End Happy Wedding

End Happy Wedding
Bab 67


__ADS_3

" Sayang mumpung ini masih pagi. "


Nadira tidak mengerti kemana arah pembicaraan Sagar.


" Apa kamu tidak ingin menyentuh sesuatu dari tubuhku? " Sagar merentangkan tangan nya dengan senyum lebar di bibirnya.


" Ha? Yang ingin aku sentuh? " Tanya Nadira heran. Ia masih belum sepenuhnya nyambung dengan maksut Sagar.


" Aku kan orang nya gampang dan baik hati, jadi aku membebaskan mu untuk menyentuhku semaumu. " Kata Sagar dengan senyuman.


" Jika kamu memaksaku, maka aku tidak akan merasa sungkan. " Nadira memeluk Sagar dengan hangat dan penuh senyuman.


" Dengan begini, aku bisa mendengarkan detak jantung suamiku. " Kata Nadira dengan menempelkan telinganya di dada Sagar.


" Aku sangat menyukainya. " Kata Nadira sambil memejamkan matanya menikmati aliran detak jantung Sagar.


" Apa lebih baik aku libur ke kantor saja ya? " Kata Sagar dengan wajah me merah membalas pelukan Nadira, dia sangat ingin berlama-lama di rumah berduaan dengan istrinya yang telah berhasil membuatnya se bucin ini.


" Kakak ngomong apa sih? " Nadira melepaskan pelukan nya, dan menatap tajam ke arah Sagar.


" Jika kakak masih ingin terus menyekolahkan aku, kakak harus bekerja keras! Tidak boleh malas-malasan. " Kata Nadira tegas.


" Benar juga ya. Istriku kan masih harus terus belajar di kampus. "


" Iya, jika sekolah sampai Profesor biayanya tidak sedikit. Itu memerlukan banyak uang. Kalau kakak mau berhenti bekerja tunggu sampai aku lulus dan bekerja dengan gaji yang tinggi. " Kata Nadira.


Sagar hanya mengangguk menuruti setiap hal yang di ucapkan Nadira.


" Dan jika kakak berhenti, mulai saat itu ganti aku yang menafkahi kakak. " Kata Nadira sambil tertawa hangat. Sagar pun ikut tertawa.


" Iya-iya sayang. " Sagar memeluk Nadira kembali dengan gemas.


" Kenapa ya, tiba-tiba saja jiwa bekerja ku membara? " Kata Nadira sambil memandang ke arah wajah Sagar.


' Bagus, apa ini waktunya sudah tepat? ' Pikir Nadira.


" Engg... " Nadira berkata ragu-ragu.


" Apa? " Tanya Sagar.


" Yeobo! " Nadira berbisik di telinga Sagar dan langsung berlari karena malu.

__ADS_1


' Yeobo?! ' Sagar tersipu saat mendengar Nadira mengatakan hal itu tanpa di suruh.


" Cepat bersiap! Dan pergi bekerja! " Teriak Nadira dari balik pintu kamar mandi di dapur. Sagar masih tersenyum karena tergiang-ngiang panggilan itu.


" I-iya. " Jawab Sagar sambil berbalik menuju kamar.


' Jika kamu terus-terusan bersikap manis seperti itu, aku harus bagaimana istriku? ' Batin Sagar dengan perasaan gelisah.


' Rasanya aku tidak ingin pergi bekerja, dan terus-terusan berada di dekatmu. '


*****


Sagar memasuki lobi kantor, kemudian ia memencet tombol lift pribadinya.


" Tuan Sagar tunggu! " Teriak resepsionis saat Sagar hendak memasuki lift.


" Ada apa? " Tanya Sagar kembali keluar dari dalam lift.


" Ini tadi ada kiriman paket tuan. " Pegawai itu menyerahkan amplop coklat besar ke Sagar.


" Apa ini? " Tanya Sagar sambil membuka isi amplop coklat.


Mata Sagar terbelalak kaget saat melihat isi dari amplop yang ternyata adalah foto Nadira yang sedang menangis dan berduaan dengan pria asing.


" Katakan! Siapa orang yang mengirim paket ini?! " Kata Sagar dengan tajam.


" I-itu saya menerimanya dari kurir barang tuan. " Kata pegawai dengan takut melihat ekspresi marah Sagar.


" Cari tau siapa pengirim dari paket ini, lacak dari alamat dan nomor telfon nya! " Sagar memberikan amplop coklat dan tetap membawa isi foto itu.


" Baik tuan. " Kata pegawai itu dengan rasa takut, karena sikap Sagar yang tiba-tiba seperti ingin memangsa lawan bicaranya.


