End Happy Wedding

End Happy Wedding
Bab 45


__ADS_3

" Tidak baik nak, terkena scandal dua kali apa lagi dengan orang yang sama. Coba kamu fikirkan, dari scandal itu siapa yang paling di rugikan? "


Sagar menatap ibunya bingung. Karena dia sendiri tidak berfikiran ke arah sana.


" Tentu istrimu! Meski pun dia tau apa pun kenyataan nya, dia pasti sangat malu dan sakit hati. Meski pun dia tidak menunjukkan nya di hadapan mu. Hati nya pasti terluka. "


' Ibu benar. Seharusnya saat ini aku bersamanya. ' Batin Sagar.


" Dulu ayahmu juga tampan dan sangat populer. Tapi dia tidak pernah terkena gosip yang jadi pembicaraan semua orang. Coba lihat dirimu yang sekarang. Beda jauh dengan ayahmu. Seharusnya kamu lebih baik darinya. Apa tidak sama saja seperti kamu memberi kesempatan kepada Alesa. " Sagar kaget mendengar ucapan ibunya yang bisa berfikiran ke arah sana.


" Ibu tidak membenci Alesa. Dia wanita yang cantik dan juga pintar. Dia juga sangat hebat bisa tumbuh dengan sukses tanpa dampingan keluarga. Ibu tau kamu pasti memiliki perasaan tanggung jawab dan ingin melindungi dia. Tapi ada saat nya juga kamu harus melepas rasa tanggung jawab mu itu. Karena semua itu bukan murni kesalahanmu di masa lalu. "


Wajah Sagar berubah menjadi sedih. Dia kembali teringat masalalu di mana hal yang sulit ia lalui selama ini.


Dulu sewaktu Sagar berusia delapan tahun dia dan kakak Alesa di culik oleh sekumpulan berandal untuk meminta tebusan yang sangat mahal. Mereka di sekap di sebuah gudang minyak di dekat hutan yang jauh dari peradapan. Entah bagaimana kejadian itu terjadi, gudang itu tiba tiba terbakar hebat. Sagar dan kakak Alesa berusaha untuk menyelamatkan diri, Sagar berhasil keluar dari dalam gudang lebih dulu, ia melompat dari atas jendela. Tapi kakak Alesa masih terjebak di dalam sana. Dan tidak berapa lama gudang itu meledak bersamaan dengan semburan api. Sagar hanya bisa berteriak dan menangis tanpa bisa berbuat apa apa.


***


Dengan menahan rasa kantuk yang ia rasa, Nadira membuka kan pintu rumah saat mendengar bel berbunyi. Matanya terbelalak kaget saat mengetahui siapa yang datang. Wanita yang ia tunggu tunggu selama ini.


" Kamu tidak membiarkan aku masuk? " Tanya Alesa yang membuyarkan rasa kaget Nadira.


" Ah ya, silahkan masuk. "


Nadira pergi ke dapur untuk mengambilkan Alesa minum, namun Alesa mengikuti Nadira dari belakang dan ia duduk di mini Bar dapur Nadira.

__ADS_1


' Nadira, kamu juga harus tau tempat mu yang sebenarnya. ' Batin Alesa yang memperhatikan Nadira menyiapkan dua teh untuk mereka.


' Seperti aku sekarang. Karena Sagar tidak akan membiarkan siapa pun dalam kemalangan. Dia masih memiliki rasa bersalah dan empati untuk orang lain. Padahal dia sendiri menjatuhkan diri nya kepada belenggu kemalangan. Karena itu aku ingin melihat Sagar bisa hidup dalam kebahagiaan. '


Nadira menaruh gelas di meja, dan dia ikut duduk di sebelah Alesa.


' Sagar! Sudah cukup kamu menyimpan semua belenggu itu. Aku tidak bisa melihat itu semua lagi. ' Batin Alesa, dia menyeruput teh buatan Nadira.


" Berita scandal itu sudah menyebar luas ke media. Dan menunggu pihak agensi memberikan pernyataan yang sebenarnya. Menurutku lebih membantu lagi jika kamu menjaga dirimu saja. " Kata Nadira.


