
Sudah beberapa jam Erlina masih belum sadarkan diri, Juni masih duduk di sudut ruangan UKS melihat Erlina dengan Erwin yang berdampingan, Mia juga terlihat sangat khawatir, Mia memberikan minyak pada kaki Erlina.
"😥Lin jangan bikin aku takut kaya gini dong, aku minta maaf kalau aku akhir-akhir ini bikin kamu kecewa dengan persahabatan kita, sebenarnya aku gak ada niat apa-apa Lin" Mia sangat cengeng ketika melihat sahabatnya lagi kesusahan.
Sebagian orang sirik bilang "Aku sedih liat kamu sedih, tapi aku lebih sedih lagi liat kamu senang" namun hal yang sedemikian rupa tidak berlaku bagi Mia, "Mia sedih melihat Erlina sedih, lebih sedih lagi kalau melihat Erlina susah seperti sekarang", orang tidak akan menyadari kehilangan saat masih mendapat perhatian, namun akan menyesali masa lalu saat semuanya berlahan berubah, menjauh dan menghilang.
" Nggak apa-apa kok Mia, Erlina cuma butuh istirahat aja sebentar, nanti juga dia baikan" Juni menyaut dari sudut ruangan, Juni masih asyik dengan posisinya sekarang melihat Erlina dari kejauhan, lumayan sakit juga melihat Erlina dengan Erwin saat ini, namun Juni menahan perasaannya untuk beberapa saat.
Setelah Nanda memberikan penyuluhan kesehatan kepada murid-murid di ruang aula, Nanda segera menyusul ke ruang UKS untuk melihat adiknya, tadi Anita mengirim pesan kepada Nanda kalau Erlina sedang PMS, walaupun Terdengar sangat ringan, Nanda cukup khawatir dibuatnya.
Nanda langsung masuk ke ruang UKS tanpa mengetuk pintu lagi, dia menghampiri Elina yang masih belum sadarkan diri, kemudian anda menanyakan kronologi kejadiannya kepada mereka yang ada di dalam ruangan UKS. segera Nanda mengeluarkan stetoskop nya untuk mengecek detak jantung Erlina.
" Syukurlah semuanya normal, Erina bikin aku jantungan aja, udah kamu Mia Juni pulang dah Erina udah baik-baik aja biar aku aja yang nemenin di sini!" suruh Nanda kepada Mia dan Juni untuk meninggalkan ruangan.
" Nggak mau Kak Nanda, Aku mau disini nemenin Erlina, nanti aku bakalan aja pulang ama dia, junis kamu boleh pulang kalau kamu mau duluan!" Mia menolak dengan keras.
" Ya udahlah aku pulang aja dulu, Ntar juga di sini udah rame banget ya nemenin Erlina, aku juga nggak ngerti masalah medis jadi nggak bisa bantu dia apa-apa, Mia titip Elina ya aku pamit!" raut muka cemburu Juni tidak bisa dia sembunyikan, Yuni merasa tidak berdaya melihat keadaan Elina seperti itu, ndak ada yang dipahami untuk membantu Erlina saat ini, tak juga sudah ada Erwin yang duduk menjaganya di sana, Mungkin ini yang benar-benar Erlina butuhkan sekarang. hal tersebutlah yang membuat Juni meninggalkan Erlina di sana bersama dengan Erwin.
__ADS_1
Juni segera mengambil sepedanya dan mengayuhnya hingga ke rumah, di sepanjang perjalanan Juni tidak bisa menahan air matanya, tidak selayaknya Juni menangis karena dia adalah seorang lelaki, namun rasa sakit dan kecewa yang dia rasakan tidak mampu dibendung dengan senyuman, akhirnya air mata itu pun basah membanjiri pipinya.
" Kenapa juga aku harus menangis, bukanya dari awal aku sudah tahu kalau Erlina tidak pernah memberikan hatinya padaku, masih saja waktu itu aku bersikeras untuk menjadikannya dalam genggamanku, namun rasa yang dimiliki seseorang tidak bisa berubah begitu saja, mungkin inilah yang terbaik untuk aku dan Erlina saat ini. Sebenarnya aku sangat sakit hati Erlina, tapi apalah dayaku melawan takdir ini!" Juni menangis di sepanjang perjalanan pulang.
" Bodoh.... bodoh.. bodoh😡😠bodoh banget aku ini, aku melepas kesempatan untuk menjadi orang kepercayaan Erlina, walau hanya sebagai sahabat dalam hidupnya, namun karena keegoisan Ku ingin memiliki Erlina seutuhnya, hal tersebut telah membuat Erlina menjauh dan pergi dariku untuk selamanya, Erlina Maafkan AkuðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜" Juni tak henti-hentinya menghujat dirinya sendiri, kalau dilihat dari sisi dan masalahnya sekarang, ini sepenuhnya bukankah salah Juni, tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api, tidak mungkin juga Juni akan sakit hati seperti ini, jika dari awal Erlina lebih tegas meyakinkan Juni bahwa dia tidak akan pernah mencintai Juni seutuhnya.
Beberapa menit setelah Nanda masuk ke ruang UKS, akhirnya Erlina sudah mulai siuman, cerita kaget dibuatnya, Erwin duduk di sebelah kirinya memegangi tangannya dengan sangat erat, terasa keringat keluar dari tangan Erwin, entah itu Karena rasa khawatir sebagai seorang kakak, atau perasaan yang mulai tumbuh di hati Erwin, namun Erlina tidak mau memikirkannya terlalu jauh, Biar bagaimanapun Erwin akan menikah Dalam waktu 13 hari kedepan.
