
Hari Senin telah tiba, sudah waktunya bagi Erlina, Mia, dan Juni beserta teman-temannya yang lain untuk melaksanakan ujian nasional, Mia dan Erlina masih tidak saling menyapa, bahkan Juni baru terlihat hari ini, Juni datang tepat saat bel masuk berbunyi, mereka bertiga duduk berderet ke belakang tanpa menegur sapa satu sama lain.
Erlina merasa sangat canggung dengan keadaan ini, namun dia tidak bisa bicara apapun pada Mia sekarang, Erlina juga tidak sempat bicara dengan Juni yang baru saja datang, hanya ketegangan yang sedang mereka rasakan sekarang, guru membagikan kertas ujian dan siswa hanya diwajibkan membawa alat tulis dan menaruh semua tas di depan ruangan.
Juni setelah memasuki ruangan hanya terfokus dengan lembar jawaban yang ada dihadapannya, Juni tidak melirik Erlina ataupun Mia, dia hanya fokus pada ujiannya saat ini, membaca satu per satu pertanyaan yang ada di dalam dan menjawabnya dengan benar, guru yang mengawasi tidak diam begitu saja, guru berkeliling ke satu meja ke meja lainnya, untuk melihat siswanya mengerjakan soal ujian.
Mia pun masih fokus dengan lembar jawaban, biasanya Mia paling suka melirik kearah Juni, namun untuk situasi saat ini Mia hanya terfokus dengan ujiannya saja, walau tidak sepintar Erlina dan Juni, namun ia berusaha menjawab setiap soal ujian dengan sangat hati-hati, agar hasil belajar yang telah ia lakukan selama ini tidak sia-sia, guru yang melihat lembar ujiannya hanya mengangguk dan tersenyum melihat jawabannya Mia.
Berbeda halnya dengan Juni dan Mia, Erlina melirik ke arah mereka sesekali sembari menjawab ujian, Erlina mengerjakan ujian dengan sangat cepat, hanya butuh 45 menit untuk nya menyelesaikan setiap jawaban dalam ujian tersebut, karena Erlina sudah menyelesaikan ujian, sesekali Erlina melirik kearah Juni, dan bergiliran melirik ke arah Mia. namun dilihatnya Juni dan Mia sangat fokus dengan ujian mereka, Erlina hanya melihat saja apakah Juni dan Mia sudah meresponnya, namun Erlina agak kecewa karena tidak sekalipun Juni dan Mia menoleh ke arahnya.
" Sampai kapan Kalian berdua mau diam kaya gini sama aku, salah aku apa sih sampai kayak gini banget? Mia gampang banget prasangka buruk kayak gitu" Erlina terus bergumam dalam hati.
" Males ah kalau mikirin masalah itu sekarang, daripada bengong gak jelas di sini, mending aku kumpul aja jawabannya, jadi bisa langsung pulang."
Erlina merapikan alat tulisnya, dan segera membawa kertas jawaban kepada guru yang sedang duduk mengisi absen, saat mengumpulkan jawaban dia menoleh pada Juni dan Mia, namun mereka berdua masih fokus mengerjakan ujian mereka.
" Erlina, apakah kamu benar mau mengumpulkan jawabannya sekarang? Apakah kamu tidak ingin memeriksanya lagi? karena waktunya masih sangat banyak!"
" Saya yakin dengan jawaban saya, tidak ada yang perlu saya periksa lagi, kalau begitu apakah saya boleh pulang?"
" Tentu saja, kamu boleh pulang duluan! karena hari ini hanya ada satu ujian saja, kalau begitu nanti jangan lupa belajar ya di rumah!" guru menjawab pertanyaan Erlina, kemudian guru tidak lupa mengingatkan Erlina untuk belajar Setibanya di rumah, karena besok masih ada ujian lagi untuk satu minggu ke depan.
