End Happy Wedding

End Happy Wedding
Bab 57


__ADS_3

" Nadira, aku tidak apa-apa kok. " Kata Sagar yang melihat wajah Nadira penuh kekhawatiran. Nadira masih diam dan tenggelam di dalam pikiran nya. Air matanya tiba-tiba mengalir tanpa di undang.


" Aku benar baik-baik saja. " Kata Sagar dengan merentangkan kedua tangan nya. Nadira langsung memeluk Sagar.


' Kamu tidak sedang baik-baik saja. Ini adalah peringatan untukku dari dunia ini. " Nadira menangis di pelukan Sagar, dia teringat kembali tubuh Sagar yang tergeletak di aspal penuh dengan darah. Tubuh yang tidak bergerak sama sekali.


' Peringatan untukku yang mau merubah masa depan. Bagaimana pun aku berusaha mengubahnya tetap saja aku tidak bisa merubah semuanya. ' Batin Nadira sedih.


Suasana di kantin menjadi ramai, semua berbisik dan ada yang bicara keras.


" Lihat itu! Ada yang terluka. "


" Sepertinya dia terkena luka bakar karena ketumpahan makanan. "


" Sup iga kan di sajikan dalam keadaan mendidih, itu pasti sangat panas. "


Suasana menjadi heboh. Nadira langsung menyeret Sagar keluar dari kantin.


" Kita mau kemana? "


" Kita harus ke rumah sakit untuk mengobati luka bakarmu. "


" Hei, aku benar-benar tidak apa-apa. " Kata Sagar. Padahal sudah terlihat jelas tangan Sagar memerah karena luka bakar itu.


Ketika mereka keluar dari gedung kampus, Pria yang pernah di temui Nadira secara misterius sedang melihat mereka berdua.


" Sudah aku bilang untuk selalu berjaga-jaga." Gumam pria itu sambil memandang ke arah Nadira yang terlihat panik.


" Merubah masa depan tidak semudah itu. " Kata pria itu.


****


" Tuh kan, aku tidak terluka parah. " Kata Sagar setelah di pindahkan di kamar rawat. Tangan nya baru saja selesai di obati dan di balut perban.


" Dan lihat cincin ini masih melingkar di jari manisku. Itu tandanya tanganku tidak apa-apa. " Sagar tersenyum mencoba menghibur Nadira yang masih bersedih.


" Itu pasti sakit sekali ya? "


' Aku bodoh sekali! Harusnya tadi aku bilang saja dengan tegas untuk mengambil makanan nya. Lebih baik aku yang menggantikan nya terluka seperti ini. ' Batin Nadira penuh penyesalan.


" Nadira! " Sagar mengangkat dagu Nadira.

__ADS_1


" Kamu sedang berfikir yang aneh-aneh lagi ya? Semua terlihat dan terbaca. Aku benar-benar tidak apa-apa. Ini tidak terlalu sakit kok. " Kata Sagar memastikan.


" Iya. " Jawab Nadira singkat.


Tok! Tok! Tok!


Nadira menoleh ke arah pintu.


" Siapa? " Tanya Sagar.


" Aku juga tidak tau, mungkin perawat. " Kata Nadira. Dia berjalan membukakan pintu.


" Untuk apa anda datang kemari?! " Kata Nadira yang masih marah kepada pria yang menabrak Sagar.


" Aku datang langsung dan ingin meminta maaf Bu, apa suami ibu baik-baik saja? " Tanya Mahasiswa itu dengan perasaan bersalah. Dia menenteng membawa satu buket buah-buahan untuk buah tangan.


" Suamiku terluka, gara-gara kecerobohan mu. "


" Iya bu, saya sangat menyesal. Untuk itu saya minta maaf. Biar biaya rumah sakit saya yang akan menanggungnya. "


" Itu tidak perlu! Lain kali bersikaplah yang baik, agar tidak melukai orang lain. "


" Iya bu, sekali lagi maafkan saya. "


" Ini ada sedikit buah-buahan untuk suami ibu. Tolong jangan di tolak kali ini. " Pria itu menyodorkan buket buah kepada Nadira. Ia terpaksa mengambil buket itu karena tidak ingin mengecewakan si pembawa.


" Terimakasih. " Kata pria itu setelah buahnya di ambil alih Nadira.


" Saya permisi dulu. Semoga lekas sembuh ya suaminya ibu. "


Nadira menjawabnya hanya dengan anggukan. Nadira kembali ke dalam dan menaruh buah itu di meja.


