
" Bahkan aku pikir dia tidak bisa mendapatkan wanita dan menikah begitu mudah. Jujur saja aku ingin sekali membuat kalian bercerai demi temanku Sagar. " Alesa menarik nafas panjang dan menghembuskan nya.
" Yah, untuk masalah itu aku sudah tau dengan jelas kali ini. Jadi tidak perlu di bicarakan lagi. "
Alesa kembali menatap Nadira penuh selidik.
" Walau kamu bilang kepadaku tidak punya perasaan kepadanya. Tapi kamu tau kan lima tahun yang lalu Sagar pernah syuting ambassador? Itu jauh sih sebelum kalian menikah. Dia pernah tiba tiba marah karena terobsesi kepadamu, sikapnya yang seperti itu tentunya ada rencana kan? Aku pikir dia menikahimu karena nekat makanya dia bikin alasan se enak nya. " Kata Alesa enteng.
" Obsesi?! " Tanya Nadira kebingungan.
' Dia terobsesi sejak lima tahun yang lalu? Dan itu jauh dari pernikahan kami. ' Batin Nadira.
" Memangnya kamu tidak merasakan nya? Padahal Sagar sendiri yang bilang jika dia terobsesi. "
' Jika di ingat-ingat kembali saat itu, kakak pernah mengatakan kepadaku, tapi dia bilang apa ya? ' Pikir Nadira, yang mencoba mengingat kejadian saat syuting ambassador.
****
Sepulang bertemu dengan Alesa, Nadira pergi ke kampus untuk menyelesaikan tugasnya di laboratorium. Sebelum dia pergi ke sana, Nadira pergi ke lab komputer untuk mencari bahan yang di butuhkan dalam pekerjaan nya. Saat Nadira buru buru menggerakkan kursor mose, ia tidak segaja menjatuhkan tas nya, dan dia melihat buku harian nya keluar. Nadira mengambil buku itu, dan dia melihat kembali apa yang ia tulis dan rencanakan untuk masa depan.
" Sedikit demi sedikit, semua berbeda dengan masa depan yang dulu. Apa itu artinya aku sudah mengubah masa depan yang ada? " Nadira menatap tulisan itu dengan tersenyum.
Krriingg!!!
Nadira melihat ponselnya yang berdering.
' Ibu? ' Nadira langsung mengangkat telfon nya.
" Ya ibu? " Sapa Nadira dengan bahagia.
" Nadira, ibu nanti akan pergi ke Kepatihan. Karena besok ibu ada urusan di sana. "
' Hah ke Kepatihan se mendadak ini? ' Batin Nadira.
' Oh iya, ibu kan sudah pernah bilang jika ayah dan ibu akan datang ke Kepatihan. ' Nadira menepuk jidat nya.
' Kemarin sudah di rencanakan untuk menyuruh ayah dan ibu tinggal di rumah. Tapi saat ini rumah sedang berantakan, aku lupa tidak menyuruh bibi untuk membersihkan rumah. Ditambah lagi, aku belum membereskan keperluan ku agar tidak terlihat kami tidur terpisah selama ini. ' Batin Nadira.
" Ibu takut Sagar tidak nyaman jika kami berada di rumah kalian. Jadi hari ini kami menginap di rumah Fahri saja. "
" Ah ibu, maaf ya.. Aku sampai lupa jika ibu mau datang kemari. Karena akhir-akhir ini aku sangat sibuk sekali. Tapi janji ya besok ibu harus menginap di tempatku! Harus pokok nya! "
Nadira merasa lemas setelah mematikan telfon dari ibunya.
__ADS_1
' Aku harus cepat-cepat menyelesaikan tugas ini dan kembali pulang untuk beberes.' Batin Nadira.
Ia dengan buru buru mencari data dan setelah itu ke laboratorium untuk menyelesaikan tugasnya.
****
Meskipun dia ngebut dalam menyelesaikan tugas, nyatanya dia tetap kembali pukul tujuh malam. Dengan tubuhnya yang lelah dia melangkah kan kakinya masuk kedalam rumah.
' Aku harus cepat membereskan rumah dan bisa menyelesaikan hari ini, agar ibu besok bisa dat--'
" Nadiraaa! Anakku! " Teriak seorang wanita paruh baya, yang selama ini di rindukan oleh Nadira.
" Kakak pulang lebih awal hari ini? "
Nadira menatap ke ruang keluarga dengan perasaan tidak percaya dengan apa yang sudah dia lihat. Keluarganya ada di rumahnya bahkan Fahri juga ikut serta.
