
Malam ini adalah malam terakhir Nadira melakukan perjalanan akademi nya. Sagar baru saja kembali dari tempat loundry untuk mengambil bajunya. Dia melihat teman seangkatan Nadira chekout membawa koper masing masing. Sagar melihat ke segala arah tapi belum juga menemukan kehadiran Nadira.
' Lebih baik aku tunggu di sini saja. Mungkin sebentar lagi dia akan keluar. Lagian teman temanya masih banyak yang ada di sini. Dia pasti malu, jika ada yang melihatnya bersamaku. ' Batin Sagar.
" Hallo tuan Sagar. " Kita bertemu lagi sapa Hamid. Sagar memalingkan wajahnya menghadap Hamid.
" Maaf ya, atas sikap saya yang kurang sopan minggu lalu. " Kata Hamid.
' Ah sadar juga. ' Batin Sagar.
" Tidak apa apa. "
" Saya bersikap seperti itu, karena menyayangkan saja. Orang sepintar Nadira tidak bisa ikut dalam penelitian akademi ini. Hanya karena masalah keluarga. Saya sebagai teman sangat menyayangkan hal itu. "
' Apa sih, sok akrab sekali. ' Batin Sagar.
" Iya saya mengerti. "
" Terimakasih, anda sudah mau mengerti Nadira. "
' Terimaksaih? Mengerti? Maksutnya ini orang apa ya? Seolah Nadira itu berarti untuk nya. Dan aku ini orang lain. ' Batin Sagar kesal.
" Kenapa saya harus mendengar ucapan terimakasih darimu? Nadira adalah istri saya. Dan anda hanya rekan kerja sekaligus rekan sekolahnya saja. " Hamid tidak bisa berkata mendengar ucapan Sagar.
' Aku harap sikap lancangmu samapai di sini saja. ' Batin Sagar.
" Loh, kalian sedang apa di sini. " Kata Nadira yang baru saja keluar dari dalam lift sendirian tanpa membawa koper.
" Gimana? Apa sudah selesai semuanya sayang? " Tanya Sagar lembut kepada Nadira.
" Ah iya, aku sudah berpamitan kepada teman dan para Profesor semua. Semua berjalan lancar. " Kata Nadira tersenyum akrab dan hangat kepada Sagar.
" Baiklah, kerja bagus. " Puji Sagar
" Kami permisi dulu. " Sagar memegang tangan Nadira dengan mesra. Hamid hanya bisa bengong melihat kepergian Nadira dan Sagar menuju lift.
" Kita ambil barang barangmu di kamarmu ya. " Kata Sagar saat di dalam lift.
" Kakak jangan dekat dekat denganku seperti ini. Aku memakai jaz almamater ini selama tiga hari. "
' Di balik kepintaranya ternyata dia tetap bodoh ya. Kenapa tidak di laundry saja kan bisa di tunggu. ' Batin Sagar.
" Memangnya kenapa? "
" Ini pasti bau sekali kak. "
__ADS_1
" Tidak, kamu masih tetap wangi kok. "
' Apa sih? ' Batin Nadira tersipu.
Ting!
Lift terbuka. Sagar dan Nadira keluar ber iringan menuju kamar Nadira.
' Aduh, kenapa jadi deg degan seperti ini. Ini adalah pertama kalinya aku berduaan dengan dia di dalam kamar hotel seperti ini. ' Batin Nadira. Dia mengambil koper yang sudah di persiapkan nya dan kembali keluar menuju kamar Sagar.
****
Sagar meletakkan kantong baju yang ia ambil dari tempat laundry di atas tempat tidur. Nadira mengekor masuk ke kamar Sagar.
' Dulu, setelah kami menikah, kami tidak pergi bulan madu karena aku beralasan merayakan kelulusanku dan berencana masuk kuliah lagi. Karena pernikahan kami saat itu tidak di dasari rasa cinta sama sekali. Bahkan setelah itu aku tidak mungkin mengajaknya pergi bulan madu. Itu sebabnya sekarang aku merasa aneh. Merasa ini seperti sedang bulan madu.' Nadira tersipu malu.
' Aduh! Aku ini mikir apa? ' Batin Nadira.
" Aku pergi mandi dulu, aku tadi membelikanmu pakaian ganti. " Kata Sagar masuk ke kamar mandi.
" Di mana pakaian itu? " Teriak Nadira.
