
Ke esokan harinya, Nadira menyiapkan segala urusan untuk kepulangan Sagar, Nadira mengurus semuanya sendiri. Walau pun Sagar adalah orang kaya, tapi Nadira sudah terbiasa melakukan segala hal sendiri. Dia tidak ingin merepotkan orang lain. Meskipun sudah berulang kali Sagar meminta agar dia memiliki asisten rumah tangga. Nadira bersih keras menolaknya.
" Apakah masih sakit? Harusnya kakak menginap satu hari lagi, sampai luka kakak benar-benar sembuh. " Kata Nadira, dengan menggandeng Sagar memasuki rumah.
" Aku sudah tidak apa-apa, sore ini aku ada jadwal penting dan tidak bisa di wakil kan begitu saja. Untuk itu aku harus pergi ke kantor. " Sagar berusaha melepas jaketnya.
" Sini aku bantu. " Nadira membantu Sagar melepas jaketnya.
" Aku mandi dulu ya. " Pamit Sagar seraya beranjak pergi ke kamar mandi di dalam kamar.
" Kak! " Panggil Nadira.
Sagar hanya menoleh menatap Nadira.
" Anu... Apa kakak mau aku keramasi rambutnya? Luka kakak kan masih di balut perban. Jadi tidak boleh terkena air. "
" Kamu serius? " Tanya Sagar memastikan pendengaran nya tidak salah.
" Iya. "
" Tapi aku kalau keramas telanjang tidak memakai baju loh. " Kata Sagar menahan tawa.
" Selama aku mencuci rambut kakak, kan bisa saja kakak memakai baju dulu sampai aku selesai. " Kata Nadira jengkel.
" Kamu tuh ya, aku kan pasienmu! Harusnya kamu memperhatikan kenyamanan ku dong. "
" Huft! Kakak tadi awalnya ingin mandi sendiri kan? " Kata Nadira yang tak kunjung mengalah.
" Oke! Oke! Baiklah.. Aku akan memakai handuk saat ada kamu di kamar mandi. " Sagar mengelus rambut Nadira penuh kasih sayang.
" Aku buru-buru! Jadi jangan lama-lama bersiapnya ya. " Sagar meninggalkan Nadira.
Nadira hanya terbengong setelah kepergian Sagar. Dia memegang kepala yang tadi di sentuh Sagar.
Setelah selesai berganti pakaian, Nadira mengetok pintu kamar mandi.
Tok! Tok! Tok!
" Ayo masuk! " Perintah Sagar.
" Iya. " Nadira membuka knop pintu kamar Mandi.
" Ternyata cuma aku yang tidak pakai baju ya? " Tanya Sagar setelah melihat Nadira yang masih memakai baju utuh.
" Ya iya lah. Aku akan mencuci rambut kakak dengan cepat! Ayo! Katanya sibuk? " Kata Nadira.
__ADS_1
Sagar langsung berjalan menuju bathub. Nadira tak henti-hentinya menatap dada bidang Sagar yang seperti roti sobek, mata Nadira melotot tidak berkedip sama sekali.
" Yaampun! Badanya bagus sekali. " Batin Nadira penuh kekaguman.
" Ingat Nadira! Selesaikan tanggung jawabmu. " Kata hati Nadira. Ia berjalan mendekati Sagar dengan kaku. Sagar sudah duduk di dalam bathub menunggu Nadira.
Nadira langsung mengguyur kepala Sagar dengan air hangat yang keluar dari shower. Setelah itu ia mengambil shampo dan mengusap kan ke kepala Sagar. Nadira menggosok rambut Sagar dan sedikit memijatnya supaya bisa sedikit rilex untuk Sagar.
" Kenapa? " Tanya Nadira saat menyadari Sagar tengah menatap dirinya.
" Tidak enak ya? " Tanya Nadira.
" Tidak. Aku hanya senang saja. " Sagar tersenyum.
" Aku senang memiliki istri saat ini. Apa lagi istriku sangat baik dan perhatian sekali kepadaku. "
Pipi Nadira merona merah karena pujian Sagar.
' Tidak! Tidak boleh! Aku tidak boleh senang. Dia kan sedang sakit. ' Batin Nadira.
" Terkadang sakit itu enak juga ya. Karena sakit ini aku bisa lebih bahagia. " Sagar memejamkan matanya dengan mulut tersenyum.
" Bahagia apanya?! " Nadira menyiram kepala Sagar dengan air.
" Padahal aku lagi mencemaskanmu! " Kata Nadira dengan mulut cemberut.
