End Happy Wedding

End Happy Wedding
Bab 26


__ADS_3

Waktu Nadira masih ber umur lima tahun, Nadira selalu bermain dengan Mazoya, Karena ia dan keluarganya tinggal di kediaman Hairim. Nadira yang masih kecil dan polos saat itu di minta oleh Mazoya untuk membacakan cerita cinderella, karena hari ini Mazoya baru saja di belikan ibunya buku dongeng. Mazoya yang juga berumur lima tahun belum bisa membaca sedangkan Nadira sudah lancar membaca karena Nadira sudah pandai sejak ia masih kecil, akhirnya Nadira menceritakan semua yang ada di buku dongeng itu untuk Mazoya.


" Akhirnya cinderella menikah dengan pangeran dan dia hidup dengan bahagia. " Kata Nadira kecil .


" Waahhh Nadira, kamu hebat sekali membaca dongeng itu. Pasti kamu sudah paham dengan cerita Cinderella? " Kata Mazoya penuh kekaguman. Nadira hanya menganggukkan kepala dan tersenyum polos.


" Kalau begitu, buku cerita ini untuk mu saja semuanya. Lagi pula, aku masih belum bisa membaca. Untuk apa aku menyimpan ini semua. " Kata Mazoya memberikan buku kumpulan kisah dongeng.


" Yang benar aku bisa menerima ini semua? " Tanya Nadira dengan antusias.


" Anggap saja ini hadiah untukmu. " Kata Mazoya.


Saat itu, Nadira dengan polosnya menganggap itu semua adalah kebaikan untuknya dan dia merasa sangat bahagia. Karena orang tuanya tidak mampu untuk membelikan itu semua. Tapi itu semua hanya jebakan untuk nya, hingga pada akhirnya.


Plaaakkk!!!


Sebuah tamparan keras untuk anak sekecil Nadira yang masih berumur lima tahun.


" Mana buku dongeng milik Mazoya yang kamu curi. " Teriak Karina dengan tatapan yang kejam.


" Cepat ambil dan bawa kemari! "


Nadira masih menangis menahan perih akibat tamparan keras di pipinya.


***


' Saat itu, aku mengira semua dongeng akan happy ending, dan aku percaya hidupku juga akan sama seperti itu. Hidup bahagia seperti di dalam cerita buku dongeng. Tapi kenyataanya di dalam hidup ku tidak ada dongeng Happy ending. Begitu pun dengan diriku. ' Batin Nadira sedih kala mengingat kejadian waktu itu. Masa kecil dan trauma itu yang sulit untuk di lupakan.


" Hei Nadira, kenapa setelah menikah kamu tidak pernah mengontak ku sama sekali. Wah, itu sudah sangat lama sekali loh. " Sapa Mazoya dengan sikapnya yang sok manis membuyarkan lamunan Nadira.


" Hai. " Sapa Nadira dengan perasaan ragu ragu dan juga rasa takut. Sejujur nya ia sama sekali tidak ingin ber urusan dangan keluarga ini lagi.


’ keluarga Ji Hairim! Nyonya karina Hairim dan juga putri tunggal mereka, Mazoya Hairim. ' Nadira masih ingat betul wajah dan juga penampilan dari keluarga Hairim, yang membuat Nadira kembali bergidik takut.


' Sedang apa dia di sini? Jika dia di sini jangan jangan.... '


" Sudah lama sekali ya. "


Nadira menoleh ke belakang melihat sumber suara.

__ADS_1


" A-apa kabar? " Tanya Nadira gugup.


" Aku baik, kurasa kabarmu juga baik baik saja. " Karina tersenyum dan menyilangkan tangan nya di depan dada dengan gayanya yang angkuh.


" Aku ingin bertemu dengan mu, aku sudah reservasi satu jam sebelumnya. Tidak ku sangka bisa bertemu denganmu seperti ini. " Karina berjalan mendekati Mazoya.


" Oh ya, Mazoya masih belum mencoba semua baju yang ada di sini. "


Nadira hanya menunduk dan merasa tertekan.


" Bu, saya dan Nadira sudah kenal sejak lama, untuk itu apa boleh saya bersama dengan Nadira walau beda jam reservasi? " Tanya Karina manis.


" Ah i-ituu.. "


" Nadira, kamu mau kan? " Potong Karina yang terus mendesak Nadira.


