End Happy Wedding

End Happy Wedding
Bab 64


__ADS_3

" Aku kira periksa nya cuma sebentar, tidak taunya selama ini ya. " Kata Sagar dengan menggandeng tangan Nadira keluar dari dalam rumah sakit.


" Iya, kakak mau makan dulu? " Nadira menghentikan langkahnya.


" Boleh. " Jawab Sagar.


" Mau makan di sana? Sepertinya kakak tidak banyak waktu. " Kata Nadira sambil menunjuk warteg yang lokasinya tidak jauh dari rumah sakit.


' Tapi, apa kakak suka ya? Makan di tempat seperti itu. ' Batin Nadira. Ia lupa dengan kebiasaanya.


" Ternyata makanan di warung, kita tidak perlu menunggu lama ya, makananya sudah jadi. " Kata Sagar dengan ceria, melihat semua makanan sudah berjajar di meja mereka.


" Iya, aku memesanya yang tidak perlu di masak dulu. "


" Tempatnya juga tidak terlalu buruk. Bahkan untuk ukuran warung tempat ini sangat bersih sih. " Kata Sagar dengan mengamati sekeliling keadaan warung itu. Memang tempat itu terlihat sangat rapih dan bersih, karena setiap orang selesai makan, pelayan langsung membersihkan meja agar tidak mengganggu kenyamanan pengunjung lain.


" Sayang. " Panggil Sagar dengan menyuap makanan yang ada di hadapan ya.


" Iya. "


" Akhir pekan apa ada yang kamu lakukan? " Tanya Sagar.


" Sepertinya tidak ada. "


" Mari kita kencan. "


" Uhuk! " Nadira tersedak mendengar ucapan Sagar.


" Pelan-pelan makan nya. " Kata Sagar sembari memberikan es teh.


Nadira langsung meminum es teh yang di berikan Sagar.


" Tunggu tangan kakak sembuh dulu saja. Kakak terlalu bekerja keras sepanjang hari. Jadi gunakan waktu libur dengan beristirahat dengan baiik. " Kata Nadira.


" Aku akan mengurangi pekerjaanku mulai sekarang. "


" Memangnya bisa di kurangi? " Tanya Nadira heran.


" Bisa, harus di usahakan dong. " Sagar tersenyum manis ke arah Nadira.


" Karena itu, coba pikirkan kembali. Selama tiga tahun belakangan kita tidak pernah melakukan hal ini dengan alasan kesibukan masing-masing. Untuk itu, mari kita lakukan hal itu sekarang. "

__ADS_1


' Hal yang tidak pernah di lakukan tiga tahun terakhir. Dan tidak pernah kamu lakukan selamanya di masa depan yang lain. ' Batin Nadira menatap Sagar dengan sendu.


" Baiklah, mari kita pergi berkencan. "


" Kamu mau pergi kemana? " Tanya Sagar.


" Bagaimana jika kita pergi ke Bali? "


" Boleh, tapi kita memerlukan waktu yang panjang untuk di sana. Dua hari tidak cukup untuk kita berada di sana. " Kata Sagar.


" Tapi aku hanya kepikiran tempat itu. " Kata Nadira.


' Jika dulu kamu tidak bisa menikmati keindahan pulau dewata itu. Aku akan mencoba mengubahnya supaya kamu bisa menikmati hal itu bersamaku. Di kehidupan ini aku sangat yakin jika aku bisa membuatmu merasakan nya. ' Batin Nadira.


****


Bibi Art yang biasa membersihkan rumah Sagar keluar dan berjalan menuju tempat parkir apartemen dengan celingukan sana sini. Dia memakai kupluk jaketnya dan masuk ke dalam sebuah mobil. Setelah masuk dia langsung memberikan sebuah ponsel kepada seorang wanita yang tentunya tidak asing lagi bagi kita.


" Ternyata kamu datang dengan secepat ini. " Kata Karina.


" Apa kamu sudah foto semuanya? " Tanya karina kembali dengan mengambil ponsel yang di berikan Bibi art itu.


Bibi hanya tersenyum dan mengangguk. Karina melihat semua tulisan diary di buku yang sudah di foto bibi. Mulai dari kejadian di pertemuan keluarga, luka bakar akibat tumpahan sup, pesta ulang tahun ayah mertuanya, pendaftaran mermohonan cerai hingga saat dimana ia resmi bercerai dengan Sagar, dan kejadian di mana Sagar mengalami kecelakaan parah yang mengakibatkan kematian.