" Apa lagi sih?! Dasar jelek! " Umpat Nadira.
" Hei siapa yang jelek? " Sagar bangun dari bathub dan mendekati Nadira. Dadanya basah terkena semprotan air shower.
" Kamu mengatakan jelek kepadaku? Apa ku yang jelek? Wajaku apa tubuhku? " Tanya Sagar menantang dengan mendekati Nadira. Tentu saja itu membuat Nadira menjadi semakin gugup.
" Kak! Jangan banyak bergerak. Itu handuknya bisa terlepas! " Teriak Nadira agar Sagar berhenti mendekatinya.
" Memangnya kamu sudah melihat tubuhku? " Sagar meraih tangan Nadira hingga showernya terjatuh ke lantai dan menyiram seluruh tubuh Sagar dan Nadira.
" Apa kamu pernah melihatnya dengan jelas? Setidaknya sekali saja lihat lah. " Kata Sagar memaksa Nadira agar membuka matanya yang ia pejamkan rapat-rapat.
" Ayo! Lihat lah. Coba nilai tubuhku apa benar jelek atau tidak?! "
" Apa an sih? Aku geli jadinya. " Kata Nadira.
" Sekarang kamu bilang geli? " Tanya Sagar.
" Sudah ah, tuh kan aku jadi basah semua! " Nadira meronta-ronta agar Sagar melepaskan tanganya.
__ADS_1
" Ayo lihat ini! Menggelikan atau tidak?! " Sagar melepaskan tangan Nadira. Nadira langsung mendorong Sagar ke belakang hingga.....
" Aaaaaaaaaaaaaaa! " Teriak Nadira menutupi mukanya karena handuk yang di buat menutupi si kecil Sagar terlepas.
" Cepat tutup itu! Cepat! " Teriak Nadira histeris.
" Hahahahaha! " Sagar tertawa melihat sikap panik Nadira.
" Kebenaran tidak boleh di tutup-tutupi. " Kata Sagar dengan tertawa terbahak-bahak.
Nadira membuka sedikit matanya untuk mengintip.
" Ha?! " Nadira membuka tangan dan matanya.
" Hahahahaha. " Sagar kembali tertawa kencang sembari melihat muka kaget Nadira.
" Sekarang kakak bercanda?! " Teriak Nadira.
" Dan kamu yang serius sekarang? Bukanya dari tadi kamu ingin melihat tubuhku? "
" Tidak sama sekali! Aku tidak ingin melihatnya. " Kata Nadira lemas.
" Hahahaha.. tapi kenapa Nada bicara mu seperti itu? Seperti sedang kecewa saja karena tidak bisa melihat si kecil? " Sagar kembali menggoda Nadira.
" Tidak kok! " Nadira mengambil air dan menyemprotkan ke arah Sagar.
" Hahahaha. Kamu lucu sekali sih. " Kata Sagar mencoba menutupi serangan air yang di berikan Nadira.
***
Setelah Sagar berangkat bekerja, Nadira pergi ke alun-alun kota Kepatihan. Dia duduk di kursi taman sendirian dengan kepala menunduk dan termenung.
" Mulai sekarang aku harus bagaimana lagi ya? " Kata hati Nadira dengan bingung dan sedih. Karena selama ini dia sudah bersaha yang terbaik untuk merubah masa depan.
" Selama ini aku sudah berusaha mengubah masa depan. "
Nadira kembali mengingat urutan di mana hal-hal yang sudah berubah dan tidak ada di masa depan. Tentunya semua tentang Sagar.
" Tapi itu semua seperti sudah di atur dan susah sekali untuk di hindari. Sebenarnya apa yang harus aku lakukan untuk bisa menyelamatkan mu? " Mata Nadira mulai berkaca-kaca tiap hal yang berhubungan dengan Sagar.
" Apa aku kembali dan benar-benar bisa menyelamatkan mu? " Air mata Nadira mulai turun membasahi pipinya.
" Ah! Kenapa tiba-tiba aku menangis seperti ini? " Nadira mengusap air matanya menggunakan punggung tangan.
" Padahal aku tidak boleh menangis. Aku tidak ada waktu untuk menangisi ini semua. Aku harus mencari cara apa pun itu untuk menyelamatkan nya. " Nadira menyemangati dirinya sendiri, walau pun dia tidak bisa menahan air matanya yang terus saja mengalir keluar. Dia menutupi mukanya untuk menahan segala kesedihan yang ia rasakan.
__ADS_1
Bersambung ......