
Ke esokan harinya setelah kejadian kemarin, suasana menjadi semakin canggung.
Setelah pulang dari kampus dan membersihkan diri. Nadira duduk merenung di atas sofa ruang keluarga. Dia mengingat kembali perkataan manis yang di lontarkan Sagar kemarin. Dia menutupi wajahnya dengan bantal mencoba untuk mengusir pikiran itu dari otak nya.
" Walau bagaimana pun jika di pikirkan aku tetap marah. "
Nadira mengingat ketika Sagar memeluknya dengan lembut dan membelai rambutnya.
" Waktu itu dia bilang ingin mencoba menjadi suami istri yang sesungguhnya. Tapi saat di mobil, ternyata yang dia inginkan hanya tubuhku bukan hatiku. "
Nadira mengingat lagi saat Sagar memegang pahanya. Dia semakin sedih jika mengingat hal itu.
" Pada akhirnya kata kata itu tidak tulus. " Kata Nadira sedih.
Nadira kembali duduk dan menepuk kedua pipinya bersamaan.
" Sadarlah Nadira, yang terpenting saat ini bukan tentang perasaan mu dan juga soal ketulusan nya. Tapi yang terpenting saat ini adalah kesehatan suamimu. Iya, jangan ter ombang ambing lagi. Yang terpenting adalah bukan ketulusan dia. " Kata Nadira yang mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Kliiikkk...
Suara pintu tertutup, Nadira menoleh ke arah sumber suara.
" Aku pulang. " Kata Sagar.
" Iya aku lihat. " Nadira membuka buku pelajarannya dan mencoba menghindari Sagar.
" Hari ini kamu tidak menanyakan kondisiku?"
" Sudah tau. Sudah kelihatan kok, jika kakak sehat sehat saja. "
' Apa dia masih marah gara gara kejadian kemarin? Walaupun begitu harusnya dia tidak berlebihan seperti ini kan. ' Batin Sagar yang berjalan menuju kamarnya. Dia menaruh tas nya di meja dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
" Apa yang harus aku lakukan agar dia tidak marah lagi terhadap ku. " Pikir Sagar di tengah tengah guyuran air hangat yang keluar dari atas shower.
Keesokan harinya, Sagar mencoba menyapa Nadira yang masih tetap mendiam kan nya. Kali ini Sagar tidak mau membiarkan nya dengan hanya sama sama diam. Mungkin saja dulu jika ada hal seperti ini, Sagar lebih memilih diam agar tidak menyakiti Nadira lebih dalam.
" Aku lihat ramalan cuaca hari ini semakin dingin, pakai lah baju yang lebih hangat. " Kata Sagar saat melihat Nadira mau keluar rumah.
" Lebih baik kakak yang pakai baju hangat. Karena kakak selalu memakai jaz setiap hari." Kata Nadira dingin.
' Tidak ada bedanya dengan dulu. Tapi..' Batin Sagar.
" Aku pergi dulu. " Pamit Nadira.
' Satu hal yang berbeda, dia sekarang berpamitan dan tidak takut lagi kepadaku. ' Sagar tersenyum melihat kepergian Nadira. Itu adalah hal yang paling di tunggu oleh Sagar, ketika melihat Nadira menatapnya tanpa rasa takut.
****
" Aku pulang.. " Sapa Sagar kepada Nadira yang duduk manis melihat acara TV.
" Iya aku tau kok. " Nadira memindah chanel TV berulang kali karena ia rasa tidak ada kegiatan sama sekali.
" Ini untukmu. " Sagar memberikan paper bag berwarna coklat kepada Nadira.
" Apa ini? " Nadira mengambil paper bag itu dan membuka isinya. Di dalamnya ada sekotak kado yang terbungkus begitu rapih. Nadira mengambil dan membukanya.
__ADS_1
" Kakak memungut dari mana ini saat pulang. " Nadira masih terus membuka bungkus kado itu.
" Tidak. " Sagar duduk di sebelah Nadira.
' wahhh cantik sekali. ' Batin Nadira saat melihat orgel berbalut kaca itu.
" Perusahaan membuat orgel untuk hadiah Natal nanti. "
" Kalian membuat orgel juga. " Nadira masih memandangi orgel itu.
