
Setelah memasang muka nya yang datar dan serius, pria berambut pirang itu tertawa terbahak-bahak, memecahkan ketegangan yang ada.
" Jadi kamu pikir, aku ini adalah dewa kehidupan? " Pria itu kembali tertawa. Melihat wajah Nadira yang tidak masuk akal.
" Apa aku sudah berbicara tidak sopan?" Kata Nadira dengan hati-hati karena tidak ingin menyinggung perasaan orang lain.
" Maaf aku jadi bicara sembarangan dengan mu karena aku sedang mencemaskan sesuatu. " Nadira kembali menunduk mengingat masalah nya.
" Iya, aku tau. Karena itu kamu menangis kan? " Pria pirang itu tersenyum ramah.
" Tapi, apa aku benar-benar tidak seperti manusia? " Pria itu berkata dengan serius.
" Bu-bukan begitu. " Kata Nadira kaget dan memandang ke arah pria itu, dia takut pria itu menjadi salah faham dengan maksud nya.
" Sebenarnya di dalam fikiran ku kamu itu bukan seperti manusia dalam hal lain, tapi aku berharap nya kamu seperti malaikat pelindung di dalam kehidupan ini. Agar aku bisa memohon dan meminta. Aku berharap bisa bertemu dengan Tuhan yesus. " Nadira terisak tangis.
Nadira sangat ingin bertemu dengan Tuhan, karena dia ingin meminta penjelasan dan juga pertanggung jawaban, karena Tuhan lah yang sudah memberikan dia jalan untuk kembali ke masa lalu. Tanpa ia mengerti sama sekali jalan apa yang harus ia pilih untuk menyelesaikan semua masalah yang terjadi. Dia tidak ingin salah langkah lagi sehingga membuat semua berakhir dengan sama. Dia tetap berusaha dengan keras semampu yang dia bisa. Tapi, dia hanya manusia biasa yang tidak tau jalan takdir kehidupan. Jika dia mengambil satu langkah, belum tentu keputusan nya itu adalah hal yang benar untuk masa depan nya.
" Tuhan, tolong selamatkan suamiku di kehidupan ini, Tuhan engkau kan mengirimku ke masa lalu?! Jadi aku mohon jalankan semuanya seperti keinginan ku! Aku ingin dia selamat dan baik-baik saja. " Batin Nadira dengan perasaan sedih. Dia menangis sampai tersedu-sedu.
' Tolong biarkan aku untuk bisa melindungi orang itu. ' Batin Nadira di dalam isak tangis nya. Dulu saat dia cuek dan tidak ingin tau atau pun ikut campur dengan dengan urusan Sagar saja, dia merasa sakit sekali karena kepergian Sagar yang begitu tiba-tiba. Apa lagi sekarang, dengan sikap manis Sagar terhadapnya selama ini dan juga senyuman tampanya yang menghiasai hari-harinya. Dia tidak akan sanggup jika harus hidup tanpa kehadiran Sagar. Bahkan pernikahan yang dulu paling ia benci, sekarang berbubah menjadi pernikahan yang sangat ia rindukan.
" Aku sangat terdesak, aku sangat tahu dengan jelas, jika aku ini adalah orang yang paling payah di kehidupan ini. " Nadira menutupi mukanya dengan tangan, ia tidak henti-hentin nya menangis di hadapan pria itu.
" Aku tahu, dunia tidak akan merubah sesuatu hanya untuk satu orang seperti diriku ini. " Tanpa sadar Nadira sudah berbicara banyak tentang kehidupan nya. Entah bagaimana tapi, rasanya Nadira sangat mempercayai pria pirang ini. Bahakan selama ini Hamid yang terbilang dekat dengan nya pun belum pernah mendengarkan cerita Nadira yang satu ini. Karena Nadira bukan lah tipikal wanita yang suka mengumbar kisah rumah tangga nya dengan orang lain. Dia selalu tertutup dengan orang lain dan memendam semua masalah sendirian.
" Tapi aku selalu berharap dunia bisa berubah hanya demi satu orang seperti aku ini. " Pria pirang masih setia mendengarkan omongan Nadira tanpa berpaling muka dan menjawab satu kata dari omongan Nadira. Karena dia tau waktu yang paling tepat untuk memberikan saran kepada Nadira.
