
Nadira masih menunggu jawaban Sagar dengan penasaran.
" Kapan? " Ulang Nadira.
" Dua puluh satu Januari. "
Bagai tersambar petir, wajah Nadira terlihat sangat kaget.
' Itu kan waktu saat aku kembali ke masa lalu. Kenapa harus hari itu? Apa kakak mengetahui sesuatu tentang aku? ' Batin Nadira.
" Ke-kenapa harus hari itu? " Tanya Nadira.
" Karena hari itu, aku melihatmu berbeda. Dan saat kamu bilang ingin menciumku, kenapa juga saat itu aku tidak mencium mu? Itu adalah penyesalan seumur hidupku. "
' Apaan sih ini orang? ' Batin Nadira dengan suram.
" Tapi aku tau kok cara sebenarnya bisa kembali ke masa lalu. "
Nadira hanya bisa bengong menatap Sagar.
" Harusnya aku tidak perlu bertanya dulu kalau aku mencium mu, karena kamu dulu pernah bilang jika suka ciuman mu kan? Dan sekarang aku ingin membuat itu jadi kenyataan. "
' Memangnya bisa begitu ya? ' Batin Nadira.
" Dan sekarang pun aku bisa kembali ke masa lalu. " Sagar mencium bibir Nadira dengan tiba-tiba.
" Aku pikir apa? Kamu bilang itu penyesalan hidupmu. " Nadira tersenyum.
Melihat respon Nadira yang welcome Sagar langsung menggendong Nadira.
" Akkkhhh! " Teriak Nadira kaget dengan sikap Sagar yang secara tiba-tiba.
" Mari kita melakukan semuanya dengan benar. " Sagar tersenyum manis kepada Nadira.
" Mau di bawa kemana aku?! " Kata Nadira panik.
" Ke kamarku. "
" Ta-tapi, aku kan belum siap! "
Sagar tetap berjalan menuju kamarnya.
" Aku masih belum bilang iya kan?! Ada yang mau aku katakan! Turun kan aku! " Nadira meronta-ronta, tapi Sagar memeganginya dengan kuat.
" Nanti saja. " Sagar menutup pintu kamar dan menguncinya.
" Hufftt! " Nadira menghembuskan Nafasnya dengan cepat, setelah Sagar menurunkan nya di atas kasur.
" Kamu mau bilang apa? " Tanya Sagar kemudian.
" Kak Alesa pernah masuk kerumah dengan membuka kunci rumah sendiri. Dia menekan pasword rumah kita. "
__ADS_1
Raut muka Sagar berubah menjadi masam. Dia dengan Segera mengambil ponselnya.
" Tunggu! Aduh kakak! Sekarang sudah tidak apa-apa kok. Sudah aku bereskan. Kakak tidak perlu marah ke kak Alesa. " Kata Nadira mencegah Sagar.
" Kenapa selama ini kamu hanya diam saja? Mulai sekarang kalau ada apa-apa katankan padaku! Jangan hanya memendam semuanya sendirian. "
Nadira mengangguk kan kepalanya.
" Selama ini aku salah faham, aku pikir kakak yang memberitahukan pasword rumah kita kepada kak Alesa. Jadi aku tidak bisa mengatakan nya, lebih baik aku diam saja. Maaf. "
Sagar menatap Nadira dengan mata sayu.
" Mulai sekarang apa pun itu jangan memendamnya sendirian katakan kepadaku. Apa pun itu. "
" Tadi dari semua cerita kak Alesa, Ternyata nyonya Karina yang telah memberikan pasword rumah kita. "
" Nyonya Karina? " Sagar bertanya dengan kaget.
" Iya, katanya dia mendekati kak Alesa waktu di Caffe, terus dia juga tau jika pernikahan kita itu bukan pernikahan biasa. Mungkin bisa saja Nyonya Karina tau pasword rumah ini karena pasword nya sama dengan tanggal pernikahan kita. Kita bisa menganggapnya seperti itu. Tapi yang tidak bisa aku pahami, bagaimana bisa dia mengetahui kalau pernikahan kita itu palsu?"
" Sekarang pernikahan kita bukan palsu. " Sagar memeluk Nadira.
" Iya, benar. " Nadira berkata dengan lega.
" Apa selama ini dia mengawasi kita? " Tanya Sagar.
" Sepertinya begitu. Bahkan orang seperti kak Alesa saja bisa masuk kedalam perangkapnya. Nyonya Karina sepertinya curiga dengan pernikahan kita, itu sebabnya dia membuat kak Alesa memastikan hal itu, dengan menghasut kak Alesa dan memberikan pasword rumah kita. " Kata Nadira hawatir.
