
Beberapa siswa sibuk dengan urusan mereka mengurus surat-surat untuk melengkapi pendaftaran masuk perguruan tinggi, dan sebagian lagi sedang melihat pengumuman penerimaan mahasiswa baru, Mia salah satunya sudah berhasil masuk ke salah satu perguruan tinggi yang cukup terkenal di kota, Mia mengambil jurusan Pendidikan Ekonomi, Sedangkan Juni mengambil jurusan Manajemen Bisnis.
"Erlina lihat aku berhasil masuk ke universitas yang sama dengan Juniππ" Mia sangat senang.
"Bukan cuma kita berdua saja yang berhasil lolos, ini lihat!" Juni menunjuk ke handphone nya, "Erlina juga berhasil lolos"
"Kamu benar juga Jun!" Mia ikut bahagia karena Erlina juga berhasil lolos.
Raut wajah Erlina tidak nampak sebahagia kedua temannya, dia terlihat agak bingung dengan ekspresi yang harus dia perlihatkan, kalaupun senyum, muka Erlina terlihat tidak begitu tulus, namun kalau cemberut, mukanya masih terlihat senyum tipis.
"Kamu kenapa Lin? nampak setengah hati melihat hasilnya!" Juni menepuk pundak Erlina.
"Iya , aneh sekali" π€ mia kebingungan.
"Sebenarnya aku sudah memikirkan nya beberapa minggu terakhir, aku sekarang sangat tidak menginginkan Jurusan yang aku ajukan waktu mendaftar, sekarang aku ingin jadi dokter seperti kakakku Nanda"ππͺ Erlina menghelai nafas panjang.
"Kan tinggal mendaftar ulang,gelombang kedua masih dibuka kan, kenapa galau begitu?" Mia menyemangati temannya.
" Benar kata mia, kan masih ada kesempatan lagi, ayo semangat" Sejenak Juni mulai menumbuhkan persahabatan diantara dirinya dan Erlina.
" Kemarin aku sempat konsultasi sama kak nanda, dia menyuruhku untuk mematangkan keinginanku, apakah hal ini yang benar-benar aku inginkan, atau hanya tergiur oleh popularitas dokter sesaat, dia bilang profesi ini tidak bisa diajak main-main!"
"Memang benar kata kak Nanda, jika seorang chef salah menambahkan bumbu pada masakannya, maka hanya rasa masakan yang tidak harmoni akan tercipta, namun tidak membahayakan orang yang memakannya. Lain halnya dengan seorang dokter, jika salah mendiagnosa pasien maka akan membahayakan kondisi pasien" Mia mengungkapkan pendapatnya.
"Aku juga berpendapat yang sama dengan Mia" Juni menganggukkan kepalaku saat Mia menjelaskan pendapatnya layaknya seorang guru.
"Itulah kebingungan yang sedang aku rasakan sekarang, dari pada aku nanti salah jalan, untuk setahun ini aku akan mengambil cuti, ingin mengistirahatkan pikiranku sejenak, soalnya aku kebingungan mencari apa yang sesungguhnya aku inginkan dalam hidupku ini.
__ADS_1
"Apa cuti 1 tahun tidak terlalu berlebihan?" juni bertanya.
"Bagaimana lagi Jun, aku kebingungan, aku takut jika salah memilih akhirnya, apa salah nya untuk beristirahat sejenak, lagi pula selama 13 tahun ini, apakah kita pernah bersantai walaupun untuk sesaat?"
"Benar juga kamu Lin, setiap orang berhak memilik jalan hidupnya, selama tindakan yang kita lakukan tidak merugikan orang lain" Mia
"Benar juga kalau dipikirkan, sebenarnya aku butuh 14 tahun lin, dari TK nol kecil, masuk ke TK nol besar, terus SD 6 tahun, SMP dan SMA sama-sama 3 tahun."π π
Erlina dan Mia terdiam sejenak mendengar keluhan Juni.π€£πππ kemudian Erlina dan Mia tidak bisa menahan tawa mereka, mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Suasana yang awalnya menyedihkan bagi Erlina, tiba-tiba menjadi sangat hangat dan menyenangkan.
"Ternyata Erlina bisa salah itung juga ya!" Mia
"Kok salah itu, orang beneran aku gak masuk TK nol kecil kokπ"
"π€£π€£aku jadi salah tanggap kalau begitu" Mia menertawakan kekonyolannya.
