EE (Erlina Erwinto)

EE (Erlina Erwinto)
Bab 34 Rumah Sakit 'Ibu & Anak'


__ADS_3

Erwinto yang selesai makan dengan Erlina dan Juni, Erwin langsung masuk ke dalam rumah sakit, Dia berjalan menuju resepsionis, dan menanyakan kamar atas nama dokter Anita. setelah Erwinto mengetahui Anita dirawat diruang berapa, Erwinto langsung menuju ruangan tersebut, di dalam ruangan tersebut sudah ada Nanda dan ayah Erlina.


" Selamat pagi semuanya" sapa Erwinto kepada mereka sudah berada di dalam kamar.


Nanda langsung memeluk Erwinto yang masuk, dan begitu juga dengan ayah yang Erwinto setelahnya, sering membersihkan paket buah kepada Anita yang masih terbaring di ranjang.


" Terima kasih banyak sudah mau berkunjung, padahal cuma iseng-iseng bikin status, tapi kamu langsung ke sini!" Anita.


" Kebetulan sih, aku juga mau ke rumah sakit, ada berapa hal yang ingin aku diskusikan dengan kepala Manager, masalah pembiayaan perawatan bagi pasien yang kurang mampu. Biar bagaimanapun rumah sakit 'Ibu dan Anak' yang sudah didirikan oleh kakek, tidak boleh hanya berprospek tentang keuntungan, mainkan kemanusiaan, inilah alasan kenapa kakek memutuskan untuk membuat rumah sakit 'Ibu dan Anak', tentu aku harus banyak belajar dari prinsip sederhana kakek."


" Oh seperti itu, memang rapat jam berapa?" Nanda.


"Tadi sih janjinya jam 11, tapi dia bilang hubungi aja kalau udah di rumah sakit."


" Ya dah, ngomong-ngomong gimana kabar Dinda? udah lama juga gak ketemu dia" Anita merindukan sahabatnya.


"Kemarin dinda lah yang memberiku kabar kamu masuk rumah sakit, tapi tadi pagi tiba-tiba dia bilang gak bisa datang, Dinda cuma nitip salam aja"


"Tumben belakangan ini dia sibuk banget, udah dari beberapa minggu yang lalu di ajak ketemu, dia bilang lagi banyak urusan" Anita.


"Aku juga kurang tahu, memang belakangan ini dia sibuk terus, setiap kali ditanya nggak pernah ngasi jawaban apa-apa"


" Biarkan saja, Siapa tahu memang urusan Anda saya nggak bisa diceritain ke kita, Biar bagaimanapun kamu kan nggak boleh curiga Erwin, ya kalian udah mau nikah nih deket ini?" Nanda memberi nasehat kepada Anita dan Erwin untuk tidak mencurigai Dinda.


" Iya juga ya, Maaf ya Win aku bikin kamu jadi makin mikirin Dinda!" Anita meminta maaf.


" Iya santai aja, aku juga nggak terlalu mikirin masalah itu, Biar bagaimanapun tidak berhak untuk tidak menceritakan semuanya padaku, aku akan selalu percaya dengannya"


Ayah Erlina yang duduk di sofa ruang tamu rumah sakit, merasa sedikit kecewa dengan apa yang sudah dia dengar, bagaimanapun juga itu terasa sangat canggung baginya, mendengar lelaki yang dicintai oleh anaknya memuji wanita lain, Namun sebagai seorang ayah ah dia juga tidak boleh terlihat memihak, Ayah Erina hanya bisa ber pasrah dengan takdir di kemudian hari.


" Kalau gitu aku mau keluar dulu ya dari manajernya, kamu cepat sembuh ya Anita! kamu juga Nanda jagain dia baik-baik, Pak Saya permisi keluar duluan!" Erwin mencium tangan Ayah Erlina yang duduk di sana, kemudian Erwin beranjak keluar meninggalkan kamar Anita.


