End Happy Wedding

End Happy Wedding
Bab 25


__ADS_3

" Mau tidur bareng dengan ku? "


" Apa? "


' Ha? Apa aku salah dengar ? ' Batin Nadira.


" Nggak deh.. Cepat tidur ya. " Sagar melepaskan tanganya.


" Iya, kakak juga. Selamat tidur. "


Nadira menutup pintu kamar, dia masih berdiri mematung membelakangi pintu. Dia masih terngiang dengan ucapan Sagar barusan, ia yakin betul dengan pendengarannya.


' Ada apa dengan dia? Barusan dia mengajakku tidur bersama. ' Wajah Nadira merona merah.


Sagar duduk di sofa dengan perasaan tidak tenang, bagaimana bisa tenang. Baru saja dia sudah mengucapkan hal yang harusnya ia tahan sebentar lagi.


' Nadira tidak sadar kan? Aku benar benar khilaf, melihat ekspresinya tadi. ' Sagar membayangkan wajah Nadira yang tertawa bahagia.


' Tanpa ku sadari, hampir saja aku langsung mau membawanya, tanpa bilang terlebih dahulu mau tidur denganku atau tidak. Aku hampir khilaf. ' Sagar memengangi kepalanya yang pening.


' Sadar diri dong Sagar. Kamu sendiri kan yang memutuskan untuk mendekati Nadira secara perlahan. Ini masih banyak waktu untuk mendekatinya. Jangan hawatir. ' Gumam Sagar.


***


Pagi ini Sagar berencana berangkat lebih pagi, untuk menghindari pertemuan dengan Nadira.


" Selamat pagi kak. " Sapa Nadira sambil memakai sepatunya.


" Pagi juga. " Kata Sagar yang menatap Nadira dengan kaku.


' Apa karena kejadian semalam ya, aku jadi secanggung ini dengan dia. ' Batin Sagar.


" Oiya, sepertinya aku akan pulang terlambat hari ini. "


" Kami hari ini jadi pergi ke butik dengan ibu ya? Apa tidak apa apa jika aku tidak ikut bersamamu? " Tanya Sagar hawatir dengan kenyamanan Nadira.


" Tidak apa apa kak. Aku jalan dulu ya, sampai jumpa. " Nadira buru buru menutup pintu.


" Hati hati di jalan. " Kata Sagar lirih karena sudah di tinggal pergi Nadira sendirian.


' Apa Nadira menghindari aku juga ya. ' Pikir Sagar.


Nadira masih belum pergi dari apartemen, dia masih berdiri di balik pintu dengan perasaan deg deg an.


' Apa dia merasa aku menghindarinya ya? ' Batin Nadira dengan perasaan lega karena berhasil menghindari tatapan Sagar.


' it's oke, tidak apa apa kok Nadira. Tadi terasa biasa saja. ' Nadira mencoba berjalan dengan santai walau perasaanya masih kaku.


****


Setelah keluar dari kampus, Nadira langsung mencari taksi untuk pergi ke rumah ibu mertuanya.


" Taxi! " Panggil Nadira.


Mobil taxi berhenti di depannya.


"


' Aku tadi buru buru keluar, jadi tidak memperhatikan penampilanku. ' Setelah masuk mobil Nadira membuka yang ada di bedaknya.


' Tidak ada yang aneh kan? ' Nadira merapikan rambut dan penampilannya, dia menambah sedikit bedak di wajahnya dan memakai lipstik tipis agar terlihat lebih segar.

__ADS_1


KLINK!!


Suara ponsel Nadira, ia mengambil ponselnya dari dalam tas yang ada di pangkuan nya.


~ Bilang kalau kamu memang tidak nyaman saat bertemu dengan ibu. Aku akan bilang kepada nya baik baik, agar ibu tidak salah paham ~


Isi pesan dari Sagar.


' Sebenarnya apa sih yang dia cemas kan? Padahal dia kan selalu kasar dan dingin saat berbicara. ' Gumam Nadira. Setelah ia berbicara seperti itu, sepintas saja dia teringat dengan kejadian semalam.


' Kamu yang paling cantik. ' kata Sagar malu.


Nadira tersenyum gemas saat mengingat hal itu.


' Ah imutnya. ' Nadira memeluk ponselnya dengan bahagia.


' Tidak! Aku tidak boleh berdebar seperti ini. Kalau di ingat ingat dulu dia juga pernah mengatakan hal seperti ini tapi kapan ya?' Nadira mengingat kembali.


' Ah iya, tiga tahun yang lalu saat dia mau menikahi ku. '


Nadira membayangkan saat Sagar mengatakan hal itu dengan sangat manis, Saat kami bertemu di altar pernikahan.


' Kamu sangat Cantik. ' Lalu Sagar meraih tangan Nadira. Sontak Nadira tersipu malu dan tertawa sendiri.


" Nyonya. Apa nyonya baik baik saja. " Kata sopir taksi yang membangunkan lamunan Nadira.


" Ah iya. " Jawab Nadira senang.


" Pasti ada hal baik ya, sehingga nyonya terlihat sangat gembira. " Kata sopir yang melihat Nadira dari kaca tengah.