" Siapa? " Tanya Sagar.


" Mahasiswa yang tadi menabrak kakak. "


" Kenapa tidak di suruh masuk? "


" Dia datang cuma untuk meminta maaf dan menanyakan kondisi kakak. Setelah itu dia berpamitan. "


" Kamu pasti memarahinya? "

__ADS_1


" Tidak! Aku hanya bilang apa yang seharusnya aku ucapkan. "


" Iya aku tau, sudah itu juga kesalahanku kok. "


Tok! Tok! Tok!


" Siapa lagi sih? " Tanya Sagar.


" Aku sendiri tidak tau kak, bahkan aku tidak memberi tau siapa pun jika kakak berada di rumah sakit. " Kata Nadira heran.


Nadira bangkit dari duduknya dan membukakan pintu.


" Hallo selamat siang Nadira. "


" Iya, ada apa kakak kemari? "


" Aku ingin menjenguk suami mu. Apa dia baik-baik saja? " Tanya Senior Nadira.


' Di lihat dari suasananya sepertinya tuan Sagar baik-baik saja. Lumayan, aku datang kemari sekalian bisa berkenalan secara langsung dengan dia. Siapa tau dia bisa membantuku dalam promosi jabatan. ' Pikir senior Nadira licik.


" Kakak pikir ini di mana? " Tanya Nadira tidak senang.


" Kalau aku pikir-pikir selama ini kakak sering sekali ingin bertemu dengan suamiku kan?dengan adanya kecelakaan ini kakak memanfaatkan nya dengan datang kemari! Sekalian ayo masuk biar aku kenalkan dengan suamiku! Itu kan yang ada di pikiran kakak sebenarnya? " Kata Nadira terus terang. Seniornya hanya bisa terdiam.


" Hah. Sepertinya benar ya? " Kata Nadira setelah lihat ekspresi bersalah di muka Seniornya.


" Pulang lah. Mulai sekarang tidak perlu menggangguku! Tidak perlu meminta kak Hamid untuk membantu mu mendekatiku. Jangan berada di sekitarku dan jangan menyapaku. " Nadira berkata kesal. Dengan kejadian hari ini membuat mood Nadira berubah menjadi pemarah. Dia berbalik dan ingin masuk ke dalam kamar inap.


" Nadira! A-ku maksudku bukan seperti itu. " Kata Senior Nadira hati-hati.


" Lalu? " Nadira menoleh sedikit ke arah Seniornya.


" Mulai sekarang jadilah orang yang tulus dalam bertindak. Tidak perlu mencari muka di hadapan orang lain. " Nadira masuk ke kamar dan menutup pintu nya.


' Huft! ' Nadira membuang Nafas dengan lega. Karena dia mengucapkan kata-kata itu dengan sekali Nafas dan mengumpulkan segala tekat dan keberanian.


' Harusnya dari dulu saja aku tegas seperti ini. Memang sangat merepotkan jika bertemu dengan nya di kampus. Tapi biarlah, yang terpenting sekarang adalah suamiku. Dia lebih segalanya dari pada mereka. ' Batin Nadira. Setelah berusaha setenang mungkin dia menghampiri kasur Sagar. Dia takut Sagar kembali hawatir dan bertanya-tanya tentang siapa yang barusan datang kemari. Terlihat di sana Sagar tengah tertidur pulas dengan tangan yang di balut perban di atas perutnya.


' Ah, ternyata kakak sudah tertidur. ' Nadira mengamati wajah tenang Sagar.


' Harusnya aku yang menggantikan mu terluka. ' Batin Nadira sedih.

__ADS_1


' Harusnya aku lebih perhatian kepadamu lagi. Karena akhir-akhir ini kakak berbuat baik kepadaku. Semakin hari aku mulai terbiasa dan nyaman dengan kakak. Harusnya aku lebih berhati-hati dan tidak lalai dalam menjaga kakak. Harusnya aku melaksanakan tugasku. Maaf! Maafkan aku kak! " Nadira hanya bisa berkata dalam hati, air matanya terus saja mengalir melihat wajah Sagar yang terpejam dengan tenang. Perasaan nya selalu saja di penuhi rasa bersalah. Di tambah hari ini, Sagar terluka Nadira semakin menyalahkan dirinya sendiri.


Bersambung...


__ADS_2