EE (Erlina Erwinto)

EE (Erlina Erwinto)
Bab 39 Dinda Bimbang


__ADS_3

Tinggal menghitung hari untuk hari besarnya, 'pernikahan Dinda dan Erwin' tinggal 14 hari lagi, Dinda bimbang dalam hatinya, apakah harus jujur ataupun tidak pada erwin atas kegelisahan dan kebingungan yang tengah ia rasakan.


Dinda membawa sebuah amplop berwarna coklat berukuran A4, Dinda mengambil dari tukang pos yang baru saja mengantar ke rumahnya, Dinda membawa amplop itu bersamanya Dan segera pergi ke kamar. Linda segera duduk di meja belajarnya, mengambil pisau cutter dan membuka isi amplop tersebut.


Didalam amplop tersebut berisikan beberapa berkas penting, ada berkas yang menyatakan bahwa Dinda harus segera mengikuti tahun ajaran pertama untuk S2, dan tahun ajaran pertama dimulai minggu lagi dihitung dari hari ini.


Sebenarnya inilah yang diinginkan oleh Dinda, namun hal besar ini terjadi bersamaan dengan hal besar lainnya yang tidak bisa dia pilih dalam hatinya, antara pendidikan dan pasangan, Dinda merasa bingung untuk memilih yang mana.


" Apa aku harus mengatakannya pada Erwin ya? tapi bagaimana mungkin dia mau menerima persyaratan yang ingin aku ajukan lagi, Erwin sudah jelas-jelas mengatakan bahwa pernikahan ini harus terjadi di tahun ini, karena kakek Santoso memberikan syarat yang berat kepada Erwin agar bisa menikahiku"


Dinda masih berkutat dengan pikirannya sendiri, bertanya kemudian menjawabnya sendiri, menyimpulkannya sendiri tanpa pernah menanyakan pendapat Erwin tentang masalah yang sedang dihadapi.


" Tapi bagaimanapun juga aku sangat menginginkan beasiswa ini, sudah setahun aku menunggu kesempatan untuk mendapatkan beasiswa, Apakah aku harus melepas mimpiku lebih cintaku?" Ini pertama kalinya tidak merasakan Dilema yang sangat berat dalam hidupnya.


Prewedding, fitting baju pengantin, pertemuan dua keluarga, semuanya sudah dilakukan, menunggu hari besarnya untuk menyatukan 2 insan yang sedang jatuh cinta, tapi apa yang Dinda putuskan hari ini akan membawa penyesalan yang sangat besar dalam hidupnya kelak, Dinda mulai terdiam memegangi arsip. Dinda melamun dan berpikir sangat keras, tidak tahu sadar beberapa panggilan masuk tidak dia sadari, hingga beberapa menit kemudian dia terbangun dari Lamunan karena nada dering ponsel.


Dalam panggilan teleponnya terlihat My Lovely sedang melakukan panggilan, Dinda hanya memegangi handphonenya dan melihat saja, tangannya menjadi kaku untuk bisa menjawab panggilan tersebut, akhirnya panggilan kedua kembali terlihat my lovely sedang melakukan panggilan lagi, Dinda hanya bisa me reject panggilan yang masuk, namun Erwin tidak mudah menyerah, kembali melakukan panggilan untuk ketiga kalinya.


" Halo" WhatsApp Adinda menjawab panggilan Erwin.


" Sayang, kamu lagi apa? Kok lama sekali dijawab panggilanku? Kamu lagi sibuk? Apakah aku ganggu?" beberapa pertanyaan muncul pada Dinda, Erwin tidak henti-hentinya menghawatirkan Dinda.


" Enggak kok Sayang, tadi aku lagi males menerima panggilan, jadi aku tolak, Kamu udah maem?"


" Oh begitu rupanya, Sebenarnya sih aku belum maem, pengen ngajak kamu makan bareng, Itupun kalau kamu lagi nggak sibuk"


" Mau makan apa? nanti biar aku yang masakin!"

__ADS_1


" Bener nih Mau masakin?"


" Iya, kok kelihatannya nggak percaya gitu sama aku"


" Kamu sini dulu ke bawah aku udah bawa makanannya!"


" Kamu lagi di rumah aku?" Dinda langsung bergegas keluar dari kamarnya menuju dapur.


