
Hari ini Erlina dan Juni jadian, mereka meresmikan hubungan sebagai sepasang kekasih yang biasa orang katakan 'pacaran', sungguh hari yang tidak bisa ditebak, acara weekend yang kegiatan awalnya hanya ingin jalan-jalan ke peternakan, menikmati makan siang bersama, meneguk susu coklat hangat yang pada akhirnya malah jadi es susu coklat. Menjadi awal bagi hubungan Juni dan Erlina.
Erlina pulang dengan perasaan yang tidak bisa ditebak, ada perasaan kecewa, perasaan bersalah, dan merasa sangat hampa dalam hatinya, Erlina mengayuh sepedanya dengan pelan, namun Juni mengayuh sepeda dengan bersemangat, setelah sampai rumah Juni, Juni ingin mengantar Erlina pulang, namun Erlina menolak nya, Erlina bersikeras tidak ingin diantar oleh Juni, dan Juni tidak berani membantahnya.
" Aku antar ya sayang sampai ke rumahmu?"
" Nggak usah. Rumahku dekat kok, soalnya ribet lihat bolak-balik gitu, aku harap kamu tidak memaksa"
" Baiklah jika itu mau mu, hati-hati ya sayang, nanti kita Chating ya!"
" Oke, lihat aja nanti situasinya gimana, soalnya aku mau bikin PR dulu, kamu juga selesain PR mu! Dah Sayang Sampai ketemu besok"
" Siap turun Putri, kata-katamu adalah perintah bagiku, sampai bertemu besok."
Erlina melanjutkan perjalanannya sendiri, dia mengayuh sepedanya sambil melamun, memikirkan sesuatu tentang Erwin, tanpa sadar dia mengayuh sepedanya hingga ke sekolah.
" Astaga Tuhanπ€¦π», saking nggak fokusnya sampai mengayuh sepeda ke sekolah, untung aku nggak masuk selokan"
Erlina mentertawakan dirinya sendiri yang terjatuh dalam lamunan panjangnya, segera dia membalikkan sepedanya, namun tepat di depan rumah Mia, Erlina melihat Mia yang baru saja pulang dari kota, Mia baru saja melepas helm yang dia kenakan, dan Mia pun melihat Erlina yang sedang mengayuh sepeda dari arah sekolah, setelah itu Mia memanggil Erlina dan memintanya untuk singgah sebentar.
" Erlina Erlina, ayo sini Erlina singgah, untung kita ketemu di sini jadi aku nggak usah ke rumahmu. Aku ada beli beberapa buku dan cemilan kesukaanmu"
" Besok aja deh Mia aku buru-buru nih," Erlina berusaha menolak ajakan Mia, " sebentar aja tapi ya!"
" Iya nggak bakal lama kok, buru-buru banget!"
Segera Mia menggandeng tangan Erlina dan mengajaknya masuk ke dalam rumah, Mia mengeluarkan hasil belanjaannya hari ini, terlihat ada beberapa buku pelajaran penunjang ujian nasional dan 2 buku novel serta buku motivasi, lanjut Mia mengeluarkan cemilan yang berada di tas satunya, di sana terlihat ada nastar selai nanas, dan brownies semuanya kesukaan Erlina.
" Ini kue nastar sama brownies kukus kesukaan kamu, nanti di habiskan ya!"
" Buat aku aja nih? tumben Juni nggak kebagian?"
" Males lah ngomongin Juni, kalau mikirin dia terus nanti aku susah move on lagi, lagi pula kan Juni sukanya sama kamu"
" Tapi Mia, aku boleh bertanya sesuatu nggak?"
__ADS_1
" Iya tanya saja!"
" Bagaimana perasaanmu kalau Juni seumpama jadian sama aku?"
" Harus komentar gimana ya, sebenarnya sih ada perasaan sedih sama kecewa kenapa dia lebih milih kamu, tetapi seandainya kalau itu memang benar terjadi, aku malah tambah senang!"
" Kenapa begitu Mia? Bukannya itu berarti kamu menyerah?"
