
Hari ini Erwinto akan mengenalkan Dinda Lestari kepada keluarga besarnya, perasaan senang dan takut bercampur aduk, dia sangat khawatir jika kakek tidak memberi restu nya, namun bermodal keyakinan diri dan cintanya yang besar, Erwinto memberanikan dirinya melawan dunia, tidak ada yang benar-benar ia inginkan lagi selain bersama Dinda.
Malam ini jalanan lumayan macet, kendaraan Erwinto tidak bisa melaju dengan kecepatan penuh, perjalanan yang lamban ini terasa sangat menyenangkan, bisa duduk berdua dengan Wanita impiannya, Dinda yang duduk di sebelah kiri erwinto melihat ke depan, Dinda hanya diam melihat jalanan yang ramai.
"Din.. Dinda sayang" panggil Erwinto menepuk pundak kanan Dinda.
"Iya sayang! kenapa? ini aku lagi asik lihat jalanan yang ramai, ternyata lumayan indah juga gedung-gedung yang setinggi langit ya,? dimalam hari lampunya indah banget" Dinda.
"Iya, juga ya, kenapa aku jarang memperhatikannya, kalau bukan kamu yang hari ini mengatakannya, aku belum juga tersadar"
"Sayang, apakah gak telat nih kita ketemu orang tuamu? perasaan ini laju mobilnya agak pelan"
"Nggak apa sayang, aku udah ngirim pesan ke mama tadi sebelum berangka, kemungkinan akan telat 30menit karena jalanan macet"
"Syukurlah kalau gitu, takut aja sih kalau nanti orang rumah nyariin"
Erwin dan Dinda terus bercakap-cakap di dalam mobil sambil menikmati perjalanan, sesekali mereka saling memandang dan tersenyum malu, wajah erwinto dan Dinda memerah. setelah saling memandang mereka tertawa, perjalanan pun terasa sangat menyenangkan, padahal cuma satu jam di jalan, tapi rasanya berjam-jam saat mereka sedang bersama.
Pukul 7 malam dari pintu sampai ke rumahnya, kemudian Erwin turun dari mobilnya setelah itu dia membukakan pintu mobil untuk Dinda, erwinto menggandeng tangan Dinda, dan berjalan berpasangan dengan sangat mesra.
" Ayo sayang kita masuk ke dalam!"
" Ayo!" Linda tersenyum pada Erwin.
Mereka berjalan menuju pintu utama keluarga Santoso, pintu yang tingginya mencapai 3 meter itu tidaklah tertutup, pintunya terbuka lebar, dan Mama sedang berdiri di depan menunggu mereka berdua datang, Mama tersenyum melihat Erwin dan Dinda melangkah menuju rumah.
" Baru sampai nak? Wah ternyata Dinda cantik sekali rupanya" Puji mama.
" Siapa dulu dong, Erwin," Erwin sangat percaya diri.
"Ah ibu bisa aja☺"
" Panggil mama aja Biar lebih akrab"
"Baik ma." jawab Dinda.
Dari dalam rumah terdengar suara papa yang memanggil mereka yang asik ngobrol di depan pintu, papa menyuruh mereka untuk masuk kedalam rumah, di ruang tamu sudah duduk kakek santoso yang sedang menonton berita di televisi.
"Mama, suruh anak-anak masuk dulu!"
"Baik pa!" mama mengajak Dinda dan Erwin masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Ayo kita makan malam dulu!" kakek bangun dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ruang makan.
Bergegas papa menyusul kakek di belakangnya, di atas meja makan tersedia banyak sekali hidangan mewah ala rumahan, di sana tersaji ayam bakar madu, udang saus tiram, cumi ayam manis, tongseng sayur, dan telor puyung hai kesukaan kakek.
" Ayo kita makan malam dulu, pasti kalian belum makan kan dari tadi siang, apalagi kamu Win, seharian meeting diluar, pasti lupa makan"
"Mama memang yang terbaik, tau aja kalau aku udah lapar banget😋"
"Tadi aku tanya pas sampai rumah, katanya udah makan" tanya Dinda.
"Habis aku nggak mau bikin kamu khawatir!" jawab Erwinto mengelak.
"Sudahlah, yang berlalu ya sudah berlalu, yang penting itu waktu sekarang." mama.
Mereka bertiga berjalan menuju ruang makan, masih sempet-sempet nya mereka mengobrol bareng, sesampainya di ruang makan, terlihat kakek yang sudah duduk di kursi utama, kemudian disusul papa yang duduk di sayap kiri meja, mama ikut duduk disebelah papa, terus Erwinto duduk di sayap kanan diikuti oleh Dinda yang duduk disebelahnya.
Setelah semuanya duduk bersama di sana, suasananya sempat membeku sejenak, kebekuan itu karena rasa tegang di hati Erwinto dan Dinda, takut dengan kakek Santoso, papa dan mama hanya terdiam, akhirnya suasana mulai menghangat saat kakek mempersilakan mereka berdua untuk menikmati hidangannya.
"Ayo makan semua nya!" ajak kakek.
