
" Tapi sekarang aku merasa sudah banyak berubah. Untuk kedepan nya pun aku akan selalu merubahnya menjadi lebih baik. Karena kamu berusaha dengan keras untuk merubahku. " Sagar memegang pipi Nadira dengan lembut, hingga membuat Nadira tidak bisa berkutik sama sekali.
" Entah mengapa jika aku mengingatmu kepalaku terasa sangat sakit sekali. Semua yang ada pada dirimu itu sangat lengkap. "
Sagar mengingat kejadian demi kejadian saat ia lewati bersama Nadira. Ketika Nadira sedang mengomel, saat kakinya terluka demi dia dan mengingat saat Nadira di perlakukan buruk oleh orang lain.
" Rasanya lucu, menakutkan dan sesak di dada ini. Tapi perasaan bahagia tanpa henti saat bersama mu. " Sagar tersenyum penuh kasih sayang.
" Aku sendiri tidak tau, karena sebelumnya aku tidak pernah merasa kan perasaan ini kepada orang lain. Jika memang ini adalah perasaan suka atau sayang. Maka, aku menyukaimu sejak lama. Sejak pertama aku melihatmu. Perasaanku kepadamu hanya ini saja. Hanya satu. Tidak ada yang lain. "
Sagat mengecup kening Nadira.
" Jika memang itu benar? Sejak awal tidak ada yang lain? " Tanya Nadira memastikan.
" Benar, tidak ada yang lain. Kamu yang pertama di dalam hati dan hidup ku. "
" Itu tidak mungkin! "
" Kenapa tidak mungkin? " Tanya Sagar bingung.
" Kalau memang pertama, itu.... " Nadira tidak melanjutkan kata katanya. Dia mengingat hal hal yang telah di lakukan Sagar kepadanya, mulai dari mencium nya, berpelukan dan saat berkencan.
' Ciuman itu adalah hal pertama untukku juga. Tapi jika memang aku yang pertama. Kenapa saat itu rasanya seperti bukan yang pertama baginya. Dia melakukan nya seperti sudah berpengalaman. ' Nadira memegangi bibirnya tanpa sadar.
" Ah ya, aku sudah faham maksut kakak sekarang. Aku mengerti perasaan kakak. "
Sagar menatap Nadira dengan tatapan bingung. Karena ia kira Nadira akan bahagia tapi ternyata tanggapan nya hanya biasa saja.
" Terimakasih. " Nadira memeluk Sagar.
" Ennggg.. Selama ini kakak kan sering salah bicara. Setidaknya mulai sekarang cobalah untuk berbicara yang lebih manis lagi. " Nadira melonggarkan pelukan nya.
__ADS_1
" Mungkin lama kelamaan aku akan bisa menerima perasaan kakak. " Nadira tersenyum menatap Sagar.
" A-paa?! " Sagar terkejut mendengar jawaban Nadira.
' Lama kelama an? Kapan itu? ' Batin Sagar.
" Baik lah aku akan berkata manis setiap hari, jangan kan sekali beribu kali akan aku lakukan untuk mu. " Kata Sagar.
" Iya, baiklah. " Tanggapan santai dari Nadira.
" Tapi kamu harus menerimaku dulu, jika ingi mendengar kata kata manis dariku. "
" Bagaimana bisa? Ini kan pilihan pertama dan terakhir dalam hidupku. Aku harus memikirkan semuanya dengan cermat. Jika tidak aku pasti akan menyesalinya di kemudian hari. "
' Hei harus nya hal lain yang perlu kamu pikirkan dengan cermat. ' Batin Sagar.
" Lagian kita kan sudah menikah. Aku tidak mungkin juga memandang pria lain dalam hidup ku. " Nadira berdiri dan pergi meninggal kan Sagar.
" Maka dari itu, katakan kata kata manis setiap hari ya. Seperti kakak mengutarakan perasaan kakak hari ini. " Nadira menatap Sagar dengan tersenyum. Kemudian ia mengambil tanaman yang tadi di beli Sagar dan menatanya lagi supaya enak di lihat.