Di depan layar monitor komputernya, Sagar masih tetap tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaan nya. Dia terus memandangi foto yang ia tebar di mejanya. Dia bingung, mengapa seseorang dengan sengaja mengiriminya foto seperti itu. Apa semua itu untuk membuatnya marah dan cemburu kepada istrinya?


' Apa maksud dari semua ini? Apa maunya orang yang mengirim foto ini? ' Pikir Sagar bingung.


' Aku harus mencari tau ini semua. ' Sagar mengambil foto pria di lembaran itu.


' Siapa laki-laki ini? Sepertinya tidak asing bagiku. Wajah ini terlihat sangat familiar sekali. ' Sagar memandang dang mengingat kembali gambaran orang itu.


' Kenapa ya? Dia bisa di sekitar istriku? Bahkan istriku tidak pernah sedekat ini dengan siapa pun kecuali Hamid dan Sasi. '

__ADS_1


****


Hari ini Sagar sengaja pulang lebih awal. Pukul 18:00 Sagar sudah ada di halaman apartemen rumahnya. Dia pulang bukan karena masalah foto itu, melainkan dia sudah tidak bisa menahan rindu terhadap istrinya.


" Aku pulang.. " Teriak Sagar.


Tapi tidak kunjung dapat jawaban, dia sudah mengira jika istrinya belum pulang. Karena ia pulang lebih awal tidak memberi kabar terlebih dahulu.


" Ternyata dia masih belum pulang ya? " Kata Sagar lirih. Sagar melepaskan sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu. Dia berjalan masuk sambil merogoh saku nya untuk mengambil ponsel nya dan segera menghubungi istrinya.


" Halo. " Sapa Nadira saat telfon sudah tersambung.


" Aku sudah pulang lebih awal karena sangat merindukan mu, tapi kenapa kamu malah belum pulang? " Kata Sagar


" Kakak sudah pulang? Aku tidak tau jika kakak akan pulang secepat ini. "


" Kamu ada di mana? " Tanya Sagar. Dia mengambil kotak lampu yang tergeletak di meja ruang tamu. Sagar mengambilnya dan membukanya.


" Aku sedang dalam perjalanan pulang. Sebentar lagi sampai kok. Tunggu sebentar ya! " Pinta Nadira.


" Oiya, ini ada lampu di meja ruang tamu. Ini untuk apa? " Tanya Sagar kepada Nadira.


" Ah itu, mungkin saja bibi yang meletak kan nya di sana. Karena aku tidak menaruh itu di sana. " Jawab Nadira.


" Soalnya, kemarin lampu di kamar lamaku mati, aku menyuruh bibi untuk membelikan lampu dan memasangnya. Tapi sepertinya bibi hanya membeli nya dan menaruh itu di meja. " Jelas Nadira.


Sagar berjalan menuju kamar Nadira dan mengecek keadaan di sana. Dan benar saja, ternyata lampunya mati.


" Mau aku yang menggantikan nya? " Tanya Sagar.


" Tidak! Tidak perlu! Biar aku sendiri saja yang memasang lampu itu. " Tolak Nadira.


Sagar masuk ke dalam kamar dan melihat ke arah tempat lampu.


" Memangnya kamu bisa memasang lampu? Sepertinya tinggimu tidak mencapai tempat lampu itu. " Remeh Sagar.


" Aku pernah melakukan nya kok. Sebelum kakak perhatian denganku, aku pernah melakukan itu sendiri. Memangnya kakak pernah memasang lampu? Sepertinya kakak tidak memiliki pengalaman itu, jadi dari pada Yeobo yang melakukan nya, lebih baik aku saja. " Wajah Sagar langsung memerah mendengar Nadira memanggilnya sayang seperti itu. Sagar hanya bisa senyum-senyum sendiri di balik layar telfon nya.


" Sudah, lebih baik kamu cepat pulang. Hati-hati di jalan ya sayang. " Kata Sagar mematikan telfon.


' Lebih baik aku mengganti nya dulu. ' Pikir Sagar. Dia mencari kursi untuk menyangganya agar sampai di langit-langit tempat lampu berada.

__ADS_1


Sagar berjalan mendekati meja belajar milik Nadira. Sebelum mengambil kursi, Sagar salah fokus terhadap buku harian Nadira yang terbuka di atas meja. Sagar menyalakan senter ponsel nya untuk memberikan sedikit penerangan pada tulisan buku itu. Mata Sagar terbelalak saat melihat isi buku harian Nadira yang tertulis setiap hal kejadian yang menimpa dirinya dan tertera setiap hal kejadian yang akan datang.


Bersambung.....


__ADS_2