
" Aku sudah mengatakan nya barusan. " Kata Nadira dengan memiringkan tubuh nya.
" Kapan? Memangnya kamu mengatakan apa barusan. " Sagar berangsut duduk di sebelah Nadira.
" Memangnya kamu sudah bilang apa? " Sagar bertanya dan menggoda Nadira.
" Aku kan sudah mengatakan tadi, suamiku. " Nadira menutupi mukanya dengan guling.
' Kenapa dia mendesakku terus sih? Mengatakan hal itu saja aku sangat malu. ' Batin Nadira.
Sagar yang mendengar jawaban Nadira langsung tertawa dan semakin ingin menggoda istrinya.
' Manggil suami saja malunya seperti ini. Bagaimana jika aku manggil dia Yeobo. ' Batin Nadira.
" Kamu mau bangun? " Tanya Sagar saat melihat Nadira duduk dan menyibakkan selimutnya.
" Padahal kamu sendiri yang membangunkan ku. " Kata Nadira dengan datar.
" Emmm... Panggilan sayang juga cocok kok. " Kata Sagar memberikan usulan.
" Bukan soal itu maksudku. " Nadira mengucek matanya yang masih mengantuk.
" Maafkan aku sudah ketiduran. Karena tadi aku ngantuk sekali. Sekarang pun masih mengantuk. Karena akhir-akhir ini aku tidur kurang nyenyak. Kemarin tidurku tidak nyenyak, kemarin lusanya juga seperti itu. Dan sepertinya sekarang juga sama. " Keluh Nadira dengan lesu.
" Baiklah, sekarang kamu tidur saja. " Sagar, mengarahkan tubuh Nadira agar kembali tiduran.
" Suamimu akan ada di sini menemani dan menjagamu di sepanjang tidurmu. Suamimu akan setia menemanimu istriku. " Kata Sagar sambil berbaring di dekat Nadira.
" Jangan menyentuh ku! Samapai tanganmu benar-benar sembuh. " Kata Nadira membelakangi Sagar dengan menutup matanya.
" Aku kan sudah sembuh. " Kata Sagar seperti anak kecil.
" Jika kamu terus-terusan menyentuhku, aku akan pindah dan tidur di kamarku. Dan aku akan percaya jika kamu sembuh kalau ada surat pernyataan dari dokter, bahwa kamu benar-benar sembuh. " Ancam Nadira.
" Tapi aku sudah sembuh total. " Tegas Sagar.
" Sembuh total apanya? Sudah lah, jangan terlalu memaksakan diri. " Kata Nadira dengan melirik ke arah Sagar.
" Aku tidak memaksakan diri kok. " Sagar memiringkan tubuhnya menghadap Nadira.
" Kalau aku bilang tidak memaksakan diri ya tidak memaksakan diri. " Sagar memeluk perut Nadira dari belakang.
" Aku bisa menjaga tubuhku sendiri kok. Dengan menyentuhmu malah bisa membantuku. Karena itu aku jadi senang. " Kata Sagar yang membuat pipi Nadira langsung memerah.
" Baiklah kalau begitu kamu boleh menyentuh tanganku, kamu boleh memelukku dan kamu boleh menciumku... "
__ADS_1
Belum selesai bicara, Sagar langsung bangun dan berada di atas Nadira.
" Aku boleh melakukan segalanya? "
Nadira terkejut melihat sikap Sagar yang tiba-tiba menyerangnya seperti ini.
" Aku boleh menciummu sampai mana? Coba katakan! Kamu mencabut batas izin sampai mana?!" Crocos Sagar.
" Bukan! Bukan ciuman maksutku! " Bantah Nadira dengan panik.
" Kamu hanya boleh peg-pegang tanganku! " Kata Nadira dengan tegang.
" Iya coba katakan yang jelas. " Sagar mendekatkan tubuhnya di atas Nadira. Yang membuatnya semakin panik.
" Mana yang boleh di pegang dan mana yang tidak boleh di pegang. Aku akan menuruti semua peringahmu. " Kata Sagar memegangi tengkuk kepala Nadira.
' Dengan dia seperti ini saja sudah membuatku tegang begini. ' Batin Nadira.
" Ayo katakan. " Desak Sagar.
" Tangan, kepala, wajah... " Nadira kembali berfikir.
" Lalu apa lagi? " Tanya Sagar.
" Tentu saja hanya bagian yang kelihatan! " Kata Nadira dengan tegas.
" Emm... " Nadira kembali berfikir.
