
" Bagaimana? Apa kamu mimpi indah semalam? Karena semalam aku mimpi indah. "
" Memangnya kakak mimpi apa semalam? " Nadira balik bertanya.
" Semalam ku mimpi kebakaran yang besar. "
" Kebakaran? " Tanya Nadira heran.
" Iya, katanya mimpi api akan membawa keberuntungan. " Sagar memeluk Nadira dengan erat.
' Sebenarnya mimpi kebakaran ini selalu datang kepadaku dan itu adalah mimpi buruk bagiku. Tapi, semenjak ada kamu di sisiku, aku merasa kamu datang di mimpiku dan kamu memelukku dan menguatkan ku. Karena ada kamu di sisiku aku menjadi tidak takut lagi. Itu semua karena dirimu. ' Kata hati Sagar.
" Itu adalah mimpi indah bagiku. " Kata Sagar. Nadira sendiri masih bingung karena aneh saja dia bilang mimpi kebakaran adalah mimpi indah. Bahkan mendengarnya saja membuat Nadira takut.
****
Nadira menarik selimut Fahri dengan kasar, karena dari tadi dia memanggil namanya dia tak kunjung datang menemuinya, hingga membuat Nadira masuk ke Kamar Fahri dan membangunkan nya dengan kasar.
" Aaakkkhhh! " Fahri menggeliat kan badan nya.
" Hei Fahri! Ini sudah jam berapa? Kenapa kamu masih enak-enakan tidur! " Pekik Nadira.
" Kakak! Ngapain kakak sepagi ini ada di sini?! " Tanya Fahri yang kaget melihat kehadiran kakaknya.
" Cepat bangun! "
" Kenapa kakak di rumahku? " Tanya Fahri.
" Sudah, cepat bangun dan sarapan! Aku akan menunggumu di depan. " Kata Nadira lembut.
" Dasar! Kakak ini memang berkepribadian ganda ya! Tadi marah-marah, sekarang berkata lembut. Aku yakin Kak Sagar tidak mengetahui kepribadian ganda kakak. "
" Iya, iya. Terserah kamu saja. " Nadira meninggalkan kamar Fahri.
Fahri menyusul Nadira yang sudah duduk di meja makan. Di meja sudah terlihat berbagai menu makanan, sepertinya Nadira memesan makanan ini, karena tidak mungkin dia bisa masak dengan cepat. Fahri mengambil piring dan mulai memakan, makanan yang di siapkan kakaknya.
" Untuk kemarin, terimakasih ya! Kamu sudah meluangkan waktu untuk datang kerumah. "
' Apa dia datang kemari hanya untuk berterimakasih? ' Batin Fahri.
" Sebenarnya aku datang kesana bukan karena kakak sih. Tapi aku juga rindu sama ayah dan ibu, selain itu aku juga ingin bertemu dengan kak Sagar. " Jawab Fahri dengan mulut penuh makanan.
" Iya terserah lah, pokoknya terimakasih. Dan jika ada orang yang bilang terimakasih harusnya kamu menerimanya dengan manis. "
__ADS_1
" Seharusnya kakak tuh berterimakasih kepada ayah dan ibu. "
" Ha? "
" Iya, karena keturunan dari mereka kakak dapat memiliki wajah yang cantik. "
" Hahahaha. " Nadira tertawa mendengar ucapan adiknya.
" Beneran, hanya karena kakak cantik itu sebabnya kakak bisa memiliki suami seperti kak Sagar. "
" Cuma karena cantik?! " Raut muka Nadira berubah menjadi kesal.
" Iya. "
Nadira menatap Fahri dengan tatapan tajam.
" Kak Sagar pernah bilang kepadaku, saat aku tanya, apa sih yang kak Sagar suka dari kakak? Masa jawabnya dia tidak tau! Kenapa tiba-tiba dia suaka kakak? Dia selalu bilang kalau kakak itu cantik, bahkan cantik sekali. "
Wajah Nadira merona merah mendengar penjelasan Fahri tentang suaminya.
" Memangnya kapan dia mengatakan hal itu? "
" Sudah lama. Akhir tahun yang lalu. " Kata Fahri.
" Haduh suamiku! Hal seperti itu kenapa di bicarakan kepada adik iparnya. Harusnya dia mengatakan hal itu langsung di hadapanku. "
" Tidak usah alay deh. "
" Kamu ingin aku pukul ya? " Nadira tertawa bahagia.
