End Happy Wedding

End Happy Wedding
Bab 63


__ADS_3

Pagi ini Sagar tidak langsung pergi ke kantornya. Dia pergi menuju kantor ayah nya terlebih dahulu. Karena ada sesuatu yang mendesaknya untuk segera bertemu dengan ayah nya.


" Ada apa kamu sepagi ini sudah ada di kantor ayah? " Tanya Ayah Sagar.


" Ada yang ingin aku tanyakan. " Sagar berbicara dengan ceria, tidak datar seperti biasanya saat bertemu dengan ayahnya.


" Tanyakan saja. "


" Kapan dewan eksekutif di umumkan? " tanya Sagar.


" Apa? Kenapa? Apa kamu menginginkan seseorang untuk segera naik jabatan? " Tanya ayah Sagar. Karena walau bagaimana pun perusahaan mereka saling bergantung satu sama lain. Apa pun keputusan yang akan Sagar ambil ia selalu mendiskusikan dulu dengan ayah nya. Agar tidak terjadi ke salah pahaman antara mereka.


" Bukan begitu. Ayah tau kan tuan Ji ? Selama ini dia tidak pernah mendapatkan pencapaian yang baik. Tapi dia masih memegang menjadi direktur perusahaan. "


" Maksutmu tuan Ji Hairim? " Tanya ayah Sagar memastikan.


" Iya. "


" Hmmm, perusahaan tashi yang di pegang tuan Ji itu kan termasuk perusahaan kecil.. "


Kata ayah Sagar sambil berfikir.


" Betul sekali, jangan sampai karena noda kecil itu air akan menjadi keruh. " Kata Sagar dengan tersenyum.


" Ayah tau kan, pekerjaan Ji Hairim tidak pernah benar? Selalu saja berantakan. "


" Tapi nak, aku memiliki hutang budi kepada orang tua Ji Hairim. Aku tidak mungkin bisa memecat dia begitu saja. "


" Ayah lihat ini. " Sagar memberikan amplop berwarna coklat.


" Ini adalah hasil penyelidikan ku selama ini."


Ayah Sagar mengambil amplop dan membaca isinya.


" Ini semua adalah hal ilegal kan ayah? Aku tidak ingin membiarkan dia terus menerus begini. Dia bisa mengotori Group perusahaan. "


' Dan dia akan terus membuat Nadira kesulitan. ' Kata Sagar yang ia simpan di dalam hati.


Ayah Sagar, masih memahami semua hasil penyelidikan Sagar.


" Ayah, jika ayah melakukan semua ini dengan perasaan di masa lalu. Aku rasa, tindakan ayah selama ini sudah termasuk balas budi. " Kata Sagar dengan santai.

__ADS_1


" Ayah tinggal memecat dia dengan tegas! Layaknya seorang pemimpin biasanya. " Kata Sagar dengan senyuman.


" Kamu pikir mudah dalam melakukan pemecatan?! Itu tidak semudah seperti bicara. " Ayah Sagar menaruh amplop di meja.


" Aku akan memikirkan semuanya dulu. "


Sagar menatap ayahnya dengan kecewa. Karena ia berharap dengan ayahnya melihat tindakan ilegal Ji Hairim, itu akan membuat Ji Hairim keluar dengan mudah, tapi nyatanya malah ayahnya lebih memilih mempertimbangkan walau sudah tau jelas kesalahan Ji Hairim.


" Oiya, katanya orang tua Nadira datang? " Tanya ayah Sagar mengubah topik agar lebih santai.


" Iya, kemarin mereka datang dan menginap di rumah semalaman, katanya dia ada keperluan di Kepatihan. "


" Kenapa kamu tidak memberi tauku? "


" Untuk apa? " Tanya Sagar dingin.


" Harusnya kamu mengundang kami datang juga. "


" Ayah kan pernah datang ke rumah sekali. "


" Itu hanya sekali! Harus nya sering sering dong. Kamu itu harus memperlihatkan menantuku kepada kami. Biar dia semakin akrab dengan kami. Kapan kamu mengajak Nadira berkunjung kerumah kami lagi? Ibu mu sudah menunggu nya tau. " crocos ayah Sagar.


" Iya, nanti akan aku tanyakan kepada Nadira. "


" Mendesak sekali? Aku juga harus menunggu waktu luang, Nadira juga. Baru kami bisa pergi. Waktu buat berduaan dengan Nadira saja hampir tidak ada. Gimana mau berkunjung ke rumah ayah. " Kata Sagar sedih.