' Hei Sagar Mahendra, itu bukan hanya perasaanmu saja yang sedang bergejolak. Tapi aku sama sepertimu. Aku juga ingin menyampaikan perasaanku kepadamu. Karena itu.... tolong bersabarlah sampai aku siap. Siap menjadi suami istri yang sesungguhnya. Siap memanggilmu dengan kata lain selain kata kakak. Dan aku tidak lagi memandangmu sebagai senior ku dulu.
****
Ke esokan harinya, Nadira berjanjian untuk keluar bersama Alesa. Rencana nya Alesa mau menjemput Nadira di tempat parkir apartemen.
Setelah Sagar berangkat bekerja, Nadira turun kebawah dan menemui Alesa yang sudah menunggunya. Nadira melihat sekeliling mencari keberadaan Alesa, hingga matanya menangkap seorang yang mengenakan hodie hijau bertopi hitam dan memakai kacamata dan masker, dia melambaikan tangan nya kepada Nadira.
' Mungkin itu Alesa. ' Nadira berjalan mendekati nya.
" Masuk. " Alesa masuk ke dalam mobil lebih dulu dan di susul dengan Nadira.
__ADS_1
Di dalam mobil Alesa langsung melepas kacamata, masker topi dan juga hodie nya.
" Apa semalam Sagar marah besar? " Tanya Alesa dengan kesibukan nya.
" Tidak. " Nadira menatap ke arah Alesa.
" Dia tidak banyak membicarakan kakak semalam. "
" Hahahaha, lucu sekali. " Alesa tertawa dengan memegangi setir bundar nya.
" Semalam Sagar menelfon ku. Dan dia bilang aku di suruh minta maaf kepada mu. " Alesa menatap Nadira serius.
" Aku tidak apa apa kok. Aku nya saja yang bodoh dengan mudah percaya begitu saja. Lagian saat ini aku juga tengah intropeksi diri. "
" Jadi beneran nih, aku tidak perlu minta maaf? Kalau kamu bilang tidak usah aku tidak akan melakukan nya. " Kata Alesa serius. Nadira hanya diam saja dan suasana menjadi hening.
" Sebentar lagi aku tidak ada di sini. Karena aku akan kembali ke luar negeri lagi. Jadi mumpung aku masih ada di sini, sebaiknya kamu meminta ku untuk minta maaf kepada mu sekarang juga. " Kata Alesa dengan menaruh kedua tangan nya di dada.
' Entah mengapa, setelah mendengar tentang cerita masa lalumu sekarang aku tidak lagi membencimu. Mungkin yang seharusnya minta maaf adalah aku, karena di masa depan lain, kamu menangis dengan sedih meratapi kepergian Sagar. Karena hanya melihat itu pun, aku jadi tau betapa sangat pentingnya Sagar untuk mu. "
Nadira mengingat saat Sagar di semayam kan di rumah duka Hevan. Alesa menangis sejadi jadinya seperti anak kecil. Bahkan mungkin rasa sedih dan kehilangan nya lebih berat dari pada perasaan Nadira saat itu.
' Mungkin saja, saat itu rasa suka mu terhadap Sagar lebih besar dari ku. Itu sebabnya dia menangis seperti itu. Bahkan berbeda dengan aku yang dengan mudah menyerah atas dirinya. Untuk itu aku minta maaf kepadamu. ' Nadira hanya bisa mengungkap kan isi hatinya di dalam hati, dia menatap Alesa dengan sedih.
' Karena ulahku, aku membuat orang yang penting bagimu pergi dengan cara seperti itu. ' Batin Nadira.
" Aku hanya ingin, saat kita bertemu lagi di kemudian hari kita bisa bertemu secara santai seperti teman. Aku berharap seperti itu. Aku bahkan tidak tau kamu akan pergi menetap di mana. Tapi aku selalu berdoa semoga kamu selalu sehat dan baik baik saja. " Nadira tersenyum ke arah Alesa.
" Rupanya kamu sudah mendengar semua ceritaku di masa lalu? " Kata Alesa tajam.
" Bagaimana Sagar menceritakan nya kepadamu? Apa dia mengatakan jika saat itu aku sangat menyedihkan? Karena saat itu aku kehilangan saudara kembaranku. Apa aku terlihat sangat malang? " Alesa menatap Nadira dengan tatapan tajam dan seperti kurang suka kepada Nadira.
__ADS_1
Bersambung....