
' Jadi, kalau aku mau? ' Nadira menggeleng gelengkan kepalanya.
' Tidak! Aku tidak boleh begini! Kenapa aku bisa berfikiran kotor seperti ini. Jika aku seperti ini aku akan jatuh kedalam dilema. ' Batin Nadira.
" Tapi, sebagai gantinya aku melakukan ini. " Sagar mencium lembut bibir Nadira. Nadira hanya bisa terdiam memaku dan wajahnya memerah karena malu.
" Maaf, untuk ini tolong izinkan aku ya. Aku melakukan ini karena kamu benar benar cantik. "
Nadira menutup mukanya karena sangat malu kepada Sagar.
' Ah, ternyata dia mengingat semuanya. Mengingat semua perkataanku. Dan hari ini dia melakukan nya. '
" Cepat ganti baju! " Sagar membelai rambut Nadira dengan tersenyum. Setelah itu dia keluar dari kamar dan menutup pintu.
Nadira masih diam di tempat membayangkan ucapan Sagar barusan.
"Aku melakukan ini karena kamu benar benar cantik. " Kata kata Sagar masih mengiang di telinganya. Nadira menyentuh bibirnya dengan perasaan yang tidak menentu. Pipinya merona merah dan jantungnya berdegup dengan kencang.
***
Sagar dan Nadira berjalan menuju alun alun kota Izu di mana tempat itu adalah jantung kota ini. Tempatnya sangat indah dan juga ramai di datangi orang dari berbagai tempat. Banyak turis dari manca Negara yang juga datang ke tempat ini. Karena selain indah di sini banyak tempat peninggalan sejarah jaman kuno.
" Wahh Ramai sekali. " Kata Nadira Sangat senang. Matanya tidak ada hentinya memandang kesana kemari.
" Kakak lihat itu! " Nadira menunjuk biang lala raksasa yang menjulang tinggi.
" Kakak pernah naik biang lala? " Tanya Nadira.
" Iya, pernah. "
" Aku belom pernah naik sama sekali."
" Kamu mau naik? "
" Iya. " Jawab Nadira begitu antusias.
Sagar menggandeng tangan Nadira menuju biang lala itu.
" Waahh! Ini adalah pertama kalinya untukku. " Kata Nadira senang.
' Lagi lagi, ini adalah hal pertama yang di lakukan dia. ' Sagar memandang wajah Nadira yang sangat gembira seperti anak kecil yang baru saja melihat taman bermain.
' Aku ingin membuat hari ini adalah hari terindah untuknya, aku ingin membuat kenangan indah bersamanya. Tapi, aku juga harus berhati hati. Karena setiap aku melakukan sesuatu selalu berakhir tidak baik. ' Batin Sagar.
Petugas membukakan pintu untuk mereka berdua.
" Hati hati. " Kata Sagar menuntun Nadira agar tidak terjatuh.
Biang lala segera di jalankan
" Woah, ini tinggi sekali. "
__ADS_1
" Sini pegangan. Biar tidak jatuh. " Sagar meraih tangan Nadira.
" Akhh, kenapa ini? " Teriak Nadira. Saat biang lala berhenti di seperempat ketinggian.
" Pfftt! " Sagar menahan tawanya melihat wajah Nadira yang panik.
" Ini sudah biasa, kita akan di hentikan untuk menikmati pemandangan sejenak. " Jelas Sagar.
" Ah, seperti itu. " Nadira melihat ke arah bawah yang membuatnya bergidik ngeri.
" Jagan melihat ke bawah. Coba lihat ke arah sana. " Sagar menunjuk ke arah bawah pegunungan, dimana terdapat banyak lampu lampu yang menyala dari tempat tinggal warga. Lampu itu terlihat kecil seperti gemerlapan bintang yang berada di bawah.
" Wahh cantik sekali. Tapi.. "
" Kenapa? "
" Ini adalah pertama kalinya untukku, pasti kedua orang tuaku juga belum pernah merasakan kebahagiaan seperti ini. Kemarin aku naik pesawat karena ada penelitian di sini. Sedangkan orang tuaku dia sama sekali belum pernah. Aku jadi merasa sedih, karena aku merasa bersenang senang sendiri sedangkan mereka tidak. " Kata Nadira sedih.
' Dia selalu saja memikirkan orang lain. ' Batin Sagar.
