
Nanda meminta sopir untuk menyetir mobil lebih cepat, Nanda adalah seorang dokter namun dia juga manusia biasa yang merasakan kekhawatiran kepada istrinya, Nanda duduk di kursi belakang bersama dengan istrinya, karena merasa khawatir Erlina ikut bersama kakaknya dan dia duduk di kursi depan di sebelah sopir, sedangkan ayah, Mia, dan Juni balik ke rumah bertiga saja.
" tolong yang cepat nyetirnya Pak!" Juni menyuruh supir, sembari mengelus kepala istrinya.
" Kak Nanda yang sabar ya, tolong Tenangkan diri kakak, ini kita juga nggak bisa buru-buru soalnya agak macet, tapi rumah sakitnya udah deket kok tutupan."
" Iya dek, Makasih udah ngingetin aku, soalnya aku khawatir sama Anita," Nandang melihat ke Anita, arti kata sedikit persahabatan namun masih lemah, Dia terlihat kesakitan sambil memegang perutnya.
" Nanda, Nanda, Nanda" terdengar suara Anita yang memanggil suaminya, namun terdengar sangat lemah.
" Iya sayang aku disini, kamu jangan banyak ngomong dulu, Istirahatlah Aku Disini."
" Terima kasih banyak sayang" Anita kembali tertidur, kondisinya terlihat sudah mulai stabil. nampaknya Anita sedikit demam, hal itu dirasakan saat Nanda memegangi keningnya.
" Ini kita udah sampai Kak, biar aku bantu." Erlina segera keluar dari mobil dan membukakan pintu belakang, kemudian Nanda langsung berlari sembari menggendong Anita, kemudian diletakkannya Anita di atas ranjang yang berada di ruang UGD.
" dokter Nanda, dokter Anita," siapa salah seorang perawat di ruang UGD.
" bukannya hari ini anda libur? dokter Anita kenapa?" lanjut seorang dokter yang bertugas di ruang UGD.
"Tadi Dia pingsan, dan sekarang agak demam." dokter Nanda menjelaskan kepada dokter Erika tentang kejadian yang dialami oleh Anita di restoran.
" Baiklah saya periksa dulu ya dokter Anita, dokter Nanda tidak usah khawatir! kami akan melakukan yang terbaik!" kemudian dokter Erika dan 2 Asisten perawat nya, mengecek semua tanda vital dokter Anita, kemudian perawat memasang infus setelahnya. salah seorang perawat juga mengambil sampel darah Anita.
" Tolong bantu bawa alat USG ke sini sus!" perintah Nanda pada suster yang sedari tadi sudah selesai memasang kan infus.
" Baik dok!"
Nanda langsung meminta pada erika untuk melakukan USG pada perut istrinya, Dia sedikit khawatir karena wanita dari tadi Memegang perutnya, Anita nampak kesakitan sejak pingsan di restoran.
"Biar saya saja dokter Erika, saya bisa kok!" Nanda mengenakan Jas putih dokternya, dia langsung memakai hand sanitizer, Kemudian memakai sarung tangan karet sebelum melakukan USG transvaginal, karena USG abdominal tidak menunjukan apa-apa.
" Baiklah kalau begitu dokter Nanda! kalau begitu aku pergi dulu ya! ada pasien baru masuk."
" Terima kasih Dokter Erika"
selanjutnya Nanda melakukan USG pada istrinya sendiri, karena sudah larut malam hanya sedikit dokter yang bertugas malam ini, jadi dokter Erika harus mengurus pasien lainnya.
Nanda sedikit cemas, karena ada sedikit flek darah yang keluar, padahal ini bukan kali pertama dia menangani pasien seperti ini, namun karena yang dia periksa adalah istrinya, jadi sedikit khawatir, dan itulah yang menjadi alasan, kenapa dokter tidak boleh melakukan operasi pada salah satu anggota keluarganya.
” Suster tolong gel nya!"
" Baik dok"
Nanda melihat dilayar monitor, ternyata ada 2 kantong hamil, dia merasa sangat terharu melihat moment ini, tiba-tiba saja air mata haru menetes di pipinya. Erlina yang masih menunggu dengan sabar didekat kakaknya merakan kebahagiaan yang sama.
__ADS_1
" Selamat ya dokter"
"Selamat ya kak"
"Terimakasih banyak semuanya, namun kandungan Anita sangat lemah, ditambah adanya flek darah!"
"Kakakku kan dokter yang hebat, pasti tahu upaya yang dapat diusahakan" Erlina menyemangati kakaknya.
"Suter Tolong siapkan obatnya!" Nanda memberi arahan pada suster yang bertugas, setelah penanganan pertama selesai dilakukan, akhirnya Anita sudah bisa ditempatkan diruang perawatan pasien.
" Terima kasih banyak suster atas bantuannya" Nanda mengucapkan terima kasih setelah suster membantunya membawa Anita ke ruang perawatan.
" Erlina sudah malam, kamu boleh pulang nanti kakak suruh sopir antar ke rumah."