" Syukurlah kamu udah siuman Erlina, kali ini kamu berhasil buat aku ngerasa bersalah sepenuhnya, jantungku rasanya mau copot lihat kamu kayak tadi." Mia kembali meneteskan air mata menyesali perbuatannya yang membuat Erlina menjadi stress.
" Mi aku nggak apa-apa kok, mungkin karena belakangan ini aku agak tekan dengan ujian nasional, jadi pikiranku ikut terbawa suasana, ini sepenuhnya bukan karena masalah kita nih, malah aku yang harus minta maaf sama kamu"
" Syukurlah kamu enggak apa-apa dik! udah tahu sakit perut tapi nggak minum obat, Apa gunanya Kak Anita jadi dokter ngingetin kamu minum obat Kalau kamu sendiri enggak mau menuruti kata dokter." Nanda khawatir.
" Iya deh Pak dokter, Maafkan pasien mu kali ini ya!" Elina malah cengengesan, bisa-bisanya Erlina bersikap seperti itu Sedangkan yang lain sangat mengkhawatirkan dirinya, tapi rasa sakit perutnya akibat menstruasi masih dirasakan.
" Syukurlah kalau begitu Erlina, kamu juga berhasil buat kita semua yang ada disini menjadi tegang lihat keadaanmu, tapi melihat senyummu membuat kami melupakan masalah tadi" Erwin angkat bicara.
__ADS_1
" Makasih banyak Kak Erwin, tapi Juni mana Kak? kok dia nggak kelihatan?" Athena menoleh ke sekeliling ruangan UKS, namun tidak sedikit pun terlihat bayangan Juni di sana.
" Juni baru aja pulang, dia bilang kalau udah ada kita yang jagain jadi dia nggak tenang kalau mau pulang." Erwin menjawabnya.
" Tidak biasanya Juni seperti ini, Sekarang malah aku yang khawatir dibuatnya", Erlina menjawab dalam hatinya, kemudian lanjutnya berkata, " kalau gitu ayo kita pulang Kak Nanda aku udah lapar!" Erlina merengek untuk pulang, karena kondisi Erlina masih sangat lemah akhirnya dia pulang dengan naik mobil Erwin. sedangkan Mia dan Nanda pulang dengan naik sepeda, ya enggak bolak-balik Sekalian juga Nanda mau olahraga.
Di sepanjang perjalanan pulang Erlina dan Erwin Terlihat agak canggung, Erlina hanya diam saja kemudian mengambil handphone di ranselnya, Begitu juga dengan Erwin yang masih saja terdiam, terdengar suara pesan dari handphone Erlina, bergegas Erlina membukanya dan melihat Siapakah yang mengirim pesan padanya.
Erwin sangat menikmati perjalanannya, Erwin menoleh ke sisi jendela mobil, melihat hamparan hijau depan matanya, mana yang sangat indah yang cocok diadakan di kota, Erin sangat menyukai suasana Desa ini membuatnya selalu terpesona oleh keindahan alam, namun Erlina terlihat sangat bagus dengan handphone yang sedang dipegang.
*Pesan dari Juni
Erlina maaf kalau selama ini aku membuatmu sangat tertekan dengan hubungan kita. Tak ada sedikitpun niat dalam hatiku untuk membuatmu sakit seperti sekarang, aku hanya sedikit ceroboh karena jatuh dalam keegoisanku untuk sesaat. Seharusnya aku menanyakan ke dalam hatimu, apakah ini benar-benar yang kamu inginkan, namun aku menutup mata untuk sesaat, aku mengira hatimu akan luluh seiring berjalannya waktu dengan rasa cinta yang kumiliki, namun rasa cintamu pada Erwin juga sangat besar sehingga tidak mampu aku runtuhkan, jika ada kesempatan di kehidupan yang mendatang. Aku ingin menjadikanmu sandaran hatiku, apakah kamu masih ingin berteman denganku seperti dulu? mungkin aku tidak sepantasnya mengajukan pertanyaan seperti ini, tapi aku harus jujur bahwa aku ingin, walau tak menjadi pasanganmu, aku ingin menjadi sahabatmu seperti dulu, aku tidak memerlukan jawabannya dengan tergesa-gesa, Jawablah jika kau ingin menjawabnya, Erlina juga kamu berkenan, aku ingin bicara empat mata denganmu nanti malam, aku akan datang kerumahmu jika kamu tidak keberatan, aku ingin membicarakannya langsung denganmu, tidak melalui pesan singkat seperti ini, tolong kabari aku ya Erlina!
Salam sayang dari sahabat mu Juni.
Erlina merasa sangat terharu membaca pesan dari Juni, "begitu bodohnya aku ini yang menganggap kalau Juni kekanak-kanakan, Juni jauh lebih dewasa dari apa yang terlihat, Juni bisa melepas cintanya padaku, dan dia juga bisa merelakan aku dengan cintaku yang lain." Erlina meneteskan air mata saat membacanya, dia langsung menghapus air matanya, karena Erlina tidak ingin Erwin mengetahui perasaannya yang masih sangat mencintainya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...