" Kalau begitu terima kasih banyak๐๐ป" Erlina kemudian meninggalkan ruangan kelas, tanpa perlu menunggu Juni dan Mia untuk pulang bersama, Erlina langsung pulang sendiri, di sepanjang perjalanan Erlina masih saja tidak hentinya memikirkan Miabdan Juni.
" Apa yang harus aku lakukan lagi ya? Mia dan Juni masih saja diam, Mia kecewa karena masalah kemarin, namun kini masih belum ada kabar kenapa dia selama seminggu tidak masuk sekolah, apakah aku harus menemui mereka berdua?" Erlina merasa sangat kebingungan sambil berjalan selangkah demi selangkah menuju rumahnya.
" Aduh gelap ah...๐ฃ, aku masih belum menemukan titik terang atas masalah ini, nanti aku pikirin lagi deh kalau udah nyampe rumah" Erlina kemudian berlari menuju rumahnya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Anita dan Nanda menyambut kedatangan Erlina, karena Anita sedang hamil, jadi untuk 3 bulan kedepannya Anita mengambil cuti, dan Nanda meminta pada Anita untuk tinggal sementara di rumah Ayah, karena jika harus tinggal bersama ibunya, Nanda takutnya tidak bisa kerja pulang pergi, karena jarak rumah sakit dan rumah ibunya sangatlah jauh butuh waktu 6 jam perjalanan, namun kalau dari rumah Ayah hanya membutuhkan waktu 30 menit.
Hampir saja Erlina lupa bahwa Nanda akan tinggal bersamanya, Erlina yang awalnya merasa sedih saat datang ke rumah karena masalahnya dengan Mia dan Juni, seketika Erlina melupakan sedikit kesedihannya tersebut, karena ada Anita dan Nanda yang menemaninya di rumah, jadi tidak ada alasan bagi Erlina untuk melamun dan memikirkan masalah tersebut, senyum Erlina Saat memasuki ruangan, membuat Nanda dan istrinya merasa sangat senang karena disambut dengan hangat di rumah tersebut.
โ Ayah aku pulang," Erlina berteriak dari depan pintu rumah "oh, ada kakak sama kakak ipar nih! Wah aku jadi nggak kesepian lagi nih. Hampir aja aku lupa kalau kalian berdua mau tinggal di sini." Erlina memeluk kakaknya.
" Dasar kamu Erlina, Masa masalah kayak gini bisa lupa, tapi kamar aku sudah disiapkan?" tanya Nanda pada adiknya.
" Kok siapin kamar, bukannya kakak udah punya kamar ya? aku sama ayah nggak pernah tuh lupa ngeberesin kamar kakak, walaupun emang sih kakak jarang banget pulang menginap di sini, tapi aku ama ayah masih tetap menjaga kamar kakak " Erlina menjelaskan dengan sangat terperinci.
" Syukurlah kalau gitu, kalau gitu aku mau ke kamar dulu ya sama Anita!"
" Sini kak biar aku aja yang bawain covernya!" Erlina menawarkan bantuan.
" Terima kasih banyak adik iparku, aku sudah kangen banget sama lingkungan rumah ini" Anita teringat dengan hari pertama saat Nanda mengajaknya pergi ke rumah ini. Dia sangat merindukan tempat ini, Anita tidak pernah menyangka kalau dia akan menikah dengan Nanda, biar bagaimanapun Nanda adalah pacar pertama Anita, tapi bukan berarti Cinta Pertama, karena saat Anita menerima Nanda sebagai pacarnya, Anita masih belum mencintai Nanda, namun Seiring berjalannya waktu cinta tumbuh semakin kuat kepada Nanda, hingga Anita menemukan Cinta Pertama Dan Cinta sejatinya adalah Nanda.
" Ini dia kamarnya Kak, masih sama seperti dulu kan?" Erlina membuka kamar Nanda dan masuk terlebih dahulu.
" Wah kok kamarnya gini aja ya, enggak ada perubahan? kamu sama Ayah nggak ada inisiatif gitu merubah kamar aku?"