"Nggak usah repot-repot mikirin aku kak, kan aku bisa nginep di sini jagain Kak Anita, nanti aku telepon ayah biar dia nggak khawatir. Ayah juga pasti seneng kalau dengar kabar kalau mau punya cucu."
" Ya sudah kalau gitu, sana telepon ayah dulu! tapi terimakasih banyak ya Lin, udah mau jagain Anita." Nanda memeluk adiknya.
" Kita kan saudara, jadi kakak gak perlu sungkan seperti itu, kalau bukan sekarang, kapan lagi aku bisa mengabdi pada anggota keluarga, ya udah aku telpon ayah dulu ya!"
" Iya, titip salam sama ayah ya!"
Erlina langsung meninggalkan ruangan, dan menelpon ayahnya dari luar, dia ingin membuat Anita nyaman istirahat didalam.
"Halo ayah!"
"Sudah kok ayah, tadi kakak sendiri yang merawat istrinya."
"Syukurlah kalau begitu, kamu nggak usah pulang dulu nak, jagain kakakmu di sana, besok pagi ayah nyusul ke rumah sakit"
"Baiklah ayah"
"Selamat malam anakku sayang, ayah titip salam buat mereka"
" Malam ayah, ow iya yah, kakak titip salam juga buat ayah, lagi pula aku ada kabar gembira buat ayah."
"Kabar gembira apa Lin?"
"Kak Anita ternyata hamil yah, karena kandungannya sangat lemah, makanya dia tadi pingsan."
"Benarkah itu? syukurlah kalau memang benar begitu, akhirnya doa mereka berdua terkabul juga, sudah 4 tahun lamanya mereka menunggu-nunggu moment ini" suara ayah terdengar haru.
"Iya benar ya, usia kandungannya sudah 3 minggu, tadi kakak sendiri yang melakukan USG nya, ayah tau gak, kayanya kakak bakal punya anak kembar, abis tadi ada dua kantong hamil. Aku tadi sampai terharu menyaksikan moment itu" Erlina menceritakan perasaan yang dia rasakan saat melihat seorang dokter menangani pasien nya.
Erlina malah terus mengobrol pada ayahnya ditelpon, dia mulai menceritakan impiannya dimasa depan, terbayang sedikit masa depan yang mulai terlihat didepannya, Erlina akhirnya memutuskan ingin menjadi dokter kandungan kelak.
__ADS_1
"Ayah..." panggilnya erlina pada ayahnya terdengar mulai serius.
"Iya anakku sayang, katakanlah!"
"Ayah aku mau jadi dokter seperti kak Nanda dan kak Anita, mereka memiliki profesi yang sangat mulia, berjuang digaris depan kehidupan, untuk bisa membantu banyak nyawa. Hati Erlina jadi tersentuh yah"
"Ternyata seperti itu alasannya, ayah akan selalu mendukung dibelakang anakku"
"Selamat malam ayah, besok kita sambung lagi yah! I love you papa"
"I love you too anakku sayang, selamat malam" begitulah akhirnya ayah menutup telpon.
Erlina kemudian masuk kembali ke dalam ruangan, setelah menyelesaikan pembicaraan bersama ayah nya. Erlina menghampiri kakaknya yang duduk disebelah kanan istrinya, Nanda memegang tangannya sedari tadi.
"Kakak mau aku beliin kopi gak?"
"Nggak usah dik"
"Sekarang bagaimana keadaan kak Anita?"
"Sudah membaik, tadi aku udah cek dia sudah tidak ngeflek darah lagi"
"Syukurlah kalau begitu kak, aku jadi lega mendengarnya"
"Sekarang kak pasti merasa senang banget ya? setelah sekian lama berjuang, akhirnya doa dan semua usaha usaha kalian sudah membuahkan hasil"
"Begitu lah dik, banyak ujian yang sudah kami lalui berdua, pahit dan manisnya kehidupan berumah tangga sudah kami rasakan selama 4 tahun menjalani bahtera rumah tangga."
"Kakak memang benar-benar hebat, Erlina kagum sama kalian berdua"
"Tapi ada satu hal yang menjadi kunci setiap keharmonisan dik"
"Apa itu kak?"
"Hati yang saling percaya satu sama lainnya, tidak perduli dalam keadaan yang serumit apapun, jika hati kita berdua dipenuhi dengan rasa percaya pada pasangan kita, maka semuanya dapat teratasi"
"Ow jadi itu kuncinya😊😉 Terimakasih banyak kak"
"Tapi kamu juga harus ingat satu hal adikku, jangan pernah memaksakan hati seseorang untuk percaya padamu, kepercayaan itu tumbuh karena rasa percaya, bukan karena hasutan orang lain."
"Baiklah kak, Erlina akan selalu mengingatnya terus"
Erlina kemudian mengingat ke egois nya sewaktu tadi di wahana permainan, bagaimana mungkin dia dapat meragukan ketulusan hati Juni, dekat bukan berarti mereka ada perasaan lain, Erlina mulai menyadarinya.
"😥Juni maafin aku😓" Erlina merasa sangat menyesal dalam hatinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...