__ADS_1
" Aku berharap Tuhan datang, dan mendengarkan setiap keluhan ku. Dan mendengarkan permohonan ku di setiap doa ku. Aku benar-benar ingin menyelamatkan orang itu! " Kata Nadira di sela isak tangis nya.
" Orang itu?" Pria pirang mulai membuka suaranya.
" Orang itu apakah orang yang sangat kamu cintai? " Tanya pria pirang dengan menatap Nadira serius.
Nadira mengusap air matanya dan gelagapan dengan pertanyaan pria itu. Karena ia sendiri baru terketuk hatinya dengan pertanyaan pria ini.
" Dia su-suamiku. " Jawab Nadira gelagapan.
" Berarti dia adalah orang yang sangat kamu cintai. " Pria itu tersenyum penuh arti.
' Orang yang aku cintai? ' Pikir Nadira.
" Iya, orang yang kamu cintai sampai kamu merasa sangat sesak dan terdesak. Kamu harus berterus terang dan bilang jika kamu mencintainya kepada orang yang kamu cintai. Sampai dia juga memiliki tekad untuk bisa melampaui takdir itu. ' Saran dari pria pirang itu dengan serius.
' Benar, aku.... ' Jantung Nadira berdegup dengan kencang. Dia sangat deg deg membayangkan wajah Sagar.
' Aku benar-benar cinta. Sejak awal aku ingin hidup di mana dunia kamu hidup. Kamu harus hidup demi aku! Karena aku sangat menyukaimu. Aku sangat ingin hidup dengan mu. ' Nadira memegangi dadanya dengan aliran air mata.
' Aku benar-benar sangat menyukainya. '
" Maaf! Apakah sudah selesai menangisnya? " Tanya pria pirang, karena mendapati Nadira yang menangis sejak tadi hingga membuat kedua matanya menjadi bengkak.
' Apa sih yang sedang aku lakukan, hingga mengizinkan pria ini duduk di sebelahku? Hingga aku menceritakan hal kehidupan ku sampai menangis tersedu-sedu di hadapannya. Tapi ini kenyataan nya. ' Batin Nadira yang baru menyadari sudah bercerita banyak hal.
" I-ya. " Nadira mengusap air matanya.
__ADS_1
" Tapi kenapa ya? Aku bisa menceritakan semuanya kepadamu? " Tanya Nadira dengan heran.
" Tidak apa-apa. Santai saja. Banyak kok orang yang seperti itu. Sepertinya aku punya kemampuan khusus hingga membuat lawan bicaraku menceritakan perasaan nya dengan tulus. " Pria itu tersenyum ramah.
" Ya, walau pun tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan kemampuan mu. " Kata pria pirang itu dengan penuh arti.
" Ak--? "
" Aku harus pergi sekarang. " Kata pria itu memutus omongan Nadira.
" Sampai ketemu lagi. " Pria itu berjalan meninggalkan Nadira dengan melambaikan tangannya.
" Hei tunggu! Apa maksudmu dengan kekuatanku? " Tanya Nadira dengan bingung.
" Setelah hari ini, kita akan bertemu dengan wajahmu yang gembira ya. " Kata pria itu dengan wajah serius dan kembali berjalan.
" Hei, setidaknya katakan siapa namamu?! " Teriak Nadira.
" Sadewa! namaku Sadewa. " Kata pria itu.
' Namanya unik sekali ya, seperti dewa. Yang berarti seperti Tuhan. ' Batin Nadira dengan tersenyum.
" Namamu seperti dewa. " Kata Nadira dengan tersenyum.
" Haha! Dewa? Aku senang mendengar kata-kata itu. " Pria itu kembali berjalan.
Tidak terasa, hari sudah mulai gelap. Perasaan Nadira baru sebentar berada di taman dan juga mengobrol dengan Sadewa.
__ADS_1
' Apa aku terlalu serius mengobrol dari tadi ya? Sehingga aku tidak merasa telah lama berada di sini? ' Batin Nadira.
Bersambung..