" Ya. " Jawab Nadira terpaksa.


" Baik lah, terimakasih. " Karina dan Mazoya kembali mencari baju dan memaksa Nadira untuk mengikutinya. Mazoya mencoba baju ini dan itu, sedangkan Nadira hanya mengikutinya di belakang seperti dulu.


" Nadira, coba lihat! Ini spertinya cocok untukmu. " Kata Karina memberikan baju yang kelihatanya sangat **** dan sangat tidak cocok untuk karakter Nadira.


' Lebih baik aku segera mencari baju seadanya dulu, setelah itu aku pergi. Aku tidak ingin terlibat lagi dengan mereka. ' Batin Nadira.


Nadira berjala memilah milah baju yang ada di gantungan. Dia mengambil dress navy dengan hiasan mutiara di bajunya. Baju itu terlihat simpel tapi sangat elegan.


" Wah, sepetinya baju ini bagus, aku mau membelinya. " Mazoya mengambil baju yang ada di tangan Nadira. Apa pun itu, Mazoya tetap tidak ingin kalah dari Nadira.


" Apa nyonya ingin beristirahat? " Tanya pemilik butik kepada Nadira, ia melihat raut wajah Nadira yang sangat kelelahan. Nadira hanya menganggukkan kepalanya.


Pelayan mengantarkan Nadira ke sofa untuk beristirahat


' Aku sangat lelah sekali. ' batin Nadira.


" Apa nyonya tidak apa apa? " Tanya pemilik butik yang merasa sungkan kepada Nadira.


" Ah tidak apa apa. " Jawab Nadira dengen tawa di paksakan.


' Lebih baik aku pulang sekarang. " Pikir Nadira.

__ADS_1


" Oiya bu, di antara pakaian yang saya pilih nanti... "


" Aaaaaaaa... " Teriak Mazoya, Nadira tidak melanjutkan omongan nya. Ia dan pemilik toko serta staf yang di sana memandang ke arah Mazoya dengan tatapan bingung.


" Akhhh ibu, gelang ku tidak ada. " Kata Mazoya panik.


" Apa maksut mu gelang yang tadi kamu pakai? " Tanya Karina.


" Iya, aku melepasnya setiap mencoba pakaian. Karena aku tidak nyaman." Mazoya mencari kesana kemari dan melihat di setiap sudut ruang Ganti pakaian.


" Aku sudah mencarinya di ruang ganti tapi tidak ada. Bagaimana ini?" Kata Mazoya.


" Kalau kamu menaruhnya di sana. Mana mungkin itu bisa hilang kalau tidak ada yang mengambil. " Karina menatap ke arah Nadira di susul dengan pandangan Mazoya.


' Mengapa mereka melihat ke arah ku? ' Batin Nadira.


" Ibu, gelang itu kan hadiah ulang tahun yang di berikan ayah kepadaku. Harganya 50 juta. Bagaimana ini jika hilang? " Mazoya menangis di pelukan ibunya.


' Aku pernah merasakan di situasi seperti ini. Firasat ku benar benar tidak enak, masa kejadian waktu itu terulang kembali. '


" Bagaimana ini bu? " Tanya Mazoya sedih.


" Gaun yang saya coba tadi tolong di sisihkan, nanti saya akan kembali lagi bersama ibu. Maaf, saya harus segera pergi, karena masih ada jadwal yang lain. " Kata Nadira kepada pemilik butik.


" Baiklah nyonya, semua akan saya simpan untuk nyonya. "


" Terimakasih. " Nadira beranjak dari sofa dan segera berjalan keluar butik.


' Aku harus pergi dari sini. Atau dia akan membuat ulah kembali. ' Batin Nadira.


" Tunggu Nadira! " Cegah karina dengan senyum liciknya. Nadira menghentikan langkahnya tanpa menoleh.


" Maaf apa aku boleh melihat isi kantong baju dan tas mu? " Pinta Karina.


Nadira membalikkan badan dengan penuh tanda tanya. Begitu pun dengan pemilik butik dan para staf di sana.


" Maaf aku harus mengatakan ini semua di sini, karena waktu kecil dulu kamu kan pernah mengidap penyakit kleptomania.. " Karina dengan lantang mengucapkan itu semua. Dia sengaja melakukan itu supaya Nadira bisa di permalukan di hadapan semua orang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2