" Kok menyerah, itu namanya kita memiliki perasaan yang tulus dengan seseorang, jadi kalau kita mencintai seseorang dengan tulus maka kita akan ikut berbahagia saat melihat orang yang kita cintai juga berbahagia, apalagi yang bikin dia bahagia adalah sahabatku sendiri, Iya aku pasti rela lah"
" Oh begitu rupanyaπ" sepertinya Erlina merasa ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakan kepada Mia tentang apa yang terjadi barusan di peternakan.
" Emang hari ini ada sesuatu yang spesial ya terjadi di antara kalian berdua? jangan-jangan Juni lagi lagi nembak kamu?" Mia terlihat bercanda, namun tebakannya benar semua.
Erlina salah tingkah, mukanya memerah namun agak pucat, seketika dia mengeluarkan keringat dingin, " hahaha, kamu bisa aja!" suara Erlina terlihat sekali sangat gugup.
" Sebenarnya tadi tiba-tiba hatiku sesak, seperti Ada hal berharga yang hilang dalam hidupku, Tapi aku tidak tahu itu apa."
" Oh ya, sekarang gimana masih sesak dadanya?"
" Ya sudah sepertinya Kamu kecapean, kamu istirahat dulu saja, kalau gitu aku pamit pulang ya! ngomong- ngomong makasih oleh-olehnya sahabatku sayang" Erlina memeluk Mia, seketika air mata Erlina menetes begitu saja namun dia segera menghapusnya.
" Mungkin emang aku kecapekan kali ya, ya udah kamu hati-hati di jalan ya!"
Erlina meninggalkan rumah Mia dan membawa semua oleh-oleh yang telah memberikan kepadanya, tetapi Mia masih memikirkan perasaannya yang tidak karuan, berubah begitu saja tanpa ada penjelasan, hari sudah semakin larut, waktu menunjukan pukul 08.00, Mia membereskan PR-nya dan berapa buku untuk nanti sekolah.
" Kenapa waktu itu aku sangat memikirkan Juni ya? tiba-tiba saja hatiku sangat merindukan Juni hingga aku tidak konsentrasi mencari buku." sampai sekarang pun Mia masih merasa terganggu dengan perasaannya.
" Apa jangan-jangan Juni sudah jadi sama Erlina? Aduh aku mikirin apa sih nih? kalau mereka udah jadian pastilah mereka udah ngomong sama aku, tapi kalau ditanya, jujur hatiku masih mengharapkannya." semalaman Ia terus memikirkan perasaannya yang mendadak berupa, hingga Mia terlelap dalam tidurnya, Mia merasa hampa dalam hatinya.
Di satu sisi di tempat yang berbeda namun di waktu yang sama, Erlina memikirkan tentang keputusan yang sudah diambil tadi siang, Apakah keputusan yang dia ambil sudah tepat? apakah suatu saat nanti keputusannya tidak akan menyakiti hatinya atau lebih tepatnya lebih menyakiti hati Juni? pikiran Erlina bergejolak.
" Haduh Kalau dipikir-pikir pusing juga, nggak bakal ada ujungnya pikiran manusia itu tidak terbatas, mending aku tidur aja kali ya!" Erlina segera merapikan buku PR yang baru saja dia selesaikan, dan Erlina bersiap-siap untuk tidur.
HP Erlina berdering sekali, namun saat dia ingin mengangkat telepon ternyata panggilan itu sudah terputus, di sana tertulis sayang, Erlina baru tersadar kalau tadi siang Juni meminjam handphonenya dan mengganti namanya. Erlina sempat bingung siapa sayang itu? namun setelah dibuka, di lihat foto profil Juni, Erlina hanya tersenyum tipis, "Dasar Juni ada-ada aja."π
__ADS_1
Kemudian Erlina menulis pesan untuk Juni Setelah dia membuka handphone-nya, dilihatnya Juni mengirim banyak sekali pesan singkat, tapi Erlina hanya menjawab dengan singkat, "selamat malam, mimpi yang indah sayang!" tulisnya dalam pesan singkat tersebut.