" Ayo masuk! " Sambut ibunya.
' Ini apa? ' Batin Nadira dengan bengong.
" Sagar meminta kami datang kemari terus-terusan. " Ibu Nadira menggandeng Nadira masuk.
" Sampai dia menjemput kami di terminal loh. " Kata ibu Nadira dengan perasaan yang berbunga bunga.
" Hahahaha.. Siapa yang menyiapkan semua ini? " Tanya Nadira dengan kaku karena melihat meja di ruang tamu penuh dengan makanan.
" Aku tadi manggil bibi, dan minta tolong kepadanya. " Sagar tersenyum kepada Nadira. Ibu Nadira mengambilkan semuanya nasi di piring masing masing.
" Bibi pintar masak ya. " Ibu Nadira memakan sayur yang di masak bibi.
" Masakan ibu pasti jauh lebih enak. " Puji Sagar sambil melirik Nadira.
" Aduhh, kamu ini. Bicaranya sangat manis sekali. " Kata ibu Nadira dengan senang.
" Tuh, catat di dalam hatimu! Aku barusan bicara manis. " Bisik Sagar di telinga Nadira.
" Nadira apa kamu sudah makan tadi? " Tanya ibu Nadira yang melihat putrinya hanya bengong dari tadi.
" Belom bu. "
" Kenapa tidak mengambil lauk dan sayur? Sini biar ibu ambilkan! " Ibu Nadira bangun dan hendak mengambil piring Nadira.
" Tidak perlu bu, biar Sagar yang mengambil kan untuk Nadira. Ibu duduk saja! " Cegah Sagar.
__ADS_1
Sagar mengambil piring Nadira yang sudah berisikan Nasi dan mengambil lauk pauk untuk Nadira.
" Kakak ini tidak apa apa? " Bisik Nadira.
" Kamu tenang saja. Kamar juga sudah di bersihkan kok. Ayah ibu akan tidur di kamarmu, dan kamu akan tidur di kamarku bersamaku. "
Wajah Nadira merona mendengar ucapan Sagar. Setelah selesai makan, Nadira buru buru pamit kepada semuanya.
" Aku mau pergi ganti baju dulu. " Kata Nadira berdiri dan pergi menuju kamarnya.
" Hei sayang! Kamu mau ke mana? Kamarnya ada di sana! Kenapa kamu pergi kesitu? " Kata Sagar mengingatkan.
Nadira menepuk jidatnya dan berbalik menuju kamar Sagar.
' Ah iya aku lupa, semua bajuku sudah di pindahkan ke sana. ' Nadira buru buru masuk ke kamar Sagar.
" Nadira itu wanita yang sangat cerdas dan tanggap, tapi sepertinya dia tadi melamun sehingga dia bisa salah tingkah seperti tadi. Manis sekali. " Kata Sagar dengan tersenyum.
" Dia itu jenius tapi bodoh! " Kata Fahri spontan.
" Tapi apa? " Sagar memastikan ucapan Fahri.
" Hahaha, apa kakak tidak tau, saat sekolah dulu kakak di panggil Nadira si bodoh. Nilainya selalu bagus dan dia selalu mendapat juara, tapi prilakunya yang sangat bodoh. "
" Kenapa kamu menjelek kan kakakmu?! " Ayah Nadira menjewer kuping Fahri.
" Aduh ayah! Ini sangat sakit. Sudah ku duga kan! Kak Sagar tidak tau hal ini selama ini. Kakak sudah menipunya seperti rubah. "
" Jenius yang bodoh ya? Pfftt.. " Sagar menahan tawanya.
" Kalian sedang membicarakan aku yaa.. " Nadira tiba tiba datang mengagetkan Sagar dengan tangan Nadira yang ada di bahunya.
" Lihat itu kak! Dia langsung datang. Dia takut jika orang lain sedang membicarakan nya. "
" Lebih baik kamu sekarang pulang dan belajar!, kamu tidak capek? Pagi kerja sore kuliah? Pulang sana! "
" Tuh.. Tuh kan. Kak Sagar memang tertipu dengan dia selama ini. "
" Bicara apa sih kamu! Awas kamu ya. " Nadira mencubit Fahri dengan kesal.
Sagar melihat keharmonisan keluarga Nadira yang sekarang juga adalah keluarganya dengan sangat bahagia. Bahkan selama ini Sagar belum merasakan perasaan sehangat dan sebahagia ini.
Bersambung...
__ADS_1