" Di kantong kertas. " Jawab Sagar dari dalam kamar mandi.
' Anggap saja ini di dalam apartemen rumah, yang punya wilayah masing masing. ' Nadira mengancingkan baju itu satu persatu.
' Tunggu! Kenapa baju ini sangat pendek sekali. ' Nadira melihat baju yang ia kenakan saat ini.
" Aaaaaarrrrgggghhhhh..! " Teriak Nadira yang baru menyadari ia memakai kemeja putih milik Sagar.
" Ada apa? Kenapa?" Sagar keluar dari kamar mandi dengan panik, untungnya dia sudah memakai baju ganti.
" Kenapa keluar sih?! " Teriak Nadira menutupi pahanya dengan malu. Sagar melihat kantong yang ada di meja masih seperti semula, dan Nadira malah mengambil baju yang ada di kantong atas kasur, baju Sagar yang tadi habis di ambil dari tempat laundry.
' ah iya, aku tidak bilang bajunya di kantong yang ada di atas meja. Bukan yang di atas kasur. ' Batin Sagar menutup mukanya dengan menahan tawa.
" Apa?! Baru pertama kalinya melihat orang melakukan kesalahan ya?"
Nadira naik ke tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
" Bukan begitu "
" Iya iya maaf, aku salah ambil baju. " Suar Nadira mengecil terhalang selimut yang menutupinya.
" Tidak! Pakai saja baju itu. Baju itu lebih cocok kamu pakai daripada aku yang memakainya. " Goda Sagar di luar selimut.
__ADS_1
" Kalau kakak meledekku seperti ini terus aku tidak akan bangun dan tidak akan pergi ke mana mana. "
" Tidak apa apa. Tidak usah pergi. Di sini saja terus. Tapi, apa kamu tau? " Sagar menghentikan ucapan nya.
" Apa? " Nadira membuka selimut sedikit.
" Kamu meminta beberapa waktu untuk menyesuaikan diri kepadaku apa kamu ingat? "
Nadira bangun dari tiduaranya dan mengingat kembali apa maksut yang di katakan Sagar.
' Astaga! Kenapa dia bisa mengingat hal itu?' Batin Nadira.
Dia pernah meminta kepada Sagar untuk memberinya waktu untuk menyesuaikan diri dengan Sagar. Baik untuk menyentuh atau berdekatan dan juga menerima Sagar seutuh nya. Kali ini Nadira benar benar gugup. Ia tidak tau apa lagi yang akan di perbuat oleh Sagar.
" Tidak usah pergi, se seru apa pun bermain di luar, pasti akan lebih seru jika bermain dengan mu di sini. " Kata Sagar menggoda.
' Apa dia benar benar suamiku? Oh tidak! Mungkin saja umurku sudah dewasa. Tapi, otakku dan hatiku masih seperti anak SD. Tidak! Dia tidak boleh begini. ' Batin Nadira gugup dan malu pikiran nya sudah berkeliaran ke mana mana.
" Aaakkhhhhh! Tidakkkkk! " Nadira menutupi dirinya dengan selimut. Sagar melihatnya yang seperti itu menjadi heran.
" Tolong! Selamatkan aku!"
" Memangnya aku mau ngapain? Mau membunuhmu? " Sagar tersenyum melihat sikap Nadira yang lucu. Dia membuka selimut yang menutupi Nadira dengan lembut. Dan membelai lembut pipi Nadira.
" Iya, aku pasti akan menyelamatkan mu. " Kata Sagar lembut. Nadira membuka matanya yang tadinya iya pejamkan.
' Kenapa kakak sekarang jadi selembut dan sebaik ini kepadaku?' Batin Nadira.
" Kamu tidak ingin memeriksa kesehatan ku?"
' Padahal dulu dia tidak pernah seperti ini. ' Batin Nadira sedih.
" Kenapa? Apa yang salah? Kenapa kamu tiba tiba menangis seperti ini? "
Nadira mengusap air matanya yang barusan turun di pipinya.
" Kamu ini kenapa? Apa aku tidak boleh bercanda sedikit? "
" Bercanda? " Mood Nadira mulai berubah.
" Bukan. Bukan bercanda. Aku akan melakukan segalanya jika kamu mengizinkan. Jika tidak aku juga tidak akan melakukan nya. "
' Jadi, kalau aku mau? '
Bersambung......
__ADS_1