
Sudah beberapa hari ini Erlina tidak bertemu dengan Juni, bagaimana kabarnya sekarang? semenjak di Rumah Sakit waktu itu, dia tidak lagi menghubungi Erlina, sudah seminggu ini Juni izin dari sekolah, beberapa kali Erlina berusaha menghubungi Juni, namun tidak ada jawaban dari Juni.
" Mia Apakah Juni ada menghubungi kamu? aku sudah berapa hari ini enggak kontekan sama dia, barangkali kamu ada di telepon sama Juni?" Erlina menanyakan hal tersebut sembari membuka satu persatu buku pelajaran yang ada di depan matanya.
" Aku juga nggak tahu Lin, sudah seminggu dia izin dari sekolah, padahal kan hari Senin ini sudah mau ujian nasional, Kenapa tiba-tiba menghilang gitu ya, apa jangan-jangan kalian berdua Bertengkar Lagi?"
" Kamu mikir yang enggak-enggak aja. Emang pernah kamu lihat aku sama Juni bertengkar nggak ngomong kayak sekarang?"
" Iya juga sih, biasanya kalian kan paling akur" Mia langsung bangun dan mengambilkan cemilan untuk menemani mereka berdua belajar.
" Apa kita samperin aja ke rumahnya! Siapa tahu orang rumahnya tahu Juni kemana."
" Boleh juga tuh kamu Erlina, nanti deh sore kita ke sana abis ngerjain tugasnya ini, tugas sekolah jadi numpuk banget karena satu anggota nggak ikut ngerjain. Awas aja nanti Juni kalau ketemu,😡😠😠😠" Mia Terlihat agak kesal.
Akhirnya Mia dan Erlina kembali fokus dengan tugas mereka, hari ini adalah hari Sabtu, dan Senin depan mereka sudah ujian nasional, jadi banyak persiapan yang harus mereka lakukan, termasuk mempelajari materi yang mungkin akan keluar dalam ujian. Mia dengan senang hati menemani Erlina dalam belajar, di ruangan pelajar Mia yang tidak terlalu besar, mereka berdua mampu berkonsentrasi dengan sangat baik.
Mia mengajak Erlina untuk menyelesaikan tugasnya dengan cepat, agar mereka berdua bisa segera pergi ke rumah Juni, mungkin karena Mia dan Erlina adalah sahabat dari kecil, Jadi mereka agak canggung dengan situasi yang terjadi kali ini, karena tidak seperti biasanya Juni menghilang begitu saja tanpa kabar, ini adalah kali pertama Juni melakukan hal tersebut.
" Akhirnya kelar juga!" Erlina terlihat lebih senang saat menyelesaikan tugasnya.
" Hore akhirnya kelar juga urusan kita bertiga, walaupun anggota kelompoknya kurang satu, untung saja kita berdua bisa mengerjakannya" Mia kemudian merapikan bukunya. Begitu juga dengan Erlina segera memasukkan buku pelajarannya ke dalam tas, sembari menunggu Mia yang mandi, Erlina duduk sambil memainkan handphonenya.
"Aku mau mandi dulu ya biar segeran dikit, kamu itu mandi juga?"
__ADS_1
" Kamu mandi aja deh, Aku lagi males, nanti aja sekalian di rumah, aku tunggu disini aja sambil rebahan abis pegel banget."
" Oke tunggu ya Erlina, nanti kamu jangan panggil aku, soalnya aku kalau mandi mah lama."
" Iya Mia, aku udah hafal."
Karena Mia yang mandi sangat lama, Erlina yang awalnya asyik bermain handphone malah ketiduran di kasur Mia, Erlina tidur dengan sangat pulas sambil memegang handphone di tangan kirinya yang masih menyala, di waktu yang bersamaan Mia tidak sengaja melihat handphone Erlina yang menyala tersebut. Karena penasaran Mia melihat kedalam ponsel Erlina.
Mia ingin menelpon Juni, mengatakan ingin pergi ke rumahnya, namun karena dia tidak tahu nomor ponsel Juni disimpan atas nama siapa, Mia menekan satu-persatu nomor di ponsel itu, dalam panggilan cepat yang pertama ada nama sayang, Karena penasaran Mia menelpon nomor tersebut, dilihatnya nomor atas nama sayang itu adalah nomor telepon Juni, Mia tahu karena dia hafal dengan nomor ponsel sahabatnya.
Karena takut salah sangka, Mia melihat kedalam pesan yang dikirim atas nama sayang tersebut, di sana terlihat semua percakapan antara Erlina dan Juni, dan ia berhasil kaget dibuatnya, belum sempat Mia membaca semua pesan yang ada ternyata Erlina keburu bangun dan memergokinya.
" Mia, Kenapa kamu buka handphone aku? ini kan tidak sopan, tidak sepantasnya kamu membuka handphone aku, ini kan privasi ku Mia."
