End Happy Wedding

End Happy Wedding
Bab 65


__ADS_3

Nadira mengingat kembali terakhir kalinya sebelum dia kembali terbangun di masa lalu. Saat itu dia menangis sampai dadanya terasa sesak memikirkan kepergian Sagar. Dia menangis meratapi kepergian Sagar dengan sejadi-jadinya.


" Apa saat itu aku menangis terlalu lama, hingga rasanya saat itu aku ingin mati. Tau jangan2 saat itu aku memang mau mati, itu sebabnya aku sekarang ada di sini? " Pikir Nadira.


" Sasi! " Panggil Nadira.


" Iya. "


" Bagaimana nenek buyutmu bisa tau itu semua? " Tanya Nadira serius.


" PFFT! " Sasi menahan tawanya.


" Dari tadi kamu masih kepikiran hal itu? Hahahaha apa kamu pikir itu beneran? " Sasi menanggapi pertanyaan serius Nadira dengan tertawa.


" Bisa saja kan? Nenek buyut kamu hidup dua kali. " Kata Nadira dengan serius.


" Uuummm! Bisa juga sih. Kadang kalau di pikir dulu nenek buyutku sikapnya aneh gitu. Tapi aku tidak terlalu memikirkan nya karena saat itu aku masih SMP kan." Kata Sasi mencoba mengingat.


TUT!


Suara ponsel Sasi berdering, dia langsung membuka grub obrolan di kantornya.


" Wah gawat! Seniorku sudah pada balik ke kantor lagi nih. " Kata Sasi tegang bercampur dengan malas.


" Hahaha apa kamu memanggil mereka dengan sebutan senior saat di kantor? " Tanya Nadira heran, kenapa masih ada di dunia kerja ada yang namanya senior dan junior.


" Tidak sih, mana berani aku! Aku memanggil mereka dengan sebutan formal saat di hadapan ya. Aku juga harus menunjuk kan sikap profesional ku di hadapan mereka. "


" Hahahahaha.. " Nadira tertawa mendengar ucapan Sasi yang menonjolkan dirinya.


" Kamu sendiri masih menganggap suamimu itu seniormu kan? Bahkan kamu masih memanggilnya dengan sebutan kakak! Padahal kalian sudah menikah selama tiga tahun. Kapan kamu akan merubah kebiasaan itu? " Kata Sasi dengan tersenyum. Karena ia hampir tau kehidupan rumah tangga Sahabatnya satu ini.


" Eh, aku kasih saran! Lebih baik kamu memanggilnya dengan sebutan yeobo saja gimana? Biar seperti pasangan Korea gitu. " Usul Sasi dengan antusias, karena. Sasi adalah penggemar drama Korea dan juga oppa di boyband asal sana.


( Yeobo : adalah panggilan sayang untuk orang Korea. )


Nadira hanya tertawa menanggapi usulan Sasi. Padahal di dalam hatinya dia juga memikirkan omongan Sasi yang masuk kedalam hatinya.


" Nadira, maaf banget ya! Aku harus kembali ke kantor sekarang juga. Padahal aku yang sudah memintamu untuk datang kemari menemaniku. Aku malah pergi duluan ninggalin kamu. " Kata Sasi penuh rasa bersalah.

__ADS_1


" Iya, tidak apa-apa. Lagian kamu kan masih di jam kerja juga. " Kata Nadira.


" Sampai jumpa. " Sasi mencium pipi Nadira dan langsung berlari meninggalkan Nadira sendirian.


Nadira merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah selesai mandi dan berganti pakaian malam. Dia melihat jam masih pukul tujuh malam. Dia kembali teringat dengan ucapan Sasi barusan tentang panggilan untuk suaminya.


" Benar juga ya. Apa aku harus memanggilnya dengan sebutan Sayang, Suamiku, atau Yeobo? " Pikir Nadira sambil melamun.


Kkrriiinggg!


Suara telfon dari ponsel Nadira, yang membuatnya reflek kaget. Nadira langsung mengambil ponselnya yang berada di dalam tas yang ia taruh di atas meja.


" Iya halo. " Jawab Nadira.


" Nanti aku akan pulang terlambat. Jadi jangan terlalu menunggu ku ya. " Kata Sagar dari sebrang telfon.


" Apa bakalan pulang malam sekali? " Tanya Nadira.


