa tas parasut tersebut menuju ruang makan, kemudian Erwin memanggil sopirnya yang berada di halaman, dan menyerahkan tas tersebut untuk ditaruh di dalam mobilnya, serta membersihkan mobil sebelum balik ke rumah.


" Park Nam, apakah mobilnya sudah siap?"


" Sudah Tuan Erwin, ini saya tinggal mengelapnya saja, sudah selesai saya cuci tadi pagi."


" Baguslah kalau begitu, nanti habis makan kita langsung balik, oh ya pak nam, saya mau minta tolong dong pak, tolong taruh barang-barang saya ke dalam mobil"


" Baik Tuan Erwin"


" Pak Nam apakah sudah sarapan?"

__ADS_1


" Sudah Tuan baru saja selesai, kalau begitu saya permisi dulu!"


" Syukurlah kalau begitu, ya sudah pak nanti saya nyusul, Soalnya hari ini ada pertemuan darurat!"


Erwin duduk di meja makan, dilihatnya ada makanan kesukaannya, yaitu 'Ayam Panggang', meja makan hanya ada dirinya dan Erlina, hari ini ayah Erlina sudah berangkat pagi-pagi sekali ke tempat memancing bersama dengan teman-temannya, tentu saja setelah dia menyelesaikan sarapannya.


Di atas meja sudah tersaji 1 ekor ayam yang belum dibagi-bagi, Erlina sengaja tidak makan dengan ayahnya tadi pagi, karena dia ingin menikmati sarapan bersama dengan Erwin, hari ini Erlina memanggang 2 ekor ayam, satu ekor lagi untuk ayah dan para asisten rumah tangga lainnya, dan 1 ekor lagi spesial untuk Erwin.


Erlina juga menyiapkan sup bening daun kelor, untuk teman makan ayam panggang, Erlina mengisi piring Erwin dengan dua sendok nasi, satu paha ayam, dan 1 mangkok sup bening daun kelor sebagai pelengkapnya, makan lebih nikmat kalau ada kuah panas yang siap diseruput🤤.


" Kok tumben Hari ini sepi sekali ya? ngomong-ngomong Ayah ke mana? Baru aja mau berbincang-bincang, kangen juga debat seperti waktu yang lalu" Erwin bertanya pada Erlina yang sedang menyiapkan makanan untuknya.


" Para pasukan sudah sarapan pagi tadi, Ayah juga pergi pagi-pagi untuk memancing di sungai bersama temannya, dia tadi menitip salam pada kamu Erwin, nanti kalau kamu kangen kan bisa ngobrol siangan dikit, ayah juga bilang akan pulang lebih cepat hari ini"


" Mimpi yang sangat indah, walau bagi sebagian orang itu terlihat sangat sederhana, memang benar sih kebahagiaan itu dimulai dari rasa syukur, mensyukuri sesuatu yang sudah kita miliki, bukan merindukan sesuatu yang sudah terlewati, atau mengharapkan sesuatu yang belum kita miliki." Erlina berbicara begitu saja sambil menyuap makanannya.


" Begitulah prinsip sederhana kebahagiaan, namun karena tuntutan di usia muda, kita harus terus berkarya untuk hari esok itu."


" Begitulah kak Erwin😊"


Erwin dan Erlina mulai menikmati makanan yang ada di hadapannya, mereka berdua masih fokus menikmati makanan tersebut dan menghentikan pembicaraan sejenak, setelah hampir menyelesaikan makanannya, Erwin kembali berbicara dan bertanya beberapa hal pada Erlina.


" Aku nggak nyangka ternyata keahlian memasak mu sudah semakin bagus. Terakhir aku mencicipi masakan mu enak juga sih, tapi yang ini jauh lebih enak dan rasanya lebih sempurna" Erwin dengan mudahnya memuji masakan Erlina, walau tanpa bumbu yang pekat dan banyak, namun karena itu pula rasa masakan originalnya lebih nikmat.

__ADS_1


" Erwin terlalu memuji, jangan seperti itulah Kak nanti aku bisa besar kepala"


" Aku mengatakan kejujuran, berkomentar sesuai dengan rasa yang aku nikmati dalam masakan mu, ternyata kamu masih ingat ayam panggang kesukaanku dengan rempah yang sederhana, Terima kasih banyak Erlina"


"Sama-sama kakak, nanti sering-sering kesini, kan aku masakin terus. Walau nanti kakak sudah menikah dengan Dinda, jangan lupa mengajaknya juga ya kak, aku juga ingin banget mengenal Dinda" dengan mudahnya Erlina menyebut namanya begitu saja.


"Tentu saja, suatu saat nanti akan aku kenalkan kamu dengan Dinda."


" Habis ini mau ngapain lagi kak? mau sekalian. jalan-jalan dekat sini?" tawar Erlina.


" Sepertinya tidak bisa, aku ada pertemuan mendadak dengan salah satu rekan Bisnisku, aku berjanji akan menjemputnya langsung ke bandara siang ini, jadi harus buru-buru."


"Nanti hati-hati dijalan ya kak, jangan ngebut-ngebut!" Erlina tidak lagi merengek setiap kali Erwin harus pergi, dia sudah mulai dewasa, Erlina segera menyelesaikan sarapan, dan mengantar Erwin sampai depan rumah.


Di satu sisi ditempat Juni. Juni merasa sangat gelisah saat Erlina tidak membalas pesan dan telponnya dari semalam, ada rasa takut mulai menyelimuti hatinya yang tulus. "Nggak biasanya Erlina seperti ini, harusnya dia langsung membalas pesanku." kemudian tanpa berpikir panjang, Juni langsung pergi ke rumah Erlina.


Namun tanpa sengaja Juni melihat kejadian yang lebih menyakiti hatinya melebihi kemarin malam, Juni mendapati Erlina yang dipeluk oleh Erwin, mata Erwin tidak lepas nya menatap mata pacarnya, sungguh ketidak sengajaan yang sangat mengecewakan dan melukai hati Juni.


"Kenapa aku harus menyaksikan hal-hal yang seperti ini, sudah jelas-jelas Erlina dan Erwinto saling menatap satu sama lain" Juni bergumam.


"Erlina😥😥" Juni melihat dari luar pagar rumah Erlina, kemudian membalikan badannya beberapa saat setelahnya, nampak raut wajah kecewa dengan air mata kekecewaan.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2