
Segera Erlina menyuruh Supir untuk memanaskan mobil yang ada di garasi, sudah lama sekali sejak terakhir kalinya Ayah Erlina mengajaknya pergi untuk jalan-jalan bersama, Erlina memanggil ayahnya yang masih berada di dalam kamar, dan menyuruh ayahnya untuk segera bergegas, karena diluar sudah terdengar suara Mia.
" Ayah Ayo kita jalan sekarang! Mia udah menunggu di luar, tadi aku mengajak Mia untuk ikut bersama, Aku harap Ayah tidak keberatan karena ada satu tambahan orang lagi."
" Nggak masalah, makin rame makin asik, kan ayah udah janji mau ngajak kamu pergi rekreasi, sebenarnya kalau berdua agak sepi sih tapi Untunglah ada Mia yang ikut."
" Syukurlah kalau begitu, Padahal tadi aku pikir Ayah merasa terganggu, Biar bagaimanapun kan ini acara kita berdua, Ayah adalah cinta pertama aku" Erlina memeluk ayahnya dengan penuh kasih sayang.
" Terima kasih banyak Sayang." Ayah membalas pelukan Erlina dan mengelus-elus kepala Erlina dengan tangan kanannya.
Erlina dan ayahnya keluar dari kamar, Dia membantu ayahnya mengenakan rompi berwarna abu-abu kesukaan ayah, Erlina kemudian mengambil tas yang sudah berisi dengan bekal makan siang dan 2 extra makanan tambahan, Erlina mengambil tas makanan tersebut dan membawanya keluar, Erlina dan ayahnya berjalan beriringan bersama sambil berpelukan.
Sesampainya di rumah di depan pintu, sudah terdapat Mia yang menunggu di luar, dan disana juga terlihat Juni yang baru saja datang bersamaan dengan Erlina keluar. Erlina lumayan kaget melihat Juni yang ikut bergabung bersama, dan yang lebih menyebalkan karena Juni mengenakan kaos putih polos tanpa motif apapun, sama seperti yang Erlina kenakan, begitu juga jean hitam, dan tas selempang yang berwarna hijau, kebetulan yang tidak menguntungkan.
"Juni ikut juga rupanya? syukur lah makin rame, makin asik" Ayah Erlina mengajak Juni tos ππ».
"Syukurlah kalau om kalau saya tidak mengganggu, terimakasih banyak ya sudah diijinkan ikut" juni membalas tos ππ»ππ»
"Ayo masuk ke mobil, nanti kita lanjut ngobrol dijalan aja" ayah masuk kedalam mobil, ayah duduk disebelah kiri sopir, kemudian mengenakan sabuk pengaman dengan kencang, langsung disusul Erlina, Mia, dan Juni duduk dibelakang, Mia duduk tepat ditengah-tengah diantara Erlina dan Juni.
"Ngomong-ngomong kita mau kemana nih om?" tanya Mia, sesaat setelah mobil melaju keluar pekarangan rumah.
"Ke Tempat rekreasi, di sana juga ada banyak permainan yang seru banget, tentunya memancing adrenalin, tempat itu baru dibuka di kota sebelah, karena jaraknya 45menit, jadi ayah memutuskan pergi ke sana bersama Erlina."
"Wah Seru banget itu. Jadi makin nggak sabar" Mia sangat senang bisa diajak jalan-jalan bersama, soalnya diantara mereka bertiga, keluarga Mia adalah yang paling sederhana diantara Juni dan Erlina, Mia adalah anak seorang petani, dan ibunya yang bekerja menjadi guru SD di desa nya, itulah alasannya kenapa Mia sangat senang jika diajak bepergian.
Erlina dan ayahnya tidak memiliki usaha apapun di desanya, namun mereka hidup dari keuntungan saham yang dia miliki di keluarga santoso, anak perusahaan santoso yang bergerak di bidang makanan adalah 50β saham sudah diserahkan pada kakeknya Erlina. Erlina mungkin tidak mengalami masalah dalam ekonomi, namun tidak serta-merta mereka hidup berpoya-poya, keluarga Erlina memilih untuk hidup dengan sangat sederhana di desa nya, jauh dari keramaian kota yang sumpek, bising dengan suara kendaraan yang macet karena rutinitas yang padat.
Kembali bercerita hal yang terjadi di dalam mobil yang masih melaju, Mia menoleh Erlina dan juni secara bergiliran, dan itu dilakukannya berulang kali, Mia memandangi pakaian yang Erlina dan Juni kenakan.
__ADS_1
"Kok bisa kebetulan banget ya! pakaianmu jun, kamu juga Erlina, kok bisa?" Mia memegang kaos Juni dan Erlina.
β Aku nggak janjian kok sama Juni, Juni ikut aja aku nggak tahu, kan kamu tahu sendiri Mi, aku nggak ngajakin Juni."
" Jodoh namanya itu tahu, kebetulan kayak gini kan nggak sering terjadi, tapi kalian nampak serasi menggunakan pakaian tersebut gak pakaian couple. jadi makin iri.π"
" Kamu apa-apaan sih Mia, aku kan malu Kalau digituin, udah udah Jangan bahas itu lagi"
Juni setelah masuk ke dalam mobil langsung mengenakan headset dan mendengarkan lagu, jadi ini tidak selalu mendengar percakapan tangannya dan Erlina, sesaat ia menoleh Mia saatnya memegang kaosnya, namun Juni kembali menoleh ke sisi jendela sembari memejamkan matanya sambil mendengarkan lagu yang sangat lembut.
Erlina dan Mia terus mengobrol sepanjang perjalanan, mereka tidak tidur sama sekali, namun tidak begitu dengan Ayah Erlina dan Juni sudah tertidur lelap sepanjang perjalanan. mereka berdua melewatkan pemandangan yang indah.