" Entah lah. Mungkin sampai jam sebelas malam. " Kata Sagar dengan sedih. Karena ia sendiri sudah sangat rindu kepada istrinya yang sangat cantik dan imut itu. Padahal baru beberapa waktu lalu dia bertemu dengan Nadira.


" Pasti kamu sangat lelah ya. " Kata Nadira kasihan. Karena sepulang dari rumah sakit Sagar sama sekali belum istirahat.


" Tidak! Aku akan menunggu kakak sampai pulang. Karena ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. " Kata Nadira.


' Ada yang mau di sampaikan? Kira-kira apa ya? ' tanya Sagar dalam hati.


" Baiklah, aku nanti akan pulang dengan cepat agar sampai di rumah. " Kata Sagar.


" Uummm. "


" Kalau begitu sampai jumpa. " Sagar mematikan sambungan telfonnya.


*****


" Aku pulang! " Teriak Sagar saat melihat keadaan rumah yang sangat sepi.


" Nadira! " Panggil Sagar, karena tadi Nadira bilang sendiri jika dia ingin menunggu Sagar. Ia melihat ke arah dapur yang kosong tidak ada Nadira, kemudian ia berjalan menuju kamarnya, ia membuka pintu perlahan. Ternyata benar dugaan nya, Nadira sudah tertidur duluan. Sagar masuk ke dalam. Kamar dan menutup kembali pintu kamar dengan hati-hati.


Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian tidur Sagar menatap Nadira yang tertidur pulas.

__ADS_1


" Hah! Dia tidur tidak menggunakan guling sebagai pembatas? " Pikir Sagar.


" Dia ini apa tidak takut jika aku tiba-tiba berbuat yang aneh terhadapnya?! Gimana coba kalau aku punya niatan jahat sedikit kepadanya? " Sagar membetulkan selimut Nadira.


" Hmmm aku ini terlalu polos dan baik hati sebagai seorang pria. " Kata Sagar sambil terus memegangi selimut Nadira.


" Tunggu! Kenapa juga aku harus menahan nya lagi? Dia kan istriku! Istriku di dalam pernikahan yang sesungguhnya. Aku mencintai dia dan dia juga mencintaiku jadi apa yang salah? " Pikir Sagar.


Sagar naik ke atas tubuh Nadira.


" Istriku yang sesungguhnya! Di dalam rumah tangga yang sebenarnya. " Sagar mencium kening Nadira.


" Hubungan kami adalah sah, tidak berdosa. Dia adalah orang yang aku cintai dan dia juga mencintaiku. Dia pasangan hidupku. " Sagar mencium i pipi Nadira, hingga membuat Nadira membuka matanya. Sagar dan Nadira saling bertatapan satu sama lain dengan jarak pandang hanya lima senti meter.


" Kamu terbangun. " Kata Sagar dengan tersenyum. Kali ini dia tidak merasa gugup atau canggung seperti dulu.


" Kapan kakak pulang? " Tanya Nadira sambil mengucek matanya.


" Sekarang aku sudah pulang. " Sagar mencium bibir Nadira karena terlalu menggemaskan untuk Sagar.


" Suamiku! Aku masih mengantuk. " Kata Nadira.


" Kamu tadi bilang apa? " Tanya Sagar memastikan pendengaran nya tidak salah.


" Suamiku. " Ulang Nadira.


" Apa? Kamu bilang apa? Aku tidak dengar. " Tanya Sagar dengan mendekatkan telinganya di bibir Nadira. Sontak saja itu membuat Nadira semakin berdebar jantungnya di tambah bau aroma tubuh Sagar yang sangat wangi menyeruak ke dalam hidung Nadira.


" Sudahlah! Jangan bercanda, kamu pasti sudah mendengarnya. " Kata Nadira dengan mulut cemberut.


" Katakan. " Sagar sengaja mendesak dan menggoda Nadira.


" Sini! " Menarik Sagar dan membisikinya.


" Suamiku! "


Sagar mengangkat kepalanya dan menatap Nadira dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. Akhirnya, semua penantian yang ia tunggu dengan sabar sedikit demi sedikit sudah mulai membuahkan hasil. Nadira mulai membuka hatinya sepenuhnya untuk nya, walau di mulai dari hal yang kecil itu tetap membuatnya sangat bahagia.


" Jadi sekarang apa yang ingin kau katakan? Apa kamu akan mengatakan nya besok? " Sagar duduk di samping Nadira. Menunggu jawaban cerita Nadira yang katanya tadi ingin ia sampaikan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2