" Nanda๐ค๐ค๐ค๐ " Anita melirik Nanda saat dia komplain dengan Erlina.
"โบ๐๐ค๐ค๐ค Iya sayang maaf aku kan cuma bercanda sama adek aku. Iya kan dek?"
" aku paham kok Kak Nanda, Kak Anita santai aja lagi,๐ค"
" Ya udah deh aku nggak jadi komplain masalah kamar aku, Ini juga udah bersih aku udah seneng"
__ADS_1
" Habisnya Kak Nanda sih, yang dulu suruh aku sama ayah jangan mengotak-atik barang-barang untuk kamar ini siapa? jelas-jelas sebelum Kakak kuliah, Kakak bilangin Ayah sama aku, jangan pernah merubah gaya kamar aku ya yah! Kan kakak bilang gitu waktu itu"
" Masa sih aku dapet ngomong gitu? bukannya aku nggak pernah ngomong gitu ya?"
" Auk ah gelap, aku paham banget Kak Nanda memang pelupa, tapi pelupa-pelupa gitu, kalau masalah pelajaran kok bisa jenius ya? aku jadi bingung๐ค๐ค"
"๐ no comment adikku, udah sana ganti baju dulu! terus siapin makan siang buat kita berdua!" Nanda menyuruh Erlina untuk segera menyiapkan makan siang untuk mereka berdua.
" Biar aku bantu aja ya Dik!" Anita menawarkan bantuan setelah selesai membereskan bajunya ke dalam lemari.
" Nggak usah Kak Anita, dokter Nanda bilang kan, kakak gak boleh capek-capek, nanti kalau kenapa-kenapa sama Dede bayinya gimana? biar aku aja sama asisten rumah tangganya yang ngerjain semuanya."
" Aduh aku jadi malu dek! beneran nih aku nggak perlu bantu apa-apa?" Anita terlihat sedikit canggung dengan keadaan ini, biar bagaimanapun dia kan menantu di rumah ini bukannya tamu.
" Bener kata Erlina sayang, kamu harus banyak-banyak istirahat, jangan ngambil kerjaan apapun di sini, kan udah ada asisten rumah tangga yang bantuin Erlina, kalau kamu bosen kan bisa ngerjain yang lain, baca buku, nonton TV, atau main game!"
" Ya udah deh kalau gitu, aku mau istirahat dulu deh, habis pinggulnya agak sakit"
" Selamat istirahat kak Anita, nanti aku bawain susu hangat deh ke sini, tapi aku mau beli di depan dulu ya di minimarket."
" Nggak usah Dek, kakak udah beliin susu untuk anita, tapi kakak lupa bawa ke dalam, nanti kamu ambil ya di mobil kakak didalam Bagasi, soalnya belinya banyak, biar sekalian, cemilan sama biskuit ibu hamil nya juga di bawa ya!"
" Baiklah kak Nanda, mending kalian berdua istirahat aja dulu, habis perjalanan dari rumah sakit ke sini pasti lumayan capek walau jalannya gak begitu jauh, biar aku aja yang beresin semuanya, nanti kalau makan siangnya udah siap kan aku bangunin kalian, sekarang kalian istirahat aja dulu di sini, tenang saja aku bisa diandalkan kok" Erlina menjawab dengan sangat rempong sekali, dia senang melakukan ini dan itu, tapi dia hampir lupa belajar buat ujian besok di hari kedua.
Karena saking senangnya Erlina jadi bisa menikmati hari ini dengan penuh rasa suka cita, seketika semua masalahnya yang dia rasakan dari beberapa hari yang lalu terobati dengan kehadiran Anita dan Nanda, karena selama ini Erlina merasa sangat kesepian, karena dia hanya tinggal dengan ayahnya saja di rumah yang sebesar ini, ini merupakan berkah tidak terlupakan di penghujung tahun akhir ajaran sekolah, masa-masa terakhirnya di SMA akan ditutup dengan keramaian yang penuh suka cita.
BERSAMBUNG...
__ADS_1