Akhirnya setelah 45 menit sampailah mereka ke tempat tujuan, ke tempat rekreasi yang lengkap dengan permainan yang menantang Adrenalin, Mia membangunkan Juni untuk memberitahu bahwa sopir sudah sampai ke tempat tujuan, lanjut Erlina keluar dari mobil kemudian membuka pintu depan mobil dan membangunkan ayahnya.
Mereka segera masuk ke dalam setelah sopir memarkir mobil, kemudian Erlina menuju loket untuk membeli tiket VIP untuk 4 orang, karena takut yang terlalu panjang, bolehlah sekali-sekali Erlina mengambil tiket VIP, kalau harganya lebih mahal 10 kali lipat, hal tersebut lumayan untuk menghemat Waktu mereka mengantri giliran.
"Ide bagus tuh, ayo kita duduk di sana saja!" Juni menunjukan meja yang pas dengan 4 tempat duduk.
Erlina mengeluarkan tas bekal makan siangnya kemudian membagikan sandwich tersebut pada ayahnya, Mia, dan Juni. masih ada satu yang tersisa Erlina memiliki inisiatif untuk membaginya menjadi 4 potong kecil, jadi 1 orang dapat 1 ΒΌ.
"Selamat makan semuanya!" Mia.
Ayah Erlina sangat senang melihat anak-anak itu bergembira hari ini, walaupun makanan sangat sederhana tapi mereka sangat menikmatinya dengan sepenuh hati, terlihat senyuman di wajah Ayah Elina saat melihat mereka dengan lahap. Ayah Dina memberikan tisu kepada mereka bertiga Karena terlihat mayones yang blepotan.
10 menit setelah selesai makan, mereka duduk sebentar setelah itu baru melanjutkan ke permainan yang akan mereka coba. Erlina mengusulkan permainan yang ingin dia coba terlebih dahulu.
" Ayah Ayo kita naik perahu air yang di sana Sepertinya seru!"
" Main airnya nanti saja kita coba dulu permainan yang lain yang tidak beresiko membasahi baju."
__ADS_1
" Bener juga ya usulan ayah, Walaupun ada mesin pengering pakaian di sana, udah dibales juga habis waktu di sana, kalau gitu kita coba permainan yang agak dengan-dengan dulu gimana?"
" Bagaimana kalau kita mencoba permainan yang itu!ππ»" Juni menunjukkan tangannya ke belakang Erlina, di sana terlihat ada permainan yang menantang Adrenalin, di mana permainan tersebut pemainnya diangkat ke atas kemudian dihempaskannya ke bawah dengan cepat, permainan tersebut dinamakan 'Hysteria'
" Ayah aku mau nyoba yang itu kelihatannya seru,"
" Boleh Ayo kita coba" Ayah memegang tangan Erlina dan berjalan menuju tempat tersebut, kemudian Juni yang bengong melihat kebersamaan Erlina dan ayahnya yang sangat dekat, sejenak Juni melihatnya.
"Ayo Jun." spontan Mia memegang tangan Juni berdiri diam di depannya, Mia menarik tangan Juni dan berlari mengejar Erlina dan ayahnya yang sudah jauh di depan. Juni merasa canggung dengan Mia, padahal ini bukan pertama kalinya Mia memegang tangan Juni.
Erlina yang berjalan bergandengan dengan ayahnya kemudian melihat ke belakang, dilihatnya Mia menggandeng tangan Juni dengan sangat dekat, hingga bahu Mia dan bahu Juni bersentuh, tentunya Erlina merasa sedikit terganggu.
"Kok mereka terlihat sangat dekat sekarang ya?" Erlina mengeluh dalam hatinya.
Erlina berusaha untuk mengalihkan pikirannya, akhirnya permainan pertama dimulai, Juni duduk di sebelah Mia, sedangkan Erlina duduk disebelah ayahnya, namun Erlina masih bisa melihat Juni dan Mia yang tutup di sebelah kirinya. kemudian petugas membantu mereka untuk mengenakan alat pelindung. kemudian semua pemain diharuskan untuk mengenakan sabuk pengaman yang sudah ada.
Setelah permainan dimulai ketegangan pun ikut terasa sehingga semua pemain berteriak dengan sangat kencang, jantung mereka terasa Berhenti Berdetak setelah permainan dihempaskan ke bawah, dan itu diulang hingga 5 kali, di tengah-tengah permainan terlihat Mia yang memegang tangan Juni, Erlina tanpa sengaja memperhatikannya lagi, begitu juga saat di lor coaster, Juni bahkan duduk bersebelahan dengan Mia, karena ada 2 kursi di setiap baknya.
" Aku harap Erlina nanti tidak salah paham, bagaimanapun juga ini kan keputusan dia sendiri untuk tidak memberitahu Mia bahwa kita sudah jadian." Juni menggerutu Di dalam hati saat duduk dealer coaster bersama dengan Mia.
" Seneng banget bisa deket sama Juni, jalan-jalan banget aku bisa sedekat ini dengan mun Junπ" Iya merasa hatinya berbunga-bunga sehingga tidak bisa berkata apa-apa, hanya menoleh sesekali tepat di mata Juni.
" Nyebelin banget sih mereka berdua," Erlina mulai merasa terganggu, dan sedikit cemberut melihat Juni yang tidak ada perlawanan.
"Harusnya hari ini aku bersenang-senang, malah mood ku jadi berubah begini π₯π«"
"Juni...." teriak Erlina dalam hati karena merasa jengkel.
BERSAMBUNG....
__ADS_1