Walau sering bertengkar, mereka berdua tetap saling menyayangi satu sama lain.
***
Setelah dari rumah Fahri, Nadira berangkat ke kampusnya untuk mengajar mata kuliah.
Dia memasuki halaman kampus dengan perasaan penuh kebahagiaan. Terkadang dia merasa takut dengan kebahagian ini yang tidak pernah dia rasakan selama hidupnya. Hal ini bagaikan mimpi di dalam hidupnya sekarang.
' Hari-hariku sekarang sangat bahagia. Seperti mimpi bagiku. Apa aku boleh bahagia seperti ini? Kehidupan ini sangat berbeda dengan masa lalu. Mungkin karena aku berubah, semua hal di dalam hidupku menjadi berubah banyak. Iya, itu sudah pasti. ' Di dalam pikiran Nadira di penuhi dengan senyuman tampan dari wajah Sagar.
' Aku akan merubah semuanya, aku pasti bisa merubah masa depanku bersamamu. Itu pasti. Aku akan membuatnya seperti itu. ' Kata hati Nadira.
Setelah selesai mengajar, Nadira pergi ke kantin kampus, karena Sagar baru saja menelfonya jika dia sekarang berada di kantin kampusnya untuk makan siang bersama Nadira.
__ADS_1
" Kenapa kakak sampai datang kemari? Pekerjaan kakak di kantor kan banyak. "
" Aku kan sudah bilang aku ingin makan siang denganmu dan aku ingin bersama mu. " Kata Sagar dengan manis.
" Oh be-gitu. " Kata Nadira gugup.
" Kak, hari ini menu makanan di kampus serba pedas. Apa kakak tidak apa-apa? " Tanya Nadira.
" Tidak apa-apa, aku suka pedas kok. Aku ambilkan makananya ya? " Sagar berdiri dan ingin mengambilkan makanan untuknya dan juga Nadira.
" Kakak tidak akan bisa mengambil makanan nya, karena kakak tidak terbiasa. Biar aku saja yang mengambil makanan untuk kakak. "
" Sudah kamu duduk saja. Aku bisa kok. " Kata Sagar meyakin kan.
" Tunggu ya, aku akan cepat kembali. " Sagar berjalan menuju tempat makanan dan memesan beberapa menu.
" Silahkan! " Ibu Kantin memberikan Nampan berisikan dua Nasi dan juga sup iga, yang salah satu makanan tidak pedas di antara yang lain.
" Hati-hati ya, karena ini masih sangat panas."
Sagar membawa nampan itu dengan hati-hati menuju meja Nadira. Terkadang walau pun sudah berhati-hati masih saja ada yang lebih ceroboh darinya.
Ppraaannngg!!
Suara nampan yang di pengag Sagar terjatuh dari tanganya stelah ada seseorang yang menabraknya dari belakang.
" Ah ma-maaf pak! " Kata mahasiswa yang barusan menabrak Sagar dengan ketakutan.
Nadira yang melihat kejadian itu langsung berdiri dan berlari menghampiri mereka.
" Tidak apa-apa ko--" Ucapan Sagar terputus.
" Tidak apa-apa apanya? " Nadira mengangkat tangan Sagar yang terlihat merah seperti luka bakar. Karena tanganya baru saja tersiram sup iga yang panas itu.
" Lihat ini! Kuah panas nya sampai tumpah ke tangan! " Nadira berkata dengan marah.
Dia menarik Sagar dan meninggalkan pria itu. Nadira membawa Sagar ke toilet, dan mengguyur tangan Sagar dengan air yang mengalir. Nadira terhenyak tiba-tiba pikiran di masa mendatang melintas di kepalanya.
' Iya, saat itu perayaan ulang tahun ayah, tangan kakak di perban. Dan dia bilang jika dia memiliki luka bakar. ' Nadira menatap tangan Sagar dengan sedih.
' Tangan itu? Bagian yang sama! Dengan luka bakar yang saat itu. ' Batin Nadira dengan sedih. Padahal baru beberapa waktu lalu dia berpikir jika hidupnya teramat sangat bahagia. Dan ternyata sekarang malah terjadi hal yang tidak ia inginkan sama sekali.
Bersambung....
__ADS_1