" Apa selama ini ayah tidak merasa jika memaksa ku hingga jadi seperti ini. Aku kan jadi terlalu sibuk dan tidak ada waktu buat dia. "


" Hei dasar bocah ini! Kamu selalu bicara konyol seperti ini. Padahal kamu sendiri dulu yang meminta merintis perusahaan sendiri dan bilang tidak ingin mengandalkan orang tua. "


' Iya, itu karena aku masih belum mengenal Nadira. Kehidupan bagiku hanya hobi dan bekerja sepanjang hari. Tapi sekarang kan situasinya berbeda. ' Batin Sagar dengan cemberut.


Sagar melamun membayangkan sikap manis dan imut Nadira, dia membayangkan bisa berdekatan dan bermesraan berdua dengan Nadira. Dia melihat dan mendengar tawa manja Nadira yang penuh cinta dan kasih sayang.


' Ternyata kebahagiaan hidup tidak berada di dalam perusahaan yang rumit ini. Tapi kebahagiaan itu ada di dalam rumah yang sangat hangat dan harmonis. ' Sagar memejamkan matanya dan membayangkan wajah cantik Nadira dengan tersenyum.


' Aku harus mengatur jadwalku lebih baik lagi. Agar aku bisa mengerjakan semua pekerjaanku dengan baik dan cepat selesai lebih awal. Agar aku bisa pulang kerumah menemui istriku yang sangat cantik yang menungguku pulang. Aku tidak akan menambahkan pekerjaan lagi. Apa lagi pekerjaan tambahan dari ayah. ' Batin Sagar.


" Memangnya kenapa? Apa pekerjaanmu terlalu banyak? Tidak biasanya kamu mengeluh seperti ini. Padahal aku mau memberikan satu pekerjaan untukmu. " Kata Ayah Sagar dengan santai.


" Huh.. " Sagar menghembuskan Nafasnya dia membuka lengan jaz sebelah kirinya.

__ADS_1


" Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal ini kepada ayah. Tapi aku rasa perlu juga memberi tau ayah. " Sagar memperlihatkan tangan kirinya yang di perban.


" Ayah tau ini?! Aku terkena luka bakar di tanganku. "


" Apa?! Bagaimana bisa jadi seperti itu?! " Tanya Ayah Sagar dengan kaget.


" Ada lah... Memang sih, luka nya tidak terlalu parah. Tapi jika terlalu di paksakan bekerja sepanjang hari, itu akan menghambat proses penyembuhan ku. Karena aku juga perlu waktu buat istirahat. "


" Apa itu sangat sakit? " Tanya ayah Sagar khawatir.


" Lumayan. "


" Baiklah, kesehatan memang yang paling penting dari pada segalanya. Aku tidak akan memberikan kamu tambahan pekerjaan. Dan lebih baik kamu mengurangi porsi pekerjaanmu. Kamu kan CEO, bisa saja kan kamu menyuruh bawahanmu untuk mengerjakan semuanya. "


" Hehehe, baik ayah terimakasih. "


' Akhirnya.. Ayah mengerti juga. ' Batin Sagar dengan lega.


*****


Setelah kembali dari kantor ayahnya, Sagar langsung pergi ke rumah sakit, karena hari ini Sagar baru bisa pergi cek up. Kemarin siang Sagar menunda pergi Cek up karena ia ingin mempercepat melakukan penyelidikan terhadap Ji Hairim.


" Apa kamu sudah lama menungguku? " Tanya Sagar, saat mengetahui Nadira sudah duduk di kursi tunggu pasien.


" Tidak, aku belum lama datang. Ayo kita langsung pergi berobat. "


" Ayo. " Sagar menggandeng tangan Nadira dengan mesra.


" Kita perlu naik lift? " Tanya Nadira.


" Iya. "


Sagar memencet tombol lift untuk naik ke lantai tiga. Mereka masuk kedalam setelah pintu terbuka. Saat pintu sudah tertutup kembali, Sagar langsung memeluk Nadira dengan erat. Karena di dalam lift hanya ada mereka berdua.


" Aku sangat rindu kamu. " Sagar menciun pipi Nadira.


" Apa an sih?! Kita baru berpisah selama dua jam yang lalu. " Kata Nadira.


" Benar sekali. Tapi aku sangat rindu kepadamu. " Sagar kembali memeluk Nadira.


" Aku juga. " Nadira membalas pelukan Sagar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2