EE (Erlina Erwinto)

EE (Erlina Erwinto)
Bab 33 Hospital


__ADS_3

Juni dan Ayah Erlina yang baru tiba di rumah sakit, langsung menuju kamar Anita, karena Ayah mengajaknya untuk langsung masuk ke dalam, jadi Juni belum sempat menegur Erlina. Juni merasa sangat terganggu hari ini melihat Erlina bersama dengan Erwinto.


Mana kebetulan yang selalu dilihat oleh Juni, selalu menyisakan batinnya, keraguan di hati juni selalu timbul kalau melihat Erlina bersama dengan lelaki yang dia cintai.


"Ayo jun!"


"Baik Om, saya ambil tas Erlina dulu di dalam mobil" Juni berusaha mencari alasan untuk mengulur waktu.


"Ayo cepat Jun!" Ayah menyuruh Juni untuk tidak berlama-lama.


"Baik Om, ayo kita masuk!" Juni mengajak balik Ayah untuk segera masuk.


Setelah Juni dan ayah masuk ke dalam kamar Anita, dilihatnya Erlina tidak ada di sana, hanya ada Anita yang sedang berbaring dan Nanda yang duduk di sebelahnya, mereka terlihat mengobrol bersama, Ayah mengetuk pintu dan Nanda membukakan pintu tersebut dan mempersilakan mereka untuk masuk ke dalam kamar.


" Anita Apakah sudah mendingan?" tanya ayah kepada Anita kembali Anita memberi salam kepada ayah mertuanya dengan mencium tangan kanan ayahnya.


" Sudah Ayah, kondisi ku sudah lebih baik"


" Oh ya Nanda, adikku Erlina ke mana Kok enggak kelihatan?"


" Baru aja keluar, Emangnya Ayah nggak ketemu di depan?"


" Ayah nggak ada ketemu dia, ini Ayah bawain tasnya Kemarin ketinggalan"


" Katanya sih tadi dia beli makan, tasnya taruh di sini aja ya nanti juga dia balik"


" Om Biar saya aja yang keluar ngejar Erlina, kami bawakan Tasnya, takut nanti ada yang penting."


" Ya sudah kalau begitu, Tolong berikan ya kepada Erlina!"


" Baik Om, Kak Anita Ke Nanda aku keluar dulu ya!"


Akhirnya Juni memiliki kesempatan untuk pergi mengejar Erlina dengan Erwin, setelah keluar dari ruangan Juni langsung berlari keluar dengan kecepatan penuh. Juni merasa sangat penasaran apakah yang sedang dilakukan oleh Erlina dan Erwin sekarang. Juni mencari ke sekeliling rumah sakit namun tidak berhasil menemukan mereka berdua, hingga mencari ke kantin rumah sakit juga mereka tidak kunjung ketemu, tepat berdiri di tengah lapangan rumah sakit Juni melihat ke lantai atas, namun tidak terlihat juga.


" Pergi kemana ya mereka berdua?" sesaat Juni ingat perkataan Nanda, kalau Erlina disuruh pergi beli makanan yang ada di luar rumah sakit. Langsung Juni bergegas keluar, namun belum terlihat juga, hingga beberapa saat kemudian Juni melihat mereka berdua duduk dan makan bersama, di pinggir jalan rumah sakit.


"Itu mereka, akhirnya ketemu juga" Juni segera berjalan menuju Erlina yang berada tidak jauh darinya.


"Hai sayang" sapa Juni menepuk punggung Erlina.


"Ow kamu Jun, udah dari tadi sampai?" balas Erlina menjawab, namun tidak membalas panggilan sayang dari Juni. Erlina terlihat agak kikuk dalam situasi yang seperti sekarang ini. Dalam hati Erlina masih belum bisa menerima Juni seutuhnya.

__ADS_1


" Sayang?" tanya Erwinto, sangat penasaran sangat mendengar seseorang yang asing baginya, namun memanggil Erlina dengan sebutan sayang.


"Iya sayang, emang kenapa ya?" Juni menjawab.


"Beneran yang aku denger tadi Lin?"


"Iya kak.....,"


"Perkenalkan saya Juni pacar Erlina" Juni menyela pembicaraan Erlina


"Syukurlah kalau kamu sudah bisa move on Lin, aku ikut senang" jawab Erwinto agak mengecewakan hati Erlina, biar bagaimana pun Erlina masih sangat mengharapkan Erwinto, bagaimana bisa move on secepat itu.


"Kami baru jadian kok,!" Erlina.


"Jadian nya sih emang baru, tapi sahabatan nya sudah dari kami di bangku SD dulu."


Suasana mulai terasa agak menegangkan, Erlina tidak bisa berkata apa-apa lagi tentang hubungan mereka berdua, Erwin juga tidak bisa berkomentar banyak tentang hubungan Erlina dan Juni, biar bagaimanapun Erwin itu tidak berhak menghakimi hati Erlina saat ini, karena Erwin itu bukanlah siapa-siapa bagi Erlina sekarang.


Saat ini yang dapat mereka bertiga lakukan hanya duduk bersama dalam satu meja, sesekali Erwin melihat Erlina yang sedang menikmati makanannya, Juni pun sama mencuri pandang ke Erlina dan Erwinto, tidak banyak percakapan yang mereka utarakan, mereka bertiga hanya fokus dengan makanan yang ada di depan mata mereka.


" Ngomong-ngomong kamu sudah menyukai Erlina dari kapan?" Erwin memulai percakapan dengan sebuah pertanyaan yang sangat sensitif.


" Wah ...wah ceritanya sangat romantis, aku sangat kagum padamu Juni, Jarang banget ada lelaki sepertimu saat ini" Erwinto memuji cinta Juni yang sangat besar kepada Erlina.


