
Sagar menyembunyikan hadiah yang ia bawa di balik badannya. Dia berharap Nadira bisa bahagia melihat hadiah dari Sagar.
" Kakak tidak ikut ke acara Alesa? "
" Memangnya aku bilang akan pergi ke sana? "
" Tadi aku kan kirim pesan ke kakak dan tanya, apa kakak pergi kesana? "
" Dan jika kamu tidak pergi kesana, untuk apa aku pergi. "
' Jadi, kakak lebih memilih menemuiku ketimbang menemani Alesa. ' Batin Nadira. Dia tersenyum sendiri karena Sagar lebih memilihnya.
" Apa situasi hatimu sudah membaik? "
" Memangnya aku kenapa? " Tanya Nadira heran.
" Ini hadiah untukmu. " Sagar memberikan buket bunga mawar yang begitu cantik untuk Nadira. Nadira yang melihat buket bunga itu mukanya langsung pucat, dia mundur selangkah seperti orang syok yang melihat bunga.
" Kamu kenapa? " Tanya Sagar heran melihat perubahan sikap Nadira.
" Hiks. Hiks. " Nadira mulai menangis. Dia sudah tidak bisa menahan air matanya yang sudah menggenang.
" Ada apa? " Sagar memegang kedua pundang Nadira dengan penuh kebingungan.
' Bunga ini. Harum bunga ini. Aku sangat membencinya. ' Nadira masih ingat betul ketika ulang tahun nya dia malah mendapat karangan bunga dari Sagar yang terakhir kalinya.
' Dulu aku sangat menyukai harum ini. Tapi sekarang aku sangat membencinya. Karena bunga ini aku jadi ingat saat kamu pergi dari dunia ini. Aku jadi ingat betapa sakitnya mendapat hadiah ulang tahun dari orang yang sudah meninggal. Apa lagi meninggal nya karena aku. ' Batin Nadira yang tiada henti menangis.
" Aku tidak suka bunga ini! " Nadira menepis bunga yang ada di tangan Sagar. Dia langsung berlari masuk ke kamarnya.
' Apa yang terjadi dengan dia? Apa aku membuat kesalahan lagi? Apa dia menangis karena aku? ' Sagar berlari menyusul Nadria dan membuang bunga itu begitu saja.
Nadira masih bersedih dengan kejadian dulu, dia sangat tau niat Sagar bukan lah untuk membuatnya bersedih seperti ini tapi, Nadira sendiri yang masih belum bisa menerima kenyataan masa lalunya.
" Kalau kamu tidak suka dengan hadiah itu, kita bisa cari hadiah yang lain." Kata Sagar membujuk Nadira. Sedangkan Nadira masih tetap bersedih. Sagar memeluk Nadira yang duduk di tepi ranjang.
" Jangan menangis seperti ini. Ada apa? Apa yang membuatmu sedih? Katakan kepadaku. "
' Bagaimana aku bisa mengatakan hal di masa depan kepadamu. Aku sangat takut. ' Batin Nadira.
" Kamu mau keluar? Kita cari hadiah Natal bersama. " Kata Sagar lembut. Nadira menganggukkan kepalanya.
' Maaf, aku tidak bermaksut menyusahkanmu, tapi hanya satu yang aku ingin kan, yaitu tetap bersamamu dan melihatmu hidup dengan baik. ' Batin Nadira.
__ADS_1
****
Sagar mengemudikan mobilnya sendiri. Dia menyusuri kota yang tengah ramai orang berlalu lalang merayakan Natal.
" Kamu mau pergi ke pameran? Kebetulan ada acara amal di sana. Siapa tau kamu menyukai sesuatu. "
" Iya. " Jawab Nadira singkat.
Sagar memacu mobilnya menuju acara pameran di ujung kota. Walau pun perjalanan memakan waktu satu jam Sagar tetap membawa Nadira pergi ke sana.
Sagar dan Nadira berjalan beriringan memasuki aula pameran yang di selenggarakan di sebuah rumah mewah bergaya american, suasana di sana terlihat sangat ramai. Ada yang memamerkan beberapa lukisan, barang kuno, barang antik, bunga hias, foto frame, dan pernak pernik lain nya. Yang datang kemari juga bukan dari kalangan atas saja, tapi ada juga dari kalangan mengah dan juga bawah. Itu sebabnya tempat ini selalu ramai sepanjang bulan Desember.