Sebenarnya Nanda dan Anita adalah sahabat baik Erwin, Mereka pun tahu tentang Erwin yang sangat mencintai Dinda, namun tidak semulus kehidupan cinta Nanda dan Anita, Erwin harus menunggu lama untuk mendengar jawaban dari Dinda, di sisi lain Nanda dan Anita tidak mengetahui tentang Perjodohan Erwin dan Erlina, Nanda yang sebagai kakak dari Erlina tidak mengetahui bahwa adiknya tersebut sangat mencintai Erwin.


" Ayah mau aku belikan kopi?" tanya Nanda kepada ayahnya yang masih saja terbengong.


" Nggak usah ini sudah ada air putih, nggak bagus juga kalau ngopinya kebanyakan!"

__ADS_1


" Oh seperti itu, bagus juga ya kalau memang bisa mengurangi kafein, tapi kok Nanda lihat ayah dari tadi bengong aja? apa ada sesuatu yang mengganjal di hati Ayah?"


" Sebenarnya Ayah lumayan kaget juga, kalau selama ini ini kamu dan Erwin sangat dekat."


" Sebenarnya sih Awalnya nggak terlalu dekat banget yah, namun secara tidak sengaja, Anita adalah sepupu dari Dinda, mulai saat itulah kami jadi sahabat baik."


" Kata pepatah dunia tak selebar daun kelor, tapi ini benar-benar Kebetulan yang sangat mengejutkan, Sebenarnya ada sesuatu yang ingin ke ayah katakan di awal tahun kemarin"


" Ada apa sebenarnya?" tanya Anita Yang penasaran saat mencuri dengar percakapan suami dan mertuanya.


"Sebenarnya kakekmu dan kakek Erwin ingin menjodohkan cucu mereka kelak, seperti itulah rencananya dulu, Namun waktu itu anak pertama Ayah lah kamu Nanda seorang lelaki, dan Erwin juga lelaki, jadi waktu itu rencananya, ingin dibatalkan, memang saat itu mereka sangatlah kecewa, namun semua berubah saat Erlina lahir, secercah harapan lahir bersama dengan Erlina, kakekmu dan kakek santoso memiliki harapan baru dengan keberadaan Erlina"


"Lalu apa yang terjadi Ayah?" Nanda sangatlah penasaran.


"Kalau memang dijodohkan, kenapa sekarang malah Erwinto mau menikahi sepupuku?" Anita pun kaget dibuatnya.


" Beberapa bulan yang lalu kami kedua belah pihak keluarga saling bertemu dan membicarakan masalah ini, namun kedekatan yang ditunjukan Erwinto hanyalah rasa sayang seorang kakak kepada adiknya"


"Terus Erlina sendiri bagaimana perasaan nya yah?"


"Ayah sangat sedih memikirkan Erlina, dia sangat mencintai Erwinto, dari kecil sampai sekarang pun masih sama, Erlina tidak pernah menganggap Erwinto sebagai seorang kakak, namun diwaktu yang bersamaan ayah merasa sangat bangga melihat kedewasaan Erlina"


" Erlina melepas Erwinto untuk Dinda, seseorang yang sangat dicintai Erwinto."


"Bukanya sekarang Erlina sedang menjalin hubungan dengan Juni? teman sekelasnya?"


" Ayah tau Erlina hanya mencoba menyembunyikan kesedihan hatinya, dia ingin mencoba membuka hatinya untuk lelaki lain, tapi kenyataan tidak semulus itu, sesekali ayah memperhatikannya sering melamun d meja belajarnya." saat Ayah menjelaskan, tanpa sengaja Juni mendengar pembicaraan mereka dari luar ruangan.


"Erlina😥😥😥Nanda merasa sangat sedih yah!"


"Sudahlah jangan dibahas lagi, nanti malah menyalahkan orang lain atas kemalangan ini, kita harus terus menyemangati Erlina"


"Bener yah, jalan Erlina masih panjang, baru juga 18tahun, masih banyak kesempatan dikemudian hari." Anita.


Juni masih mencuri dengar di luar kamar, tanpa pamitan, juni balik duluan pulang, Juni juga tidak mencari Erlina yang masih di ruang administrasi.