" Dan anehnya semua yang di tulis sebagian sudah menjadi kenyataan. " Gumamnya.


" Kerjamu sangat bagus sekali. Teruslah bersikap seperti ini. " Puji Karina kepada bibi Art. Bibi itu hanya bisa tersenyum puas melihat orang yang menyuruhnya pusas dengan pekerjaan nya.


****


Sepulang dari menemani Sagar, Nadira kembali keluar untuk bertemu dengan Sasi, dia tadi mengirim pesan kepada Nadira jika ia ingin curhat karena menghadapi suatu masalah. Tentu saja Nadira akan menemani nya, karena Sasi sendiri selalu ada di saat Nadira membutuhka nya.


" Aku kira kamu tidak akan datang. Karena sibuk. " Kata Sasi dengan menyeruput secangkir kopi espresso.


" Kebetulan hari ini aku mengambil kelas pagi saja. Jadi udah longgaran dari tadi siang. "


" Hari ini aku datang saat membutuhkan mu. " Kata Sasi tidak enak hati.


" Santai saja. Biasanya kamu juga selalu ada kan buat aku. " Nadira memegangi tangan Sasi.


" Aku benar-benar ingin meluapkan segala amarah ini ke suatu tempat, tapi bingung di mana. Aku benar-benar merasa sangat sesak sekali. " Kata Sasi dengan sedih dan kesal.

__ADS_1


" Memangnya kenapa? Kamu sedang kesulitan ya? Semangat. "


" Coba saja ya, jika aku punya uang. Kalau saja aku punya uang tabungan satu milyar saja. Aku pasti akan keluar dari perusahaan ini. Coba saja aku bisa menang lotre. " Kata Sasi dengan menggebu-gebu.


" Kalau itu sih keinginan semua orang. " Kata Nadira dengan santai.


" Kamu masih ikutan membeli nomor lotre di luar negeri? " Tanya Nadira menebak.


" Iya. " Jawab Sasi lesu.


" Kamu membelinya dengan nomor yang sama dua kali berturut-turut? " Tebak Nadira lagi.


" Iya, tapi sudah berapa tahun aku tidak mendapatkan nya juga. " Kata Sasi dengan sedih.


' Sasi, nomor itu bakalan keluar. ' Batin Nadira.


" Apa aku beli dengang nomor yang berbeda lagi saja ya. "


" Jangan! Tetap gunakan nomor itu! " Kata Nadira dengan tegas.


" Jika kamu mempertahan kan nomor itu, tentu saja kamu akan menang. Jika kamu menggantinya percuma saja kan perjuangan kamu selama ini akan sia-sia saja. Pokoknya kamu harus pakai nomor itu! Jangan di ganti. " Kata Nadira dengan tegas dan percaya diri.


" I-iya. " Sasi menjawab dengan heran terhadap sikap Nadira.


" Oiya, kadang jika aku melihatmu seperti aku melihat orang yang kembali hidup di dunia. " Kata Sasi asal bicara.


' Memang benar! ' Batin Nadira.


" Terkadang aku yang mendengar kata-katamu itu loh, sangat menarik sekali. Kamu tau tidak, ini sih cerita dari nenek buyutku dulu saat masih hidup. "


" Apa? " Tanya Nadira penasaran.


" Katanya kalau hidup dengan baik di detik-detik terakhir hidupmu Tuhan akan datang dan memberimu kesempatan untuk memutar kembali waktumu. Mungkin semacam reinkarnasi kali ya? Dan kamu akan benar-benar hidup dua kali. " Kata Sasi mengakhiri ceritanya.


" Di beri kesempatan mengembalikan waktu dan bisa hidup dua kali? " Batin Nadira dengan tubuh gemetar.


" K-ke masa de-pan? " Tanya Nadira dengan gemetar. Karena ia sekarang mengalami hal yang sedang di ceritakan oleh Sasi.


" Hahaha, tentu saja aku tidak tau, karena aku sendiri belum ketemu waktu terakhirku. " Kata Sasi dengan santai. Karena menurutnya itu semua hanya mitos yang di ceritakan oleh nenek buyutnya.


" Aku belum mencapai saat waktu terakhir dalam hidupku. Lalu ini apa yang sedang aku jalani? " Pikir Nadira dengan panas dingin dan tubuh gemetar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2