" Coba kakak bicarakan ini lagi dengan kak Alesa! Dan baikan juga dengan dia! "
Nadira diam dan memlotototi Sagar.
" Baiklah aku mengerti. Mulai sekarang kamu juga harus hati-hati ya. " Kata Sagar patuh.
" Jika ada orang yang terlihat mencurigakan cepat beritau aku ya. "
" Iya. " Nadira tersenyum lembut ke arah Sagar.
" Dan aku juga harus mengecek CCTV apartemen, bisa saja selama ini ada orang yang keluar masuk rumah kita. "
" Iya. "
" Hah! Kamu terlalu lama membicarakan hal serius. " Sagar memeluk Nadira dan meletakkan kepalanya di bahu Nadira seperti anak kecil.
" Sekarang ayo tidur! Mau tidur di mana? Kamarku apa tidur di kamarmu? "
Nadira mendorong Sagar dengan kuat.
" Kenapa pembicaraannya berubah ke arah sana?! "
" Jika kita tidur terpisah lagi, ayah dan ibu pasti akan sedih. Kita harus menurut dengan orang tua, walau pun tidak bisa berbakti kepadanya kita juga tidak boleh durhaka. "
__ADS_1
" Aduh... Aduuhhhh. Ayah ibu kan tidak melihatnya. "
" Tidak! Tapi aku sudah berjanji kepada mereka untuk selalu jujur kepadanya. Aku tidak bisa bilang kan jika kita memakai kamar terpisah? " Sagar mendekati Nadira.
" Kakak tidak usah cerita sama sekali kan bisa. " Nadira menjawab dengan tubuh gemetar. Sagar menarik Nadira hingga mereka tidur berpelukan.
" Tapi, suami istri harus tidur bersama kan? "
" Iya, tapi kakak harus berjanji. "
" Janji apa lagi? "
" Janji saat pagi jangan menyerangku secara tiba-tiba seperti dulu lagi. "
" Itu kan sudah biasa di lakukan orang yang belum sadar. "
" Kalau begitu aku juga harus melindungi diriku sendiri. " Nadira mengambil bantal untuk menutupi tubuhnya. Dia tidur membelakangi Sagar dengan menaruh guling di belakang nya.
' Padahal kami suami istri. Apa harus sampai seperti ini? Iya juga ya! Ini bukan lah kebiasaan yang bagus. Aku harus memperbaikinya.' Pikir Sagar. Dia mengambil guling pemisah dan memeluk Nadira dari belakang.
" Iya aku mengerti! Aku janji! " Kata Sagar kemudian. Nadira membuka matanya dan tersenyum.
" Tapi, kenapa kamu memanggilku dengan sebutan kakak? Bahkan kamu memanggil Alesa dan yang lainya dengan sebutan seperti itu. "
" Hoooaaaam! " Nadira menguap.
" Aku sangat ngantuk sekali. Aku tidur dulu saja deh. " Nadira menarik selimut.
" Hei kamu beneran mau tidur? Kamu belum menjawab pertanyaanku! "
Nadira tidak menghiraukan ucapan Sagar.
" Kamu mau meninggalkan ku dengan tidur begini saja! " Sagar menghela Nafas dengan pasrah, dia kembali merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.
****
Nadira meraba-raba mencari sesuatu dengan mata yang masih terpejam.
' Ponselku di mana? ' Batin Nadira dengan terus meraba.
' Hah? Kenapa rasanya empuk? " Nadira memicingkan satu matanya. Dia sangat terkejut dan langsung membuka matanya.
" Bagaimana? Apa tidurmu nyenyak? " Tanya Sagar dengan senyuman manis.
Nadira langsung bangun dari tiduranya.
" Apa tanganmu tidak kebas? Apa tanganmu tidak mati rasa? Aliran darahmu lancar kan?" Nadira memegangi lengan Sagar untuk memastikan dia baik-baik saja. Karena dia tidak tau seberapa lama dia tertidur di pelukan Sagar.
" Tidak apa-apa kan? " Nadira bertanya dengan hawatir.
" Pffttt! hahaha sudah hentikan! rasanya sangat geli. " Sagar tertawa melihat tingkah Nadira.
__ADS_1
" Aku tidak apa-apa. Apa kamu mimpi indah semalam? " Tanya Sagar .
Bersambung...