"Mia... miaππ" Juni meledeknya.
"Aku pulang duluan ya guys!"
"Hati-hati dijalan" Mia dan Juni berbarengan.
Erlina langsung pulang dengan sepedanya, sesampainya dirumah, sudah terlihat mobil kesayangan kakek Santoso sudah parkir dihalaman rumah Erlina, sontak Erlina memanggil nama kakek Santoso saat masuk kedalam rumah, "Kakekπ"
Kakek yang mendengar Erlina langsung berbalik, dan memeluk Cucu kesayangannya, bagi kakek Santoso, Erlina sudah seperti cucunya sendiri, malah melebihi kasih sayangnya kepada 3 cucu kandungnya sendiri. "Bagaimana sekolahnya hari ini?"
"Biasa aja kek, tidak ada kegiatan belajar mengajar, siswa akhir sekarang sedang sibuk mengurus keperluan untuk mendaftar ke perguruan tinggi"
__ADS_1
"Begitu rupanya, nanti kita lanjutkan ceritanya setelah makan siang!"
"Baik kek, kalau gitu Erlina ganti baju dulu ya kek!"
Erlina kemudian pergi ke kamar nya, namun Erlina sangat kaget melihat seseorang yang tidak asing sedang menggunakan kamarnya untuk bersantai. "kok gak bilang mau kesini?" tanya Erlina.
Sedangkan Erlina asik mengobrol dengan seseorang di kamar nya, kakek santoso sedang bersantai di halaman belakang rumah Erlina, ditemani secangkir teh melati yang sangat wangi, kakek sangat menikmati suasana pedesaan, "udaranya sangatlah menyejukkan, bukan hanya memanjakan nafaskku, namun juga memanjakan mataku dengan langit biru yang begitu bersih" sesekali terlihat awan yang terus berubah bentuk menjadi sesuatu yang istimewa dalam imajinasi pikiran kita.
Karena udara yang sangat sejuk, dan angin yang sepoi-sepoi, mata kakek santoso terasa ditiup-tiup dengan lembutnya, berlahan mata senjanya mulai mengantuk, dengan tenangnya kakek tertidur sangat nyenyak di taman belakang rumah Erlina. Ayah Erlina yang kebetulan lewat melihat Kakek Santoso sudah tertidur pulas, karena takut kakek masuk angin, ayah Erlina mengambilkan selimut kedalam.
"Suni, tolong kamu ambilkan selimut di dalam ya!" Ayah meminta tolong pada asisten rumah tangganya.
"Baik Tuan" Suni langsung mengambilkan selimut tersebut dan menyerahkannya pada majikannya, "ini Tuan, apakah ada hal lain lagi yang tuan perlukan?"
"Tolong bawakan teh ke halaman belakang ya!"
"Baik tuan" Suni segera menyiapkan teh.
Sambil menemani kakek yang sedang tertidur, ayah menikmati secangkir teh panas yang dapat mengimbangi udara di halaman, ayah menikmati tehnya dikit demi sedikit, sesekali dia mengambil cemilan yang ada di atas meja, teh yang sedikit tawar terasa sangat pas saat dinikmati dengan biskuit yang manis.
Setelah menikmati tehnya ayah juga ikut tertidur di sebelah kakek santoso, pemandangan yang sangat jarang terjadi ayah dan kakek tertidur bergiliran. Anita yang melihatnya dari dalam langsung mengambilkan selimut untuk ayah mertuanya.
"π π Bisa-bisanya mereka tertidur begitu saja disini, tapu kalau dibangunkan kasihan juga ya, pasti sangat menyenangkan menghirup udara yang sejuk diluar, jadi mudah sekali tertidur seperti ini" Anita memakaikan selimut pada ayah mertuanya.
Sesaat kemudian terdengar suara Nanda yang baru saja pulang dari kerja, tidak seperti biasanya dia pulang cepat, namun ketika Nanda pulang cepat hari ini, orang yang merasa sangat bahagia adalah Anita, hanya dengan mendengar suara mobilnya saja, Anita mengetahui bahwa itu mobil Nanda, sontak Anita langsung menghampiri Nanda ke halaman depan.
"Sudah pulang sayangπ" sambut nya dengan senyuman.
__ADS_1
"Hai sayang"πNanda memeluk istrinya, dan mencium keningnya.
BERSAMBUNG....