" Kejutan....πŸ˜‹πŸ˜‹" Erwin berdiri di sana, memegangi makanan yang dia bawa.


" Kok nggak bilang sih sayang mau ke sini? tumben banget bikin kejutan"


" Habis gimana? belakangan ini aku sulit banget hubungin kamu, aku juga nanya ke Anita, dia juga sulit menghubungi kamu."


" Maaf sayang" Dinda memeluk Erwin yang masih memegang makanan di tangannya.


" Sayang aku beli capcai kesukaanmu, kemudian ada tempe sama tahu bacem, Soalnya kamu kan vegetarian, jadi aku mesen ayam kampung panggang cuma buat aku ajaπŸ˜‹πŸ˜‚"


"😊Ya sayang, terimakasih banyak yaπŸ€—" dinda mencium pipi Erwinto.


" Sayang besok aku ada kegiatan ama di desanya Elina, ada kegiatan penyuluhan dari rumah sakit di desa itu, jadi aku sama Nanda akan berangkat besok pagi-pagi, Sebenarnya sih aku pengen ngajak kamu buat ikut ke sana sekalian jenguk Anita, kamu sibuk nggak?" Erwin mengajak anda untuk ikut serta persamaannya dalam acara amal yang diadakan oleh rumah sakit ibu dan anak.


" Besok ya? Sebenarnya aku ada kegiatan besok sama Doni, nggak apa-apa kan kalau aku nggak ikut?" guna mencari alasan untuk menolak ajakan dari Erwin.


" Enggak masalah kok, itukan seumpama Kalaupun kamu nggak ada kegiatan." Erwin menghabiskan makanannya, ditemani dengan Dinda.


" Aku harap kamu enggak marah, Beneran deh besok aku benar-benar sibuk, Maaf ya Sayang ya!" Dinda menatap kearah Erwin yang duduk di sebelah kanannya.

__ADS_1


" Kalau aku bilang nggak apa-apa, santai aja lagi Kan bisa pergi lagi lain waktu"


" Erwin.... Aku boleh nanya sesuatu nggak?"


" Nanya apa? katakan saja kalau ada masalah kamu tanyakan!"


" Sebenarnya aku mau tanya, mungkin nggak sih Win kalau nikahnya ditunda?" Dinda nampak ragu-ragu saat menanyakan pertanyaan tersebut.


" Mungkin sih, Emang mau nunda berapa lama? asalkan nggak kelamaan juga sih, kan aku udah terlanjur terikat janji sama kakek" Erwin sangat menikmati ayam kampung panggang yang dia makan.


" Bagaimana kalau 2 tahun, heheheπŸ˜‹ Itupun kalau memungkinkan sih."


" Sayang kamu kalau bercanda enggak lucu deh, udah pasti lah Kakek enggak bakal kasih izin, kakek kan bilang dia mau kita nikah secepatnya, karena dia mau dikasih cicit dalam waktu setahun, Ya nggak bisa lah kalau ditunda 2 tahun, udahlah kamu jangan mikir hal yang nggak-nggak!"


"Tapi Win?!....." dinda nampak kecewa.


Erwin menyelesaikan makanannya dan minta izin untuk pergi ke kantor," Sayang udah selesai kan makannya, aku mau ke kantor dulu ya sayang, Kamu jangan terlalu banyak pikiran, kan Acaranya udah dekat, Aku mau semuanya berjalan dengan lancar" Erwin mengelus kepala Dinda, mengecup keningnya dan berpamitan.


" Hati-hati di jalan sayang!" tiba-tiba memeluk Erwin dengan penuh haru, Dinda merasa sangat bingung, lebih bingung dari sebelumnya nya, Andai Erwin bisa memahami perasaan Dinda, masalah yang sedang dihadapinya sekarang.


"Aku jalan dulu ya, I Love you 😍"


"I Love you too sayang" Dinda mengantar Erwin sampai depan pintu, melihatnya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan halaman rumahnya, Dinda bergegas kekamar setelahnya.


"Aku harus mengambil keputusan sendiri, ini adalah hidupku, mimpiku sedari dulu, siapapun tidak berhak merampas cita-citaku" pikiran dinda dan hatinya terus bergejolak, Dinda merebahkan tubuhnya ke kasur dan menatap langit-langit kamarnya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2