"Wah makanan kesukaan semua anggota keluarga nih,, jadi puas kalau gini makannya🤤" Erwin terlihat antusias saat melihat makanan, namun Dinda masih malu-malu.
"Nggak usah kek, Dinda ambil sendiri saja" Dinda mengambil nasi yang ada di depannya, kemudian dinda hanya mengambil tongseng sayur dan telor puyung hai saja.
"Kok kamu makannya itu saja din?" tanya mama.
"Iya, kan pilihan lauknya banyak!" papa sangat penasaran.
"Iya ma, Dinda nggak makan daging, dinda vegetarian soalnya,, tapi nggak ketat juga kok, dinda masih makan telor dan produk susu." Dinda menjelaskan alasannya.
"Iya pa, erwin lupa bilangnya, hehe 😁 jadi lupa request menu sayur yang banyak" jelas Erwinto setelahnya.
"Bagus itu kalau bisa mengurangi daging." kakek memuji setelah menelan makanannya.
"Terimakasih Kek, Dinda paling suka telor puyung hai, dari kecil sampai sekarang masih jadi favorit no satu. itulah alasannya kenapa gak bisa full vegan." percakapan Dinda dan kakek mulai nyambung.
"Sebenernya kakek juga paling suka telor puyung hai dinda!" sahut papa.
"Beneran kek?" tanya Dinda.
"Bener, soalnya ini makan yang murah meriah, dulu karena masa kecil kakek hidupnya susah, jadi paling mewah waktu itu ya telor puyung hai, kakek sering membuatnya bersama kakak kakek, Dana namanya"
__ADS_1
Semua orang yang ada di meja makan langsung menoleh satu sama lain, papa dan mama menoleh ke arah kakek. sepertinya mereka berdua memberi isyarat pada Erwinto untuk tidak membahas masalah kakek Dana.
"Ayo kita habiskan makannya, nanti kita ngobrol lagi di ruang tamu sambil menikmati teh dan makanan penutup yang manis!" Erwinto mengakhiri percakapan tersebut.
Baru saja Dinda mau menanyakan perjalan hidup kakek dimasa kecilnya, malah di putus ditengah jalan, Erwinto sungguh sangat sensitif kalau kakek membahas keluarga Erlina dirumahnya. harusnya kakek tidak merasa berhutang budi pada kakek Dana, biar bagaimanapun kakek sudah mengembalikan modal awal yang berupa emas kepada kakek Dana, kakek juga sudah memberikan setengah saham perusahaan pertamanya kepada keluarga Erlina.
Makan malam berlangsung 30 menit, mereka semua menikmati makanan mereka, namun karena mereka masak terlalu banyak, tentu saja masih ada sisa banyak juga, setelah selesai makan, mereka menuju ruang tamu, dengan televisi yang masih menyala, kakek kemudian duduk dan mematikan televisinya.
"Ayo duduk Dinda!" suruh mama, kemudian dinda mengangguk dan duduk bersebelahan dengan Erwinto yang menghadap kakek.
Kakek mulai mengambil tehnya, dan menikmati sepotong kue strawberry dengan krim vanila yang sangat lembut di mulut. mereka semua menyusul setelah kakek sudah mengambil bagiannya terlebih dahulu.
"Tehnya harum banget! ada banyak aroma didalamnya!" puji Dinda,
"Apakah kamu berpikir demikian?" tanya kakek.
"Ini pasti teh rumahan, gak dijual di pasaran." Dinda.
"Memang kakek sendiri yang meraciknya, dia punya bahkan membuat rumah kaca dihalaman belakang, hanya untuk menanam bunga yang mau dijadikan teh" bisik Erwinto pada Dinda.
"Ngomong-ngomong masalah teh bisa nggak kita lupakan dulu ngobrolin itu. Ada hal penting yang ingin disampaikan ke!"
" Katakan Saja, bukannya selama ini Kak Iksal menjadi pendengar yang baik!" sembari kakek menikmati teh nya.
" Kalau boleh Erwin mau Dinda jadi istri Erwin! Itupun kalau kakek merestui"
"Kamu gimana Dinda, apa Beneran Kalian mau langsung nikah gitu aja?" kakek malah balik bertanya kepada Dinda.
" Dinda juga mencintai Erwin kek?" sudah Erwin Memotong pembicaraan.
" Kakak nggak nanya sama kamu Win, kakek lagi bertanya sama Dinda, mau nanya keseriusan Dinda sama kamu."
"Tapi kek...!" erwin
"Kakak tanya sekali lagi ya Dinda, apa Beneran kamu mencintai Erwin dan mau menikah?"
" Iya kek kek, Dinda mau menikah dengan Erwin!" Dinda menjawab sambil menundukkan kepalanya.
" Baiklah kalau begitu, Kakek bisa ngomong apa lagi kalau memang kalian sudah memikirkan ini dengan matang matang, tapi ada satu hal yang harus kalian camkan, tapi nggak pernah ngasih Kesempatan Kedua, jadi sekali kakek ngasih kesempatan maka jangan pernah mengecewakan kakek." tegas kakek menjawab.
BERSAMBUNG...
__ADS_1