Erlina merasa sangat canggung mendengar percakapan Erwin dan Juni, mereka berdua membicarakan Erlina di depan matanya sendiri, terasa dan terdengar sangat aneh. " Apa-apaan kalian berdua ini, masak terang-terangan bicara di depanku, malu tahu."


" Sekarang aku sudah merasa lebih tenang, melihatmu bersama dengan Juni, dan itu membuatku sedikit lega dan beban ku sedikit berkurang, Aku cuma mau pesan sama kamu Juni, jaga hati Erlina sebaik mungkin."


" Tentu saja aku akan melakukannya, karena aku sangat mencintai Erlina, kalau sekarang cinta Erlina bukan sepenuhnya untukku, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin."


" Stop! jangan bahas itu disini, apalagi di depanku gini. Ya sudah aku pergi duluan kalau gitu, kalian lanjut saja berdua, aku cabut duluan" Erlina meninggalkan tempatnya setelah menghabiskan makanannya dengan cepat.


" Aku juga mau pergi sekarang! sampai ketemu lagi ya, kalian berdua yang akur" Erwin juga meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit.


" Erlina aku ikut, biar aku temenin." Juni mengikuti di belakang Erlina, dia terus mengikutinya pergi keluar dari tempat makan tersebut, mencari makanan yang dititip oleh kakak iparnya Anita. Juni dengan sabar mengikuti di belakang Erlina, tanpa mengganggunya untuk bisa berjalan berdampingan, dengan senyum yang lebar Juni terus mengikutinya dari belakang.


" Kamu senyum terus dari tadi Jun?"


"Seneng aja rasanya hari ini, berjalan seperti ini di belakangmu"


"Kenapa tadi kamu bilang kalau kita pacaran di depan kak Erwinto?"

__ADS_1


" Kenapa sayang? kamu gak suka ya?"


"Bukanya begitu Jun, tapi aku belum siap kalau ayah aku sampai denger tentang kita, takut dia gak setuju."


"Apakah benar begitu? kamu juga jarang panggil aku sayang! kenapa?"


"Aku belum terbiasa, aku akan berusaha memanggilmu sayang."


"Bagaimana kalau ayahmu setuju? apakah kamu akan bisa menerima ku dan mengakui aku sebagai pacarmu di depan umum?"


"Tentu, itupun kalau memang begitu kenyataannya."


Juni langsung mengeluarkan handphonenya, Juni menunjukkan sebuah percakapannya dengan ayah Erlina saat di taman bermain kemarin, ternyata waktu Erlina pergi ke toilet, Juni sudah mengatakan di depan Ayah dan Kakak Erlina tentang perasaannya terhadap Erlina, seberapa besar Juni mencintai Erlina, seberapa besar Juni sangat menyayangi Erlina, Juni mengatakan semuanya dan meminta restu dari ayah Erlina dan kakaknya yang baru pertama kali dia jumpai, Ayah Erlina nampak menyetujuinya itu terdengar dari hasil rekaman tersebut, beginilah isi rekamannya.


*flashback


" Ada yang ingin saya tanyakan pak, semoga apapun yang akan saya katakan tidak akan menyinggung perasaan bapak" Juni ingin menanyakan sesuatu, setelah Juni menghidupkan perekam di handphonenya, Juni terus menghidupkan rekaman tersebut sepanjang percakapan mereka.


" kamu mau menanyakan apa Jun? kita biasanya bicara sepatu formal ini, Katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan!"


" Sebenarnya saya sudah mengutarakan perasaan saya kepada Erlina, di luar dugaan saya, Erlina langsung menerima cinta saya, namun sampai saat ini dia masih merahasiakan tentang hubungan kami berdua, menurut analisis saya sih, itu semua karena dia takut Om mengetahuinya."


" Benarkah itu semua?" Nanda sedikit menyela.


" Oh begitu rupanya, Kalau Om pribadi sih terserah Erlina, karena Om percaya pernah Erlina bisa menjaga diri dan sudah bisa mengambil keputusan."


" Aku juga berpikir hal yang sama dengan ayah, biar bagaimanapun juga, Erlina sekarang sudah dewasa, jadi Erlina berhak menentukan arah tujuan hidupnya ke depan, termasuk memilih pasangan hidupnya."


" Maaf sebelumnya, Apakah ini artinya kalian menyetujui saya dengan Erlina?"


" Ayah akan selalu mengikuti dari belakang keputusan kalian berdua."


" Aku sebagai Kakaknya juga terserah Erlina, biar bagaimanapun Erlina berhak untuk bahagia, setelah apa yang telah dilewatinya belakangan ini, mungkin kamu lah jawaban dari masalah ini Jun"


" Kamu benar juga Nanda, Kenapa ayah enggak kepikiran dari tadi ya," ayah menepuk punggung Nanda, " kalau begitu, Ayah mohon bantuannya ya Juni!"


" Terima kasih banyak atas kepercayaannya Om, Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga Erlina, Terima kasih banyak Atas restunya juga, saya akan menjaga kepercayaan Om terus."


Begitulah isi percakapan yang telah direkam oleh Juni pada saat berada di wahana bermain kemarin, walaupun hasil rekamannya terdengar sangat kecil tapi suaranya cukup jelas, mereka sedang mengatakan apa di sana. Sontak Erlina kaget dibuatnya, bagaimana mungkin Juni bisa memikirkan hal yang seperti ini saat dia berada di tempat itu. Erlina terdiam untuk sesaat setelah mendengar hasil rekaman tersebut, namun Juni memegang tangannya dan menatap mata Erlina dengan penuh rasa cinta.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2