Erlina yang tidak mengerti dengan tuduhan Mia langsung melihat histori penelusuran sebelumnya, dilihatnya Mia melakukan panggilan telepon atas nama sayang, dan membuka kotak pesan di handphone nya, di sana terlihat pesan yang terakhir dibuka atas nama sayang juga.
" Maksud kamu apa nih?"
" Kamu sama Juni sudah jadian?"
" Mia bisa aku jelasin kok!"
" Apa yang harus di jelasin? Ternyata kalian berdua nggak menganggap aku siapa-siapa!"
__ADS_1
" Bukan begitu mi"
" Padahal dari awal aku nggak ada masalah kalau seumpama kamu sama Juni jadian, walau sebenarnya aku juga sangat mencintai Juni melebihi siapapun, namun di satu sisi aku mengetahui kalau Juni sangat mencintaimu, tapi aku merasa sangat kecewa karena kalian berdua menyembunyikan ini dariku. Apakah kamu pikir aku akan marah kalau mengetahui kalian berdua jadian?"
" Bukannya begitu Mi, aku sama Juni lagi nunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya."
" Sebenarnya aku sakit mengetahui kalian jadian Jika caranya seperti ini, andai kalian berdua mau berbagi dari awal denganku, aku juga akan merasa bahagia dengan kebahagiaanmu Erlina, tapi aku tidak cukup menjadi sahabat yang bisa kamu percayai, sehingga kamu menyembunyikan hubunganmu dengan Juni."😥😥😥😥😓
"Mia....😥😥" Elina memegang lengan kanan, ungkapkan rasa penyesalannya karena tidak mengatakannya dari awal.
" Sepertinya aku butuh waktu sendiri Erlina, tidak masalah kan kalau kamu meninggalkan ruangan ini!" tampak air mata Mia memenuhi kelopak matanya. Mia melepaskan tangan Erlina dengan perlahan.
Tanpa mengatakan sepatah kata lagi Erlina keluar meninggalkan kamar Mia, semua hal yang ingin dilakukannya hari ini menjadi buyar, Ia dan Erlina tidak jadi pergi ke rumah Juni, nampak di sana berdiri Mia yang penuh dengan kekecewaan dalam dirinya, merasa tidak berarti apa-apa bagi kedua sahabatnya, Mia sedih bukan karena Juni yang memilih Erlina, namun kekecewaannya adalah tentang arti persahabatan mereka bertiga, sudah tidak ada lagi kejujuran di dalamnya.
"Maafin aku Mia, seharusnya aku mengatakannya dari awal, namun aku tidak tahu akan jadi sesakit ini bagimu saat mengetahuinya dengan cara seperti ini, sebenarnya aku juga belum mencintai Juni, aku berusaha membuka hatiku untuk Juni, tapi bodohnya aku tidak mempertimbangkan perasaanmu padanya, kamu sering mengalah demi aku, tapi apa yang aku lakuin, aku malah berkhianat dibelakang kamu Mia, mungkin benar harusnya aku tidak mengambil keputusan ini dari awal, bukan hanya aku yang tertekan dengan hubungan ini, tapi tidak ada satu orang pun yang bahagia dengan hubungan ini, Juni yang masih hidup dalam bayang-bayang Ku yang masih mengingat tentang Erwin, aku yang masih Terbelenggu dalam perasaanku pada Erwin, kemudian Mia yang sangat mencintai Juni," Erlina terus mengeluh di dalam hatinya di sepanjang perjalanan menuju rumahnya.
" Mungkin ini saat yang tepat untukku melepas Juni dan Erwin dari dalam hatiku untuk wanita lain, banyak kebahagiaan yang layak untuk mereka berdua, begitu juga dengan Mia yang sangat mencintai Juni, maafin aku Mia."😫😥ðŸ˜
Erlina tidak bisa menahan air matanya, rasa sakit yang sudah memuncak tidak bisa dibendung lagi dan pecah begitu saja, kalau menyesal, penyesalan hanya sebuah penyesalan, yang bisa dilakukan sekarang memperbaiki masa depan, itulah sekarang yang dipikirkan oleh Erlina.
" Aku benci kamu Erlina, aku juga sangat membencimu Juni, kalian berdua tidak pernah menganggap aku sahabat, apa kalian pikir aku akan marah kalau melihat kalian berdua jadian? Akulah orang pertama yang akan merasa senang jika itu benar terjadi, namun kalian berdua tidak mempercayaiku, tidak mempercayai hati dan perasaanku, aku sangat kecewa, satu kebenaran ini cukup membuatku merasa sangat kecewa." Mia menangis sambil mengeluh.
Beban di dalam hati Mia sangatlah berat, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba mendung, itulah yang ia rasakan saat ini, 1 hal yang dapat dipahami adalah masa depan tidak pasti dan tidak bisa ditebak arahnya akan kemana, entah itu akan membawa kebenaran di kemudian hari, tapi harus kita percaya kalau Bon waktu itu akan meledak suatu hari nanti, seperti kondisi yang dia saksikan hari ini, kebenaran tentang Erlina dan Juni.
__ADS_1
BERSAMBUNG...