" Iya, kami membuatnya untuk hadiah Natal."
' lagi lagi aku di buat nya berdebar. Aku pikir dia membelinya untukku. ' Batin Nadira.
" Jadi kakak membawa contoh untuk souvenir yang di berikan saat Natal nanti. "
" Bukan. " Sagar mengambil orgel dari tangan Nadira. Kemudian dia memencet tombol di bawah orgel itu.
" Lagunya yang berbeda dari souvenir Natal. Aku memesan ini khusus untukmu. "
Nadira tidak menyangka Sagar bisa melakukan hal itu.
" Wahhh,, lagu ini... "
~ I just wanna live in this moment forever
'Cause I'm afraid that living couldn't get any better
Started giving up on the word "forever"
You're my angel
Angel baby, angel
You're my angel, baby
Baby, you're my angel
Angel baby ~
' Ini kan lagu yang sering kakak nyanyikan bersama ibu kan? ' Batin Nadira dan menaruh orgel itu di atas meja dan menatapnya dengan senyuman hangat.
" Apa kamu menyukainya?"
" Iya, terimakasih. " Nadira tersenyum senang.
' Jika melihatnya sebahagia ini, harusnya aku memberikan dia hadiah lebih banyak hal. ' Batin Sagar. Dia kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dan menggalkan Nadira sendirian.
' Hari hari yang terhapus saat aku menghapus perasaanku. ' Nadira mengingat saat ia turun dari mobil dengan paksa saat ia terluka.
' Hari hari di mana aku mengabaikan mu. ' Dia juga mengingat kembali kejadian di perapian rumah Mertuanya, yang saat itu dia lebih memilih lari meninggalkan Sagar.
' Seperti ini. ' Nadira menggenggam orgel di atas meja.
' Aku akan menggengnggamnya. Sekarang aku akan mengubah banyak hal, agar kamu menjadi lebih bahagia. ' Nadira memejam kan matanya dan tersenyum.
__ADS_1
Sagar berdiri menatap Nadira yang tidak pindah dari tempatnya.
" Kamu masih di situ. " Tanya Sagar heran.
" Iya, aku masih di sini. Aku ini adalah orgel atau orgelnya yang jadi aku. "
Nadira sudah mendengarkan lagu itu selama dua jam.
" Sudah cukup. " Sagar duduk di sofa dekat Nadira.
" Sepertinya aku sudah menjadi satu dengan orgel ini. Aku senang sekali. Kok bisa ada ya suara se cantik ini di dunia ini. " Kata Nadira terkagum kagum.
" Kamu lebih cantik di dunia ini. "
" Apa? " Nadira langsung berbalik ke arah Sagar yang membuat Sagar kaget bukan kepalang.
" Itu... Katakan dengan jelas. " Nadira menatap Sagar dengan lekat.
" Apanya? "
" Suaraku yang cantik atau aku yang cantik?"
" Dua duanya cantik. "
" BUKAN! Katakan dengan jelas. Aku atau suarakusuaraku. "
' Apa aku tidak bisa memilih dua duanya ya? Aku harus memilih di antara keduanya? ' Pikir Sagar.
" Kamu yang cantik. Karena kamu cantik suaramu juga sangat cantik. "
Nadira kelihatan murung mendengar jawaban dari Sagar.
' Bukan begitu ya. ' Batin Sagar.
" Yang mana yang duluan? Aku atau suaraku? " Desak Nadira.
" Kamu.... Kamu yang paling cantik. " Sagar mengatakannya dengan malu malu. Nadira menahan tawanya.
" Satu lagi. "
" Apa? "
" Tanganku yang cantik.. Apa aku yang cantik? "
" Kamu yang paling cantik di dunia ini. " Wajah Sagar merona merah setelah mengatakan hal itu, dia langsung membuang muka agar tidak terlihat oleh Nadira.
" Sudah pergi tidur sana. "
" Hahahahahaha, kalau begitu aku bisa tidur sekarang. " Nadira tertawa senang membawa serta orgel di tangan nya.
" Tunggu. " Sagar menahan tangan Nadira.
" iya. " Nadira menoleh ke arah Sagar dengan tanda tanya.
" Mau tidur bareng dengan ku? "
__ADS_1
Bersambung....