"I love you sayang, sweet dream tooππ"
"π΄πͺπͺπͺ" dengan mengirim beberapa emot Erlina tidak menjawab i love you too.
Juni tidak berani berharap banyak, nggak berani berharap kalau Erlina akan membalas dengan kata I love you too, " Mungkin hari ini dia benar capek, sungguh menyenangkan." Juni menaruh ponselnya dan merebahkan tubuhnya di kasur kemudian Langsung tertidur begitu saja.
Hanya saja pesan yang Erlina tulis menunjukan gambar tertidur pulas, namun kenyataanya malam ini Erlina tidak bisa tidur lebih awal, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat profil Erwin, dilihatnya Erwin mengunggah fotonya bersama Dinda dan keluarganya, ada perasaan iri dalam hati Erlina, namun tanpa tersadar Erlina memencet nomor telepon Erwin.
" Halo," terdengar suara Erwin yang mengangkat telepon, karena Erlina tidak sadar Erwin harus memanggilnya berapa kali, "Halo, ada apa Erlina?" namun tidak ada jawaban dari Erlina, kemudian Erwin menutup teleponnya.
" Aneh sekali ini anak, nelpon tapi nggak ada suaranya, cuma terdengar nafasnya saja, apa ada hal yang penting? Coba deh aku telepon balik"
Erwin merasa penasaran kenapa Erlina tidak menjawab, Erwin kemudian menghubungi Erlina balik, butuh waktu beberapa saat untuk Erlina mengangkat telponnya, seketika Erlina kaget dan mengangkat teleponnya.
" Kak Erwin, Ada apa Kakak nelpon malam-malam?"
" Harusnya aku yang nanya, kok kamu barusan nelpon tapi pas aku angkat kamu malah nggak ada suara"
" Masa sih Kak aku nelpon Kakak?" kemudian Erlina mengecek panggilan keluar dilihatnya Erwinto di panggilan terbaru.
Namun di waktu bersamaan Juni melupakan sesuatu, Juni ingin menanyakan tugas kelompok kepada Erlina, apakah semua bahan presentasi nya sudah lengkap. Juni berusaha menghubungi Erlina disaat Erlina sedang asyiknya menelepon dengan Erwin.
"nutnutnutnutnut...." terdengar suara telepon, yang menandakan bahwa nomor yang dihubungi sedang menerima/berada dalam panggilan lain.
" Kok aneh ya, perasaan tadi dia bilang udah mau tidur, udah ngirimin emot-emot lucu orang ngantuk, Erlina lagi teleponan sama siapa ya?" Juni merasa sangat penasaran, dicobanya menghubungi Erlina beberapa kali namun responnya tetap sama.
Erlina masih mengobrol dengan Erwin di dalam telepon, Erwinto juga meladeni Erlina beberapa saat, mereka mengobrol bersama menanyakan sesuatu dan yang satunya menjawab pertanyaan begitu terus hingga beberapa menit sampai Erlina tertidur.
"π΄π΄π΄(suara Erlina mendengkur)"
" Dasar anak yang polos, mudah banget dia tertidur begitu saja, tapi syukurlah suaranya tadi terdengar sangat bahagia, walau awalnya terasa sangat dingin, ada perasaan hampa yang tersampaikan dari nada bicaranya, namun mulai berangsur-angsur membaik setelah beberapa menit berlalu" Entah kenapa Erwin merasakan hati Erlina yang hampa.
Malam ini berlalu begitu saja pada Erlina, Erlina akhirnya bisa tidur sangat nyenyak setelah seharian memikirkan hatinya yang galau tentang keputusan yang sudah diambil, Erlina tertidur saat mendengar suara Erwin, hanya mendengar suaranya saja sudah membuat hati Erlina bergetar, namun Juni merasakan kegundahan hati malam ini, Erlina tak kunjung angkat teleponnya membuat Juni merasa sangat kecewa, namun inilah konsekuensi yang harus Juni ambil ketika ingin memulai hubungan dengan Erlina.
__ADS_1
BERSAMBUNG...