Di ruangan yang berbeda Erwinto sedangan mendiskusikan masalah pembiayaan atas pasien yang kurang mampu, Erwinto sebagai ketua yayasan di rumah sakit 'Ibu dan Anak' mewakili keluarga besar Santoso, menandatangani sejumlah berkas.

__ADS_1


"Nanti saya ingin di berikan laporan terperinci setiap bulannya, harus dilaporkan sesuai keadaan yang terjadi di lapangan, saya tidak ingin nanti ada orang yang mengambil keuntungan dari hal ini" dengan tegas erwin memperingatkan manajer rumah sakit.


"Siap pak, kami akan melakukan apa yang bapak perintahkan, nanti laporannya akan langsung saya kirim ke email bapak"


"Baiklah kalau begitu, terimakasih atas kerjasama nya🙏🏻🙏🏻" Erwinto mengakhiri pertemuan Meraka, dan pergi meninggalkan ruangan.


Erwinto kemudian berjalan berkeliling rumah sakit, melihat setiap ruangan untuk sekalian mengecek kondisi di lapangan, kemudian sampailah dia di ruang bayi, Erwinto terhenti saat melihat bayi-bayi kecil itu, sungguh sangat polos, generasi penerus selanjutnya, kehidupan yang sangat menakjubkan, Erwin tersenyum melihat bayi-bayi mungil itu dari luar ruangan, yang dindingnya terbuat dari kaca.


"Sangat menyenangkan melihat bayi yang baru lahir ke dunia😂"Erwinto terharu.


"Ternyata kak Erwinto sangat menyukai anak kecil ya!" Erlina tanpa sengaja melihat Erwinto saat ingin menuju kamar Anita.


"Erlina " sapa Erwinto, dan mereka melihat bersama-sama.


" Tahun depan juga kak Erwinto bakal punya juga"


"😮" Erwinto kaget.


" Bukanya beberapa minggu lagi kak Erwin dah mau nikah sama Dinda? aku pikir semua pasangan menginginkannya, pastinya kak Erwin dan Dinda juga pasti sudah mempertimbangkannya bukan? apakah ini cuma pemikiranku saja ya?"


"😅 Iya juga sih, tapi apakah mungkin akan secepat dan semudah itu? kalau dipikirkan sungguh sangat terpikirkan, jika Sang pencipta menghendaki mungkin saja" Erwinto tidak ingin membicarakan hal-hal yang masih jauh didepan, takutnya malah kecewa saat impian tersebut tidak tercapai.


"Begitu rupanya, tapi kalau aku ditanya 'ingin punya anak atau tidak?' aku akan menjawab iya."


"🤔Emangnya tamat SMA kamu mau langsung nikah sama Juni?"


"Bukan begitu juga kak Erwin, itu cuma jawaban spontan aku, kok jadi kemana-mana pikiranku ya? tapi setiap pernikahan akan lebih lengkap saat hadirnya sang buah hati, bukti dari cinta, mungkin aku akan memahaminya nanti saat sudah menikah😋😋."


"Kakak kira Erlina sama Juni sudah memikirkan hal-hal yang lebih serius seperti itu." Erwinto menghelai nafas panjang, " kenapa rasanya gak Rela kalau Juni sudah sedekat itu dengan Erlina, mikir apa aku ini!" Erwinto memandangi Erlina yang asik melihat kedalam.


"Tapi kalau anak kak Erwinto sama Dinda nanti pastilah cantik dan Ganteng, semoga kalian selalu bahagia kelak ya!" Erlina langsung meninggalkan tempat itu setelah mengatakan pemikirannya pada Erwinto.


Erwinto yang masih berdiri disana memikirkan kata-kata yang baru Erlina utarakan, tanpa pamitan, Erlina pergi begitu saja meninggalkannya berdiri sendiri disana, tinggal menghitung hari menuju hari pernikahan.


"Perasaan tidak nyaman apa ini? rasanya sangat sesak saat Erlina mengungkapkan isi hatinya, doanya begitu tulus padaku dan Dinda, tapi kenapa aku tidak merasa sebahagia itu?"


Erwinto tidak menyadari Erlina berlahan meninggalkan tempat itu, saking bingungnya, Erwinto jadi tidak fokus dengan sekelilingnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2