" Kalau begitu, kakak boleh pegang satu jengkal tangan kakak dari pusar ke atas dan ke bawah. " Kata Nadira mencoba mencari aman.
Sagar tersenyum dengan licik, dan mengangkat tangan nya agar terlihat oleh Nadira.
" Kenapa tanganmu sebesar itu?! " Tanya Nadira dengan kaget, Sagar hanya menanggapi nya dengan tertawa. Padahal ia mencoba mencari jalan yang aman, tetap saja dia yang kalah.
" Jika tangan kakak selebar itu, tentu saja semua akan terkena. " Kata Nadira kesal.
"Apa nya yang terkena semua? " Tanya Sagar menggoda.
" Ya jangkauanya akan terkena semua! " Teriak Nadira.
" Memangnya semua itu apa saja? "
Sagar melihat ekspresi tegang Nadira, ia menjadi kasihan kepadanya karena terlalu memaksa menggodanya.
" Oke baiklah, aku akan menggunakan sejengkal tangan ini secukupnya saja. " Kata Sagar mengalah. Nadira hanya diam saja mendengar tanggapan Sagar. Karena tidak mungkin Sagar akan melakukan hal itu.
__ADS_1
" Beneran, aku akan menggunakan secukupnya saja. "
' Apaan?! Dia tidak akan menggunakan itu hanya secukupnya. ' Batin Nadira kesal. Dengan sikap Sagar yang menyerangnya secara tiba-tiba seperti tadi membuatnya semakin berjaga-jaga dari Sagar.
" Aku tau apa yang kamu khawatirkan saat ini. Tenang saja, aku tidak akan mengagetkanmu dengan berbuat secara tiba-tiba. " Sagar mengelus rambut Nadira dengan lembut. Ia tau apa yang di takutkan oleh istrinya itu.
" Mulai sekarang cobalah untuk percaya kepadaku. Tanamkan kepercayaan itu kepadaku. Aku tidak bermaksut memaksamu, aku hanya ingin mendampingimu. " Kata Sagar dengan lembut, agar Nadira tidak terlalu memikirkan perbuatan nya tadi.
" Percayalah, kamu akan menyukainya. Maaf, aku telah membangunkan mu. " Sagar mencium lembut bibir Nadira.
" Kenapa baru mengatakan nya sekarang? " Tanya Nadira.
" Kamu sih, yang membuatku berharap duluan. " Sagar menoel hidung Nadira dengan gemas.
" Tapi, aku beneran mengantuk sekali. Sekarang benar-benar mengantuk. " Kata Nadira sambil menguap.
" Tidurlah, aku tidak akan mengganggumu. " Sagar mencium kening Nadira dengan penuh kasih sayang.
Nadira tersenyum bahagia merasakan sikap hangat dan kasih sayang penuh dari suaminya.
****
Sagar keluar dari kamar mencari Nadira, ia menutup pintu kamar, dengan hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya. Yang membuat Nadira langsung menoleh ke sumber suara saat ia sedang masak di dapur. Karena kamar mereka berdua jaraknya sangat dekat dengan dapur.
" Kakak sudah mandi? " Tanya Nadira menoleh ke arah Sagar.
" Iya. " Sagar menghampiri Nadira yang sibuk memasak.
" Rambutnya basah? Kakak habis keramas sendiri? " Tanya Nadira.
" Iya, aku keramas sendiri. Mulai sekarang aku akan mencuci rambutku sendiri. " Kata Sagar.
" Kenapa? "
" Soalnya tanganku sudah tidak terlalu sakit. " Kata Sagar sambil tersenyum.
' Syukurlah. ' Batin Nadira.
" Sini, biar aku bantu mengeringkan rambutnya. " Nadira mematikan kompor dan mendekati Sagar.
" Maafkan aku soal yang kemarin malam. " Kata Nadira sambil membalut rambut Sagar dengan handuk.
" Aku semalam benar-benar mengantuk sehingga tidak begitu sadar. " Kata Nadira.
" Kamu ini ya, sedang tidak sadar tapi kamu bisa mengambil apa yang bisa kamu ambil. " Kata Sagar sembari memeluk Nadira.
__ADS_1
" Aku senang sih, dengan begini rasanya kita seperti sedang pacaran. Tapi, aku harap rasa ini sampai saat tanganku sudah benar-benar sembuh. Jika sudah sembuh kita harus seperti suami istri. " Kata Sagar di balik pelukan nya. Nadira hanya bisa diam dan tersipu yang mencoba ia sembunyikan agar Sagar tidak mengetahuinya, jika tidak Sagar pasti akan terus menggodanya mati-matian.
Bersambung...