" Aku sih tidak terlalu memikirkan itu ya. Karena sudah sering juga terkena scandal. Seperti itu dengannya. " Kata Alesa meremehkan.


" Tapi aku memikirkan hal itu, walau pun tau seberapa dekat nya kalian berdua. Di hari scandal itu keluar kamu malah keluyuran pergi ke rumah lawan scandalmu." Kata Nadira yang mulai berani.


Di lain sisi tanpa mereka sadari, Sagar pulang kerumah. Awalnya ia ingin menyapa, tapi setelah samar mendengar obrolan mereka dia lebih memilih mundur dan mendengarkan obrolan mereka dari balik dinding.


" Nadira! Walau pun lawan scandal nya bukan aku, itu sudah biasa. Orang seperti Sagar sudah biasa terkena scandal seperti ini. Kalau kamu takut berlebihan seperti ini. Bagaimana bisa kamu bisa hidup bersanding dengan Sagar? "


Kali ini Nadira bersikap tegar tidak menangis seperti dulu lagi.


" Lalu, bagaimana dengan ucapanmu dulu? Yang kamu ucapkan kepadaku dulu. "


" Apa? " Tanya Nadira masih tidak ingat.


" Kamu berjanji padaku kan, waktu itu kamu akan bercerai dengan Sagar?! "

__ADS_1


Sagar kaget mendengar ucapan Alesa dari balik dinding, ingin rasanya dia datang menghampiri mereka tapi tetap ia tahan.


Saat itu, setelah pulang dari rumah sakit, Sagar datang ke rumah duka. Ia melihat Alesa yang masih terus menangisi kepergian kakaknya. Sagar merasa sangat bersalah karena dia tidak bisa menyelamatkan kakaknya. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena dia sudah membuat Alesa menjadi sebatang kara. Sagar memeluk Alesa, dan terus mengucapkan kata maaf. Semenjak saat itu, Sagar selalu berjanji akan menjaga dan bertanggung jawab atas hal yang terjadi kepada Alesa.


Sagar mengingat ucapan ibunya barusan, bahwa ada saatnya ia harus melepas tanggung jawab itu.


" Terus bagaimana kelanjutan nya dengan yang kamu bilang padaku waktu itu? Kamu bilang padaku akan bercerai kan? Tapi apa kenyataan nya sampai saat ini? "


' Alesa, aku sudah melakukan segala hal yang terbaik untuk mu, aku menganggapmu sebagai teman baik, dan memperlakukan mu dengan baik. Tapi kamu menyalah artikan itu semua. ' Batin Sagar.


" Kamu bertingkah seolah olah akan bercerai. Tapi apa yang kamu lakukan? Dan mana? Kamu masih belum bisa menyelesaikan nya! "


' Kenapa kamu bicara seperti itu kepada istrimu? Bukan nya kita teman? ' Batin Sagar sedih.


" Apa kamu menunggu aku bercerai dengan suamiku? Pikiran ku berubah untuk waktu itu. Sepertinya aku baru sadar ternyata ada kesalah pahaman antara aku dan suamiku. "


" Jadi, kamu masih mau mempertahankan pernikahan kalian yang tanpa perasaan ini? "


" Menikah tanpa perasaan ya. Hah" Nadira tersenyum kecut.


" Dulu, aku mengira Sagar menikah denganku karena untuk menyelamatkan hubungan kalian berdua. Karena aku mempercayai kata katamu. Aku jadi menduga duga hal yang ada di pikiranku. Aku mengira jangan jangan Sagar menyukai kakak. Karena dia ingin sekali melindungi kakak. Itu sebabnya aku ingin bercerai dari nya. "


' Dan karena perceraian itu, aku kehilangan nya untuk selamanya. ' Batin Nadira yang tidak mungkin ia ungkap kan.


" Iya memang seperti yang kakak bilang, aku mendapatkan keuntungan dalam pernikahan ini. Sedangkan suamiku menjalani pernikahan ini bukan karena ia ingin kan dia terpaksa menjalani ini semua. Aku tau, itu bukan kata kata Sagar yang sebenarnya kan?!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2