
Pagi-pagi sekali Erwinto sudah bangun, melihat dekorasi pernikahan yang terpasang dengan begitu indahnya, Erwinto memutuskan mengadakan acara di rumah, membatalkan acara di hotel, dengan pertimbangan lebih nyaman dilaksanakan di kediamannya sendiri.
Erwinto merasa sangat bahagia hanya dengan memikirkan hari besarnya, akan meminang wanita yang sudah sejak lama dia cintai, tentu dengan restu orang tua dan kakeknya, ini mungkin terjadi, membatalkan perjodohon yang sudah sejak lama di rencanakan. Entah perjodohan mana yang merupakan kehendak langit, hanya waktu yang dapat menjawab nya.
"Tinggal menghitung hari menuju hari besar ku, tapi kenapa sampai saat ini aku masih memiliki perasaan ragu dalam hati, masih tidak mempercayai bahwa hari itu akan datang" Erwin melihat keluar halaman dari balkon kamarnya di lantai 2, di halaman bawah terlihat Erlina sedang duduk bersama kakek, menikmati secangkir teh di pagi hari.
"Kak Erwin ayo turun! ikut gabung sini bareng kami" Melina mengajak kakaknya untuk ikut bergabung, Melina membawa camilan kecil untuk Erlina dan kakek yang sudah duluan menunggu diluar.
"Sudah bangun rupanya, kamu sudah menghubungi Dinda belum?" tanya kakek saat Erwinto turun.
Erlina hanya diam saja dengan senyum tipis di sudut bibirnya, tidak ingin mengobrol hari ini, dia hanya menjadi pendengar saja untuk kebersamaan mereka.
" Erwin sudah hubungi Dinda kemarin kek, masih belum di balas pesan yang erwin kirim, mungkin dia juga lagi sibuk di sana"
__ADS_1
"Semoga acaranya nanti berjalan lancar, kakek sudah undang semua rekan bisnis kita, teman-teman dari papa-mama mu juga sudah di undang semuanya."
"Terimakasih banyak ya kek, sudah memberikan restu untuk Erwin dan Dinda!" Erwinto menikmati teh dan cemilan yang manis.
Erlina merasa agak risih juga di sana, jadi dia memutuskan untuk masuk kedalam rumah, namun sayangnya dicegat sama Melina, dan Erlina pun membatalkan niatnya untuk meninggalkan perjamuan pagi itu.
"Erlina mau permisi kedalam sebentar ya!"
"Ya udah deh kalau begitu."
" Kakek sich, masak bahas masalah itu di acara kumpul-kumpul kita!" Melina sedikit kesal.
"Bukannya begitu maksud kakek, kakek cuma mau mastiin aja kalau semuanya sudah beres, soalnya ini acara yang sangat besar dan sakral jadi gak bisa main-main" kakek mulai mengeluarkan wejangan tua.
__ADS_1
"Ya udah nyamannya kakek aja dah, aku mah gak bisa komentar banyak-banyak. Denger itu kak Erwin, jangan sampai bikin malu keluarga kita."
"Tenang aja, aku gak bakal bikin malu keluarga, harga diri itu penting untuk pebisnis😋" Erwinto sangat percaya diri.
Sesekali Erlina mencuri pandang melihat ke arah Erwinto yang duduk didepannya, sangat mengganggu sich sebenarnya, ada Erwinto di depan Erlina, namun di sisi yang sama, Erlina merasa sangat senang di dekatnya.
"Huuuuuuyu .." Erlina menarik napas panjang, "Andaikan keajaiban itu ada, kapan aku bisa bersanding dengan kak Erwin di pelaminan? dulu aku bisa memimpikannya suatu saat nanti hati itu akan datang, namun tidak lagi, sekarang tinggal menghitung hari kak Erwinto menikah dengan Dinda, dan bersamaan dengan itu, harapanku juga pupus." Erlina berpikir sangat keras.
"Mikir apa sih aku ini, jika aku benar-benar mencintai Erwinto dengan tulus, tidak seharunya aku memikirkan hal-hal yang jelek, gak boleh!" Erlina menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Erlina... Erlina... Erlina" panggil mereka bertiga bergiliran, Erlina terlihat menjauh entah kemana, hanya badan nya saja yang duduk berkumpul bersama, namun pikirannya pergi dan menghilang kemana.
BERSAMBUNG...
__ADS_1