" Ah, tidak ada apa apa kok. " Wajah Nadira masih berseri seri.


' Sebenarnya ada hal baik, karena kemarin tiba tiba kakak memberiku hadiah orgel. Orgel itu ada lagu yang paling di sukai ibu. Dalam tiga tahun ini, aku baru merasakan jika pernikahan itu tidak seburuk yang aku pikirkan. ' Nadira memejamkan mata dengan tersenyum.


Panggilan telfon dari ponsel Nadira.


" Iya ibu. " Sapa Nadira.


" Apa kamu sudah dalam perjalanan kemari. "


" Iya, ini aku dalam perjalanan kesana. "


" Nadira, bagaimana ini? Kerabat jauh ibu ada yang meninggal dunia. Jadi ibu harus pergi melayat. Padahal kamu sudah perjalanan kemari. " Kata ibu Sagar dengan sedih.


" Ah tidak apa apa ibu. Bagaimana kalau aku juga pergi bersama ibu. "


" Tidak, tidak usah Nadira. Apa kamu bisa pergi ke butik sendirian? Kemarin ibu sudah reservasi di butik BE, mereka akan menunjukkan pakaian yang bagus dan keluaran terbaru untukmu. " Kata ibu Sagar.


" Iya ibu, kalau begitu aku akan ke sana. "


" Kamu lihat lihat saja dulu. Maafkan ibu ya Nadira, ibu tidak bisa menepati janji. " Kata ibu Sagar merasa bersalah.


" Iya ibu, aku tidak apa apa. Beneran. "


" Kalau begitu hati hati di jalan ya. "


" Baik bu, ibu juga.. Hati hati di jalan. "


Klikk! Telfon di matikan.


" Pak, kita putar ke mall pusat kota ya. "

__ADS_1


" Baik nyonya. "


Sopir berbelok ke kiri menuju Mall pusat kota.


" Ini ongkosnya pak. " Nadira mengeluarkan beberapa lembar uang.


" Terimakasih nyonya. "


Nadira turun dari mobil.


" Nyonya, kembaliannya. " Sopir mengulurkan uang kembalian.


" Tidak usah, simpan untuk bapak saja. " Nadira tersenyum ramah.


" Terimakasih nyonya. "


Nadira berjalan memasuki mall, dan mencari keberadaan butik yang di bilang ibu mertuanya.


~ BUTIK BEE ~ Terpampang tulisan neon di depan butik kaca itu.


Nadira membuka ponsel di dalam tasnya kala ponsel itu berbunyi.


' Ibu membatalkan janjinya ya. Apa mau aku temani kesana? ' isi pesan Dari Sagar.


' Cepat sekali dia mengetahuinya. Ibu pasti bilang kepada nya. ' Batin Nadira.


' Terimakasih atas tawaranya. ' balas Nadira.


" Lagian aku sudah sampai di sini. " Gumam Nadira. Dia memasukkan kembali ponselnya dan langsung masuk ke dalam butik.


" Selamat datang nyonya. Waah ternyata nyonya terlihat sangat cantik saat berhadapan secara langsung. " Sapa pemilik butik.


" Iya, kami banyak mendengar cerita tentang anda nyonya. Kami sangat terhormat bisa melayani anda secara langsung. " Kata pelayan di belakang pemilik tokoh.


" Terimakasih, perkenalkan nama saya Nadira larasati. Salam kenal. " Sapa Nadira.


' Mau bagaimana pun dan sesering apa pun aku di panggil nyonya, panggilan itu terasa tidak nyaman aku dengar. ' Batin Nadira dengan menyunggingkan senyum ramah nya.


" Mari, silahkan kemari. " Kata pelayan menunjukkan beberapa gaun yang terpampang berjejer di dalam lemari kaca.


" Ini adalah keluaran terbaru dari butik kami nyonya, dan ini edisi terbatas di seluruh dunia. " Jelas pemilik Butik,


" Mbak, tolong ambilkan baju baju itu, biar nyonya Nadira mencobanya. " Perintah pemilik toko, yang langsung di turuti perintahnya.


Nadira mengambil baju berwarna biru di antara ke lima baju yang ada di tangan pelayan itu, dan pergi mencobanya.


" Nyonya terlihat anggun memakai baju ini. Tapi bukan kah ini terlihat sangat biasa saja untuk perjamuan nyonya? "


" Iya, aku juga kurang nyaman dengan ini. Boleh aku melihat lihat lihat yang lainya dulu? "


" Tentu saja nyonya. Silahkan..kalau ada perlu apa saja langsung panggil saya saja. " Kata pemilik butik dengan penuh keramahan.


" Tentu. "


Nadira berkeliling melihat semua baju yang terpajang di sana, mulai dari baju santai, baju resmi, baju resmi dan gaun pesta. Semua terlihat sangat cantik dan indah.


" Aku jadi bingung, semua baju di sini terlihat sangat cantik. " Pikir Nadira yang tidak lepas memandangi baju baju di sana.


" Oh. " Nadira menabrak seseorang saat ia tidak sengaja melihatnya.


" Nadira. "

__ADS_1


Nadira terbelalak dan takut seketika saat melihat orang di hadapan nya.


Bersambung....


__ADS_2