" Silahkan tuan, nyonya foto langsung cetak untuk kenang kenangan. " Tawar seorang pemilik Stand foto.
" Kamu mau? " Tawar Sagar.
" Boleh. " Sagar dan Nadira masuk Booth studio foto.
" Permisi tuan, agak mendekat sedikit. " Tukang foto mengarahkan agar Sagar lebih mendekat ke arah Nadira, karena posisi Sagar berdiri berjauhan dengan Nadira seperti sedang bermusuhan. Sagar mendekatkan dirinya ke tubuh Nadira.
' Kenapa jantungku berdebar seperti ini. ' Batin Sagar saat berada di dekat Nadira.
" Satu... Dua... Senyumm! " Teriak tukang foto itu.
Ckrik! Cekkrik!
" Ppfftt! " Nadira menahan tawanya saat melihat ekspresi Sagar yang begitu kaku saat foto bersamanya.
" Kakak ini kenapa berpose se kaku ini sih. Hasilnya jelek kan. " Grutu Nadira.
" Iya maaf. " Sagar menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Coba lihat ini. " Sagar memperlihatkan suatu foto yang tidak sengaja di jepret foto grafer itu, ketika Sagar dan Nadira tertawa lepas yang tadinya saling mengejek. Hasilnya sangat alami dan bagus bahkan terlihat seperti pasangan yang sangat harmonis.
" Ini cantik sekali. Kamu terlihat sangat cantik di sini. " Puji Sagar.
" Apa sih. " Pipi Nadira merona karena malu.
" Ayo kita jalan lagi. Siapa tau ada sesuatu yang menarik lagi. " Sagar menarik tangan Nadira untuk masuk lebih kedalam lagi. Dia melihat beberapa aksesoris perabotan rumah tangga.
" Apa kamu tertarik sesuatu? "
" Semua terlihat indah kak. " Kata Nadira bersemangat.
__ADS_1
" Ikut aku! " Sagar menarik tangan Nadira.
" Bisa buatkan satu dengan foto ini. " Kata Sagar ke pengrajin acrylic. Dia menyodorkan foto mereka yang tadi terlihat tertawa alami.
" Bikin yang beda dari yang lain. "
" Baik tuan. "
Nadira melihat lihat Acrylic yang indah dengan hiasan lampu gemerlapan. Semua terlihat indah di mata Nadira, karena dia sendiri tidak bisa membuatnya. Setelah beberapa saat, pengrajin itu mendatangi Sagar dan menunjukkan hasilnya, yang mungkin saja ada kekurangan agar bisa ia perbaiki.
" Bagaimana tuan? Apakah ada yang perlu saya tambahkan? "
" Apa kamu mau di tambahkan yang lain? " Sagar balik bertanya kepada Nadira.
" Woaahh ini sangat cantik! " Puji Nadira, yang sangat takjub dengan hasil yang di buat oleh pengrajin itu.
" Kamu menyukainya? " Nadira mengangguk senang.
" Oke ini saja, berapa semuanya? "
" Dua juta tuan. " Sagar memberikan kartu hitamnya untuk membayar benda itu.
Di dalam mobil Nadira terus memegangi Acrylic yang di berikan Sagar. Dia memegang nya dengan penuh hati hati agar tidak rusak.
' Sepertinya moodnya sudah membaik. ' Batin Sagar dengan melirik ke arah Nadira.
" Kak. " Panggil Nadira
" Iya. "
" Terimakasih untuk hadiahnya. "
" Iya. "
" Oh iya, kenapa kakak tidak datang ke acara dinner party itu? "
" Untuk apa aku pergi ke sana sendirian? Kamu juga tidak mau pergi ke sana. "
" Tapi itu kan acara sambutan untuk teman baik kakak. "
" Terus apa pentingnya? Itu semua tidak lebih penting dari pada kamu. " Kata Sagar dengan menatap lurus ke jalan. Pipi Nadira merona merah tersipu malu. Dia menatap ke arah Sagar dengan perasaan tidak menentu.
" Kenapa? " Tanya Sagar.
__ADS_1
" Tidak ada apa apa. " Nadira kembali tertunduk. Dengan perasaan yang sangat bahagia. Malam ini adalah malam Natal pertamanya yang sangat membuat hidupnya bahagia. Bahkan sejak ia kecil ia tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini. Dulu yang ia rasa hanyalah hari hari seperti biasa entah itu hari Natal atau hari besar lain nya.
Bersambung...