" Apa kamu mau mengajak orang tuamu jalan jalan berwisata seperti ini? Aku akan menyiapkan segalanya. "
" Tidak! Itu tidak perlu. Aku akan mengumpulkan uang, dan mengajak mereka pergi. "
" Apa bedanya uangku dengan uangmu? Itu sama saja bukan? "
" Itu beda! Mereka tidak akan menganggap seperti itu. Mereka akan lebih senang jika memakai uang dari hasil keringatku. Maaf ya kak, meskipun aku dekat dan baik dengan ayah dan ibu mertua, tapi mereka akan lebih bahagia jika yang melakukan hal itu adalah kakak. Karena walaupun begitu orang tua selalu merindukan anaknya. Itu lah hati orang tua. "
" Iya, aku akan melakukan nya. " Kata Sagar penuh kelembutan.
Mereka kembali menikmati keindahan gemerlapan malam hari ini dari atas biang lalal sebelum akhirnya mereka turun.
"Menyenangkan sekali ya. " Kata Nadira saat turun dari biang lala.
" Apa mau naik wahana lainya? " Tanya Sagar.
" Boleh. " Jawab Nadira.
Mereka kembali berjalan di tengah keramaian mencari wahana apa yang di inginkan Nadira.
Kriinggg! Kriinnngg!
" Sepertinya ada telfon kak. Coba di anggat dulu siapa tau penting. "
Sagar mengambil ponselnya di kantongnya. Dia melihat ke arah layar ponselnya.
" Ayah. "
" Angkat saja. Saatnya kakak berbakti kepada orang tua. " Kata Nadira menyemangati.
" Halo. " Kata Sagar.
__ADS_1
" Sagar, kamu ada di mana saat ini? "
" Aku ada di kota Izu bersama Nadira. "
" Apa kamu sedang berkencan dengan dia? "
" Iya aku sedang berkencan. Apa ayah menelfonku hanya untuk menanyakan hal ini? "
" Tentu saja tidak! Aku menelfonmu karena ada masalah dengan perusahaan Xander. Dia membatalkan kontrak kerja dengan perusahaan kita. "
' Perusahaan Xander? Sejak awal dia ingin bergabung, dia seperti menyulitkan dan sangat susah di atur. Sekarang dia tiba tiba membatalkan kontrak dengan kami. ' Batin Sagar.
" Nadira, sebentar ya. Aku bicara dengan ayah dulu. " Pamit Sagar menjauh. Nadira mengacungkan jempolnya tanda dia setuju.
' Untung saja tadi aku menyuruhnya mengangkat telfon, itu pasti ada hal yang penting.' Batin Nadira.
" Gimana ayah? " Lanjut Sagar.
" Dia bergabung dengan perusahaan lain. "
" Jadi sekarang dia lebih memilih berkhianat dengan kita. " Jawab Sagar dingin.
Nadira menunggu Sagar selesai menelfon dengan melihat orang yang jalan berlalu lalang. Mata Nadira terbelalak ketika melihat seseorang yang beberapa minggu terakhir datang ke dalam kehidupan nya. Nadira mengejar orang itu, dia tiba tiba hilang di tengah keramaian orang. Nadira melihat ke sekeliling tapi dia tidak ada.
' Apa aku salah melihat? ' Batin Nadira dengan berjalan mundur.
Bruggghh!
" Ah maaf. " Kata Nadira saat ia menabrak seseorang. Nadira melihat ke orang yang ia tabrak.
" Kamu! Iya tidak salah lagi! Kamu kenal aku kan?!" Tanya Nadira kepada pria yang dua kali ia temui di rooftop dan menyelamatkan nya di butik. Pria itu memandang ke arah Nadira tanpa ekspresi.
" Tolong jawab! Kamu mengenalku ? " Tanya Nadira.
" Oh, hai. kita ketemu lagi. " Kata pria itu dengan tersenyum.
" Kok bisa ya kita bertemu lagi di sini? "
" mungkin ini adalah takdir. " Jawab pria itu
" Aku ini bertanya serius tidak bercanda. "
" Aku juga seperti itu. aku berfikir apakah ini takdir untuk kita yang selalu bertemu di suatu tempat. "
' Apa sih? dia pasti menggodaku. ' Batin Nadira.
" Jangan seperti itu! aku sudah punya suami."
" Memangnya kenapa? aku tidak masalah. " Kata pria itu dengan percaya diri.
Bersambung...
__ADS_1